HELLO, DOSEN KUTUBKU

HELLO, DOSEN KUTUBKU
CUMA JALAN


__ADS_3

Hallo guys, jangan lupa baca juga novel PLEASE LOVING ME ya. Dan tetap support novel karya penulis agar tetap semangat nulis novel hehe.


____________________


PLETAK.


“Aduh! Masss!” jerit Viola kesal sambil meletakkan gelas dan mengusap dahinya.


“Saya dari tadi panggil kamu tapi kamu malah melamun terus” balas Hendra menatap Viola tanpa bersalah. Viola masih sibuk mengusap dahinya tanpa menjawab ucapan Hendra. Bagaimana tidak sakit, kali ini Hendra menjentik Viola bukan pakai jari tapi pakai sendok makan.


“Mas, bisa ga sih ga usah siksa dahi aku terus?” Viola mengomel sambil mendelik kearah Hendra. Hendra menatap Viola dengan cuek.


“Kenapa kamu lagi mikirin sesuatu?” tanya Hendra. Viola menghela napas dan melanjutkan meminum tehnya kembali, Hendra menatap istrinya dengan lekat.


“Jangan bohong sama saya. Kamu kenapa?”


“Aku gak kenapa-kenapa, Mas” jawab Viola yang masih tak berani menatap Hendra.


“Bener?” tanyanya memastikan.


“Iya bener. Suwer ta kewer-kewer hehe” jawab Viola dengan candaan khasnya.


“Jangan sesekali berani bohong sama saya, Viola”


Sejenak ucapan Hendra membuat Viola menelan salivanya dengan susah payah.


“Hahaha! Itu… em, oh ya tadi Lisa cerita kakaknya dia habis lairan mas. Keponakannya gemoy parahhhh. Lucu banget loh mas, pipinya tembem banget gituu” Viola berusaha mengalihkan pembicaraan.


Duh, maaf Sa. Lo jadi sasaran alasan gue. Runtuk Viola dalam hati.


“Nanti juga kamu punya”


Viola terdiam mendengar Hendra. Sedangkan Hendra menatap istrinya sambil meminum teh hangatnya.


Itu mulut lemes banget kalau ngomong ya? Enak buat dicium kayanya. Batin Viola.


“Itu masih jauh, Mas” jawab Viola pelan sambil meminum teh hangat lagi. Hendra mengangkat sebelah alisnya ke atas lalu menatap Viola dengan serius.


“Sekarang juga bisa, Mau?” Hendra menatap Viola lebih dekat dan membuat istrinya salah tingkah.


Daripada buat bayi mending kabuurrrrr. Batin Viola lantas pergi ke kamarnya.


_____________________


Viola berjalan pelan ke lorong kampus. Kepalanya sedari tadi melihat ke kiri kanan, depan belakang. Siapa tau yang mengirim teror itu anak kampus kan? Terus diam-diam mau bunuh Viola. Kan ngeri juga. Negatif thingkingnya semakin menjadi.


“Violaaa!?”

__ADS_1


“Aduh! Bisa ga sih, ga usah ngagetin orang” Viola mendengkus kesal karena seseorang yang mengagetkan dirinya dari belakang. Viola menatap tajam orang yang memakai kemeja biru langit dengan celana panjang hitam ini.


Dia tersenyum. Manis.


“Maaf deh” sahut lelaki itu lalu mengacak rambut Viola.


“Berantakan, Devian!” Vio mengomel sambil merapihkan rambutnya kembali.


Nama lengkap lelaki di depan Viola adalah Devian Leo. Dia teman Viola sewaktu sekolah menengah atas dulu. Viola dan Devian satu kelas saat duduk di kelas satu. Jadi tidak ada salahnya jika mereka terlihat akrab dan saling mengenal. Viola juga pernah diam-diam suka padanya karena ketampanan dan tubuh yang atletis.


Selesai lulus sekolah, Devian melanjutkan Pendidikan S1 di kampus yang sama dengan Viola.


“Eh Vi, Nanti siang ada acara gak?” tanya Devian yang membuat Viola terdiam mendengar ucapannya.


Devian adalah anak di Fakultas Hukum, siapa yang tidak kenal dia di kampus? Semua tahu dia.


“Kenapa?” tanya Viola.


Devian mengusap tengkuknya pelan sambil tersenyum kikuk. “Jalan yuk”


Deg. Ya allah lo telat Dev. Kenapa ngajaknya pas gue udah nikah dan lo baru mau pedekate sama gue. Kenapa aja lo heyyy. Batin Viola bersuara.


