
Sore hari Lisa yang kini sudah sampai di kos. Dia merebahkan tubuhnya. Dengan segala niat ingin mandi, namun rasa malas mengalahkan. Apalagi perut kenyangnya setelah tadi makan bersama Hendra. Ada bisikan untuk segera beranjak, namun dia mengalihkan menuju kamar Lisa.
Hampir dia membuka pintu, tiba-tiba ada Lisa yang lebih duluan mendorong pintu kamar Viola.
“Hey, mana motor lo? Gak ada motornya tau-tau udah di kamar aja” Tanpa salam tanpa ketuk pintu itulah kebiasaan anak kos yang Viola tempati. Awalnya dia tak terbiasa, namun lama kelamaan mulai membiasakan diri dengan hal baru ini.
“Ga bawa gue" jawab Viola.
"Ko bisa sampe sini? emang naik apa tadi?!" tanya Lisa dengan penuh rasa penasaran.
"Ah ceritanya panjang. Udah yok siap-siap dulu, katanya mau nongkrong. Keburu malem ntar" ucap Viola pada Lisa yang kini masih mengenakan pakaian baju santainya. Akhirnya Lisa kembali ke kamar dan Vio beranjak untuk mandi.
Fiks, ayo mandi. NIAT VII, NIATTT! batinnya.
Waktu terus berjalan, hingga 30 menit berlalu. Viola dan Lisa sudah siap untuk pergi bersama temannya. Rutinitasnya hanya kuliah, jalan-jalan, shopping, nongkrong. Entahlah.
Di Restoran Pandawa
Viola, Lisa, Gea dan Yosi sudah berada di Restoran Pandawa. Mereka biasanya disini hanya untuk nongkrong, menghabiskan waktu luang, atau bahkan sekedar mengerjakan tugas kuliah.
Viola yang memakai inner putih turtleneck, jaket dan celana jeans terlihat cantik didukung oleh rambutnya yang lurus dan berkulit putih.
Sedangkan Lisa dengan baju lengan pendek dan berkerah serta rambut yang diurai. Begitu juga Gea dan Yosi yang menggunakan tema baju kaos hitam, celana jeans.
“Ge, gimana weekend lo kemarin? Seru gak?” tanya Yosi yang kini antusias dengan cerita dari masing-masing temannya.
“Biasa aja ah, cuma rebahan, ngemall, udah gitu doang” jawab Gea yang kini membenarkan posisi poni-nya.
“Lah lo ngapain Sa?” tanya Yosi.
“Gue jalan-jalan sama keluarga dong" jawab Lisa dengan santainya.
“Kalau lo Vi?”
“Gue.. emmm.. gue tu.. tu.. tunangan” jawab Viola dengan mata terpejam dan menutup wajahnya. Dia pun tau nantinya teman-temannya akan kaget. Seperti yang mereka tahu, Viola bukanlah wanita yang ribut akan pacaran tiba-tiba tunangan, itu hal mustahil bagi mereka.
“WHAT?” jawab mereka bebarengan menatap Viola.
“Sama siapa?"
“Ko bisa?”
“Lo kan ga punya pacar Vi? Tunangan sama siapa?”
"Woi, sadar atau halu sih lo"
Sudah ditebak Viola, pasti hal ini menjadi sesuatu yang mengagetkan. Diapun kaget dan tak menyangka apalagi temannya. Viola merilekskan tubuh dan menarik napas dalam-dalam.
“Gue mau cerita nih. Sebenernya gue gak tau kalau ini bakal terjadi. Entah gimana, rasanya hidup gue seperti Siti Nurbaya. Gue juga gak mau kalau ada di posisi ini. Orang tua gue menjodohkan. Dan parahnya lagi, kalian tau dengan siapa gue di jodohkan?" tanya Dera pada keempat temannya. Mereka semua menggelengkan kepala sebagai arti tidak tahunya.
"Dosen Kutub di kampus kita, PAK HENDRA ternyata temen komplek kakak gue, Kak Jovan. Tapi kalian diem aja ya. Ini rahasia kita berempat” ucapnya yang kini dengan berbisik.
"Benar-benar di luar dugaan. Bagaimana bisa Viola tunangan Pak Hendra? mustahil sekali" celetuk Yosi.
“Berarti sekarang lo tunangannya dia dong?” Gea yang tidak percaya berusaha memastikan kembali.
“Astaga Vi, masih gak percaya rasanya” ucap Lisa dengan meminum es yang ada di hadapannya yang hampir dihabiskan.
“Iya, lah mau gimana? Dia dateng kerumah terus tau-tau mau aja gitu dijodohin sama gue”
__ADS_1
Obrolan mereka berlanjut hingga…
Hanya tersisa Viola yang duduk di kursi panjang itu.
Lisa dan Yosi sedang di kamar mandi, sedangkan Gea sedang mengangkat telpon dari Mamanya.
Tak lama kemudian…
Ehemm
Viola yang berada disana sendirian kaget dengan suara tersebut. Suara yang tak asing baginya.
Ehemm.
