HELLO, DOSEN KUTUBKU

HELLO, DOSEN KUTUBKU
MISTERI JODOH


__ADS_3

Berhubung tadi Mama Hendra di tinggal oleh sang suami, mau tak mau beliau menunggu suaminya untuk menjemput.


Begitu juga Hendra dan Viola yang sengaja ikut menemani sang Mama agar tidak kesepian. Dan pasti juga tak tega melihat orang tua harus disuruh menunggu sendirian.


"Nak, besok kalau jadi suami jangan sampai istrimu menunggu terlalu lama. Karena menunggu terlalu lama itu tidak enak. Bukan begitu Viola" ucapnya meminta persetujuan sang calon menantu.


Viola yang mengetahui hal itu seketika tertawa geli karena dapat mertua yang sangat peka, apalagi masih modis dan cantik.


Hampir 15 menit berlalu, akhirnya sang Papa datang.


"Mama, maaf lama menunggu ya. Tadi jalanan macet Ma, jadi agak lama. Makasih ya Nak Viola sudah mau nemenin mama juga" ucap Papa Hendra cipika cipiki dengan sang istri setelahnya menyalami calon menantu.


"Hehe, iya om. Ga apa-apa" jawab Vio dengan sopan.


"Ya udah kami langsung pulang ya Nak. Ndra anter pulang Viola sampai kos dengan selamat lho, jangan ngebut. Awas.." pinta Mama Hendra.


Setelah memastikan Mamanya di jemput oleh Papanya, Hendra dan Viola memutuskan untuk pulang ke kos.


Diperjalanan.


"Kamu suka gak dengan gaun tadi? takutnya kamu terpaksa menyukai pilihan tadi" tanya Hendra yang khawatir juka Viola tak menyukai namun hanya menuruti apa kata dirinya.


"Suka ko, bagus" jawab Viola dengan singkat.


Dia tak banyak bicara karena memang sedang lapar, bagaimana tidak? tadi saja ketika mau makan justru Hendra memintanya untuk ke parkiran dan fitting gaun pernikahan.


Keadaan pun kembali hening.


“Kita mampir makan dulu” ucap Hendra dengan memperhatikan wajah Viola yang sangat lelah.


“Iya Mas” ucapnya dengan lesu tanpa memperhatikan Hendra.


Mobil belok ke sebuah cafe tak jauh dari kampusnya. Mungkin Hendra sengaja membeli disana agar Viola tak cepat lapar nantinya. Perhatian kecil tanpa di ketahui oleh Vio.


“Kamu mau makan apa mas? biar aku saja yang antri" ucap Viola yang kini bergerak lebih cepat karena cacing di perutnya tak bisa diajak kompromi lagi.


“Samain aja” Untung saja begitu jawabnya, sehingga memudahkan Viola untuk memilih menu.


Akhirnya dia yang mengantri dan Hendra mencari tempat duduk yang kosong.


"Pakai kartu ini saja, pin-nya nanti ku kirim lewat pesan" tutur Hendra dengan menyerahkan kartu yang dimiliki untuk membayar.


Enak sekali, belum jadi istrinya sudah dipercaya pake kartu segala. Apalagi jadi istrinya nanti. Uhh idaman banget. Mungkin ini enaknya menjalin hubungan dengan pria yang lebih dewasa. Coba kalau sama yang seumuran pasti gak akan selalu seperti ini. Pikir Viola membandingkan kisah cintanya dengan Viko dan Hendra yang telah usai.


Selang beberapa menit setelah Viola memilih menu akhirnya ponselnya berbunyi. Sebuah pesan dari Hendra yang memberikan pin kartu yang dipegang Viola.


Tak butuh waktu lama, akhirnya Viola membawa baki yang telah terisi 2 nasi ayam, 2 kentang goreng, 2 burger, 1 es soda, 1 air mineral.


Viola sengaja memesan banyak menu kalaupun nanti Hendra tidak mau menghabiskan biarkan Viola saja yang nanti akan melahap semuanya. Pikirnya dari awal. Benar-benar tidak jaim sama sekali.


“Kamu mau makan es krim Mas?” tanya Viola yang sengaja memesan satu es krim.

__ADS_1


“Enggak. Buat kamu saja. Es sodanya biar aku saja yang minum”


Uhh, lagi-lagi dia memilih makanan yang baik untukku. Dia tau bahwa soda tak baik untuk pencernaan. Lama-lama aku meleleh dengan sikapmu yang tak bisa ku tebak.


Sengaja ku beli dua minuman yang berbeda, agar aku juga tau perhatianmu padaku. Sekecil apapun itu.


Mereka mulai lahap dengan makanannya masing-maaing. Hendra yang sudah selesai duluan menunggu Viola yang masih makan kentang goreng satu per satu. Dillihatnya wanita di depannya sangatlah lucu. Tiba-tiba dia tersenyum tanpa disadari.


Viola yang memergoki Hendra tersenyum ke arahnya seketika salah tingkah.


“Kenapa lihat-lihat, aku cantik ya Mas” dengan senyum yang ditunjukkan dengan cantiknya.


“Nih, di bibirmu ada saus sambal" Tangan Hendra menyentuh bibir Viola.


