HELLO, DOSEN KUTUBKU

HELLO, DOSEN KUTUBKU
ALAT PENYADAP


__ADS_3

Hello guys, yuk jangan lupa baca juga novel yang berjudul PLEAS, LOVING ME sebagai support kalian terhadap karya penulis.


___________________


Disisi lain ada Gea, Yosi dan Genk para laki-laki yang telah stand by disudut kampus untuk mengawasi apa yang terjadi.


Lisa dan Viola yang sudah berada didalam mobil Bu Anggun pun melancarkan aksinya. Lisa yang masih berakting kesakitan dan tak lupa Viola meletakkan alat penyadap suara yang tempatnya sangat strategis dan dia percaya akan mendapatkan informasi dari alat tersebut.


Alat kecil itu diletakkan ditempat yang menurutnya aman dan di cek sesekali untuk mendapatkan respon dari Miko, yang membawa alat pendengarnya.


"Cek cek, Miko denger gak?" ucap Viola dengan sangat pelan. Dan tak lama kemudian sebuah pesan singkat diterimanya.


"Iya, denger Vi, aman" tulis Miko.


Bu Anggun yang melihat mahasiswi kesakitan dan anehnya menumpang mobil miliknya menjadi tumpangan.


“Kamu itu kenapa? Kayaknya ga ada yang luka tuh?” telisik Bu Anggun yang sesekali melihat ke arah Lisa. Dia memperhatikan mahasiswinya secara teliti.


“Iya bu, teman saya maag-nya kambuh. Tolong antar kami ke rumah sakit terdekat ya Bu” ucap Viola mewakili Lisa.


Orang kita cuma nebeng bentar ko curigaannya minta ampun, kayak mau maling aja. Batin Lisa sembari masih memegangi perutnya.


“Kamu itu ya, sudah tau punya teman yang sakit-sakitan itu diinggetin untuk makan teratur, tidak makan sembarangan, tidak makan pedes atau asem gitu. Gimana sih” ketus Anggun yang sangat sensitive sekali jika berhadapan dengan Viola.


Sialan gue dibilang sakit-sakitan. Secara tidak langsung dia doain gue dong. Huft nyebelin banget sih. Gerutu Lisa dalam hatinya.


“Ma-maaf Bu, tadi sebenarnya saya…” belum selesai Lisa bicara sudah dihentikan oleh Bu Anggun.


“Sudah jangan banyak bicara nanti malah makin sakit, saya lagi yang salah” ketusnya dan kembali fokus dengan kemudi.


“Oh ya tumben Bu Anggun jam segini sudah pulang Bu. Biasanya dosen pulangnya agak sorean” tanya Viola basa-basi untuk mencairkan suasana.


“Ya kan jam ngajar saya sudah selesai, jadi ya saya pulang. Emang kenapa” jawabnya.

__ADS_1


“Hehe gak apa-apa Bu. Cuma tanya"


Mendengar jawaban dari Bu Anggun yang ketus dan Viol yang berusaha mencairkan suasana justru membuat Lisa ingin tertawa keras namun ditahan.


Udah tau Bu Anggun cuek, jutek masih aja diajak ngobrol. Kalau gue mah ogah.


Mengetahui respon Bu Anggun yang begitu cuek membuat Viola dan Lisa tidak memperpanjang obrolan lagi. Perjalanan ke Rumah Sakit pun yang hampir sampai membuat mereka harus bersiap untuk turun.


__________________


Sedangkan Miko yang mendengar percakapan dari alat penyadap hanya tertawa cekikikan dan membuat para temannya menjadi penasaran.


“Hei lo itu dengerin apa sampe ngekek gitu? Bagi dong itu earphone nya” ucap Gea.


“Ini nih lagi dengerin Viola sama Lisa di ceramahin sama Bu Anggun. Sumpah ya itu dosen ga enak banget diajak ngobrol. Kayak gitu ko mau jadi pasangan Pak Hendra bisa-bisa perang dunia tiap hari” omelan dari Miko lolos dari mulutnya.


“Idih udah kayak emak-emak lo Ko” ucap Bima yang merasa temannya melebih-lebihkan.