Suara itu lagi. Akhirnya Viola memberanikan diri untuk menengok ke belakang.
Ha? Mau apa dia?
“Viko, mau apa kesini? Mana selingkuhan lo!” ucap Viola memberanikan diri.
“Kamu kenapa sih Vi, jangan gitu. Aku tau, kamu masih sayang sama aku kan” Viko dengan Percaya dirinya semakin mendekat ke arah Viola.
Sayang? Ya iya sih, dikit. tapi gak mungkin aku ngomong masih sayang kan? Gengsi dong.
“Enggak lah, buat apa coba sayang sama tukang selingkuh kayak lo!"
“Ayo kencan besok malam, kita nonton yuk” pintanya yang berani-beraninya memegang tangan Viola.
“Gak, makasih” ucapnya.
“Ayo lah Vi. Nanti kemana pun deh yang kamu mau. Gimana?”
“Gue bilang enggak bisa” Viola memberanikan diri untuk menolak ajakan mantannya tersebut.
Viko yang geram dengan Viola yang tidak mau diajak jalan, kemudian menarik tangan Viola.
“Aww sakit Ko”
“Ayo ikut gue keluar!" Kini Viko memaksa Viola untuk menuruti permintaannya.
“Gak mau Viko, lo denger gue ngomong apa!!”
Viola merintih kesakitan karena pergelangan tangannya ditarik paksa.
“Lepasin dia!”
Tiba-tiba dari arah belakang mereka terdengar suara lantang dari seorang laki-laki. Hingga akhirnya Viko dan Viola menengok ke sumber suara.
“Pak Hendra” ucap Viola dengan tangan yang masih dipegang Viko.
“Siapa lo.. ini urusan gue dan dia” bentak Viko dengan nada tinggi.
“Saya tunangannya”
“Tunangan apaan, dia itu cinta mati sama gue. Gak mungkin bisa dia buka hati buat orang lain apalagi tunangan”
“Lepaskan dia atau kau akan tau akibatnya” tegasnya.
“Gak akan gue lepaskan. Terus mau apa!”
__ADS_1
Tanpa basa basi Hendra melayangkan pukulan ke arah Viko.
Bruakkkk
Viko yang tak bisa menghindarpun terkena pukulan dari Hendra.
“Apaan lo nonjok gue. Lo tau,? dia adalah mantan gue. Dan walaupun yang lo katakan tadi adalah sebagai tunangannya, jangan harap dia bisa suka sama lo. Inget itu”
“Gue ga peduli mau dia suka atau engga. Apa urusanmu?” jawab Hendra dengan legowo apapun yang akan terjadi kedepannya nanti.
“Ya tentu urusan gue. Karena suatu saat akan gue ambil lagi Viola dari tangan lo. Inget itu!”
Viko berusaha melepakan tangan Hendra dari kerah bajunya, dan Hendra pun tanpa penolakan.
Selepas Viko pergi Hendra masih mematung ditempatnya memikirkan ucapan yang telah dilontarkan laki-laki itu.
“Pak, bapak gak apa-apa?” ucap Viola yang kini mendekati Hendra dan memastikan baik-baik saja.
“Gak. Mau ikut saya pulang atau gak!”
Baru saja nolongin bak superhero sekarang udah kayak Es Kutub lagi. Huft bener-bener gak bisa ditebak.
Disisi lain.
Gea, Yosi dan Lisa yang sudah berdiri cukup lama, dilihatnya ada adegan Dosen Kutub berubah menjadi sosok superhero bagi sahabatnya.
“Wah ternyata Pak Hendra jago juga bela diri ya. Ga nyangka gue” ucap Gea yang dari tadi memperhatikan pertunjukan di depannya.
“Iya nih, cakepnya tambah lagi” jawab Lisa yang memegangi pipinya seakan gemas dengan Hendra.
“Beruntung banget Viola. Udah yuk sana samperin”
Mereka bertiga berjalan ke arah Viola.
“Vi, kamu gak apa-apa kan?”
“Gak ko guys, tenang aja. Oh ya ini Pak Hendra dan Pak, ini teman saya” Viola memperkenalkan teman-temannya ke Hendra.
Ketiga wanita itu memberikan senyuman pada Pak Dosennya sebagai rasa hormat.
“Iya” itu lah jawaban Hendra seketika mereka saling lirik.
“Hanya itu jawabannya?” celetuk Yosi.
“Iya ya, singkat banget” Mereka berbisik sepelan mungkin, memang sikap Hendra sangatlah dingin. Tapi mengapa juga di luar kampus tetap sedingin es kutub?
Gea tersadarkan bahwa temennya ini sedang butuh waktu karena tadi sempat ada accident yang tak diinginkan.
“Oh ya Vi, kamu mau pulang apa mau sama kita?”
“Aku pulang langsung saja ya, besok ketemu dikampus saja. Aku pamit ya”
Viola yang telah berpamitan pada temannya dan Hendra hanya melontarkan senyum kecil sebagai rasa hormat.
...……………………………….....
...Semakin kau bersikap dingin....
...Semakin aku penasaran tentang dirimu....
__ADS_1