HELLO, DOSEN KUTUBKU

HELLO, DOSEN KUTUBKU
MERINDING


__ADS_3

Jangan lupa baca novel yang satunya juga ya guys, PLEASE LOVING ME.


Like, komen dan Follow juga ya. Terima kasih.


__________


Seperti yang telah direncanakan Hendra dan Viola bersiap ke rumah Hendra karena permintaan mamanya.


“Sudah selesai belum packing nya? Jangan banyak-banyak bawaannya” ucap Hendra yang melihat Viola sedang menata satu persatu pakaiannya.


Tanpa disadari ada pakaian dalam yang terlihat dan ingin dibawanya nanti.


Waduh, ada CD nih alias ****** *****. Mana dia lagi lihat ke arahku pula. Bagaimana ini? Gak lucu dong kalau packing CD di depannya, mana lagi ini warna warni lagi. Udah ngalah-ngalain pelangi aja. Batinnya dengan menutup wajahnya dengan telapak tangan.


Hendra yang berada di depan Viola pun seketika membelalakkan matanya melihat benda warna warni itu. Di pikirnya itu bentuk apa ko berbagai warna, setelah diperhatikan dan kebetulan Viola melipatnya itu adalah sebuah CD. Langsung Hendra melempar dehaman dan mengubah pandangannya ke arah lain.


“Ehem. Ayo ah, lama deh” ketus Hendra.


“Iya mas, iya. Sebentar” jawab Viola yang masih melipat pakaiannya.


Waktu 20 menit cukup untuk mengemasi barang Viola.


Setelah itu mereka turun ke lantai utama dan berpamitan pada Mama, Papa dan Jovan yang sedang berkumpul bercengkrama di ruang tamu.


“Ma, Pa, Viola pamit ya. Ini Mau menginap di rumah Mas Hendra dan lusa mungkin kami baru kembali ke bandung untuk beraktivitas seperti biasa” pamitnya pada Mama dan Papanya.


“Ya nak. Hati-hati ya. Sudah ingat kan kalau sekarang punya suami hehe” canda papanya yang membuat Viola malu setengah m@ti.


“Kan kemarin Viola lupa Pah, bangun tidur pula” pembelaan darinya.


“Jangan lupa buatin ponakan buat gue ya haha, kan kalian sudah sah” titipan dari Jovan yang membuat Viola mencubit tangan kaknya tersebut dengan kesalnya.


Auuuuu, sial@n ya adik cewek gak ada akhl@k. Titah Jovan pada adik perempuannya.


__________


Butuh waktu sekitar 45 menit untuk sampai di kediaman Hendra.


“Sebenarnya rumah Mas Hendra yang mana Mas? Perasaan tadi kita jalan gak sampe-sampe mas. Jangan-jangan rumahnya Mas Hendra gak disini tapi dikutub utara ya mas" celetuk Viola yang sedang duduk di kursi pengemudi disamping Hendra.

__ADS_1


“Lah emangnya saya beruang kutub?” sahut Hendra.


“Ya, mirip. Lah habisnya sifat Mas Hendra dingin kadang juga kalau di kampus, cuek banget kalau sama mahasiswanya” ucap Viola gamblang.


“Udah diem. Jangan banyak bicara dan tinggal duduk aja apa susahnya” jawab Hendra dengan gaya dingin khasnya.


Mobil telah mamasuki rumah Hendra. Mereka berdua kemudian masuk ke dalam rumah karena memang sudah waktunya makan malam.


“Halo pengantin barunya Mama Papa, sini-sini makan malam dulu yuk baru nanti kita ngobrol” ajak Mama Hendra menyambut kedatangan anak dan sang menantu.


Akhirnya mereka menikmati makan malam dengan suasana hening dan fokus dengan pikiran masing-masing.


Setelah makan malam selesai, Hendra memutuskan untuk berbincang dengan Papanya di ruang keluarga. Sedangkan Viola belajar membuat kue bersama Mama Hendra.


“Ndra, kamu kan sudah menikah dan Papa sudah belikan rumah untuk kalian berdua sebagai hadiah pernikahan. Letaknya tak jauh dari kampus, agar Viola juga tidak lagi ngekos dan kalian bisa tinggal bersama”


“Terima kasih Pa. Kapan Papa belinya? Hendra justru gak tau sama sekali” jawabnya.


“Ya itu sudah Papa rencanakan. Ngomong-ngomong kapan kamu kembali beraktifitas?” tanya Papaya.


“Masih lama Pa. Viola soalnya gak mau ambil cuti, kemarin dia pengen ambil libur 3 minggu. Coba lihat nanti aja Pa. Menantu papa itu kadang bawel banget tau” jawab Hendra.


