
Setelah Video call dengan teman-temannya, Viola kini dikamar hanya seorang diri.
Dia merasa canggung dan malu jika harus berhadapan dengan Hendra. Sekuat tenaga dia menyiapkan mental untuk menerima pernikahan ini.
"Biasanya gue kan ketemunya jarang gak tiap hari kayak gini. Bangun ketemunya dia, mau tidur ketemu dia, mau apa-apa ketemunya dia. Aaaa udah jadi suami istri beneran ini mah. Apa gue ngumpet aja ya, gak siap banget rasanya ngadepin sikap dinginnya. Pengen kabur gak bisa. Ngumpet aja kali ya, tapi ngumpet dimana?” pikir Viola seraya berjalan kesana kemari mencari ide.
“Ahaaaa di balkon aja deh. Nanti Video Call Lisa and the genk saja biar ga gabut. Gitu kali ya” belum sempat melangkah keluar, suara sang mama telah mengejutkannya.
"Nak, mau kemana? ayo Hendra sudah selesai ikrar akadnya itu. Kalian sudah SAHHH" Tutur Mama Hendra dengan bahagianya. Memang inilah acara yang dinantikan beliau mengingat Hendra lah anak tunggalnya.
"VIOLA!! mau kemana ih. Udah istri orang ya kamu itu. Sana gih samperin suaminya” ucap Mamanya yang seketika membuat mata Viola terbelalak, bagaimana tidak? Dia saja belum siap jika terus-terusan ketemu Hendra. Lah ini malah disuruh untuk nyamperin dia.
“Astaga Ma, tante" tak ada pilihan lain, seperti maling yang tertangkap basah, diapun menyerah.
“Udah ayo Vi, kasian suami kamu nungguin lama” ucap Mama Hendra lalu menarik Viola yang juga dibantu oleh Mama Viola untuk mengajak anaknya turun.
Sesampainya dibawah, semua mata langsung tertuju pada Viola karena riasan yang membuatnya pangling. Balutan gaun berwarna peach dengan mote dan gliter menambah kesan mewah apalagi di dukung oleh tubuh Viola yang jenjang. Begitu juga mata Hendra bak terkunci memandang istrinya yang tengah tersenyum padanya.
Langkah demi langkah Viola mendekat ke arah Hendra dan saat itulah Hendra pun berusaha mengendalikan jantungnya yang berdegup kencang.
Dengan senyum semanis mungkin, Viola menyapa Hendra yang kini menjadi suaminya. "Mas" ucapnya dengan sedikit menunduk.
Setelahnya Viola lantas duduk di sebelah Hendra lalu mencium punggung tangan Hendra sebagai tanda bahwa dia menerima Hendra sebagai suami dan menghormatinya.
Disusul Hendra yang mencium pucuk kepala Viola sebagai anda dia menerima Viola dan siap bertanggungjawab untuk melindungi dan menyayangi Viola. Kedua pengantin memakai cincin pernikahan yang dijadikan maskawinnya.
"Silahkan tunjukkan buku nikah pada kamera. Senyum ya senyum" tutur sang photographer yang ingin mengabadikan moment tersebut.
Cekrek.
Akhirnya beberapa fotopun berhasil di jepret dengan berbagai sisi.
__________________
Di kampus.
“Anak-anak bagaimana sudah paham dengan materi yang Bu Anggun jelaskan? Jika sudah silahkan kerjakan halaman 55 itu ada soal-soal. Saya kasih waktu 45 menit cukup?” tanyanya dengan sesekali membuka ponselnya.
“Cukup bu” suara kompak dari kelas perkuliahan pagi ini.
__ADS_1
Sembari para mahasiswa mengerjakan Anggun sesekali melihat ponselnya. Dibukanya sebuah aplikasi chat berwarna hijau tersebut. “Ko tetap centang 1 ya. Ada apa nih. Dia sehat? Tapi kenapa dia ijinnya 3 minggu, lama sekali. Biasanya rapat paling lama seminggu hari itupun diluar kota” ucap Anggun dengan menahan dagunya.
Gerak gerik Anggun pun tak luput dari perhatian Lisa and the genk. Gea sengaja pura-pura ke kamar mandi dan mendekat meja Bu Anggun. Agar dia tau foto siapa tadi yang sempat di zoom in zoom out tersebut.
“Bu, saya ijin ke kamar mandi sebentar ya” ijin Gea pada sang dosen. Dan ucapan Gea pun mengagetkan Anggun yang tengah fokus dengan ponselnya.
