
Hallo guys, jangan lupa baca juga novel PLEASE LOVING ME ya. Dan tetap support novel karya penulis agar tetap semangat nulis novel hehe.
____________________
“Aku antar kamu ya” suara itu membuat Viola dan yang lain menoleh ke arah belakang. Ternyata Devian. Viola mau menolak, tapi…
“Iya Vi. Lo dianter Devian aja. Udah sore juga, bahaya balik sendiri” ucap Lisa.
“Ya udah ya” jawab Viola akhirnya.
Viola mengiyakan karena yang mereka bicarakan ada benarnya juga. Sedari tadi mata semua mata tertuju pada Viola dan Devian. Mereka pun pergi ke parkiran setelah itu naik mobil dan meninggalkan area kampus.
Diperjalanan Viola bimbang, tidak mungkin dia memberitahu alamat tempat tinggalnya pada Devian.
Bisa gawat jika Devian tau tempat tinggal ku dan Mas Hendra. Bisa-bisa berabe nih. Pikir Viola disepanjang perjalanan.
“Udah Dev, disini aja gak apa-apa. Soalnya aku mau beli makan dulu disana” ucap Viola dengan menunjuk warung makan dan menghentikan mobil Devian agar tidak tau yang mana tempat tinggal Viola.
"Gak apa-apa, aku tunggu deh, daripada kamu harus jalan lagi" ucap Devian memastikan.
"Ga usah beneran deh. Sampe sini aja Dev"
“Ya udah deh. Kalau itu mau mu, hati-hati ya Vi. Besok apa mau aku jemput lagi?” tawarnya pada Viola.
“Ga usah Dev. Gue besok bareng sama temen gue aja” Viola sebisa mungkin beralasan agar tidak dijemput oleh Devian lagi.
“Oke. By the way tumben kamu mau pake rok. Setauku kamu anti banget sama yang namanya rok” Devian memandangi rok yang Viola kenakan.
“Haha iya, ini punya Lisa soalnya tadi celanaku kotor” jawab Viola yang seketika menarik jaket untuk menutupi seluruh kakinya yang jenjanh. Devian hanya menganggukkan kepala.
“Untung gue bisa nahan” gumam Devian pelan. Walaupun begitu, Viola masih bisa mendengarnya.
“Hah? Apa” tanya Viola pura-pura tidak mendengar.
“Gak apa-apa. lain kali hati-hati, terus jangan lama-lama dikamar mandinya. Ya udah, aku pulang”
__ADS_1
Viola hanya menganggukan kepala dan melihat Devian pergi meninggalannya. Namun seketika Viola melihat sesuatu yang familiar yang Devian pakai dan aroma parfum yang terkena angin sangat tak asing bagi penciumannya. Seketika ingatan Viola kembali terngiang saat berada di kamar mandi tadi.
“Aroma itu. Dan.. sepatunya sama seperti tadi”
“Jangan lama-lama di kamar mandinya” Devian tau Viola lama dikamar mandi dari mana? Terus sepatu itu? aroma itu? kenapa sama..?!”
____________________
Saat Viola sudah sampai rumah, dengan cepat berlari terbirit-birit karena melihat mobil Hendra sudah ada di parkiran halaman rumah. Viola masuk ke dalam mellihat keadaan lampu rumah mati. Viola menutup pintu pelan dan berjalan masuk dengan langkah hati-hati.
“Dari mana saja kamu?”
Langkah Viola langsung terhenti saat mendengar suara itu. Bahkan jantungnya sudah berdegup hebat. Lampu rumah seketika menyala. Sontak Viola menoleh ke arah sofa ruang keluarga dan melihat Hendra sedang duduk menatap ke arah Viola dengan tangan menilap dan wajah datar.
“Kalau mau main kasih kabar ke saya” ucap Hendra pelan namun dengan nada tegas.
Viola tidak menjawab ucapannya karena menyadari bahwa dia memang bersalah karena tidak menghubungi Hendra terlebih dahulu. Tetapi disini Hendra juga salah karena tidak memberi kabar kalau dia akan pulang lebih awal.
“Aku tidak main, Pak. Aku ada di area kampus” jawab Viola sambil menekan kata panggilan Pak untuknya.
