HELLO, DOSEN KUTUBKU

HELLO, DOSEN KUTUBKU
BERULAH


__ADS_3

Hallo guys, jangan lupa baca juga novel PLEASE LOVING ME ya. Dan tetap support novel karya penulis agar tetap semangat nulis novel hehe.


____________________


“Eh Dev, duduk” balas Viola tidak enak karena Devian malah berdiri terus. Akhirnya Devian pun duduk di depan Viola.


“Kenapa?” tanya Viola menatap Devian. Viola masih curi-curi pandang ke arah meja dosen kutub tersebut.


“Gimana jawabannya?”


Devian menatapnya. Viola menatap langsung ke arah Devian sedangkan yang lain ada yang batuk-batuk tidak elit ataupun memberi candaan yang memperkeruh suasana.


“Ehem! Ada yang baru jadian nih” celetuk Bima.


“Sialan tuh mulut si Bima. Minta di celupin ke aspal apa” gumam Viola kesal. Sedangkan respon Miko adalah menendang-nendang kaki Viola untuk memberikan kode agar Viola berhati-hati dalam berucap.


Setidaknya Miko berusaha membuat suasana dikantin tidak gaduh, apalagi Miko yang sudah tau kalau dirinya telah menikah dengan Hendra.


Ya Allah, rasanya pengen ngilang dari sini. Malu, bingung campur aduk jadi satu. Devian juga kenapa sih senekat ini, kan ketemuan bisa nanti. Gerutunya dalam hati.


Viola masih diam, tidak menjawab ejekan mereka. Tiba-tiba tangan Viola menghangat. Ternyata Devian sedang menggenggam tangannya.


Aduh, mampus gue! Bakal perang ketiga nih. Viola panik.


“Momen nih!” ujar Agnes ikut-ikutan karena suasana terlalu riuh lalu tak lama kemudian kilatan cahaya dari ponsel berarah ke arah Viola dan Devian.


Cekrek.


“Sialan, pake di foto lagi! Dasar tuh Agnes Nenek Lampir, cari gara-gara dia” gumamnya lagi.


Sedangkan Viola pun tau bahwa Gea, Yosi dan Lisa mengetahui statusnya sebagai istri Pak Hendra jadi bagi mereka ini hanyalah guyonan belaka.


Beberapa orang sampai memandang kearah meja Viola disertai suara ejekan. Viola paling malas kalau sudah jadi tontonan seperti ini.


“Ecieee… Viola jadian sama Devian”


Viola mendelik suara si cewek mercon Erika! Kenapa dia ada disini?

__ADS_1


Tatapan Viola tidak sengaja mengarah ke meja dosen kutub alias Hendra. Mereka malah sedang menatap ke arah meja yang sedang di duduki Viola.


Aduh mampus maksimal ini! Satu mahasiswa lawan dosen-dosen killer. Bisa-bisa kuliah gue ngulang tahun depan! Aaa gue bingung banget. Pengen kabur Tuhan. Tolong...


Viola dengan cepat melepas genggaman tangan Devian sambil tersenyum kecil padanya.


“Ngga enak, banyak orang” bisik Viola.


Devian tersenyum kecil meresponnya. Sedangkan teman-teman Viola yang lain kembali batuk-batuk tidak elit namun tetap waspada terhadap Pak Hendra yang tak jauh dari tempat mereka.


“Gak sopan nembak di depan dosen” suara Pak Fajar menyahut tiba-tiba saat kantin sedang sepi, anyep, ademnya membuat Viola dan yang lain menoleh ke arah meja dosen dimana mereka sedang berdiri dari duduknya lalu berjalan keluar kantin.


“Gue kira ngga ada dosen” gumam Devian pelan tapi masih terdengar jelas.


“Ya lo bego! Ga lihat-lihat!” seloroh Bima yang disambut tawa oleh Miko, Satria dan Fadil.


“Vi, siap-siap nilai lo”


“Sabar ya, Vi”


Viola masih diam menatap dosen kutubnya di depan kelas. Hendra sedang menjelaskan teori baru. Viola dari tadi tidak dokus dengan penjelasannya akibat memikirkan ucapan Pak Fajar tadi di kantin. Jujur saja ucapannya cukup menyindir Viola.


Viola merasa bersalah dan lagi-lagi dirinya seperti kepergok sedang berselingkuh. Hendra berbalik setelah menulis rumus angka di papan tulis lalu menatap ke seluruh mahasiswanya setelah menjelaskan.


