HELLO, DOSEN KUTUBKU

HELLO, DOSEN KUTUBKU
BAPAK ATAU MAS?


__ADS_3

Hello, yuk isi musim hujan mu dengan membaca novel ini.


Dijamin bakal traveling deh nantinya.. hehe.


Enjoyyy.. Selamat membaca.


…………………………….


Pagi ini Viola ingin balik lagi ke Kota Bandung karena skripsi menantinya.


Segala sesuatu yang diperlulan telah dipersiapkan. Baik itu buku referensi, pakaian yang diperlukan, ataupun hal lainnya.


"Sudah siap nak?" tanya Papanya mendekati sang anak gadis yang sedang beberes.


"Sudah Pa. Ini Vio mau ke bawah dulu, sekalian pamitan nanti sama Mama dan Kak Jo". ujarnya.


"Oke, Papa bantu bawa ya" hal itu mendapat senyuman dari Viola. Betapa beruntungnya dia memiliki Papa yang baik. Akhirnya mereka pun jalan beriringan menuju lantai bawah.


“Ma, Pa, Ka pamit dulu ya” pamitnya dengan mencium tangan orang tua dan kakaknya.


“Eee mau kemana lo. Itu calon suami lo udah nunggu di luar” ujar Jovan.


Viola yang tak begitu jelas dengan perkataan Jovan seketika kaget, perasaannya berkata sepertinya dia tak ada janji dengan siapapun, lantas siapa yang menunggunya? Ah, iya. Calon suami. Sekarang kan dia statusnya adalah calon suami orang. Ternyata dia baru connect.


“Ha?? mau ngapain coba?”


“Ditemuin aja dulu sana gih” ucap Jovan.


Viola jalan menuju arah Hendra. Pria yang dihampiri dengan setelan jaket dan celana jeans dengan mobil F*rtuner nya terlihat sangat tampan berdiri disamping mobil hitamnya.


“Ada apa ya Pak? Saya mau ke Bandung, takutnya nanti kesiangan” tuturnya pada sang calon suami.


“Motormu biar dirumah, kamu ke kampus bareng saya” jawaban Hendra benar-benar membuat Vio pusing tujuh keliling. Bagaimana tidak? begitu mudah bicara seperti itu.


“Nanti kalau aku mau keluar gimana? Kalau mau ke kampus gimana? Kalau mau beli makan gimana?” celetuknya dengan bibir cemberut dan muka di tekuk.


“Bareng saya”


“Pliss, biarkan saya bawa motor ya Pak, pliss”


Sekeras apapun usaha dilakukannya. Asalkan dia dibolehkan bawa motor, itu sudah lebih dari cukup.


“Gak boleh"!


“Plisss”


“Enggak Viola!" jawabannya benar-benar tak bisa di ganggu gugat.


Huft menyebalkan sekali, hanya membawa motor saja tidak di ijinkan apalagi nikah nanti, bisa-bisa apa-apa dilarang.


“Ya udah aku masuk ke rumah mu dulu, mau pamit Mama Papamu” ucap Hendra dengan mengambil kunci yang berada di kemudinya.


Mau tak mau Viola membiarkan Hendra menuju rumahnya. Dia berjalan dibelakang Hendra.


Bruakk


Hendra sengaja berhenti mendadak.


“Aduh, kenapa berhenti mendadak sih Pak” Viola yang memegang keningnya membuat Hendra tersenyum tipis.


“Salah siapa jalan di belakang sambil melamun”


Ni orang mau nya apa sih, gerutu Viola.


Akhirnya Hendra bertemu dengan keluarga Viola. Dia pamit pada satu per satu keluarga calon keluarga barunya. Dan mau tak mau Viola meninggalkan motornya di rumah menuruti kemauan Hendra.


“Jaga anak bungsu kami ya Nak Hendra” pesan Mama.


“Kalau ada apa-apa kabari kami ya Nak” Ucap Papa Viola.


“Ya om, tante”


“Awas lo Bro, jangan di apa-apain dulu, belum halal” ucap Jovan yang mewanti-wanti Hendra agar tidak melakukan yang menyimpang dalam norma.


