
Hallo guys, jangan lupa baca juga novel PLEASE LOVING ME ya. Dan tetap support novel karya penulis agar tetap semangat nulis novel hehe.
____________________
“Guys, ini yakin nih. Mau dibuka aja? Kalau dibuang langsung aja gimana? Apa kalian ga takut aapa isinya nanti malah serem atau bisa juga ini bom atau….” Belum juga selesai bicara sang suara mercon sudah merebut paket milik Viola.
“Eits, Er.. sini paketnya. Biar gue aja yang buka. Ya” Viola berusaha megambil paket tersebut dan merayu Erika. Karena pastinya temannya tersebut tidak juga tau mengenai isi paket.
Satu. Tarik napas.
Dua. “Guys, beneran nih? Buka? Viola memastikan lagi” dan dijawab anggukan teman-temanya.
Tiga. Perlahan kotak tersebut di gunting.
DEG. Semua mata tertuju pada isi paket yang diterima Viola.
Kaget bukan kepalang. Isi yang diterima adalah sebuah paket Mumi dengan nama VIOLA.
“Hiiii" mereka menjerit dan menutup mata ketakutan melihat sebuah mumi dengan lumuran darah dan tanah kuburan ada dihadapannya.
“Vi, buang, Vi. Buang. Gue takut” ucap Yosi pada Viola.
Melihat Viola yang sudah ketakutan dan tidak merespon apapun akhirnya membuat Gea yang ada di samping Viola segera membuangnya ke sampah. Tidak tanggung-tanggung, dia membuang paket tersebut ke sampah depan rumah.
“Vi, lo ko selalu dapat paket misterius gini. Lo jangan diem aja. Ayo bergerak, ayo kita cari tau siapa yang ngirim paket ini. Kalau nanti lo diem aja bisa-bisa si pengirim itu malah terus-terusan ganggu lo. Ya kan guys” ucap Gea yang setelah membuang paket tersebut ke tempat sampah. Jiwa pemberaninya keluar begitu saja mengetahui teror yang diterima temannya.
“Ge, lo yakin. Kita aja ga tau siapa musuh Viola ini. Siapa yang suka atau yang ga suka aja kita ga tau kan? Terus kita harus gimana?”ucap Lisa yang merasa memang pencarian ini harus dilakukan.
“Ya kita cari aja. Bagaimana kalau kita langkah pertama mengumpulkan nama-nama yang pernah berhubungan dengan Viola. Nanti kita sortir tuh mana yang suka dan mana yang kurang suka” masukan dari Gea pun diterima oleh temannya.
“Terus?”
“Kalau nanti namanya sudah mengerucut dan semakin sedikit. Nanti baru kita sortir lagi. Dan kita perketat pengawasan gitu. Kayak intel lah. Papa gue kan selalu ngasi tau tips and trik jadi intel. Nanti kita terapkan dalam pencarian ini. Gimana? Setuju?” Gea meminta persetujuan teman-temannya.
“Oke. Setuju” ucapnya serempak.
_____________________
__ADS_1
Sedangkan di kampus, ada Hendra yang sedang mengajar. Namun kini dengan suasana yang berbeda dan tak selengkap biasanya. Bayangkan saja ada lima anak yang membolos di jam perkuliahan Hendra. Apalagi keberadaan istrinya kini sedang sakit dirumah.
“Oke. Pembelajaran kali ini kita mulai ya”
“Iya Pak” dijawab oleh mahasiswa dengan serempak.
Perkuliahan berjalan dengan lancar. Agnes yang biasanya masih kondusif, kini justru riweuh. Karena segerombolan geng dari Viola tak datang dan juga Erika.
“Pak Hendra, Agnes mau tanya kalau kita menemui kesulitan dalam menerapkan metode tersebut gimana? langkah apa yang harus kita lakukan” tanya Agnes dengan antusiasnya.
“Huhh sok tanya-tanya. Biasanya juga engga tuh. Dapat pertanyaan darimana tuhhh” sindir Miko yang tau betul bahwa Agnes tidak mungkin membuat pertanyaan sendiri. Pasti dia meminta sang temannya untuk membuatkan pertanyaan agar bisa dianggap sebagai mahasiswa aktif. Miko tau betul bahwa Agnes sangatlah mengejar Pak Hendra.
Dan pertanyaan dari Agnes pun dijawab dengan jelas disertai juga contoh yang jelas.
______________________
Rumah Mama Hendra.
