
Hallo guys, jangan lupa baca juga novel PLEASE LOVING ME ya. Dan tetap support novel karya penulis agar tetap semangat nulis novel hehe.
____________________
“Pakai guling aja dulu ya, Mas. Ga apa-apa kan?” ijinnya pada suami.
“Iya, gak apa-apa”
Mendengar ucapan tersebut akhirnya Viola segera berbaring dan memunggungi Hendra.
Untuk kali pertamanya dia tidur dengan suaminya. Hatinya kini merasa lebih tenang dibandingkan biasanya. Dia tidak tau apa yagn dirasakan kini, yang jelas hatinya lebih tenang dibandingkan biasanya.
"Semoga awal yang baik untukku melupakan Viko dan kamu adalah alasan untuk lupa semua tentang dia" batinnya sebelum memejamkan mata untuk tidur.
_____________
Pagi harinya, Hendra dan Viola bersiap ke supermarket membeli kebutuhan dapur karena mengingat orang tuanya akan main ke rumah.
Disepanjang jalan Viola hanya menatap keramaian kota dengan berbagai aktifitas apalagi jika weekend seperti ini. Biasanya ketika dia masih jadi anak kos, pastinya Viola akan pergi ke pasar minggu yaitu pasar yang selalu ada tiap hari minggu saja. Terkadang juga wisata kuliner tentunya dengan Gea, Yosi dan Lisa.
“Mas, itu tuh enak. Cobain yuk kapan-kapan” Viola menunjuk salah satu penjual soto yang sering dibelinya.
“Dari tadi kamu ko lebih banyak diam kenapa?” tanya Hendra yang merasakan perubahan pada Viola.
“Mungkin faktor hari ini aku PMS, Mas. Lagi males aja gitu bawaannya”
“Oh oke. Kalau mau marah-marah gak apa-apa, ngoceh juga gak apa-apa” celetuk Hendra pada istrinya karena dia tau beberapa kebiasaan Viola kalau sudah ngoceh ga ada berhentinya dan justru itu yang menjadi hal special bagi Hendra.
“Yee.. ngoceh juga ada waktunya Mas, ga tiap hari juga kan”
“Hemm ya. Ayo turun. Jangan lupa bawa dompetmu. Nanti lupa lagi” Hendra mengingatkan Viola yang sangat pelupa.
Mereka membeli beberapa bahan yang diperlukan. Berhubung sekarang Hendra sudah suka makan sayur, jadi Viola memperbanyak sayur dibandingkan daging. Dia juga ingin suaminya hidup sehat dan tidak tergantung pada daging.
__ADS_1
Setelah dirasa cukup, mereka lantas pulang. Syukurnya jalanan sewaktu berangkat sedikit ramai sekarang menjadi sepi karena hari menjelang siang.
“Tumben ya Mas, mereka belum sampai? Kan Bogor ke Bandung tidaklah lama” ucapnya pada Hendra setelah memperhatikan jam yang bertengger di dinding.
“Ya mungkin macet, tunggu saja”
E belum juga berhenti bicara, suara bel pun memecah konsentrasi mereka. “Nah mungkin itu mas” Viola lantas berlari kecil menuju pintu.
“Aaaa Mama, Papa.. Viola kangen” ucapnya sembari memeluk orang tuanya. Setelah mengetahui orang tua Hendra juga, Viola memperlakukan hal yang sama. Masalah sopan santun memang tidak diragukan lagi, Viola adalah anak yang baik, sopan terhadap siapapun.
Hendra pun menyalami dan menyambut keluarga besar dengan sangat baik.
“Ayo masuk Ma, Pa, Jovan dan Airin” ajak Hendra menuju ke ruang tamu.
Mama Hendra pun memperhatikan situasi rumah yang terkesan rapi namun masih sepi tanpa kehadiran anak. Dia tau jika menikah memang puncak kebahagiaan adalah seorang anak atau cucu baginya. Tapi juga manusia tidak bisa memprediksi kapan diberi anak oleh sang pencipta. Akhirnya untuk memperlancar misi utamanya, Viola diajak oleh Mama Hendra menuju dapur.
“Oh ya , Nak, bagaimana? Betah gak hidup sama anak mama? Dia rewel gak, Nak?” tanya Mama Hendra.
“Nginep boleh Nak. Paling juga tiga hari. Gak apa-apa kan ya?”