“Gak lah bro, masih inget iman nih” jawabnya dengan memukul kecil bahu Jovan.


Akhirnya mereka berpamitan begitu juga Viola.


Hendra yang jalan duluan ke mobil, segera membukakan pintu mobil untuk calon istrinya.


“Masuk”

__ADS_1


“Hem, ya” jawab Viola cuek.


Sambil tersenyum mereka melambaikan tangan pada keluarga Viola sebagai tanda perpisahan sebelum ke Bandung.


Hampir setengah jam mereka saling diam.


Akhirnya Viola memberanikan membuka pembicaraan.


“Kenapa kau bilang pada Kak Jo untuk dijodohkan denganku?” tanya Vio dengan wajah menatap depan.


“Karena aku merasa harus melakukan itu” jawabnya dengan enteng.


“Bisakah memberi alasan yang lebih logis?”


“Apa kurang masuk akal alasanku? Aku tidak memilki alasan apapun, aku hanya ingin saja”


“Tapi kenapa?” tanya ku dengan emosi.


“Karena saya mau”


“Batalkan saja gimana? Saya berubah pikiran pak!”


“Saya menolak”


“Pakkk!”


“Saya senang menghabiskan waktu untuk menjatuhkanmu”


“Baiklah, maka aku tidak akan membatalkan perjodohan ini. Aku akan menerima tantangan Anda, Pak Dosen! Kita lihat saja siapa yang akan memenangkan permainan ini” Ucap Vio dengan senyum sinis.


“Kau akan menderita karena menikah denganku Viola” ucap Hendra penuh penekanan dan seketika terkekeh.


“Aku sangat menantikan saat itu” ucapnya seraya mengedipkan sebelah matanya dengan Gerakan menggoda membuat Viola mendengus sebal.


Sungguh lawan yang sulit.


Tak lama setelah itu, Viola tertelap tidur. Hendra yang sedang menyetir tak menyadari wanitanya tertidur.


“Kita mau makan dimana” tanya Hendra yang tengah fokus dengan padatnya jalanan kota.


“Hey” ucapnya lagi.


Tak ada jawaban dan akhirnya dia menengok.


Ingin rasanya Hendra membangunkan Viola, namun dia juga tak tega.


“Kalau diperhatikan sebenarnya cantik, sayang saja kelakuannya sangat arogan sebagai wanita”


Di sibaknya rambut Viola yang menghalangi wajah. Dan diperhatikan lagi.


“Ah aku, ngapain juga lihat nih cewek. Udah stop, fokus Ndra, fokus”


Mau tak mau dia menahan rasa lapar, hingga hampir 1 jam lagi mereka sampai di daerah Bandung.


“Bangun, ini sudah masuk ke daerah Bandung. Kos mu dimana?”


Viola segera bangun dan mengucek matanya.


Huaaemm.


Viola yang menguap lebar seketika menutup mulutnya karena kaget ada Hendra di sampingnya.


“Ko kita semobil, mau kamu bawa kemana aku? “ Viola sudah bersiap akan memukul Bagas dengan yang dibawanya.


“Lupa apa, kita dari tadi semobil”


Viola berusaha sadar dari tidurnya, benar saja ternyata memang laki-laki yang disampingnya adalah calon suaminya.


“Makan apa saja, yang penting kamu merawatku selama disini” ucap Vio sengaja ingin melihat kesanggupan Hendra.


“Oke”


Cuma OKE?? Gak mau bujuk lagi gitu? Atau ngerayu atau apa gitu.. gak so sweet banget. Batinnya


“Gak usah batin apa-apa, aku denger isi hatimu” celetuk Hendra yang masih fokus dengan kemudinya.


Eh lho lah, dia ko tau kalau gue lagi batin dirinya? Jangan-jangan dia punya indra ke enam.


“Hu siapa juga yang mikir situ. PeDe banget” jawab Viola mencari pembelaan.


Akhirnya mobil belok ke arah MCD, sebuah tempat makan cepat saji yang ada di kota, makanan yang khas dengan ayam crispy-nya.

__ADS_1


“Turun” Perintah Hendra yang kini bersiap untuk turun dari mobil.


