
Hallo guys, jangan lupa baca juga novel PLEASE LOVING ME ya. Dan tetap support novel karya penulis agar tetap semangat nulis novel hehe.
____________________
Devian adalah mahasiswa yang pintar. Banyak yang suka dia, secara dia cukup terkenal juga waktu di SMA. Viola yang diam-diam juga suka sama dia saat di SMA bisa apa?
Sekarang? Entahlah.
Mobil yang dikendarai Devian melaju ke cafe yang dituju.
15 menit berlalu.
Mobil telah sampai di sebuah café. Setelah memarkirkan mobil, mereka berdua pun berjalan hingga memasuki cafe tersebut.
“Yuk, ini café langganan ku sama temen-temenku ” Viola hanya bisa menganggukkan kepala pelan. Mereka berdua masuk ke dalam café dan memilih duduk di pojok dekat jendela. Davian memanggil pelayan untuk menulis pesanan mereka berdua.
"Loh Mas Devian. Tumben dateng sama ceweknya. Cantik pula hehe" ucap sang pelayan dengan tersenyum ramah pada Devian dan juga Viola.
Deg.
Viola tak menyangka secara tidak langsung bahwa dirinya adalah wanita yang pertama kali diajak Devian ke cafe ini.
"Ah lo ini Bro" hanya itu jawaban yang terlontar dari mulut Devian. Hingga akhirnya sang pelayan memberikan buku menu.
"Gue Red velvet ice aja deh, cemilannya kentang goreng ya Mas" ucap Viola.
"Kalau gue pesen kaya biasanya aja. Lo tau kan, Coffe Latte Ice cemilannya samain aja sama cewek yang ada di depan gue"
"Idih, yang sedang berbunga-bunga" celetuk pelayan cafe yang sudah akrab dengan Devian. Setelah dirasa cukup dan telah dicatat, sang pelayan langsung menuju ke dapur.
Tidak ada yang berubah dari kesukaan Devian, masih sama sang pecinta Coffe Latte.
“Gimana kabar kamu, Vi?” tanya Devian membuka pembicaraan terlebih dahulu.
“Aku baik ko, Dev” jawab Viola sambil meminum ice yang telah dipesannya.
“Gimana kabar Papa Mama mu? Mereka masih di Indo apa juga di luar negeri?” tanya Viola.
“Mereka baik ko. Ini juga Papa Mama pulang ke Indo untuk mengurusi bisnis yang akan di ekspor ke beberapa negara kabarnya”
__ADS_1
Viola menganggukkan kepala mengerti.
Tidak lama, pesanan yang mereka pesan tadi pun datang. Setalah mengucapkan terima kasih pada pelayan, mereka pun lanjut mengobrol.
“Vi”
Viola kaget saat tiba-tiba Devian menarik tangannya. Viola sangat tahu kalau Devian tidak akan memegang tangan orang lain sembarangan kecuali kalau ada suatu hal yang penting.
“Dev, kamu ngapain?” tanya Viola sambil mengerutkan kening menatap Devian. Dia hanya tersenyum ke arah Viola.
Dev, jantung gue ga sehat ini. Dia mau loncat Devvvv. Batin Viola sambil mengendalikan diri.
“Aku tau ini salah. Karena kita teman dari SMA aku tau kamu juga sudah anggap aku sebagai sahabat kamu. Tapi aku sudah memendam ini semua terlalu lama”
“A-apa Dev?” Viola terbata-bata untuk menjawab ucapan Devian yang diluar prediksinya. Viola benar-benar tidak menyangka bahwa sebenarnya Devian menyukai Viola sama dengan halnya dia ketika sebelum Viko, mantan Viola.
“Aku suka kamu Viola. Kamu mau kan jadi pacar aku? Aku sudah menunggu kamu putus dari Viko, baru aku memberanikan diri Vi”
Seketika Viola melepaskan tangan Devian dengan cepat. Viola bisa melihat raut wajah Devian juga kaget. Namun Viola lebih kaget dengan ucapan Devian yang tiba-tiba begini.
“A-apa?”