Dia menelan ludah pelan sambil celingak-celinguk. Waspada jika nanti ada suami atau temennya yang lihat, bisa jadi salah paham.


“Emm. Aku ga tau” jawab Viola gugup sambil mengusap tangannya.


Dosa ga ya kalau gue deket sama dia? Batin Viola kembali bersuara.


“Tap…”


“Cuma jalan doang”


Viola menghela napas pelan. Dia berpikir sebentar menimang ajakan Devian. Pada akhirnya dia menganggukkan kepala pertanda setuju.


“Ya udah aku tunggu” Devian mengacak rambut Viola lagi dan pergi meninggalkannya.


“Sialan si Devian” Viola mendumel kesal menatap Devian yang sudah pergi.


“Ciee, kita bakalan dapet PJ dari lo sama si anak hukum itu nihh” suara itu membuat Viola kaget lalu menoleh ke belakang.


Itu suara dari teman-temannya yang berdiri tak jauh darinya.


“Mereka dari tadi lihatin gue sama Davian?” gumam Viola pelan.


“Gue dukung deh lo sama Davian” ucap Yosi dengan menepuk bahu Viola.


“Gue juga!” Lisa pun tak mau kalah.

__ADS_1


“Gue juga” Gea pun sama.


Teman macam apa ini? Viola lagi takut dianggap ada apa-apa karena bakalan jalan sama Davian, mereka malah mendukung?


“Apaan si lo bertiga” ucap Viola menghindar.


“Tapi lo berdua beneran cocok deh”


Viola hanya menghela napas berat mendengar ucapan mereka yang mulai ngelantur.


“Kampret lo bertiga” seru Viola dengan cepat lalu berjalan ke kelas lebih dahulu meninggalkan mereka bertiga.


“Viii, tungguiiiinn” ucap Geng Ulala bersamaan.


_________________


Setelah kelas selesai, Viola pun keluar kelas dan berjalan ke arah parkiran dimana Davian sudah menunggu. Ternyata Davian benar-benar menunggunya sampai jam kelas selesai. Davian mengangkat tangannya sambil tersenyum kearah Viola supaya mengetahui keberadaannya. Viola pun membalas dengan senyuman kecil membalas dan berjalan mendekati Davian.


“Sudah selesai?” tanya Davian. Viola hanya menganggukkan kepala pelan.


“Ya udah, ayo jalan” Davian membukakan pintu mobil dan Viola pun masuk. Begitu juga Davian. Mobil yang dikendarai Davian berjalan keluar area kampus. Viola hanya berdoa dalam hati, semoga sat dia masuk ke mobil Davian tidak ada yang melihatnya, terutama Hendra.


“Gimana kelasnya?”


“Biasa aja kok, paling tugas akhir kuliah aja” jawab Viola sambil senyum.


Davian ikut tersenyum mendengar ucapannya.


Duh senyumanmu Dav. Batin Viola berteriak.


“Sabar ya. Bentar lagi juga lulus” balas Devian sembari mengusap kepala Viola.


Ko nyaman ya? Batin Viola lagi.


Devian adalah mahasiswa yang pintar. Banyak yang suka dia, secara dia cukup terkenal juga waktu di SMA. Viola yang diam-diam juga suka sama dia saat di SMA bisa apa?


Sekarang? Entahlah.


Tidak lama kemudian, mobil Davian sampai di sebuah café. Setelah memarkirkan mobil, mereka berdua pun berjalan masuk kearah café yang dituju.


“Yuk, ini café langganan sama temen-temenku juga” Viola hanya bisa menganggukkan kepala pelan. Mereka berdua masuk ke dalam café dan memilih duduk di pojok dekat jendela. Davian memanggil pelayan untuk menulis pesanan mereka berdua. Viola hanya memesan Tiramitsu Ice dan Davian memesan Coffe Latte Ice. Tidak ada yang berubah dari kesukaan Hendra.


“Gimana kabar kamu, Vi?”


..._____________________...


...Quotes...

__ADS_1


...When Eyang B.J Habibie said:...


...“awalnya aku pikir bahwa setia adalah tidak pernah tertarik pada orang lain selain pasanganu. Tapi setia adalah saat kita merasa tertarik lalu pikiran alam bawah sadar kita ingat bahwa passangan kita lebih baik dari siapapun”...


__ADS_2