HELLO, DOSEN KUTUBKU

HELLO, DOSEN KUTUBKU
STRATEGI VIOLA


__ADS_3

Hallo guys, jangan lupa baca juga novel PLEASE LOVING ME ya. Dan tetap support novel karya penulis agar tetap semangat nulis novel hehe.


____________________


“Mbak, permisi. Lihat cewek yang barusan itu mbak” tanya nya dengan ramah.


“Oh iya, Mas. Cewek cantik itu kan ya” jawab penjual. Idih cantik dari mana? Huekkkk. Batin Miko.


“Em iya. Tadi dia itu beli apa ya mbak? Beli mawar buat nyekar ya mesti? Buat dikuburan gitu kan?”


“Bukan mas, bukan. Tadi dia beli bunga lily ko mas. Beneran deh. Itu dia langganan disini mas, kalau ga salah Mbak Agnes kan ya namanya” jawab sang penjual.


Hadeh malah dijelasin panjang lebar. Udah ah gue pulang aja. Baru jalan segini aja udah capek. Uh dasar gue, cuma gede badannya doang. Tenaganya zonk. Gerutu Miko sembari mengendari mobilnya.


Sedangkan diperjalanan pulang, mobil Miko melewati sebuah taman dimana dia berpapasan dengan Devian yang sedang bercengkrama dengan seorang wanita yang dia pun tidak tau identitasnya.


“Devian sama siapa itu ya? Saudara? Temen? Atau siapa? Kalau ceweknya ga mungkin juga, dia aja habis nembak Viola kan?” banyak pertanyaan yang bersarang dipikirannya kala itu. Tapi dia berusaha bodo amat dengan apa yang ada dihadapannya.


________________


Ruang Dosen.


“Pak Hendra, mau saya buatkan teh?” Bu Anggun yang berusaha berbuat baik pada Hendra pun disambut hangat oleh patner kerjanya karena Hendra hanya berpikiran sebatas teman kerja tidak lebih.


“Bu, saya juga mau dong. Masa yang ditawarin cuma Pak Hendra” celetuk Pak Fajar dengan nada bercanda.


Sebuah senyum pun terlihat di bibir Anggun yang mengartikan bahwa dirinya mau untuk membuatkan teh untuk kedua dosen tersebut. Padahal ada OB yang bersedia membuatkan dan melayani para dosen dengan sepenuh hati.


Duh pak Fajar itu ya, niat pengen buatin teh Pak Hendra aja malah disuruh buatin dia juga. Tau gitu aku langsung buat dua aja. Satu buat aku, satunya lagi buat Pak Hendra. Batin Anggun yang sedang menekan air pada suhu yang panas.

__ADS_1


Tak perlu waktu lama, teh yang dibuat Anggun pun diletakkan di meja Hendra dan Fajar. Umur mereka yang tak terpaut jauh membuat mereka sering bercengkrama.


“Terima kasih Bu Anggun. Semoga lekas dapat jodoh yang bisa menerima kebaikan Bu Anggun setiap hari dan setiap saat. Bukan begitu Pak Hendra” celetuk Fajar sengaja menggoda rekan kerjanya tersebut.


“Apaan sih, Pak. Belum ada yang cocok nih. Boleh dong dicariin. Hehe” jawab Bu Anggun dengan mengode lirikan yang mengarah pada Hendra dan Fajar tau betul bahwa Anggun suka dengan Hendra. Bahkan sejak dulu Hendra masuk menjadi dosen di kampus ini.


Andai kamu tau Bu Bu, Hendra itu udah punya istri. Kamu saja ya ga tau, karena kamu terlalu sibuk mengejar ambisi dan haus akan pujian. Katanya cinta tapi ko ya ga mau berjuang. Hmm, kayak aku nih kisah cintanya, kandas. Batin Fajar sambil menyeruput teh perlahan karena panas.


Sampai akhirnya ada Dosen Bu Linda yang melalui mereka bertiga.


“Hemm, enak nih cuaca yang mendung minum teh bareng-bareng. Ikut dong” ucap Linda sembari menarik kursinya mendekat. Untung saja saat itu sudah sore dan tinggal menunggu waktu pulang, jadi tidak ada tanggungan lagi sebelum jamnya pulang.


