HELLO, DOSEN KUTUBKU

HELLO, DOSEN KUTUBKU
MAAF


__ADS_3

Diperjalanan Hendra hanya fokus dengan kemudinya. Jalanan yang mulai lenggang membuat dia meningkatkan kecepatan mobil.


Disisi lain, Viola kini tengah termenung memikirkan Viko yang kembali ke hidupnya.


Viko Wira Atmaja adalah seorang pria yang terlahir dari keluarga kaya, hidup berkecukupan, wajah tampan dan dikelilingi banyak wanita. Viko dan Viola memutuskan untuk berpisah karena kebiasaan Viko yang berselingkuh dengan wanita lain.


Niat ingin setia pada satu pria, taunya yang ada adalah buaya tingkat dewa. Itulah yang patut disematkan pada percintaan Viola.


FLASHBACK ON


"Beb, gimana kalau sudah selesai kuliah, kita tunangan. Setelah itu 3 bulan kemudian menikah. Kamu siap gak?" tanya Viko yang sedang duduk di depan kursi Viola.


"Aku sih siap-siap aja Beb. Tapi gimana? kamu kan belum kerja juga. Apa gak pengen kamu cari kerjaan dulu? Masa mau nebeng sama orang tuamu terus" tutur Viola meminta Viko untuk memapankan kehidupannya terlebih dahulu. Bukan keinginan Viola rasanya jika sudah menikah meminta uang pada orang tua. Malu.


"Ya gak apa-apa, nanti aku kerja di perusahaan Papa aja kan bisa Beb. Apa sih yang enggak buat anak tunggalnya ini" lagi-lagi Viko membanggakan keuangan dan kedudukan orang tuanya. Memang tidak dapat dipungkiri, apapun kebutuhan Viko pasti di turuti.


"Aku tapi pengen kerja dulu. Mungkin setahun atau dua tahun setelah lulus nanti baru aku siap menikah" jawab Vio. Namun kini Viko sibuk dengan ponselnya.


Ucapan demi ucapan yang terlontar dari Viola tak didengarkan apalagi di respon. Sekali, dua kali Viola memaklumi namun untuk yang ketiga kali.


SHETTT


Ponsel Viko di ramp*s oleh Viola.


Viko berusaha mengambil ponsel dari tangan kekasihnya itu, tapi berhubung tenaga Viola terlalu kuat, membuatnya tak bisa berbuat apa-apa. Jari-jemarinya telah menjelajahi setiap chattingan di aplikasi hijau tersebut.


Benar-benar gil* di orang. Tadi aja bahasannya tentang tunangan, nikah, ah bush*t. OMDO, omong doang lu Ko. Sialan.


Siapa nih nama Devita? sebentar, poto profilnya gak asing banget deh.


Deg.


"Nah, malah Devita si nenek lampir itu? ko bisa kenal kamu sih, tau dari mana juga nomer kamu. Ceweknya yang keg*telan apa cowoknya nih? Ha?" bertubi-tubi pertanyaan keluar dari mulut Vio.


"Dulu selingkuh sama cewek ono, sekarang selingkuh lagi sama cewek ini. Bener ya? penyakit selingkuh gak ada obatnya!" tuturnya lagi.


Pikiran Viola berkecambuk, dia tak bisa berpikir panjang lagi. Segala kesabaran, positif thinking, apapun telah di berikan, taunya ini balasan yang di berikan.


Pertanyaan dari Viola tak ada yang bisa di jawab Viko satupun.


"KITA PUTUS!" ucap Viola dengan memberikan ponsel tersebut pada Viko. Bak siang bolong yang tersambar petir, Viola yak menyangka ini akan terjadi.

__ADS_1


FLASHBACK OFF.


Viola mengingat kejadian yang pernah terjadi di hidupnya, "Apa iya sekali selingkuh akan selingkuh terus? gak bisa gitu setia dengan satu orang saja?" pikirnya di tengah perjalanan.


Sedangkan Hendra memikirkan hal lain yang berbeda.


Apa iya, dia gak bakal bisa nerima hubungan ini? Lantas jika benar mereka pacaran, bagaimana bisa? Dia laki-laki yang pernah ku temui di sebuah Mall bersama wanita lain. Dia juga terkenal sebagai mahasiswa yang ditandai sama para dosen atas perlakuannya yang jarang masuk perkuliahan dan cenderung sering buat onar.


