
Hallo guys, jangan lupa baca juga novel PLEASE LOVING ME ya. Dan tetap support novel karya penulis agar tetap semangat nulis novel hehe.
____________________
Tak panjang lebar, Viola pun mengikuti langkah Hendra untuk masuk ke dalam rumah. Suaminya masuk ke dalam kamar dan dia segera memanaskan makanan untuk makan malam. Semua telah dipersiapkan dan hanya menunggu Hendra selesai membersihkan tubuhnya.
20 menit berlalu. Dan Hendra pun segera duduk di kursi makan..
"Silahkan, Mas. Aku tadi habis delivery makanan kesukaanmu loh, Mas" Viola sebisa mungkin mengambil hati Hendra agar tidak terus-terusan di diamkan oleh suaminya tersebut.
Untung aja gue tadi sempet pesen makanan. Coba kalau enggak. Ini kan satu-satunya cara buat meluluhkan hatinya biar ga marah-marah terus. Batin Viola sembari mengambilkan lauk untuk suaminya.
"Terima kasih" celetuk Hendra setelah diambilkan beberapa lauk oleh Viola.
Makan malam berjalan dengan hening. Dan sampai setelah selesai, piring telah dibersihkan, Hendra lantas memulai bicara.
"Kamu tau masalah teror yang ada di kelasmu?" tanya Hendra pada Viola yang sedang menikmati es jeruk miliknya.
DEG.
Duh, dia ko tanya soal itu sih. Gue jawab apa coba. Ga mungkin gue jawab kalau itu adalah gue. Batin Viola.
"Gak tau Mas. Kayaknya si ga ada apa-apa. Coba deh besok aku tanya ke temen-temen" jawab Viola.
"Em.. masak kamu ga tau? itu dari kelasmu sendiri loh" jawab Hendra merasa ada kejanggalan dengan jawaban istrinya.
"Beneran deh, ga tau. Kan Mas Hendra tau sendiri kalau aku beberapa hari ga masuk kuliah"
"Em, ya udah. Lupakan saja. Ini kamu udah sembuh apa belum? kalau belum kita berobat setelah ini" ajak Hendra untuk memeriksakan kondisi Viola.
"Udah sehat Mas. Alhamdulillah"
"Makanya jangan nangis terus-terusan. Semua itu demi kebaikan kamu. Tau itu?!" ucap Hendra.
"Oh ya, satu lagi. Kalau ada temenmu main kesini, jangan lupa kasih kabar dulu. Ya masa saya pulang ke rumah dengan kondisi ada mahasiswa saya. Bisa-bisa mereka berpikiran kalau saya ngapelin kamu. Kan tahu sendiri ga ada yang tau tentang pernikahan kita" ucap Hendra yang tanpa dia tau sebenarnya Gea, Yosi dan Lisa sudah tau tentang hubungannya dengan Hendra. Kecuali Erika.
Kringgggg.
Tiba-tiba, terdengar bunyi ponsel Viola.
"Wah Kak Jo telfon nih" tutur Viola dengan antusias melihat Kakak laki-laki menghubunginya.
__ADS_1
"Hallo Kak"
"Dek, besok minggu kita akan kesana ya. Keluargamu dan keluarga Hendra. Eh sama ada calon kakak iparmu juga"
"Oke deh. Kalian mau dimasakin apa?" tanpa dia sadar baru bisa masak beberapa masakan yang simpel. "Em maksudnya mau dipesenin makanan apa Kak?" ulangnya lagi.
"Alah, orang kita mau masak-masak juga disitu ko. Ya udah. Bye. Selamat bermalam dengan suamimu dedek bocil" Jovan sengaja menjahili adiknya dan ternyata Hendra mendengarkan tertawa geli dengan ucapan Jovan.
Viola langsung menepuk paha Hendra agar tidak menertawakan hal tersebut. Telfon lantas dimatin dan diapun segera keruang tengah.
"Mas, gimana ini? mereka besok mau kesini loh. Bagaimana dengan kamar kita yang masih pisah?" ucap Viola yang khawatir jika nantinya muncul kecurigaan dibenak orang tuanya.
"Ya udah, kamu ke kamar ku aja. Beresin semuanya. Mulai malam ini kita sekamar"
"Ha? sekamar??' Viola melototkan mata pada Hendra.