“Hallo sis, kapan ya kita mau ke rumah anak kita? Rasanya sudah berbulan-bulan nih kita ga jenguk mereka” tanya Mama Hendra ke Mama Viola.
“Apa minggu ini aja ya sis. Ini sekalian sama calon mantu ku” ucap Mama Viola.
Bayangkan saja ketika dua ibu-ibu yang masih memiliki jiwa muda. Pasti sangatlah heboh.
“Siap deh. Udah aku siapin pokoknya, Sis. Aman”
Setelah menelpon sang besan, akhirnya Mama Hendra pun membuat cookies yang akan diberikannya kepada sang menantu ketika besok mereka berkunjung kesana.
_________________
Di Kampus.
Sepulang dari kampus. Miko pun keluar dari ruang kelasnya. Dia sebenarnya ingin mencari tahu siapa sosok yang menjadi pelaku dibalik kasus teror Viola. Yang dicurigai pertama kali adalah Agnes.
Perlahan langkah Miko ada di belakang Agnes. Dia berencana membuntuti aktifitas temannya tersebut, apa yang dilakukan hingga besok dia ke kampus lagi.
“Siap-siap ketahuan jati diri lo Nes, busuk-busuk lo juga gue bakal tau!” ucap Miko sembari berjalan perlahan. Sebisa mungkin langkahnya tidak diketahui oleh Agnes.
__ADS_1
“Bye girl. See you” ucap Margareth dan laura, yaitu besti dari Agnes.
“See you, too” ucap Agnes memberi sebuah kode kecupan di telapak tangannya.
Miko yang melihat itu adalah aktifitas yang aneh baginya pun bergidik ngeri.
“Idih. Jijik gue. Apa-apaan sih tu cewek”ucap Miko sambil memegangi bulu kuduknya yang berdiri.
Lanjut setelah itu, Agnes pulang di jemput oleh sebuah mobil yang terbilang mewah. Yaitu Pajero sport warna hitam. Untung saja Miko segera bergerak menuju parkir mobilnya untuk membuntuti kemana arah mobil tersebut berjalan. Benar-benar bak detektif handal, pengawasan tersebut dilakukan dengan penuh strategi.
“Oke, akan gue awasi terus tingkah laku lo Agnes tapi ga pake Monika wkwkw" Candanya pada diri sendiri.
Gas mobil terus ditancap. Hingga mobil Pajero hitam tersebut berhenti di sebuah toko bunga. Miko yang telah mengenakan baju serba hitam dan juga kacamata hitam membuat dirinya begitu yakin dengan profesi intel yang dilakukan demi sahabatnya tersebut. Dia juga kasihan melihat Viola selalu ketakutan ketika menerima paket tiap harinya dengan kondisi yang menyeramkan.
“Anjir dia berhenti di toko bunga tuh. Mau beli bunga mawar kali ya. Buat nyekar-nyekar gitu di kuburan? Kan sama halnya dengan tanah kuburan yang ada di laci meja Viola kan?” pikirnya.
Matanya tak berkedip sedikit pun, dia takut jika nanti kecolongan dengan apa yang dilakukan Agnes.
Eh ternyata setelah diperhatikan, Agnes membawa sebuah bungkusan bunga yang tak terlihat oleh Miko, jadi mau ga mau dia harus turun dan menanyakan pada penjual.
Setelah mobil Agnes melaju, dia pun turun memastikan.
“Mbak, permisi. Lihat cewek yang barusan itu mbak?” tanyanya dengan ramah.
“Oh iya, Mas. Cewek cantik itu kan ya” jawab penjual.
Idih cantik dari mana? Huekkkk. Batin Miko.
“Em iya. Tadi dia itu beli bunga apa ya mbak? Beli mawar buat nyekar ya mesti? Buat dikuburan gitu kan?”
“Bukan mas, bukan. Tadi beli bunga lily ko mas. Beneran deh. Itu dia langganan disini mas, kalau ga salah Mbak Agnes kan ya namanya” ucap sang penjual.
Hadeh malah dijelasin panjang lebar. Udah ah gue pulang aja. Baru jalan segini aja udah capek. Uh dasar gue, cuma gede badannya doang. Tenaganya zonk. Gerutu Miko sembari mengendarai mobilnya.
...__________________...
...Quotes...
__ADS_1
...Jika sudah terbiasa menghadapi badai, mengapa harus terpuruk? Bukankah kamu sudah terbiasa dengan hal ini?...
...Dimana kamu (dulu) yang kuat tanpa mengeluh? Bukankah kamu (pasti) bisa melewat ini semua....