“Ya Pa. tapi kadang dia itu random gitu pa. Gak bisa ditebak kadang cuek tapi kadang crewet”


“Ndra, usia Viola itu masih tergolong muda. Kamu harus sabar dengan sikapnya dia. Kan kamu sendiri yang milih dia bukan?”


Akhirnya Hendra pun diam setelah jawaban sang Papa bak di skakmat.


“Oh ya Ndra, papa Mama besok ga bisa nganter kamu pindahan loh ya, jadi kalian besok ga usah nunggu Mama dan Papa kalau mau pindahan” ucap papa Hendra dan di respon anggukan oleh sang anak.


_________


Sedangkan Viola yang saat ini berada di dapur bersama sang mertua hanya membantu sedikit. Belum juga selesai sepenuhnya, Mamanya sudah meminta dia untuk kembali ke kamar. Mau gak mau dia pamit untuk menuju kamar sambil membuka kopernya.


“Duh ni koper berat banget sih. Perasaan isinya cuma baju sama barang sedikit doang” gerutu Viola saat berusaha menyeret koper menaiki tangga.


“Mana punya suami gak peka lagi, bantuin bawa kek atau bantuin nyeret kek. Eh malah nyelonong masuk kamar duluan. Emang bener-bener pak dosen kutub” gerutunya lagi.


Sesampainya di lantai atas, Viola segera berjalan menyusuri setiap sudut ruangan karena memang rumah Hendra besar jadi dia agak kesusahan dan banyak kamar kosong juga sehingga membuat Viola makin bingung mencari dimana letak kamar Hendra.

__ADS_1


“Kamarnya yang mana sih? Banyak banget pintunya. Apa rumah segede ini gak ada bibi ya?” ucapnya saat melihat begitu banyak pintu di hadapannya.


“Coba buka satu per satu kali ya” lanjutnya dengan melangkah perlahan. Dia pun mencoba membuka satu per satu kamar, tapi rata-rata semua kamar dikunci dan kini tinggal satu kamar yang belum Viola buka yang letaknya di pojok dengan suasana yang sepi dan agak remang-remang.


”Mungkin yang ini kali ya, tapi agak merinding gue. Jadi rada takut” ucap Viola dengan memegangi lengannya yang kini bulu kuduknya berdiri.


Di depan kamar Hendra memang agak sedikit seram karena memang lampunya remang-remang dan itu Henda sendiri yang meminta. Dan saaat Viola membuka pintu kamar tersebut Viola langsung dikagetkan dan reflek berteriak sambil sembunyi karena cat kamar Hendra berwarna gelap di tambah Hendra yang pada saat itu mengenakan baju tidur warna putih berbahan satin membuat Viola ketakutan setengah mat¡.


"HUAAA SETAAANNN” ucap Viola sambil berteriak sembunyi dibalik gorden jendela. Hendra yang mendengar suara teriakan juga ikut terkejut tapi sesaat raut wajahnya berubah dingin kembali.


”Ehem. Bukan setan. Saya manusia Viola. Untung kamarnya kedap suara, jadi Papa Mama ga denger teriakanmu itu” jawab Hendra dengan ketus.


“Lah habis gelap semua mas. Mana ku tau kalau itu Mas Hendra. Toh juga kamu diem aja pas aku masuk kamar ini. Terus kenapa Mas Hendra gak pakai lampu putih aja sih? Kenapa harus remang-remang “ Viola masih benar-benar kaget dan juga geregetan dengan suaminya itu.


“Ya kalau kamu mau terang, nyalain saja senternya terus kamu taruh muka” titah Hendra.


Sialan pak dosen ini emangnya gue penyelam apa yang naruh senter di depan muka. Batin Viola dengan kesal.


Lalu dia berjalan ke samping sofa dan menaruh kopernya disana.


“Mas, kamu tidur dimana?” tanya Viola yang ingin merebahkan tubuhnya.


“Ya di kasur lah. Masa iya tidur diatas kompor, ada ada aja kalau nanya kamu” jawab Hendra.


“Terus aku tidur dimana dong mas?”


“Ya sini kalau mau di samping saya. Kalau gak mau silahkan tidur disofa itu” Hendra menunjuk salah satu sofa yang besar di kamarnya.


“Ya Allah bener-bener ya. Yaudah deh, aku tidur di sofa aja” Viola mengambil bantal dan selimut kemudian merebahkan tubuhnya diatas sofa. “Ya, silahkan”


...__________...


...Bertahan ya,...


...Ada waktunya untuk lari....


...Ada jugawaktu untuk berhenti....


...Ada saatnya kita untuk menang....

__ADS_1


...Ada pula saatnya kita untuk pulang,masih kuat kan?...


__ADS_2