Viola terdiam mendengar ucapan Devian menembak dirinya. Tiba-tiba kilasan wajah Hendra terlintas di benak Viola. Membuat dirinya membulatkan mata dan tersadar. Dengan cepat Viola berdiri dan mengambil tasnya.
“Sorry Dev. A-aku harus pulang” balas Viola terbata. Lalu berbalik untuk keluar cafe. Namun tiba-tiba lengannya ditahan oleh Devian.
“Aku akan tunggu jawaban kamu, Vi” ucap Devian menatap Viola.
Viola hanya terdiam kembali mendengar ucapan Devian lalu melepaskan tangannya dan berjalan keluar café.
Setelah di luar, Viola memberhentikan taksi yang lewat dan segera masuk ke dalam. Viola mengatur napas pelan selama perjalanan.
“Devian suka sama gue? Kenapa saat gue udah nikah begini, Dev? Kemana aja lo dulu? waktu gue suka sama lo, malah lo ga peka-peka” Viola menggumam pelan sambil menutup mata dan mengatur napas.
____________________________
Viola membuka pintu pelan saat memasuki rumahnya. Pandangan Viola terpaku pada sepasang sepatu di rak yang ada di samping pintu.
Dia udah pulang dan gue telat karena keluyuran, batin Viola.
__ADS_1
Dia pun masuk ke kamarnya dengan cepat dan jalan melewati ruang keluarga. Tapi sebuah suara membuat langkah Viola terhenti.
“Kamu dari mana?”
Perlahan Viola melihat ke arah ruang keluarga, dimana Hendra sedang duduk di sofa menatap dirinya dengan wajah datar dan mata tajamnya. Viola menepuk jidatnya. Kenapa dia tidak sadar kalau Hendra sedang duduk disitu?
“Saya kira kamu masih ad akelas karena saya lihat teman-temanmu masih ada di area kampus”
Viola terdiam mendengar ucapan Hendra. Jari Viola menyatu, saling bergesekan yang tandanya dia sedang gugup dan takut.
Aduh, gue harus jawab apa? gue jawab jujur? atau gue jawab bohong? Kok gue loading sih? Batin Viola panik.
“Saya tadi nunggu kamu di kampus. Lama. Saya tidak lihat kamu ada sama teman-teman kamu, jadi saya tanya ke mereka” lanjut Hendra masih dengan wajah dinginnya.
Mampus! Mereka kan tahu kalau gue pergi sama si Devian tadi. Mereka pasti bilang kalau gue dan Devian pergi dong? Lah gue jadi kayak ketahuan selingkuh! batin Viola makin panik.
“Pak-ma-maksud aku, Mas. A-a-aku tad-“
“Saya tadi nanya ke teman kamu karena saya tidak lihat kamu sama mereka di halaman kampus” Hendra mengulangi ucapannya tadi. Lebih tepatnya itu adalah pertanyaan tadi membuat Viola menutup mata.
“Maas, ak-“
“Makan sekarang! Saya tau kamu belum makan” Hendra bangun dari duduknya lau pergi ke ruang makan. Viola menghela napas pelan sambil mengikuti Hendra ke arah ruang makan. Hendra duduk lalu menyodorkan makanan ke mulut tanpa menyuruh atau menawarkan Viola sama sekali.
“Dia belum makan? Dia nungguin gue?” Batin Viola seketika melihatnya.
Viola menutup mata pelan lalu ikut duduk di depan Hendra. “Mas, kenapa tidak makan duluan?”
“Saya nunggu kamu pulang karena saya tau kamu belum makan” jawab Hendra tanpa melihat ke arah Viola. Entah kenapa hati Viola menjadi lebih sakit melihat Hendra seperti ini. Hendra terkesan lebih dingin dan cuek.
“Apa Hendra tau kalau aku dan Devian pergi hari ini? Apa Hendra marah?” segala macam pertanyaan ada di benaknnya.
“Maafin aku, Mas” gumam Viola pelan.
..._________________________...
...Quotes:...
...Harusnya dari awal kalau emang main-main bilang, jangan mincing rasa, karena kamu mungkin pemain, tapu aku bukan mainan....
__ADS_1