
Hallo guys, jangan lupa baca juga novel PLEASE LOVING ME ya. Dan tetap support novel karya penulis agar tetap semangat nulis novel hehe.
____________________
“Ih bisa aja sih, kalau engga ibu-ibu yang biasa nyalain lampu sen ke kiri tapi belok kanan. Kamu pasti ga tau kan betapa ribetnya berurusan dengan ibu-ibu”
“Hemmm” jawab Hendra.
“Kamu tadi cemburu kan ya hehe, ngaku. Maklum kan istrimu ini cantik, jadi pasti banyak pria yang mengantri dan berusaha merayu ku” ucapnya penuh percaya diri.
“Jangan terlalu PeDe”
Bilang aja memang cemburu, susahnya apa sih. Dasar laki-laki jaim. Tinggal bilang “Iya Viola, aku cemburu. Plis jangan tinggalkan aku” gerutunya di dalam mobil dan Hendra yang masih mendengar ucapan istrinya hanya tersenyum manis.
______________________
Di Kampus.
Viola berjalan pelan ke arah kelas sambil memainkan ponsel bareng Lisa. Saat di koridor kampus bertemu dengan Gea dan Yosi. Baru saja Viola masuk ke pintu kelas, semua orang menatap ke arahnya dengan wajah yang susah ditebak. Viola bergidik ngeri menatap mereka.
“Kenapa?” tanya Yosi mendekat ke arah yang lain. Agnes langsung menarik tangan Viola ke arah tempat duduknya. Di situ Viola dapat melihat sebuah kertas yang dilumuri dengan tanah merah. Viola mengambil lalu membaca tulisan di kertas itu.
INI BARU AWAL, VIOLA.
Jantung Viola langsung berdetak kencang saat membaca tulisan itu dan yang membuat Viola lebih kaget lagi saat melihat keadaan tempat duduknya yang sudah berantakan dengan tanah.
Gea dan Lisa langsung merebut kertas ditangan Viola. Sedangkan Yosi membantu membereskan tempat duduk Viola yang berantakan.
“Sabar ya” ucap Lisa menepuk pundak Viola.
__ADS_1
Dirinya masih terdiam berdiri menatap tempat duduknya yang sedang dibereskan. Pikirannya langsung buntu, tidak bisa bekerja sama sekali.
“Kita harus lapor ke Pak Fajar dan Pak Tegar!” ujar Miko yang disetujui semua. Memang jika ada masalah penindasan atau kondisi bermasalah pasti Miko selalu turun tangan. Dia memang memiliki tanggungjawab dan rasa empati yang tinggi terhadap temannya.
“Gue aduin ke Pak Burhan juga!!” salah satu teman pria yang lain pun angkat bicara hingga Viola langsung menggelengkan kepala cepat kepada mereka. Kalau mengatakan kepada Pak Burhan secara tidak langsung nanti pasti memberi tahu ke Hendra. Bisa-bisa nanti Viola habis di interogasi dari malam sampai subuh dengan suaminya.
“Ga usah. Ini cuma hal kecil, gue gak apa-apa ko” sahut Viola mencoba menenangkan mereka. Dan seisi kelas menatap Viola dengan tatapan penuh tanya.
“Tapi ini tuh bahaya Vi” sela Lisa.
Viola hanya tersenyum ke arah mereka dan terus mengiyakan kepada teman kelasnya kalau dirinya baik-baik saja.
“Gue ga bodoh. Ini pasti ada hubungannya dengan Mas Hendra tapi aku harus bisa jaga ini semua” batin Viola dalam hati sembari menatap kertas di tangannya.
Jantung Viola berdetak lebih cepat dari biasanya. Dirinya benar-benar ketakutan sendiri memikirkan ke depannya.
“Tuh suara suka muncul tiba-tiba aja kayak jin” gerutu Viola dalam hati.
Viola duduk dan meletakkan tasnya di atas meja untuk menutupi mejanya yang masih ada sedikit tanah. Hendra berdiri kokoh di depan dan menatap ke sekeliling kelas hingga terakhir menatap lama ke arah Viola. Perempuan yang ditatapnya pun hanya bungkam, menatap Hendra seperti tidak terjadi apa-apa.
