
Hallo guys, jangan lupa baca juga novel PLEASE LOVING ME ya. Dan tetap support novel karya penulis agar tetap semangat nulis novel hehe.
____________________
Viola tersedak. Omongan mertuanya mengapa jadi melenceng begini?
Hendra langsung mengambil ponsel dan mematikan loudspeaker dengan cepat.
“Pa, Ma sudah dulu ya. Aku sibuk harus memeriksa tugas anak kampus”
“Iya Ma, Pa” jawab Viola juga.
Setelah itu, sambungan telepon terputus. Hendra meletakkan ponsel diatas meja. Kemudian kembali fokus ke arah laptop sambil memeriksa beberapa lembar kertas ditangannya.
“Jangan pikirin ucapan Papa tadi” Hendra memulai pembicaraan setelah ponsel dimatikan.
Viola hanya berdeham sambil memakan keripik di pangkuannya. Matanya kembali fokus ke acara TV dangdut akademi.
“Tugas kamu udah selesai?”
“Belum sih mas”
“Kenapa tidak dikerjakan? Malah fokus ke dangdut-dangdutan gitu” gerutu Hendra.
“Kan tugasnya sekelompok tiga orang. Sekarang yang lagi ngerjain itu bagian Gea. Bagian aku nanti” jawab Viola.
“Setidaknya kamu sudah mencari dan nanti tinggal menyalinnya. Agar cepat kelar” tutur Hendra memberikan masukan pada istrinya.
“Aku males mas, mager banget” Viola memperhatikan wajah malesnya dan mengelabuhi Hendra agar berpihak padanya.
“Mau sampai kapan males kayak gini!” raut wajah Hendra pun menjadi asam melihat tingkah istrinya tersebut.
Percuma juga Viola menikah dengan dosen ini. Karena bagaimanapun juga Viola tidak akan dikasih tau atau dibantu oleh Hendra.
“Mas, jalan yuk. Bosen nih” ajak Viola pada Hendra yang masih terfokus ke layar laptop.
“Saya sedang sibuk, kamu tidak lihat saya sedang ngapain!?”
Duh jawabannya ko gini sih. Jadi pengen nabok deh ah. Dosa ga sih? Batin Viola.
“Jadi gak mau?” tanya Viola memastikan.
Hendra menoleh lalu menatap Viola. Tubuhnya jadi gugup karena takut Hendra marah.
“TUGAS SAYA MASIH BANYAK!” ucap Hendra yang justru membuat Viola seakan cuek tapi juga takut.
“Ya udah, aku pergi sendiri saja” sontak Viola lalu pergi ke kamar. Ssedangkan Hendra kembali fokus pada laptopnya.
Setelah Viola berganti baju memakai celana hitam panjang jeans dan kemeja berwarna olive, Viola pun keluar kamar sambil menenteng tas. Kemudian Viola berjalan kearah tangga dan memakai sepatu hak berwarna hitam, tidak terlalu tinggi. Viola mendumel saat melihat Hendra masih fokus ke layar laptop dan kertas itu.
“Saya per-“ belum juga menyelesaikan ucapannya. Hendra segera menyahut.
“Tunggu di mobil. Saya siap-siap dulu”
__ADS_1
Viola yang mendengar ucapan tersebut seketika melongo saat Hendra menahan tangannya dengan pelan.
Dasar Suami Kutub gengsian banget! Batin Viola terkekeh.
20 menit perjalanan menuju Mall, akhirnya Viola dan Hendra sampai juga. Setelah memarkirkan mobil, mereka pun berjalan ke supermarket membeli bahan makanan.
Hendra mendorong trolly, memutar dari stand lorong lain dan mengambil beberapa makanan. Sekarang mereka berjalan berada di pojok sayuran. Sebelum Hendra sempat menolak ke tempat sayuran dan menyuruh Viola beli daging ayam saja. Tetapi Viola menolak karena dia suka memakan sayur-sayuran. Sementara Hendra memang tidak suka memakan sayuran karena sewaktu kecil pernah tersedak saat memakan sayur lalu dia muntah. Hal sepele memang, namun sanggup membuat Hendra tidak mau makan apapun yang berhbungan dengan sayuran lagi.
“Mas, makan sayur ya? Mau?” tanya Vio.
“Tidak” ucapan cepat, jelas, singkat dan padat.
“Mas, makan sayur itu sehat loh”
“Saya tidak mau”
“Mas ngga mau makan sayur? Beneran?”
Ah elah, wajah dingin kayak es di kutub utara. Dikenal dengan image dosen killer, tahunya takut makan sayuran. Pengin banget gue bocorin ke anak-anak kelas gue, tapi gue masih sayang nilai. Eh tapi ko dia suka makan makanan yang berat ya. Ah entahlah. batin Vio bersuara.