“Oh iya. Silahkan” ucap Bu Anggun memperbolehkan.
Betapa kagetnya Gea mengetahui kenyataan bahwa foto yang dimaksud tadi adalah foto Hendra.
Bisa-bisanya sih Bu Anggun lihat foto Pak Hendra sampai begitunya. Apa dia suka sama Pak Hendra? Lantas nanti kalau Viola tau kalau Bu Anggun suka dengan suaminya gimana coba? Wah gak bisa di biarin nih. By the way Viola sama Pak Hendra sedang apa ya? acara nikahan sudah selesai dan mereka sedang enak-en@k. Pikirnya.
Pokok sebisa mungkin gue harus mengerahkan Genk Ulala untuk membuat tembok besar agar Bu Anggun tak bisa dekat-dekat lagi di kampus dengan Pak Hendra.
Niat Gea yang tadinya hanya pura-pura ijin ke kamar mandi pun akhirnya hanya membetulkan anak rambutnya di sebuah pantulan cermin. Lantas dia kembali lagi ke kelas perkuliahan.
Menuju kelas, dia pun berdendang sebuah lagu dari Ed Sheeran-Perfect.
'Cause we were just kids when we fell in love
Not knowing what it was
I will not give you up this time
And in your eyes, you're holding mine
Baby, I'm dancing in the dark with you between my arms
Barefoot on the grass, listening to our favourite song
When you said you looked a mess, I whispered underneath my breath
But you heard it, darling, you look perfect tonight
__________
Acara pernikahan Hendra dan Viola pun telah selesai. kini pasangan pengantin tersebut sedang beristirahat dikamar Viola.
“Uhh capeknya. Wah nyaman sekali” ucap Viola yang membaringkan tubuhnya di tempat tidur setelah mandi. Hendra yang saat itu juga baru selesai mandi, dia kemudian ikut naik ke atas tempat tidur dan berbaring disamping Viola. Viola pun langsung kaget dan spontan turun dari tempat tidur karena kurang hati-hati pun Viola akhirnya terjatuh dengan keras.
__ADS_1
Brug..
"Auuuu sakit ****@* gue” jerit Viola.
Hendra yang melihat hal tersebut pun langsung tertawa. “hahaha” seketika Viola kaget karena baru pertama kali ini melihat sang suami tertawa lepas karena tingkahnya.
“Haha kamu itu lo kenapa? makanya jangan terlalu pinggir" ucap Hendra disela tertawanya.
“Bapak ko ikut tidur di kamar saya sihh” Viola dengan kesal berusaha berdiri dan masih memegangi pant@tnya yang sakit. “Lah terus saya tidur dimana kalau bukan di sini? Di sofa sana?” Hendra menunjuk sebuah sofa yang berada di pojok kamar Viola.
“Saya ini suami mu lho ya. Kamu panggil bapak terus”
Pletak.
Akhirnya sebuah sentilan mendarat di kening Viola.
“Auu sakit” duh dipanggil pak aja gak mau kan memang dan Anda itu dosen.
"Dibawah ada kasur lagi mas. Kalau mas Hendra tidur disitu aja gimana? Emm kalau gak gitu biar aku saja yang tidur di kasur bawah. Mas Hendra diatas gimana?” usul Viola pada Hendra.
“Memang kenapa kalau seranjang? Kan sudah sah juga”
“Emm Viola belum siap mas. Gak apa-apa ya. Kasih Viola waktu” ucap Vio dengan mata yang
berkaca-kaca.
Hendra yang melihat Vio begitu sedih akhirnya dia pun tak tega dan mengiyakan apa yang diminta istrinya.
“Kamu tidur di sini saja. Biar aku yang di kasur bawah” akhirnya Hendra mengalah dan tidur di kasur bawah.
Dilihatnya langt-langit kamar istrinya yang penuh dengan bintang, bulan bak di luar angkasa.
Kamar perempuan apa memang begini? Sangat ramai dan membuatku pusing melihatnya. Gerutunya dengan pelan. Namun masih terdengar oleh Viola.
“Kamu ngomong apa Mas? Ini itu estetik. Jadi membuat mata itu segar ketika bangun” ucap Viola lantas memejamkan mata.
...__________...
...Kita di takdirkan bertemu dan aku mau....
__ADS_1
...Tapi jika kamu ditakdirkan jauh dariku,...
...Apakah bisa aku menjawab dengan jawaban yang sama namun menyakitkan bagiku?...