
Hallo guys, jangan lupa baca juga novel PLEASE LOVING ME ya. Dan tetap support novel karya penulis agar tetap semangat nulis novel hehe.
_________🌹___________
Pletak!
“Aduhhh”
“Lo sih, bikin mewek soalnya, jadi mewek terus kan?” ujar Lisa setelah menjitak Miko.
Miko mendumel karena dirinya disalahkan lagi. Viola masih menyender di pundak Fadil yang sudah dianggapnya seperti abang sendiri. Tiba-tiba Devian datang dan menyodorkan Viola sebuah es krim. Viola mendudukkan tubuhnya lalu berhadapan dengan Devian.
“Ini es krim buat kamu. Katanya, es krim bisa bikin mood balik” Devian mengarahkan cup es krim pada Viola. Dia menerimanya lalu tersenyum kecil ke arah Devian. Sedangkan ketiga teman Viola hanya memperhatikan betapa banyak orang yang sayang dengan temannya itu. Sampai-sampai ada orang yang berani menyatakan perasaannya di tempat yang ramai.
“Makasih, Dev” balas Viola sambil memakan es krimnya pelan. Devian menganggukkan kepala sambil tersenyum manis.
Ya Allah senyumannya…
Viola menundukkan kepalanya saat sadar beberapa pasang mata yang nge-fans dengan Devian menatap ke arah mereka berdua.
“Udah jam empat eh, gue balik dulu ya” ujar Viola pada yang lain sambil bediri dan meraih tas.
“Abang anter ya, Dek?” Fadil menawarkan. Seketika Viola langsung menggelengkan kepala.
“Ga usah, Bang. Gue pengin pulang bareng Yosi aja” jawab Viola sambil tersenyum. Jujur saat ini Viola butuh waktu menyendiri.
“Aku anter ya?” Devian menawarkan diri.
“Ga usah Dev. Aku bareng Yosi aja. Ya kan Yos”
Setelah pamit sama mereka, Viola pun jalan bersama ketiga temannya menuju parkiran. Sedangkan dia dan Yosi memisahkan diri menuju parkiran mobil. Viola memang butuh waktu untuk menyendiri dan bercerita panjang lebar. Dan Yosi di percaya untuk mendengarkan ceritanya.
Saat di parkiran Viola sempat melihat mobil Hendra masih ada di parkiran khusus dosen kampus. Viola sudah cukup sadar diri setelah membuat Hendra seperti ini. Dan lagi sekarang Viola harus tahu diri kalau dirinya bukan lagi remaja yang bebas berkeliaran nongkrong sampai lupa waktu hingga berjam-jam. Sekarang Viola sudah menikah, dan dia harus mengganti peran dari seorang remaja menjadi seorang istri.
Di sepanjang jalan pulang, panjang lebar Viola bercerita tentang apa yang dirasakan kini. Sebisa mungkin Yosi hanya mendengarkan dan memberi saran terbaiknya.
__ADS_1
Lantas, apa gue siap jadi istri seutuhnya? Batinnya di sela-sela bercerita pada Yosi.
“Nah itu rumahku,Yos” ucap Viola sembari menunjuk rumah yang dimaksud.
“Oke Vi, suatu saat aku dan teman-teman main ya hehe. Oh ya tenangkan pikiran dan hatimu. Awas jangan terlalu stress nanti malah sakit” ucap Yosi sebelum menghentikan Viola.
“Byeee” ucap Viola sembari memperhatikan mobil Yosi yang semakin menjauh.
Viola terdiam melihat kotak yang berada di depan pintu rumahnya. Sekali lagi sebuah pengiriman tanpa pengirim datang ke rumah Viola.
Apa itu terror lagi? Kotak hitam lagi? Isinya apa itu lagi?
Viola berjongkok melihat kotak itu, mencolek-colek pelan lalu mengambilnya. Tidak ada nama pengirim atau sebuak secarik kertas apa pun di kotak itu.
Viola mengguncangkan kotak itu pelan. Sekarang dia menjadi parno membuka kotak hadiah seperti ini. Viola pun membawa kotak itu masuk kedalam rumah dan menutup pintu.
“Buka ga ya? Buka ga ya? Apa.. langsung dibuang aja?” ucap Viola pelan menatap kotak tersebut. Tetapi dia juga penasaran dengan isi kotak yang sedang dipeganginya.
"Siapa tahu itu bukan terror, kan?” pikirnya.
Dengan membaca bismillah, akhirnya Viola membuka kotak itu dengan pelan.