"Lah kan kita udah sah suami istri" ucap Hendra sembari menyentil kening istrinya.
Pletak!
"Oh ya deng" Viola menutup mulutnya seketika.
Melihat suasana hati Hendra yang sepertinya bisa berdamai dengannya, Viola memulai pembicaraan mengenai CCTV untuk rumahnya.
"Untuk apa? Bukankah rumah kita sudah ada pengamanan di depan sana?" Hendra menunjuk pos security di depan kompleksnya.
"Ya sih, Mas. Tapi kan.."
"Udah sana siap-siap pindahan ke kamar saya. Takutnya kalau pindahan hari minggu pagi, kamu terburu-buru, keburu mereka udah datang" ucap Hendra sembari menyeruput teh hangatnya.
Mendengar perintah dari Hendra. Viola segera membersihkan kamarnya dan membawa apa saja yang harus dipindahkan di kamar suaminya tersebut.
Hampir 30 menit Viola mondar mandir memindahkan barangnya.
"Kalau mindahin barang jangan satu per satu. Bisa-bisa besok subuh baru kelar" ketus Hendra sembari membawa box besar untuk mempercepat memindahkan barang.
Yee, ngomong doang. Bantuin kek dari tadi. Gerutu Viola.
"Mana ini yang kamu pindahin?" tanya Hendra.
"Ini semuaaaaaaa, yang akan aku pindahkan" ucap Viola dengan merentangkan tangannya.
__ADS_1
"Astaga, perlengkapan wanita sebanyak ini? Ya udah ayo kita gerak cepat. Saya sudah mulai ngantuk" titah Hendra.
Mereka bekerja sama dengan baik. Tidak ada percekcokan yang terjadi. Hendra benar-benar mengemong Viola dengan caranya sendiri. Hingga tiba-tiba terselip sebuah foto yang terjatuh dari salah satu buku Viola.
"Foto? siapa ini? bukankah dia pria yang pernah bertarung denganku waktu malam itu" tanya Hendra mengingat kejadian beberapa bulan lalu.
"Eh iya. Ini emmm, gak apa-apa Mas. Nanti juga akan ku buang ko" ucap Viola yang gugup melihat Hendra menemukan foto mantannya.
"Sini dulu. Duduk" Hendra meminta Viola untuk duduk disampingnya.
Setelah istrinya duduk dia pun mulai menarik napas perlahan.
"Bagaimana? apa kamu masih mencintai dia? Apakah pernikahan ini tidak ada artinya buat kamu?"
"Bukan begitu, Mas. Memang itu belum aku buang setelah putus dengannya. Sini Mas fotonya. Nanti akan ku bakar kalau perlu" Ucapan Viola begitu meyakinkan Hendra sehingga dia percaya dan suasana hatinya mulai membaik.
Hendra memang tak tau menau soal masa lalu istrinya. Tapi dia percaya suatu saat dia akan memiliki Viola seutuhnya tanpa ada masa lalu Viola yang menghantuinya.
Mereka lanjut memindahkan barang hingga tak terasa sudah pukul 22.00.
Tubuh pun yang merasa capek dan Viola bersiap untuk tidur.
"Kita tidurnya pisahan aja. Sekasur tapi ada batasnya guling ini. Tapi kalau kamu siap sekasur maka ga usah ada guling ini" celetuk Hendra pada istrinya yang tengah memakai skin care.
"Pakai guling aja dulu ya, Mas. Ga apa-apa, kan?" ijinnya pada sang suami.
"Iya, gak apa-apa"
Mendengar ucapan tersebut, akhirnya Viola segera berbaring dan memunggungi Hendra.
Untuk kali pertamanya dia tidur dengan suaminya. Hatinya kini merasa lebih tenang dibandingkan biasanya. Dia tidak tau apa yang dirasakan kini, yang jelas hatinya lebih tenang dibandingkan biasanya.
"Semoga awal yang baik untukku melupakan Viko dan kamu adalah alasan untuk lupa semua tentang dia" batinnya sebelum memejamkan mata untuk tidur.
...___________________...
...Quotes...
...Bisakah kamu seperti bumi?...
...Menjadikan bulan satu-satunya....
__ADS_1
...Pemenang di hatinya....
...Meskipun banyak sekali objek yang kebih cantik darinya yang mencoba untuk bersinggah di langit bumi....