“Apa terjadi sesuatu?” tanya Hendra menatap satu per satu mahasiswanya dengan tatapan mengintimidasi.
Viola menatap sekeliling mencoba menatap mereka agar tidak bilang apapun. Tiba-tiba tatapan Miko dan Viola bertabrakan. Viola menatap Miko lama. Entah kenapa intuisinya mengatakan jika Miko seperti sudah tahu siapa dirinya. Miko hanya tersenyum kecil menatap Viola.
“Tidak ada, Pak” jawab Miko dengan cepat yang membuat satu kelas menoleh ke arahnya. Miko adalah orang yang berisik dan tidak pernah berbicara atau masuk jika dosennya tidak dia sukai. Meskipun masuk kelas, yang Miko lakukan pasti hanyalah tidur.
“Saya absen dulu”
_______________
__ADS_1
Viola duduk di kantin sambil melamun memikirkan kejadian tadi. Saat Hendra meneragkan beberapa materi pun, Viola tidak bisa fokus sama sekali. Yosi, Gea dan Lisa menatap Viola khawatir. Tidak lama Bima CS yaitu Bima, Miko, Fadil dan Satria datang serta duduk di meja yang mereka duduki.
“Vi, lo kenapa?” tanya Bima. Sedangkan temanya yang lain Miko, Fadil dan Satria pergi memesan makanan. Setelah itu mereka kembali duduk. Gea pun akhirnya menjelaskan apa yang terjadi. Diantara Bima CS yang berada sekelas dengan Viola hanyalah Miko. Makanya Bimo, Fadil dan Satria tidak mengetahui apa yang terjadi. Mereka sebenarnya adalah teman ketika masa OSPEK dan berlanjut hingga sekarang.
Mendengar apa yang dikatakan Gea, respon Bima, Fadil dan Satri pun sangat kaget. Apalagi Fadil yang tidak jadi makan makanannya karena fokus dengan cerita Gea. Viola menilap tangannya di meja dan menelungsupkan wajah di lipatan tangannya. Tanpa sadar air matanya jatuh.
“Ko bisa sih, Vi?” tanya Satria menatap Viola.
“Lo ada masalah sama anak kampus?” tanya Bima.
“Yang gue tau sih, ni anak ga pernah ada masalah sama orang di kampus. Lo pada tau sendiri kan? Viola itu ga pernah nyenggol orang duluan. Dan dia cuek dengan sekelilingnya” ucap Miko menjelaskan pada yang lain. Viola masih diam tidak menjawab ucapan mereka sampai Yosi mengusap pundak Viola dengan pelan.
“Eh Bima, lo mau makan kagak? Gue pesenin sekalian nih!” tanya Satria.
“Gue pesen tongseng deh. Minumnya es teh aja”
Telinga Viola langsung mendengar sesuatu. Viola pun mengangkat kepala sebelum menghapus air matanya lalu mengedarkan pandangan mencari orang tersebut dengan cepat Viola berdiri dan mendekati meja gerombolan anak cowok tersebut.
“Eh Vi, ada apaan?” tanya Satria dan Bima saat Viola sampai menatap meja mereka yang duduki.
Viola hanya menatap lurus ke arah Miko, membuat mereka menatap ke arah tujuan yang sama sehingga membuat Satria menyenggol lengan Miko yang sedang memainkan ponselnya dan mengarahkan dagunya ke arah Viola yang membuat mereka menatap ke arah teman perempuannya itu.
“Gue mau ngomng sama lo”
Viola langsung menarik tangan Miko dan menyeretnya dari kantin.
..._____________________...
...Ajak aku berdiskusi tentang apapun. Tentang mengapa tukang rujak menaruh buahnya di dalam aquarium. Tentang mengapa kamu lebih suka tidur yang ketiduran daripada tidur yang di rencanakan. Tentang kita yang sering mendorong pintu minimarket mesti sebenrarnya bisa untuk ditarik. Karena semakin dewasa yang dibtuuhkan bukan lagi kata-kata cinta, tapi tempat untk berbagi cerita....
__ADS_1