“ARRGHHH!!”
Viola berteriak dan melempat kotak itu ke lantai. Sebuah boneka kurus kecil seperti mumi dan terdapat fotonya di tengah mumi sedang di tusuk paku. Viola terpaku melihat isi itu lagi. Apa maksud ini semua? Karena semua jadi bikin Viola takut seperti ini.
________🌹_______
Setelah kejadian kemarin, Viola langsung membuang kotak dan isinya ke tong sampah. Lalu dengan cepat Viola menyiapkan makan malam.
Ketika Hendra sampai rumah, Viola seolah bersikap tidak ada apa-apa. Saat makan tidak ada pembicaraan diantara penting diantara mereka berdua. Di ruang baca pun, Viola hanya mengerjakan tugas yang diberikan Hendra. Meskipun Viola tidak terlalu fokus ke penjelasan Hendra sewaktu di kelas, dirinya masih mengingat penjelasan sedikit demi sedikit. Viola hanya mengambil bagian penting dari beberapa poin yang dia ingat. Karena kepala Viola juga pusing ingin cepat tidur.
Setelah selesai, Viola langsung mengirimkan tugasnya ke E-mail Hendra dan pergi ke kamar untuk tidur. Sebelumnya dia pamit dulu walaupun tidak ada respon dari Hendra. Sampai pagi sekarang ini, Viola baru bangun kesiangan.
Beruntung Viola ada kelas jam sepuluh nanti, jadilah ada waktu untuk membereskan rumah. Setelah dirasa cukup dia pun membersihkan diri dan mencuci baju kotor.
__ADS_1
Setelah selesai semua, Viola sarapan terlebih dahulu. Viola melihat makanan di meja makan dengan catatan sebuah note kecil yang menempel pada gelas.
Makan dulu sebelum pergi kuliah.
Tanpa sadar sudut bibir Viola tertarik ke atas. Meskipun cuek dan dingin, dia masih memikirkan Viola. Dia melhat di meja makan sudah terhidang sayur sup, telur dadar dan ayam goreny. Viola pun duduk dan mulai makan sembari memegang ponsel dan membuka chat grup dari teman-temannya.
Setelah selesai Viola mencuci piring bekas makannya tadi dan menyimpannya di rak piring. Dan bersiap untuk ke kampus.
_____________🌹______________
Sesampainya di kampus, Viola langsung masuk ke kelas dan fokus ke penjelasan Hendra. Meskipun Viola mencoret-coret buku tulisanya, telinganya masih setia mendengarkan penjelasan Hendra. Namun tiba-tiba saja Viola terdiam saat tangannya tanpa sengaja memegang sesuatu yang aneh. Seingat Viola di kolong meja yang diduduki biasanya bersih tanpa ada sampah dan barang apapun. Kecuali buku dirinya yang sengaja dia tinggalkan.
Tetapi sekarang?
Viola menundukkan kepala untuk melihat kedalam kolong meja dan menarik ujung kertas yang sedang dipegangnya.
Kemudian Viola membulatkan matanya saat melihat isinya. Diaman tanah merah persis seperti tanah dari kuburan dengan tetesan darah itu berantakan di pangkuannya sukses mengotori celana putih panjangnya.
“Viii”
Viola menoleh ke arah Lisa sambil menelan ludahnya susah payah. Lisa memegang tangan Viola yang sudah bergetar hebat. Air mata Viola lolos membasahi pipinya. Beruntung tepat duduk Viola agak belakang, jadi tidak akan ketahuan apa yang sedang Viola lakukan.
“Jangan teriak, Sa” Viola berbisik pada Lisa saat dia ingin berteriak melihat Viola.
Sedangkan Viola segera membersihkan tanah merah dan darah yang ada dipangkuan dan menambah kotor celananya yang semakin kentara.
“Vi, celana lo kenapa?”
...______________________...
...Quotes...
...Saya tidak pernah menyesal telah menjadi wanita yang mencintai laki-laki dengan setulus hati. Menjadi seseorang yang bucin....
...Meskipun saya tau resikonya, tidak semua laki-laki bisa memberikan hatinya secara tulus dan hanya untuk satu wanita saja. Dan terkadang masih banyak laki-laki yang bermain-main dengan perasaan dan cenderung mennyepelekan karena merasa dicintai dan disayangi....
__ADS_1
...Saya sadar, tugas saya cukup menjadi wanita terbaik dan berusaha tulus dengan siapa saya bersama sekarang atau bahkan nanti....