
Jangan lupa mampir di novelku yang satunya ya guys. PLEASE LOVING ME. Ceritanya gak kalah seru lho. Yuk capcus.
Untuk novel ini jangan lupa di like, comment dan follow aku ya guys. Terima kasih.
____________
Di kampus.
“Guys sini deh gue mau cerita” ucap Gea yang kini tengah duduk di kursi taman dengan meminum minuman kemasan.
“Apa sih Ge, cerita asal cerita aja”jawab Yosi yang antusias menanggapi sahabatnya cerita.
“Kalian tau gak, tadi tuh ya waktu gue ijin ke kamar mandi. Masak gue liat Bu Anggun sedang zoom in zoom out fotonya Pak Hendra coba. Gimana nanti kalau Viola tau tentang ini? Bisa berabe dong, saingannya dosen euy” tutur Gea panjang lebar,
“Waduh, tikungan tajam nih. Bu Anggun juga belum tau masalah pernikahan mereka. Terus gimana dong” Yosi.
“Yaa nih, makanya. Kalian jaga rahasia ini baik-baik ya. Ya Lis ya” Gea menyenggol bahu Lisa yang dari tadi memainkan ponselnya.
“Oh iya ya guys” jawab Lisa.
"Lis, lo jangam terlalu bucin lho, nanti kalau kecewa baru tau rasa. Sakit lurr, sakit. Kalau kata orang jawa itu jerruuu (artinya dalam)" ucap Gea.
"Hm ya, oke oke. Thanks ya udah ngingetin. Tapi so far menurut gue, gue gak terlalu bucin sih. Kalian aja kali yang nganggepnya terlalu serius" ucap Lisa yang merasa benar.
"Dikasih tau juga. Yang liat itu orang lain Lis. Bukan diri lu sendiri" ucap Gea.
Yosi yang melihat sahabatnya saling adu argumen pun mencoba menengahi.
"Sudah lah, sudah. Daripada debat mending kita pulang yok. Udah laper nih" Yosi.
______________
Tiga minggu berlalu.
Aktivitas dirumah Hendra berjalan sebagai mana keluarga kecil dengan bertambahnya sang menantu cantik di kediaman Nugraha.
Hendra dan Viola setelah sarapan mereka memutuskan untuk kembali ke kamar. Viola berada di balkon sambil melihat area rumah Hendra dari atas sedangkan suaminya sedang tiduran di sofa. Dengan di temani teh hangat Hendra mendekat ke arah Viola.
Ehem.
“Baju mu yang kemarin pindahan sudah kamu keluarkan semua apa masih ada yang di koper?" tanya Hendra dengan membawa secangkir teh.
“Baru sebagian ini mas. Kenapa?”
“Ya sudah gak usah di keluarkan. Hari ini kita langsung ke Bandung ya. Soalnya besok saya ada rapat yang gak bisa di wakilkan” jelas Hendra.
“Mendadak sekali!! Kan rencananya kita mau balik ke Bandung Lusa" teriak Viola yang kaget tiba-tiba ada perubahan hari kepulangan ke Bandung.
“Mau ikut gak? Apa mau tetap disini”
__ADS_1
“Ya deh ya. Ikut lah. Masak mau di sini. Sekarang packing lagi nih berarti? Huft melelahkan sekali”
Hendra yang telah berbalik pun merasa puas telah membuat istrinya merasa kerepotan. Lucu saja jika membuat Viola menggerutu bak mesin burung betet baginya.
“Oh ya tolong sekalian baju saya ya. Kopernya nanti saya siapkan. Bajunya ada di almari” pesan Hendra lantas pergi.
Huhh enak sekali dia. Tinggal merintah ini itu. Lah gue? Harus beres-beres sendiri. Ngerapiin punya gue aja udah capek banget. Apalagi sama punya dia? Bisa-bisa tepar gue. Sabar Vi sabar, anggap saja Ospek menjadi pengantin baru. Batinnya sembari mengelus dada.
Satu per satu pakaian telah di masukkan ke dalam koper. Untuk pakaian dalamnya, Hendra sengaja sudah packing terlebih dahulu. Dia sengaja memisahkan agar istrinya tak merasa risih melihat CD tempat harta karun suaminya.
Setelah semuanya beres, Viola dan Hendra bersiap untuk turun. Satu koper besar dan tas kecil yang Viola siap untuk dibawa, tiba-tiba langkah Hendra menghentikannya.
“Biar saya saja. Kamu jalan duluan” ucap Hendra singkat.
Sebuah outfit simple namun sangat pas dipakai Hendra menambah tingkat ketampanannya.
“Loh Mama Papa mana mas? Ko ga ada sih” ucap Viola setelah mencari keberadaan sang mertua.
“Mama Papa ada acara, jadi kita langsung berangkat saja” tutur Hendra melanjutkan langkah ke mobilnya.
Koper dan tas dimasukkan di bagasi dan Viola telah duduk di kursi depan.