“Apa ada pertanyaan?” tanya Hendra.


Viola masih diam saat menatap ke arah Hendra. Tidak ada suara dan hanya ada gelengan kepala saat Viola menyapu pandangannya.


“Saya akan kasih tugas. Buat kesimpulan materi yang baru saja saya jelaskan dan beberapa contoh penerapan beserta penyelesaian masalah sebanyak lima lembar. Lalu kirimkan ke E-mail saya. Deadline nanti malam jam 00.00" ucap Hendra sambil berjalan kearah mahasiswa didiknya. Viola masih bungkam.


“Baik, Pak”


“Baiklah. Saya rasa cukup untuk hari ini. Selamat sore” kemudian Hendra menenteng buku dan keluar kelas tanpa melihat ke arah Viola sama sekali.


Ko rasanya sakit banget ya..


Viola menunduk dan menelusupkan lagi kepala pada tangan yang dia tilap di meja. Tidak terasa air mata Viola jatuh.

__ADS_1


“Vi, lo gak apa-apa kan? Lo pasti kepikiran kejadian tadi kan” tanya Lisa sembari mengelus kepala Viola.


Viola tidak menjawab pertanyaan Lisa. Yang Viola inginkan hanyalah menangis dan menangis.


“Vi, lo yang sabar ya. Gue juga ga tau harus gimana. Dan pastinya bingung di posisi lo ini” ucap Yosi yang tak kalah bingung dengan perasaan temannya kini.


“Iya sih. Tapi tadi Pak Hendra itu cuek banget sama lo. Lihat kan lo tadi, dia ga ada pembelaan atau perjuangan buat lo” mendengar ucapan Gea semakin membuat Viola menangis karena dia berpikir bahwa begitu tak berartinya Viola di kehidupan Hendra.


“Udah yok Vi, pulang. Gue anter ke rumah lo” Yosi berusaha menawarkan tumpangan pada Viola karena hanya dirinya yang membawa mobil.


Viola pun menenangkan diri dulu, menarik napas beberapa kali dan menghempuskannya pelan. Dia berusaha untuk mengontrol emosi hatinya yang kini sedang naik turunnya. Perlahan dia mengangkat kepala dan menghapus air mata pelan. Setelah dirasa sudah tenang. Viola pun berdiri dan keluar kelas bersama ketiga temannya. Mereka berjalan ke halaman kampus. Seperti biasa, mereka berkumpul sebelum benar-benar pulang.


“Mata lo sembab. Lo mewek lagi?” tanya Miko yang tadi tidak mengetahui Viola habis menangis.


Dia tidak menjawab pertanyaan Miko. Dan akhirnya duduk di samping Fadil sambil menyenderkan kepala di Pundak Fadil. Sedangkan Gea, Yosi dan Lisa duduk disamping Viola.


Pletak!


“Aduhhh”


“Lo sih, bikin mewek soalnya, jadi mewek terus kan?” ujar Lisa setelah menjitak Miko.


Miko mendumel karena dirinya disalahkan lagi. Viola masih menyender di pundak Fadil yang sudah dianggapnya seperti abang sendiri. Tiba-tiba Devian datang dan menyodorkan Viola sebuah es krim. Viola mendudukkan tubuhnya lalu berhadapan dengan Devian.


“Ini es krim buat kamu. Katanya, es krim bisa bikin mood balik” Devian mengarahkan cup es krim pada Viola. Dia menerimanya lalu tersenyum kecil ke arah Devian. Sedangkan ketiga teman Viola hanya memperhatikan betapa banyak orang yang sayang dengan temannya itu. Sampai-sampai ada orang yang berani menyatakan perasaannya di tempat yang ramai.


“Makasih, Dev” balas Viola sambil memakan es krimnya pelan. Devian menganggukkan kepala sambil tersenyum manis.


Ya Allah senyumannya…


..._______________________...


...Quotes...


...Sesulit apapun saat ini kamus harus bisa berdiri dari kerasnya cobaan, bertahan dengan segala keadaan....


...Karena satu hal yang perlu kamu ingat, bahwa Allah menciptakan sepasang kaki untuk berdiri tegak dan dia menaruh kesusahan disetiap pundak agar kita menjadi kuat....

__ADS_1


__ADS_2