HELLO, DOSEN KUTUBKU

HELLO, DOSEN KUTUBKU
SANGAT NO!


__ADS_3

Hallo guys, jangan lupa baca juga novel PLEASE LOVING ME ya. Dan tetap support novel karya penulis agar tetap semangat nulis novel hehe.


____________________


Di kantin.


Sudah ada Gea, Lisa dan Yosi yang sedang asik membahas sesuatu karena terdengar ramai riuh dan gelak tawa. Viola yang sudah dari ruangan Hendra pun langsung menghampiri teman-temannya.


Gea yang melihat kedatangan Viola pun berceletuk


“Habis transfer kekuatan ya Vi? Haha” tanya Gea sambil menggodanya. Viola membulatkan mata, menatap Gea horor. Dengan cepat dia mencubit tangan Gea yang berada tak jauh dari tangannya.


“Awww!” teriakan Gea yang berhasil mengalihkan fokus beberapa orang pada dirinya.


Makan siang berjalan seperti biasa layaknya sebelum Viola menikah. Tiba-tiba ada Bu Anggun yang menghampiri Viola yang datangnya entah dari mana. Gea yang melihatnya terlebih dahulu merasa kaget karena sejak tadi dia pun tak mengetahui asal usul Bu Anggun hingga berada di samping Viola. Gea hanya memberikan sebuah kode untuk Viola agar dia menengok ke sampingnya.


“Woyyy apa sih? Gini-gini terus” ucap Viola sembari memahami kode Gea untuk menengok ke sampingnya. Akhirnya dia menengok dan kagetnya itu adalah Bu Anggun.


“Mau apa dia kesini sih? Perasaan gue dan dia ga ada masalah apa-apa deh” batinnya dengan membentuk bibir dengan senyum manisnya. Mode senyum palsu tepatnya hehe.


“Selamat siang Bu Anggun. Ada yang bisa kami bantu?” ucapnya terlebih dahulu.


“Untuk apa kamu ke ruang Pak Hendra tadi? Dan mengapa hanya kamu seorang, tidak dengan teman mu” ketusnya dengan menatap sinis Viola.


“Oh ya tadi saya sedang mengumpulkan tugas bu. Karena ini sedang deadline” jawab Viola dengan mencari jawaban yang menurutnya pas.


Ya kali cuma dipanggil ke ruangan suami sendiri ga boleh. Gimana sih ini dosen? Apa jangan-jangan bener lagi kalau Bu Anggun itu pengagum rahasianya suami tercintaku. Batin Viola.


“Ya udah. Awas ya kalau kamu macam-macam sama dosen sendiri. Bisa saya laporkan nanti ke wali dosenmu bahkan ke rektor Universitas!!” ucapannya yang kali ini justru membuat para teman Viola merasa aneh dengan sikap Bu Anggun. Jika memang nantinya sampai Bu Anggun tega melaporkan hal tersebut, benar-benar diluar dugaan dan sangat amat tega.


“Baik bu” ucap Viola yang mengiringi Bu Anggun beranjak kaki dari tempatnya.


Tak lama setelah itu akhirnya Bu Anggun pun pergi meninggalkan segerombolan mahasiswi yang sedang makan siang tersebut.


“Eh ko bisa sih gitu banget sama suami lo” ucap Gea yang menggebu pada Viola.


“Iya tuh. Itu mah udah ga bisa dibilang suka lagi. Bisa-bisa ini dia udah di tahap cinta sama sumi lo” Lisa yang tak kalah geregetan dengan Bu Anggun.

__ADS_1


“Wait.. apa kita perlu ya ngasi tau ke dia langsung kalau pak Hendra itu adalah suami lo. Kayaknya jalan terbaik itu mah” Yosi memberikan solusi yang menurutnya adalah solusi terbaik.


“NO!!! jangan sampai ya kalian ngasi tau ke yang lain soal masalah ini. Gue aja ga ngasi tau siapa-siapa apalagi sampai seantero universitas ini tau. Sangat sangat NOOOO!!” tak kalah menggebunya Viola pun unjuk bicara. Dia memang menyadari pernikahan ini belum diharapkan, tapi dia juga tau batas yang mana yang harus dilalui dan mana yang tidak.


Tiba-tiba ponsel pun berbedering dan nama Hendra tertera disana. Ya pasti memang ada perlu. Ponsel di geser dan belum juga Viola mengucap sepatah kata.