Viola terdiam mendengarnya. Tetapi Viola memang ada di area kampus.
“Kamu main sama orang lain, kenapa tidak beritahu saya? Jadi saya tidak capek cari kamu”
Viola masih diam tidak menjawab pertanyaan Hendra. Bahkan sangat jelas ingatannya bahwa suaminya akan pulang Malam.
“Tadi kuliah kamu memakai celana berwarna putih dan saya sangat ingat itu. Lantas kenapa ganti rok sependek ini? Kamu tau rok segini bisa memanggil hal negatif yang tidak diinginkan. Kamu tau itu?!"
Viola menelan ludah dengan rok yang kini dia pakai. Berbeda dengan Hendra yang menatap Viola dari atas sampai bawah.
“Cepat mandi dan bersihkan tubuhmu!”
Sekali lagi Viola menelan ludahnya susah payah. Baru kali ini Hendra marah sampai urat-uratnya tampak. Tak lama kemudian, Hendra masuk ke dalam kamar Viola. Mereka memang masih tidur pisah kamar hingga bulan ini.
Langkahnya terhenti di sebuah lemari pakaian Viola. Hendra membuka lemari tersebut dan mengambil semua celana pendek istrinya yang sudah tersusun rapi. Setelah itu Hendra memasukkannya ke dalam kardus. Viola terdiam melihatnya.
__ADS_1
“Buang celana itu semua atau kasih celana pendek kamu, daripada saya bakar sekarang juga!” Hendra menatap Viola dengan wajah dingin. Viola sampai tidak bisa berkata apapun.
“Saya tidak suka melihat kamu pakai celana kurang bahan seperti itu lagi. Saat ada saya ataupun tidak" ucap Hendra pada istrinya.
Viola menundukkan kepalanya. Dia begitu tak menyangka bahwa Hendra bisa semarah itu.
"Kamu sadar gak? Pakaian mu yang seperti ini bisa membuat hawa nafsu pria yang bersamamu tadi bergejolak. Apa kamu sengaja menggunakan pakaian ini dihadapannya VIOLA?!"
Isakan tangis mulai keluar. Untuk pertama kalinya ada orang yang memarahi Viola habis-habisan seperti ini.
“Ya Allah sakit banget dimarahi kayak gitu. Kak Jovan aja ga pernah bentak Vio. Papa apa lagi. Pengen udahan aja nikahannya. Tapi ga bisa hiks hiks hiks” tangisan tersebut berhenti setelah suara ponselnya terdengar. Tertera nama “Mama Cantik”.
Sebelum menerima telfon tersebut, dia pun berusaha mengembalikan suaranya seperti semula, agar tidak terlihat sedih.
"Ehem,, cek cek. Ehem..cek cek.. aaa.. ii.. uu” dia pun berusaha untuk terdengar bahagia nantinya.
“Hallo mama cantikku” setelah ponsel terhubung dan dia pun melepas rindu dengan sang mama.
“Hallo sayang. Gimana kabar kamu? Tumben ih seminggu ga ada telpon mama. Emang kalian sedang sibuk ngapain sih” sang mama yang berpikiran bahwa anaknya pasti sedang happy-happy ternyata masih sama seperti keadaan semula menikah.
”Viola baik-baik aja mama. Mama gimana? Papa? Kak Jo?”
“Baik-baik aja ko. Ini tadi ada teh Airin kesini bantuin mama buat cake red velvet dan tiramitsu. Kesukaaan kamu lho”
“Ihhh mama. Viola pengen banget”
Cerita panjang lebar dari mereka berdua membuat Viola tidak memperhatikan jam, karena ini sudah menunjukkan pukul 10 malam.
“Ya udah anak cantik. Udah dulu ya, salam buat suamimu. Pengen banget mama ngobrol sama dia. E malah dia udah tidur. Ya udah deh. Assalamualaikum” ucap mama Viola.
“Ya, Ma. Lain kali ya. Waalaikumsalam” ucapnya mengakhiri telpon dari sang mama.
...___________________...
...Quotes...
__ADS_1
...Laranganku adalah peduliku dan cemburuku adalah rasa sayangku. Jika aturanku salah untukmu, tegur saja diriku agar aku bisa jadi yang terbaik menurut versimu....