HELLO, DOSEN KUTUBKU

HELLO, DOSEN KUTUBKU
ERIKA SI SUARA MERCON


__ADS_3

Hallo guys, jangan lupa baca juga novel PLEASE LOVING ME ya. Dan tetap support novel karya penulis agar tetap semangat nulis novel hehe.


____________________


“Hallo mama cantikku” setelah ponsel terhubung dan dia pun melepas rindu dengan sang mama.


“Hallo sayang. Gimana kabar kamu? Tumben ih seminggu ga ada telpon mama. Emang kalian sedang sibuk ngapain sih” sang mama yang berpikiran bahwa anaknya pasti sedang happy-happy ternyata masih sama seperti keadaaan semula menikah.


”Viola baik-baik aja, Mama. Mama gimana? Papa? Kak Jo baik??”


“Baik-baik aja ko. Ini tadi ada teh Airin kesini bantuin mama buat cake red velvet dan tiramitsu. Kesukaan kamu lho”


“Ihhh mama. Viola pengen banget”


Cerita panjang lebar dari mereka berdua membuat Viola tidak memperhatikan jam, karena ini sudah menunjukkan pukul 10 malam.


“Ya udah anak cantik. Udah dulu ya, salam buat suamimu. Pengen banget mama ngobrol sama dia. E malah dia udah tidur. Ya udah deh. Assalamualaikum” ucap mama Viola.


“Ya, Ma. Lain kali ya. Waalaikumsalam” ucapnya mengakhiri telpon dari sang mama.


___________________


Dua hari ini Viola tidak masuk kuliah karena sakit. Memang kepala Viola sakit sekali beberapa hari ini akibat terus- terusan menangis. Dan selama dua hari juga Hendra tidak tidur di kamarnya namun di ruang kerja. Viola akan keluar saat Hendra sudah pergi ke kampus. Lalu Viola akan makan, cuci baju, cuci piring dan membereskan rumah. Setelah itu, Viola mengurung diri lagi di kamar sampai keesokan harinya.


Viola menonton drama dengan keripik dipangkuannya. Tiba-tiba pintu diketuk beberapa kali. terpaksa Viola bangun dan membukanya.


“VIOOOO!!!”


Viola melongo dan terkejut melihat teman-temannya yang datang tanpa diundang ke rumah.


“Ngapain lo semua datang ke rumah gue?” tanya Viola bingung. Dia melihat teman—temannya yang menunjukkan sedang membawa makanan.


“Viooo, astaga lo kenapa sih? Beberapa hari ga masuk kuliah. Gue kangen tau” ucap Erika dengan suara cemprengnya.


“Idih. Gue ga kangen sama lo” ucap Viola dengan nada bercanda.

__ADS_1


“Jangan gitu dong, nanti gue balik lho”


“Bodo amat. Balik sana balik”


Dari pada ribut dan menganggu tetangga, akhirnya dia menyuruh Erika, Lisa, Gea dan Yosi untuk masuk ke dalam rumah. Viola tersenyum saat Erika ikut menjenguknya. Karena yang dia tau Erika terkenal judes.


Mereka berkumpul di ruang keluarga. Beruntungnya foto pernikahan Hendra dan Viola ada di kamar bukan di ruangan ini. Mereka asyik menonton drama yang Viola putar dari tadi tanpa protes sama sekali. Biasanya mereka mengomel tiap kali Viola menonton drama yang membuatnya sering kali termewek-mewek seperti ini.


“Lo ga masuk kelas dua hari loh, Vi. Lo kan udah tau kalau Pak Hendra itu ga bisa nitip absen kan?” ucap Erika enteng. Dengan cepat Gea dan Yosi melempar kuaci ke arah Erika yang membuat yang lain tertawa. Viola terdiam melihat mereka di sini, padahal ini masih kelas Hendra.


Erika memang tidak mengetahui perihal pernikahan Viola dan Hendra. Maka dari itu ketiga temannya menyimpan rahasia ini begitu rapat.


“Lo semua udah pada balik?” tanya Viola.