“Pulang” ucap Hendra dengan gaya khasnya. Viola yang sudah memahami karakter suaminya segera pergi meninggalkan temannya dan membayar makanan yang telah dipesan.


“By guys. Gue pulang dulu ya” ucapnya.


____________________


Hubungan Viola dan Hendra sudah berjalan tiga bulan. Semua berjalan seperti air yang mengalir. Viola tidak mau ikut campur urusan Hendra, begitu juga sebaliknya. Dan percaya tidak percaya, Viola dan Hendra belum melakukan hal yang seharusnya suami istri lakukan. Orang tua Hendra ataupun Viola pun belum pernah menginap jadi tidak ada tekanan dalam hubungan pernikahan mereka selama ini. Tapi kedekatan mereka berkembang dari perlakuan kecil mencium kening dan tangan sebelum kerja. Hingga terkadang bergandengan tangan ketika berada diluar rumah, namun hal ini hanya dilakukan beberapa kali saja.


Suatu pagi ponsel Hendra bergetar di atas meja. Hari ini Viola dan Hendra sedang duduk bersantai di rumah. Kebetulan juga ini weekend, jadilah mereka tidak ada kegiatan apapun.


“Halo Mah, Assalamualaikum”


Viola menoleh ke arah Hendra ketika tahu yang menelpon adalah mertuanya. Hendra sengaja meng-loudspeaker telponnya agar Viola juga bisa mendengarnya.


“Baik Mah” jawab Viola dan Hendra bebarengan.


“Kapan nih kalian main kesini? Ga kangen apa sama keluarga kalian. Mamah sama Papah juga belum bisa kesitu dalam waktu dekat”


Viola menatap Hendra seketika. Viola sibuk mengerjakan cicilan skripsi. Sementara Hendra juga sibuk memeriksa laporan seminar hasil mahasiswa yang udah dikirim ke emailnya karena tadi Hendra berhalangan hadir saat seminar sebab ada keperluan lain.


“Vio sedang sibuk mengerjakan skripsi Ma Hendra juga sibuk karena mengurus mahasiswa yang mau konsul sama Hendra”


“Kalian sibuk terus. Kapan kasih kejutan?”


“Mamah!” seru Viola ketika mendengar suara oraang tuanya yang begitu familier di telinga.


“Kamu ngga kangen sama Mama, Vi?” tanya Mama Hendra pada sang menantu satu-satunya.


“Kapan kalian kasih cucu ke kita?” sang Papa yang tadi hanya nimbrung kini angkat bicara mengetahui yang di telpon istrinya adalah sang menantu dan anaknya.


“Uhuk!”

__ADS_1


Viola menoleh ke arah Hendra yang terbatuk karena sedang menyeruput kopi saat mendengar ucapan sang Papa. Viola mengambil dua lembar tisu di meja dan memberikannya pada Hendra. Bibir Viola berkerut karena menahan tawa.


“Sabar ya, Ma. Mungkin belum dikasih” jawab Hendra.


“Ndra, kamu harus berusaha lebih lagi. Kalau perlu tiap malam di gas”


“Hahaha Papa ini ada-ada aja. Motor apa di gas beberapa kali” jawab Hendra dengan tawanya yang khas.


“Iya Ndra. Minum jamu biaar kuat dan tahan beberapa ronde” sang Mamah pun tak kalah exitednya jika diminta membahas hal seperti ini.


“Papa aja waktu bikin kamu, beberapa ronde langsung jadi!” Papahnya yang kini membanggakan diri atas keberhasilan membuahkan Hendra sang anak semata wayang.


Viiola tersedak. Omongan mertuanya mengapa jadi melenceng begini?


Hendra langsung mengambil ponsel dan mematikan loudspeaker dengan cepat.


“Pa, Ma sudah dulu ya. Aku sibuk harus memeriksa tugas anak kampus”


“Iya Ma, Pa” jawab Viola juga.


Setelah itu, sambungan telepon terputus. Hendra meletakkan ponsel diatas meja. Kemudian kembali fokus kearah laptop sambil memeriksa beberapa lembar kertas ditangannya.


“Jangan dipikirin ucapan tadi” Hendra memulai pembicaraan setelah ponsel dimatikan.


..._________...


..."Aku setengah mati menyibukkan diri...


...biar lupa sama kamu...


...sampai kadang aku lupa istirahat....


...nanti kalau aku sudah sembuh,...


...tolong jangan pernah kembali...


...sekalipun kamu menyesalinya"...

__ADS_1


__ADS_2