Dag dig dug… dag dig dug…Serrrrr.


Apa ini, jantungku berdegup lebih kencang. Duh-duh, gimana ini.


Mata mereka terkunci, hingga suara jeritan anak kecil membuat Hendra menjauhkan tangannya dari bibir Viola..


“Makan kayak anak kecil aja”


“Ya kan gak tau mas”


Viola melanjutkan makannya dan Hendra menghabiskan es soda yang ada di hadapannya.


“Udah yok pulang. Udah kenyang” Viola memegang perutnya sebagai tanda kenyang.


“Bukannya itu mantanmu? yang kemarin ketemu di cafe”


“Ya, dia. Biarkan saja. Yok pulang” ajak Viola mengalihkan pembicaraan agar Hendra tak membahas Viko lagi.


“Kamu gak cemburu?” ucap Hendra yang tanpa sadar sempat menghentikan langkah Viola.


“Gak, buat apa cemburu lihat dia jalan sama cewek lain. Aku kan udah gak suka sama dia"


Ucapan Viola seketika membuat Hendra berpikir keras, itu apa artinya dia sudah menyukaiku? atau bagaimana? Batin Hendra dengan mencari keberadaan kunci mobilnya.


Tak mau terlalu kepikiran tentang Viko juga, Viola langsung masuk ke dalam mobil setelah pintunya terbuka.


Perjalanan dilanjutkan.


"Itu tadi yang namanya Devita? yang katamu, dia adalah teman sekelasmu"


"Iya, itu tadi dia. Udah Mas gak usah bahas dia, toh juga udah berlalu, ya kan. Oh ya, apa kamu antusias dengan pernikahan ini?" tanya Viola pada Hendra yang fokus pada setir pengemudi.


Hingga tiba-tiba…


Hendra tak tau harus jawab apa. Dia hening sejenak memikirkan pertanyaan Viola.


“Kalau kamu sudah berniat melupakan mantanmu berarti kamu sudah siap membuka hatimu. Sama halnya dengan ku, dengan kita. Mau tak mau harus tetap melanjutkan perjodohan ini bukan? Memang semua ini berawal dari perjodohan, tapi juga memakai hati sebagai perantaranya”

__ADS_1


Hendra yang bicara panjang lebar dan nada serius. Namun salahnya dia bicara tanpa menoleh ke arah Viola, tanpa diketahui wanita sudah mimpi indah, ya. Dia tertidur karena kekenyangan.


“Bisa-bisanya tidur. Udah saya cerita panjang lebar juga. Pantesan dari tadi benerin posisi duduk mulu, ternyata cari posisi PeWe (Posisi Wenak)”


Viola yang telah terlelap pun tak menggubris. Dia tidur dengan posisi yang tidak anggun sama sekali. Kaki yang lurus ke kanan dan kiri, mulut yang menganga tapi juga terkadang mingkem


Hendra melihat wajah Viola. Ingin rasanya ketawa tapi dia juga hanyut dalam pandangan wajah cantik disana.


“Cantik, manis. Kenapa juga harus bandel, tukang tidur dan hobi banget revisi. Semoga aku tidak salah memilihmu menjadi istriku. Dan semoga aku bisa membimbingmu menjadi wanita yang sesungguhnya" ucap Hendra dengan pelan.


Huahemmm


Viola menggeliat hingga pelipisnya hampir membentur pinggiran pintu mobil. Dengan sigap Hendra menggunakan tangannya sebagai bantalan Viola agar tak terbentur.


Mobil menepi sejenak, Hendra mengambil bantal kecil yang di letakkan di samping pinggiran pintu mobil. Dengan perlahan dia menarik kepala Vio agar Hendra bisa meletakkan bantal tersebut.


Setelah semuanya clear, Hendra melajukan mobilnya dengan sangat pelan.


Perjalanan yang hampir memakan waktu 15 menit itu pun akhirnya sampai di kos Viola. Hendra berusaha membangunkan Viola namun dia tak kunjung bangun. Di tepuknya lagi bahu Viola, akhirnya dia menggeliat dan menguap.


“Hoppp. Tutup mulutmu dengan tangan. Bisa-bisanya habis makan langsung tidur" gerutunya setelah melihat Viola membuka mata dengan sempurna.


"Lah habis kenyang banget Pak" jawabnya.


Pletak.


"Aw.. sakit. Ya ya maaf mas" ucapnya.


"Ya udah turun. Besok jangan lupa kuliah dan on time" pinta Hendra.


Viola spontan langsung nurut dan turun dari mobil.


“Makasih Mas Hendra" dengan senyum palsu yang dia lontarkan pada Hendra dia akhirnya turun untuk melangkah ke dalam kos nya.


“Sama-sama. Segera urus cuti pernikahan kita sudah semakin dekat”


...__________...


...Perihal jodoh gak ada yang tau,...


...Siapa jodohnya....


...Kapan ketemunya....


...Siapa perantara yang mempertemukan....


...Media apa mulai dari kenal?...


...Hingga akhirnya benar-benar berjodoh....


...#misterisebuahjodoh...

__ADS_1


__ADS_2