“Oh ya Pak, saya mau cerita nih. Berhubung saya ini wali dosen kelas Ekonomi A, ini saya dengar-dengar ya ada teror yang menghantui salah satu mahasiswi saya. Coba bayangkan dan saya harus bagaimana coba?” Linda menceritakan kondisi kelas yang diampunya.


“Namanya siapa, Bu?” tanya Hendra.


“Ada-ada aja, udah gede masih ada main terror-teroran” ketus Anggun yang lantas pergi keluar ruangan.


_____________


“Vi, apa nama-nama ini menurut lo udah semua? Yang sebelah kiri bagian yang tidak suka sama lo. Yang bagian kanan yang baik sama lo. Tinggal ini nih lo sortir lagi agar pencarian bisa segera kita lakukan” ucap Gea sembari membawa lembaran kertas dan bolpoin untuk mengumpulkan data.


“Udah, Ge. Menurut gue ya yang dicoret ya nama kalian ini kan? Ada Gea, Yosi dan Lisa yang harus di coret karena kalian besti gue. Dan Erika, emm sepertinya harus di coret karena dia punya rasa simpati yang tinggi dan tidak mungkin dia berbuat jahat sama gue kan? Ya kan, Er?” tanya Viola pada Erika yang fokus pada layar ponselnya.


“Idih, gue lagi di curigain. Gue itu sebenernya baik. Cuma kalian aja yang ga peka tau” jawab Erika dengan percaya dirinya.


“Dan satu lagi, kenapa Erika harus di coret karena dia udah mau jengukin gue, haha" ucap Viola dengan bercanda.


“Astaga. Itu artinya kalau gue ga mau jenguk lo berarti nama gue masuk ke dalam list nama yang lo mata-matai gitu?”

__ADS_1


“Hahaha” disambut gelak tawa oleh para temannya.


Mereka mendiskusikan hal tersebut sampai jam 19.00 karena sudah terhitung lama juga mereka main ke rumah Viola. Dan untung saja Hendra belum pulang ke rumah jadi tidak akan ketahuan.


“Bye Vi. See you. Cepet masuk ke kampus loh ya” ucap Yosi setelah cipika-cipiki dengan temannya.


“Oke deh. Masuk ko pasti” setelah mereka berpamitan dan Viola hendak menutup pagarnya tiba-tiba ada mobil Hendra yang hendak masuk.


“Udah selesai mainnya? Saya nunggu diluar sampai jamuran cuma nunggu temenmu pulang” ketus Hendra sembari melalui Viola begitu saja.


Ha? jadi dia udah pulang dari tadi? pinter juga ya dia ga masuk ke dalem, coba kalau masuk bisa gawat parah soalnya ada Erika, kan dia ga tau kalau gue udah nikah sama si dosen kutub itu.


Sebetulnya Hendra masih kesal karena sikap Viola yang kemarin sempat membuatnya marah.


“Lah tadi aku kan ga tau kalau Mas Hendra itu udah pulang. Pikirku kan jam 8 nanti, Mas” ucap Viola pembelaan.


Tak panjang lebar, Viola pun mengikuti langkah Hendra untuk masuk ke dalam rumah. Suaminya masuk ke dalam kamar dan dia pun segera memanaskan makanan untuk makan malam. Semua telah disiapkan dan hanya menunggu Hendra selesai membersihkan tubuhnya.


20 menit berlalu. Dan Hendra pun segera duduk di kursi makan.


“Silahkan, Mas. Aku tadi habis delivery makanan kesukaan kamu loh, Mas” Viola sebisa mungkin mengambil hati Hendra agar dia tidak terus-terusan di diamkan oleh suaminya.


Untung aja gue tadi sempet pesen makanan. Coba kalau enggak. Ini kan satu-satunya cara buat meluluhkan hatinya biar ga marah-marah terus. Batin Viola sembari mengambilkan lauk untuk Hendra.


..._______________...


...Quotes...


...Di saat aku tidak ingin dekat dengan siapapun banyak yang mengira aku masih terjebak di masa lalu, padahal aku hanya lelah untuk mengenal orang baru....

__ADS_1


__ADS_2