HELLO, DOSEN KUTUBKU

HELLO, DOSEN KUTUBKU
HARUMNYA


__ADS_3

Jangan lupa mampir di novelku yang satunya ya guys. PLEASE LOVING ME. Ceritanya gak kalah seru lho. Yuk capcus.


Untuk novel ini jangan lupa di like, comment dan follow aku ya guys. Terima kasih.


____________


Ceklek.


Hendra membuka pintu rumah lalu dia mengajak Viola untuk masuk. Hal pertama yang mereka lihat adalah ruang tamu yang sangat bagus.


Kemudian mereka lanjut melihat-lihat. Di dalam rumah pribadi Hendra dan Viola tersebut banyak ruangan diantaranya 3 kamar dilantai bawah, 1 ruangan bioskop mini, 1 ruangan untuk ruang gym, 1 ruangan untuk karaoke, 2 ruangan untuk ruang kerja Hendra dan Viola, dan 5 kamar di lantai atas, 1 kolam renang, 1 garasi, 1 dapur, ruang keluarga dan ruang tamu yang luas serta rooftop yang menyajikan pemandangan indah dari atas membuat suasana disana semakin tenang.


Bisa dibilang itu bukan sebuah rumah melainkan seperti sebuah mansion mini.


“Sepertinya ini ruang keluarga yang gabung dengan dapur deh Mas” ucap Viola pada Hendra.


“Hm, sepertinya”


Mereka pun lantas menuju kamar di lantai dua karena sudah sangat lelah jadi ingin rasanya langsung istirahat.


“Disini ada dua kamar utama, kamu mau pilih yang mana Mas?” tanya Viola yang melihat dua pintu besar dihadapkannya.


“Saya yang sebelah kanan” jawab Hendra.


“Berarti saya yang sebelah kiri ya mas” ucap Viola.


Mereka pun langsung masuk ke dalam kamar masing-masing. Berhubung tadi kopernya jadi satu maka Viola mengambil dulu beberapa baju yang dibawanya.


Hendra tampak baru menutup pintu kamar dan berbalik. Dia pun langsung terkejut karena kamar yang dia pilih ternyata warna pink dan dia sangat tidak menyukai warna terang apalagi pink. Dia lebih menyukai warna gelap.


“Loh!! Kayaknya saya salah pilih kamar, masa iya saya di kamar cewek” gerutu Hendra.


“Warnanya terang lagi, pink. Ahh. Mendingan saya minta tuker sama dia deh, semoga saja dia mau” gumam Hendra lalu pergi keluar kamar.


Sementara itu.


Viola saat ini tengah berdiri disamping pintu, dia tampak sedang melihat kamarnya.


“APA INI? Kamar ko hitam, kayak gudang aja!” ucap Viola.


“Haiss, gua jadi takut kalau nanti pas gue tidur tiba-tiba ada kecoa atau serangga lain gimana? Kan gak bisa lihat karena gelap ditambah lampunya juga redup. Hih merinding gue bayanginnya” ucap Viola sambil bergidik ngeri.


Ceklek.


Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka, Viola pun langsung menoleh dan terlihat disana Hendra masuk sambil membawa koper yang tadi di bawanya.

__ADS_1


“Ngapain Mas Hendra kesini? Saya mau tidur pak” ucap Viola yang nampak tak suka dengan kedatangan Hendra.


“Saya kesini mau ngajakin kamu buat tuker kamar karena kamar saya warna pink sedangkan saya benci warnanya. Kamu pindah ya” tawar Hendra.


“Lagian bukannya kamu suka warna pink ya dan kamu juga ga suka warna hitam, jadi terima saja. Ya. jangan kebanyakan mikir toh nanti kita dapat kamar yang sesuai selera” lanjut Hendra.


“Dari mana Mas Hendra tau kalau saya suka warna pink dan saya ga suka warna hitam?” tanya Viola menyelidik.


“Ya tau lah, saya kan pernah tidur di kamar mu dan kamarnya juga catnya pink dan saat kamu masuk ke kamar saya juga kamu bilang kalau gak suka dengan cat nya, bukan begitu?” tanya Hendra.


“Oohhhh kirain” ujar Viola manggut-manggut.


“Gimana? Kamu mau tuker kamar gak?” tanya Hendra lagi.


“Mau” jawab singkat Viola.


“Jadi ini deal ya kita tuker kamar” ucap Hendra.


“Ya, deal” balas Viola.


“Udah kamu boleh pergi dan saya mau mandi” usir Hendra.


“Ah mas Hendra ini mas. Ya ya aku pergi” seru Viola lalu masuk ke kamar miliknya.