“Bentar ih, rambutku berantakan, baju ku kusut”


Hendra yang tak sabar menunggu Viola ingin rasanya menarik tangannya untuk segera turun. Baginya waktu adalah uang. Jadi dia tak pernah sekalipun membuang waktu untuk hal sepele.


“Sabar boskuhhh, sabar” ucap Viola dengan malas.


Mau tak mau Hendra menunggu Viola hingga selesai. Setelahnya, mereka berbagi tugas. Hendra yang mengantri dan Viola mencari kursi kosong.


"Akhirnya bisa tenang juga jauh dari si dosen KUTUB itu! sungguh menguras kesabaran euy" Viola mengeluarkan ponselnya untuk menunggu Hendra datang.


Genk Ulala.


Gea: Gaaes kapan pada balik nih, gue ada oleh-oleh dari kampung.


Lisa: Nanti sore gaes, sini masih hujan.


Yosi: Udah stand by di kos dong hehe.


Viola membaca satu persatu dari pesan temannya. Hingga dia pun membalas,


Viola: udah otw guys, baru mampir makan. Nanti malam meet up yuk di tempat biasa.


Tak lama kemudian satu per satu ada balasan dari temannya.


Gea: Siap sista.


Lisa: Oke Cants.


Yosi: Oke Vii.


Viola yang masih asik dengan ponselnya tak memperhatikan Hendra sudah berdiri di depannya.


“Nih makan. Jangan HP-HP an mulu” ucap Hendra karena sedari tadi dirinya antri, dia pun curi-curi pandang melirik ke arah Viola yang duduk membelakangi dirinya.


“Iya” jawabnya dengan malas.


Viola yang sangat suka sama ayam krispi, kentang goreng dan burger tak lagi memperhatikan Hendra.


“Hemm enak sekali, nyam nyamm” bak tingkah anak kecil yang sedang menikmati makanan kesukaannya yang tak memperhatikan sekelilingnya.


Hendra yang memperhatikan tingkah calon istri sekaligus mahasiswa nya merasa sangat lucu, rasanya ingin tertawa melihat tingkahnya yang seperti anak kecil.


“Makan pelan-pelan, tersedak baru tau rasa”


“Apaan sih ganggu makan aja Pak” jawab Viola.


“Jangan panggil Pak, dikira aku lagi jalan sama anakku” jawabnya dengan berbisik.


“Emang Bapak kan Bapak-Bapak, para mahasiswa juga manggilnya Bapak” jawabnya seenak kata yang keluar dari mulutnya.


“Ya ini kan sedang diluar jam kampus” Karena wajah yang masih muda, rasanya dia tak mau untuk dipanggil Pak.


“Ya deh Mas Hendra”


Seketika Hendra tersenyum mendengar ucapan Viola. Sedangkan Vio merasa sebal karena selalu saja Hendra merusak mood nya.


Makan pun berlangsung hening kembali. Hendra yang sudah selesai duluan segera mencuci tangan dan Viola masih menggigit tulang ayam yang baginya itulah kenikmatannya.


“Udah habis tuh, sana cuci tangan” Hendra diam-diam memperhatikan tingkah Viola yang dilihatnya begitu lucu makan ayam hingga habis tak tersisa.


“Ya tunggu bentar, tulangnya enak banget ini”


Hampir beberapa menit Hendra menunggu dan akhir selesai.


Viola segera mencuci tangan dan bersiap untuk melanjutkan perjalanan ke kos.


“Udah cuci tangan yok lanjut Mas”


Tak menjawab sepatah katapun, Hendra melangkah pergi.


Mobil melaju ke arah kampus, tepat memasuki jalan Halmahera, mobil memperlambat lajunya.


“Itu tuh, cat warna biru”


Hendra segera berhenti, hanya Viola yang turun dari mobil. Lalu melaju pergi.


Ya Allah, dasar Dosen Kutub! Sabar Vio Sabarrrrr.


Viola segera melangkah menuju kamarnya. Dan sampainya dikamar, segera dia rebahan.

__ADS_1


Akhirnya bisa lepas juga dari dosen kutub yang juga tunangannya tersebut.


__ADS_2