“Kelas Pak Fajar udah selesai sih, tapi ini jam nya Pak Hendra. Gue lagi malas banget ketemu sama dia lagi. Tugas terus tiap masuk kelas. Bosen gue” celetuk Erika lagi. Lagi-lagi disambut tawa oleh semua temannya.


Masalahnya, hari ini kan kelasnya suami gue. Kalau mereka udah keluar kelas itu berarti suami gue juga cepat balik dong?


Viola dan yang lain pun mengobrol santai.


Suara bel rumah kembali berbunyi.


Dia sudah pulang? Terus temen-temen gue bagaimana dong? Tapi kenapa harus pencel bel lebih dulu? apa dia lupa bawa kunci sendiri?


“Gue yang buka deh” ucap Lisa tiba-tiba. Viola langsung berdiri dari duduknya saat Lisa berdiri untuk membuka pintu.


“Gue aja, Sa” Sahut Viola cepat. Viola pun dengan pelan memutar pintu lalu membukanya pelan. Viola melongo menatap orang yang di depannya.


“Iya mas”


“Paket untuk Calista Viola Putri”


Ternyata itu adalah pengantar barang. Viola menghela napas lega. Dia sudah takut duluan jika yang memencet bel adalah Hendra. Tubuh Viola membeku saaat melihat orang si pengantar barang itu memegang sebuah kotak.


Please, kotak apa lagi ini? Teror lagi? Hampir setiap hari orang tersebut menerorku. Kenapa pas ada teman-teman gue juga. Batin Viola.

__ADS_1


“Ada apa, Vi?” tanya Yosi yang ada di belakangnya.


Yosi pun langsung mengambil kotak itu. Setelah Viola tanda tangan ke petugas pengirim paket. Viola kembali menutup pintu dan menemui teman-temannya lagi.


“Cie elah.. dapet kiriman paket tuh. Dari siapa ya kira-kira?” ucap Gea yang tak tau-menau soal paket yang di terima sahabatnya tersebut.


“Idih, ga ada nama pengirimnya loh” ucap Yosi yang tengah memperhatikan sisi paket tak ada nama sang pengirim.


“Cie, temen gue punya pengagum rahasia nih rupanya. Perasaan waktu di kos ga ada yang ngefans sama lo deh Vi, haha” celetuk Lisa yang tak kalah antusias.


“Buka aja, buka Vi. Kita kan juga penasaran. Ya kan temen-teman” ucap Erika.


Akhirnya setelah mempertimbangkan ucapan demi ucapan sang teman dan berhubung juga ini ramai, jadi bisa sedikit mengobati rasa khawatir Viola jika nanti kiriman tersebut berisi ancaman atau pun teror. Siap ga siap, dia pun mempersiapkan diri.


“Oke. Gue buka ya” ucapnya dengan beberapa kali menarik napas untuk mengurangi ketegangannya.


Viola mengambil gunting. Dan setelahnya memotong bagian untuk dibuka.


“Guys, ini yakin nih. Mau dibuka aja? Kalau dibuang langsung aja gimana? Apa kalian ga takut apa isinya nanti malah serem atau bisa juga ini bom atau….” Belum juga selesai bicara sang suara mercon sudah merebut paket milik Viola.


“Eits, Er.. sini paketnya. Biar gue aja yang buka. Ya” Viola berusaha mengambil paket tersebut dan merayu Erika. Karena pastinya temannya tersebut tidak juga tau mengenai isi paket.


Satu. Tarik napas.


Dua. “Guys, beneran nih? Buka? Viola memastikan lagi” dan dijawab anggukan teman-temanya.


Tiga. Perlahan kotak tersebut di gunting.


DEG. Semua mata tertuju pada isi paket yang diterima Viola.


...__________________...


...Quotes...


...Semakin dewasa, semakin takut jika banyak bicara kepada manusia. Lebih memilih untuk menyimpan segala cerita juga isi kepala sendiri. Sebab mencari telinga yang tepat saat ini, bagai mencari jarum dalam tumpukan jerami....

__ADS_1


__ADS_2