__________


Hendra yang telah keluar kamar dengan pakaian yang rapi dan sudah wangi menghampiri Viola yang sedang rebahan sambil menonton TV di ruang tengah.


“Loh Mas Hendra mau kemana? Ko sudah rapi” tanya Viola yang seketika bangun karena melihat Hendra yang ingin pergi.


“Apa kamu lupa, kan kemarin saya sudah bilang kalau saya harus menghadiri rapat karena tidak bisa di wakilkan” ucapnya.


“Oh ya ya, kan udah bilang ya”


Viola pun mengantar Hendra sampai depan pintu. Saat hendak melangkah ke mobil, Hendra menghentikan langkahnya dan mengulurkan tangan sebagai tanda Viola agar bersalaman dengannya.


Namun sayangnya Viola yang tak mengetahui kode tersebut pun mengabaikannya.


“Cium tangan!” ucap Hendra setelah beberapa detik tangannya di udara.


“Oh iya mas, maaf-maaf ku kira kamu tadi kenapa, e taunya disuruh cium tangan. Iya mas Hendra, hati-hati di jalannya. Sambil cipika cipiki gak nih? Hehe” canda Viola.


“Berani beneran gak nih?” selidik Hendra yang menantang Viola.


“Eh ga, bercanda hehe. Ya udah mas, hati-hati. Semangat. Cayoooo!” tutur Viola dengan mengepalkan tangan dan seakan membuat Hendra untuk bersemangat.

__ADS_1


Setelah mengantarkan Hendra di depan pintu, Viola pun merasa lapar karena tadi belum ada makanan yang mengisi perutnya.


“Lapar sekali ya. Kiraa-kira di kulkas ada makanan gak sih ini? Soalnya kan kita barusan kesini” Viola melangkah membuka kulkas dan ternyata..


ASTAGA


Kaget bukan kepalang, ternyata di kulkas sudah terisi penuh


“Siapa yang ngisi ini? Kadaluarsa gak nih? Wah benar-benar sudah di prepare dengan baik. Untuk siapun yang telah mengisi kulkas ini, terima kasih ya telah mengisinya. Emmm apa mungkin papa kali ya, anggap saja iya”


Viola mengambil beberapa lembar roti tawar dan di oles selai cokelat dan strawberry.


“Hemm lezat. Enak kali ya kalau sambil Video Call geng Ulala” Viola mencari keberadaan ponselnya dan menekan nomor Lisa.


Nomor sedang dalam panggilan lain. Tulisan yang tertera dalam aplikasi berwarna hijau tersebut.


“Ha? bisa-bisanya ya ni anak. Pasti lagi bucin deh”


Lantas Viola menekan nomor Gea, tak butuh waktu lama telponnya pun diangkat.


“Violaaaa, micccu" Gea.


“Hola Halooo Geee. Miccuuu tuuu. Yosi sama Lisa kemana? Apa kalian sekarang gak bareng?”


“Iya nih, Lisa lagi ngebucin kalau Yosi sedang makan nih” kamera dihadapkan pada Yosi dan dia melambaikan tangan untuk menyapa.


“Wait wait, lo lagi dimana nih? Perasaan belakang rumah lo ga kayak gitu deh” Gea dan Yosi menyipitkan mata memperhatikan Viola.


“Haha, tebak gue sedang dimana coba?”


“Gak tau, dimana emang? Eh di hotel ya, lagi en@-en@ ya” gelak tawa mewarnai siang itu.


Belum juga terjawab, ternyata Hendra yang sudah sampai di kampus sekaligus sebagai Dosennya pun melewati mereka. Seketika Gea dan Yosi yang tadinya antusias langsung diam seketika.


“Hustttt suami lo lewat barusan. Wanginya itu loh heemmm” ucap Gea dengan memejamkan mata menghirup aroma Hendra yang barusan jalan di depannya.


“Woii! Suami gue itu. Awas ya lo macem-macem” titah Viola.


“Eh lanjut lagi, lo lagi dimana ini?” tanya Yosi.


“Taraaa. Ini rumah dari kado pernikahan gue dan Pak Dosen itu dong haha. Bagus khaan?” Viola memperlihatkan seisi rumah tersebut.


“Gil@, gak kaleng-kaleng nih mertua lo. Ajakin kesitu dong ya ya ya” pinta Gea.


..._______________...

__ADS_1


...Ketika wanita mu sudah lelah dan dia menjadi pendiam....


...Ketahuilah ada rasa sakit yang tidak bisa dia jelaskan dibalik diamnya disaat itu....


__ADS_2