“Udah-udah ayo jemput mereka di Rumah sakit. Tapi hati-hati jangan sampai ketahuan Bu Anggun” ajak Gea pada para temannya.


Saat mereka bersiap untuk pergi, disisi lain ada Devian sedang bertemu dengan orang yang sangat mencurigakan. Disisi lain mereka bersiap untuk menjemput Viola dan Lisa tapi disisi lain juga mereka penasaran dengan tingkah Devian yang celingukan dan secara sembunyi menerima barang dari pria mencurigakan tersebut.


“Guys, lo lihat deh, itu kan Devian. Kenapa dia sangat aneh? Gimana nih kita? Mau nyelidiki Bu Anggun apa mau Devian?” tanya Yosi pada teman-temannya.


“Emangnya nama Devian ada di list orang mencurigakan bagi Viola?” tanya Fadhil.


“Setauku ngga sih Bang. Tau deh lupa. Tapi sikapnya tadi itu sangat mencurigakan” jawab Yosi.


“Ah ga mungkin juga Devian nglakuin hal jahat gitu sama Viola. Dia kan suka sama Viola, masa iya dia bakal nyelakain orang yang dia sayang?” ucap Miko.


“Lah siapa yang tau isi hati orang?” celetuk Fadhil.


“Udah-udah, fokus ke tujuan awal aja. Kita jemput Viola dan Lisa dulu. Kita pantau terus perkembangan informasi yang ada. Jika memang mencurigakan kita tingkatkan pengintaian tapi jika dirasa memang Bu Anggun bukan pelakunya, maka kita harus ganti target. Bagaimana?” ucap Satria sebagai orang yang paling dewasa diantara mereka.

__ADS_1


Diperjalanan mereka terus memantau situasi dari alat penyadap suara. Mereka berharap akan ada titik terang mengenai teror yang dialami Viola.


____________________


Rumah sakit.


“Sudah sampai nih, kalian perlu bantuan gak?” tanya Bu Anggun yang menurut mereka hanya basa-basi.


“Tidak usah Bu, terima kasih Bu Anggun” ucap Viola lantas keluar dari mobil. Tak lama setelah itu ada perawat rumah sakit yang siap kursi roda untuk Lisa karena dilihat pasiennya kini tidak terlalu parah.


“Ayo Kak, silahkan naik. Saya akan membantu ke ruang ICU” ucapnya dengan nada sopan.


Mau tak mau Lisa naik ke kursi roda untuk mengelabuhi Bu Anggun hingga dia pergi. Setelah dirasa cukup dan sampai di depan pintu ruang ICU, Lisa menghentikan perawat agar tidak membawanya masuk.


“Sudah-sudah sampai sini saja. Saya sudah sembuh, nih saya sudah sehat wal afiat” ucapnya dengan merentangkan tangan dan memutar tubuhnya agar perawat percaya mengenai kesehatannya.


“Loh gak apa-apa. Dokter bisa memeriksa kakak agar lebih sehat kak” seketika Viola dan Lisa saling pandang dan…


"Tidak-tidak, terima kasih" ucap Lisa.


Dan setelahnya “KABUURRRR” ucapnya bersamaan dengan Viola mengambil langkah seribu.


Mereka ngos-ngosan berlari menuju jalan keluar rumah sakit karena hampir dikejar oleh security dan melewati beberapa pengunjung.


“Huh hah huh hah. Gilak ini mah, mau jadi intel malah mau masuk IGD. Perjuangan banget” celetuk Lisa sambil mengontrol napasnya.


“Ya Allah namanya juga demi temen Sa. Apa ga kasihan sama gue, tiap hari diteror terus” jawab Viola dengan memperhatikan wajah sedih.


“Ya deh ya. Yaudah ayo cari tempat buat nunggu temen-temen yang lain. Ko belum kelihatan batang hidungnya”


“Eh Sa, itu tadi alat penyadapnya udah tinggal naruh gitu aja kan ya? Gue takut, alat penyadapnya eror atau apa gitu”


“Udah tenang aja. Cuma tinggal naruh aja ko. Terus nanti kita bisa pantau dari alat yang dibawa Miko” Lisa menjelaskan pada Viola dan berharap berjalan sesuai rencana.

__ADS_1


__ADS_2