Memang sih jika dilihat dari penampilannya anak gaul banget, cocok sama Viola. Tapi kan..


"Argh.." tidak tau lagi harus bagaimana, Hendra benar-benar dibuat pusing dengan percintaan anak muda di sampingnya.


"Kenapa pak?" tanya Viola yang kaget tiba-tiba Hendra menggeram kesal.


"Gak apa-apa" jawabnya dengan pandangan lurus ke depan.


"Oh" hanya itu jawaban dari Viola selanjutnya.


Tak lama kemudian, suasana hening kembali terjadi di dalam mobil.


Viola merasa bersalah atas perkelahian yang terjadi di restaurant tadi. Pasalnya itu karena dirinya. Ingin rasanya dia mengobati luka di pinggir bibir Hendra, namun Viola tak punya cukup keberanian melakukannya. Menyentuh biasa saja tak pernah apalagi mengobat lukanya, bisa-bisa di tumis nanti. Pikirnya.


Bagaimana ya ini, masa gue harus minta maaf sih, tapi ya emang gue yang salah. Tapi kalau dia ga maafin gue gimana dong. Kan malu juga. Tapi kalau minta maaf kan jadi clear, haduh gimana ya.


Viola berusaha menetralkan nafasnya dan membenarkan posisi duduknya untuk memulai pembicaraan.


Oke,, siaapp.


“Maaf” ucap Viola dengan mata terpejam dan merasa bersalah.


Hendra yang terlalu fokus dengan kemudinya sehingga tak mendengar apa yang di katakan Viola.


"MAAF PAK HENDRA" ucapnya sekali lagi dengan meningkatkan volume suara.


"Ya, ada apa!" jawabnya.


Ini orang ngeprank gue apa gimana sih, tadi gak dijawab, sekarang malah ga denger. Au ah Pak.


"Maafkan saya Pak Hendra" Kini Viola menghadap ke Hendra sebagai permintaan maaf yang serius darinya.


“Untuk?”

__ADS_1


Ha… bisa-bisanya jawab gitu. Apa kejadian tadi menurutnya biasa saja?


“Ya untuk kejadian tadi. Maaf..”


“Oh ya gak apa-apa” Hanya itu yang diucapkan Hendra.


“Sebenarnya Viko adalah mantan saya Pak. Tepat sebulan ini kita putus. Karena dia selingkuh. Tapi saya sudah tidak memiliki perasaan apapun dengannya Pak" jelas Viola sebisa yang dia ungkapkan.


“Lalu”


Lalu? Apa dia tertarik sama cerita gue. Apa harus gue lanjutkan nih cerita?


“Ya akhirnya saya dan dia putus. Jelas-jelas dia main hati dengan wanita lain, masih saja menyangkal dan memutar balikkan fakta. Sampai tadi dia ada disana ngajak saya kencan. Saya juga baru tau kalau dia selingkuh sama Devita, teman kelas perkuliahan. Bisa-bisa ya, selingkuh sama temen saya Pak. Coba bayangin gimana sakit hatinya saya pak. Mungkin juga Bapak tau yang mana Adel”


“Oh ya, Lantas setelah itu”


Sumpah ya ni orang cuek minta ampun. Apa gue bisa nih nikah sama dia. God, help me :’(


"Udah pak, itu saja yang saya ceritakan"


Suasana kembali hening, hingga sampai di depan kos.


Viola yang masih mematung di tempatnya dan Hendra menyadarkan.


“Udah sampai bisa turun”


Dia gak ada niatan bukain pintu mobil gitu? Kemarin aja di depan keluarga manisnya minta ampun, dasar bermuka dua pak-bapak.


Ketika ingin turun dari mobil, Tanpa kata, Viola turun begitu saja. Hendra kemudian menghentikannya.


“Jangan panggil saya Bapak ketika diluar kampus, ketika di kampus baru panggil saya Bapak. Bisa-bisa mereka kira saya adalah Bapakmu. Jangan pernah ulangi karena saya tidak suka mengingatkan sekali dua kali.”


Viola yang tak menghiraukan omongan Hendra langsung menutup pintu dan masuk ke dalam kos.


...______...


...Tunangan,...


...Adalah sebuah posisi dimana sangat di idamkan banyak orang...


...Lantas, mengapa berbeda denganku?...

__ADS_1


...Viola...


__ADS_2