Perjalanan kali ini adalah pengalaman Viola pertama kali setelah menjadi istri dari Pak Dosennya.
Mobil yang hening membuat Viola merasa suntuk, akhirnya dia memutuskan untuk memutar lagu dari Tiara Andini- Janji setia. Dia menyanyikan lirik per lirik dengan hati, seakan tak peduli dengan Hendra.
Kini aku mengerti.
Tak dipungkiri.
Hanya kamu yang ku miliki.
Bumi di kala sunyi.
Kamu takkan sendiri.
Aku disini menantimu kembali.
Reff:
Tahukah dirimu, betapa diriku (Viola menepuk dadanya pelan sebagai wujud penghayatan)
Merindukan hadirmu, ada disini.
Percayalah kasih, jarak dan waktu tak mampu menghapus.
Janji setia menjaga hati.
Dengan asyiknya Viola menyanyikan lagu tersebut dan dengan penghayatan hati. Sesekali dia memejamkan mata dan gerak gerik tangannya untuk menjiwai lagu tersebut.
__ADS_1
Tiba-tiba…
“Masih sayang mantan rupanya” ketus Hendra dengan nada dingin dan seketika Viola mematikan lagu tersebut.
“E siapa bilang. Ini itu cuma lagu mas, astaga. Ini ya ku play lagi ya” tangan Viola yang hampir menyentuh audio mobil seketika dihentikan oleh Hendra.
“Ga usah. Berisik” titahnya.
“Berisik apanya sih? Musik mellow begini dibilang berisik apa kabar dengan musik yang jedag jedug??” gerutu Viola yang masih terdengar oleh Hendra.
Dia tak mempedulikan apa kata Viola. Hendra terus fokus dengan kemudinya.
Perjalanan yang hampir 2 jam tersebut dilalui dengan lancar. Kini hampir sampai di kosnya Viola. Namun mobil belok ke arah lain dan membuat Viola bertanya-tanya.
“Mau kemana? Kos ku kan sana mas? Sejak kapan kos ku pindah? Haa? Alamat siapa yang kamu ingettt?” teriak Viola panjang lebar.
Belum selesai dengan ucapannya Hendra sengaja menghentikan “Hari ini kamu pindah.” tutur Hendra seraya fokus dengan setirnya karena jalan macet akibat hujan deras.
“Ha? pindah? Pindah kemana? Aku kan gak punya tempat tinggal lain? Tepatnya kita sih. Kalau kita pindah nanti mau tidur dimana? Ya kali kita tidur di kampus” cerocos Viola.
Hendra yang mendengarnya langsung menyumpal mulut Viola dengan kue red velvet yang ada di Dashboard mobilnya.
“skaadjsfhjjk” ucap Viola tak jelas dengan muka yang nampak kesal karena mulutnya penuh dengan kue akibat ulah Hendra.
“Berisik. Saya belum selesai bicara” ucap Hendra.
“Semalem Papa ngasih kita rumah sebagai hadiah pernikahan dan hari ini kita harus segera pindah karena memang ada pekerjaan yang gak bisa saya tinggal. Soalnya saya lupa ngasih tau” lanjut Hendra.
“Rumah? Maksudnya tempat tinggal kita berdua gitu?” tanya Viola.
“Iya, kita hanya tinggal berdua. Tapi kamu tenang saja. Nanti kita pisah kamar” jawab Hendra gamblang. Viola langsung bernapas lega mendengarnya.
"Oke, siap Mas” jawab Viola dengan senyum sumringah di bibirnya.
Tak lama kemudian mobil telah mendekati alamat yang telah tertulis. Setelah sampai, mereka pun turun dari mobil. Nampaklah sebuah rumah berbentuk modern berdiri kokoh didepan mereka.
"Waww gil@ gede banget ini mah, bagus dan luas lagi. Udah gitu mewah banget” decak kagum Viola saat melihat rumah pemberian sang mertua dari pagar dan akses yang ada pada rumah bernuansa putih dan emas.
“Iya ini sudah dipersiapkan papa untuk kita”
Nugraha memang sengaja membelikan rumah besar dan mewah yang tak jauh dari kampus mereka. Meskipun dia tau nantinya hanya akan dihuni oleh sang anak dan menantu tapi Nugraha ingin mereka hidup nyaman dan damai maka dari itu membeli rumah ini.
“Yok masuk, sekalian kita lihat-lihat dalam rumahnya” ajak Hendra sambil menyeret kopernya diikuti oleh Viola yang mengikuti dari belakang sambil membawa tas kecil miliknya.
Ceklek.
Hendra membuka pintu rumah lalu dia mempersilahkan Viola untuk masuk. Hal pertama yang mereka lihat adalah ruang tamu yang sangat bagus.
...____________...
__ADS_1
...Maret mengajarkanku menjalani hubungan dewassa yang sebenarnya untuk selalu yakin, dengan jarak yang menjadi tantangan utama. Tanpa komunikasi intens, tetapi selalu saling memahami dan percaya :)...