Waduh ko nginep sini? Berarti gue harus sekamar dengan Mas Hendra selama itu dong. Mana kamarnya cahayanya remang-remang pula.
“E, ga apa-apa ko, Mah. Kan Viola jadi senang kalau rumah ini makin rame. Hehe”
Melihat keakraban yang terjadi antara adiknya dan sang mertua membuat Jovan merasa bahagia karena ga ada salahnya jika dijodohkan asal dengan orang dan keluarga yang tepat.
Tak lama kemudian Mama Viola menghampiri anaknya dan Mama Hendra.
“Hai hai haii, yuk nanti malam barbeque-an yuk. Tadi Mama udah bawa sosis, daging, kentang dan masih banyak lagi”
“Astaga Mama. Ko pakai bawa dari rumah sih Ma. Disini juga ada. Yuk Ma kita makan siang dulu. Tadi Viola masak tumis kangkung, sambal cumi hitam, sama perkedel. Habisnya tadi mau delivery makanan ga boleh sama Mas Hendra katanya enak ga enak ya yang penting masakan Viola” ucapnya panjang lebar.
“Idih yang bisa masak. Yuk sis kita jadi jurinya hehe. Enak ga masakan menantumu ini” jawab Mama Viola yang sangat suka bercanda tersebut.
__ADS_1
Setelah hidangan dipersiapkan, dan saatnya memanggil Airin, Jovan dan para Papa yang sedang ngobrol bersama Hendra.
“Ayo sini, makan dulu” panggilan dari Mama Hendra membuat semuanya mendekat perlahan.
Airin yang sudah dianggap keluarga sendiri membuat dia tidak merasa canggung.
“Oh ya Vi, tadi aku bawain kamu pancake rasa Red Velvet loh. Ini ya dimakan” ucap Airin dengan membawa sebuah bingkisan yang dibawanya.
“Iya kak. Terima kasih ya. Gimana persiapan pernikahannya udah clear?” tanya Viola pada sang calon kakak ipar.
“Udah siap ko. Kemarin ada kendala sedikit tapi masih bisa dikendalikan. Oh ya kemarin itu ada pria yang dateng ke rumah, kalau ga salah namanya Viko. Kalau kata Mas Jovan itu adalah mantanmu kan ya. Dia dateng sendirian dan diajak ngobrol gitu sama kakakmu. Kalau aku ga salah denger, dia itu pengen balikan sama kamu. Nah pas lihat foto pernikahanmu yang terpajang di dinding rumah, dia sempat kaget dan memperhatikan foto tersebut beberapa detik”
“Terus, Kak?”
“Terus dikasih tau sama Mas Jovan, kalau kamu itu udah nikah dan ga usah ngusik kehidupan pernikahanmu. Tapi ko bisa ya, dia bisa tau alamat rumah?” tanya Airin yang merasa ganjal dengan kedatangan Viko.
“Ya mungkin dia tau dari paket yang pernah ku kirim padanya, Kak. Ya mungkin dari situ terus disimpen. Mungkin loh ya Kak. Tapi ya syukurlah Kak Jovan bilang begitu sama Viko. Ternyata melupakan orang juga ga semudah itu ya Kak” ucap Viola panjang lebar.
“Nah.. makanya itu.. Oh ya Kak kalau kata orang kalau mau menikah pasti banyak godaannya sih. Beda dengan aku dulu Kak. Nikahnya belum siap setelah nikah banyak godaannya”
“Hust ga boleh gitu ah. Udah yuk makan dulu. Kamu sekarang pinter masak ya” celetuk Airin yang merasa bangga pada Viola karena sudah mulai terlihat tanggungjawabnya sebagai istri.
Makan siang tersebut sangatlah heboh, dengan bercerita kecil hingga tak terasa nasipun telah habis. Beberapa bulan dua keluarga tersebut tidak bertemu, jadi membuat mereka semakin merasa banyak hal yang bisa diceritakan.
..._____________________...
...Quotes...
...Aku mencintaimu dengan caraku dan kamu mencintaiku dengan caramu....
...Sayangnya caramu mencintaiku, menjadikanku seperti seorang pengemis dan caraku mencintaimu, menajdikanmu seperti seorang raja....
...Aku pergi bukan karena tidak mencintaimu, tapi terkadang seorang pengemis bisa menjadi ratu di tangan orang yang berbeda....
__ADS_1