Akhirnya Viola membeli sayuran juga karena Hendra kalah debat. Bukan kalah sih, lebih tepatnya Hendra mengalah. Harusnya masuk ke dalam sejarah nih!
“Mau susu cokelat apa susu vanilla?”
“Cokelat”
“Mau abon ayam atau abon sapi?”
“Abon ayam”
“Goreng”
“Mau kue rasa pandan atau keju?”
“Pandan”
“Saya cantik atau jelek?”
“Cantik”
Viola tertawa setelah melihat wajah Hendra melongo sambil berhenti mendorong trolly. Pastinya dia baru sadar dengan apa yang baru saja diucapkannya. Hendra menatap Viola kesal.
“Ya lagian. Mas jawabannya singkat, padat, jelas banget sih” jawab Viola sambil tertawa pelan dan mengambil makanan ringan Barbeque lalu memasukannya ke dalam trolly.
“Terus, saya harus jawab apa?”
“Ya jawab yang lainnya kek Mas”
“Yang penting saya jawab”
Viola mengeram dalam hati. Dasar suami kutubbbb!
Di dalam Mall mereka menghabiskan waktu cukup lama. Hingga akhirnya…
__ADS_1
Bruakkk..
Hendra yang kurang berhati-hati dalam mendorong troli itu pun mengenai seorang pria. Bawaan dari keranjangnya yang setengah telah jatuh tersebut dan reflek Viola membantunya.
“Maaf maaf. Suami saya ga sengaja” dengan cepat dan rasa empati yang ada dia membantu pria tersebut. Sedangkan Hendra hanya memperhatikan adegan yang ada dihadapannya. Hingga tak sengaja sang tangan pria menyentuh tangan Viola dan Hendra pun seketika langsung membantu dan meminta Viola untuk berdiri.
“Maaf ini salah saya. Vio kamu berdiri saja” Hendra yang bersikap dewasa itu pun berusaha bersikap biasa.
“Iya gak apa-apa”jawab pria tersebut.
Setelah semuanya selesai, Hendra dan Viola segera meninggalkan tempat tersebut. Hendra mendorong troli menuju kasir.
“Sudah ini aja kak?” tanya petugas kasir yang menatap Hendra karena dipikirnya dia belanja sendiri tanpa ada yang menemani. Tapi sayangnya Hendra tak merespon ucapan sang kasir, Viola yang menyadarinya segera menjawab.
“Iya mbak” jawabnya.
Satu per satu barang belanjaan dihitung dan dipastikan tidak ada yang terlewat.
“Totalnya 245.000 kak” ucap pelayan kasir memberitahukan total belanjaan yang mereka beli.
“Ini mbak” Vio memberikan uang kepada kasir. Yang pasti itu adalah uang Hendra yang sengaja diberikan pada istrinya tadi sewaktu berangkat ke Mall.
Hendra sudah melalukan peran sebagai suami tapi belum seluruhnya penuh karena dia belum menyentuh istrinya sama sekali. Alias belum melakukan hubungan suami istri. Sesudah membayar Hendra segera membawa belanjaan menuju mobilnya.
Tak lama kemudian akhirnya Hendra pun duduk dan segera melajukan mobilnya.
“Mas..” Viola memulai pembicaraan.
“Hm”
“Kalau jalan itu lihat-lihat mas, itu untungnya tadi mas-mas muda, coba kalau udah ninik-ninik gimana? Habislah kau kena omelannya dia”
“Mana mungkin ninik-ninik ke Mall sendirian, aneh kamu itu ah”
“Ih bisa aja sih, kalau engga ibu-ibu yang biasa nyalain lampu sen ke kiri tapi belok kanan. Kamu pasti ga tau kan betapa ribetnya berurusan dengan ibu-ibu”
“Hemmm” jawab Hendra.
“Kamu tadi cemburu kan ya hehe, ngakuu. Maklum kan istrimu ini cantik, jadi pasti banyak pria yang mengantri dan berusaha merayu ku” ucapnya penuh percaya diri.
“Jangan terlalu PeDe”
Bilang aja memang cemburu, susahnya apa sih. Dasar laki-laki jaim. Tinggal bilang “Iya Viola, aku cemburu. Plis jangan tinggalkan aku” gerutunya di dalam mobil dan Hendra yang masih mendengar ucapan istrinya hanya tersenyum manis.
...______________________...
...Kalau mau memulai dengan seseorang yang baru....
...Mulailah tanpa melibatkan dia dalam proses recovery-mu,...
...Selesaikan duru masa lalumu setuntas-tuntaasnya....
...Walaupun semesta selalu punya cara untuk membuatmu kembali mengingatnya secara tiba-tiba...
__ADS_1
...Kamu gak akan pernah menemukan kebahagiaan sama di orang yang berbeda....