HELLO, DOSEN KUTUBKU

HELLO, DOSEN KUTUBKU
PAKET MISTERIUS


__ADS_3

Hallo guys, jangan lupa baca juga novel PLEASE LOVING ME ya. Dan tetap support novel karya penulis agar tetap semangat nulis novel hehe.


____________________


Telinga Viola langsung mendengar sesuatu. Viola pun mengangkat kepala sebelum menghapus air matanya lalu mengedarkan pandangan mencari orang tersebut dengan cepat Viola berdiri dan mendekati meja gerombolan anak cowok tersebut.


“Eh Vi, ada apaan?” tanya Satria dan Bima saat Viola sampai menatap meja mereka yang duduki.


Viola hanya menatap lurus ke arah Miko, membuat mereka menatap ke arah tujuan yang sama sehingga membuat Satria menyenggol lengan Miko yang sedang memainkan ponselnya dan mengarahkan dagunya ke arah Viola yang membuat mereka menatap ke arah teman perempuannya itu.


“Gue mau ngomng sama lo”


Viola langsung menarik tangan Miko dan menyeretnya dari kantin.


Kini mereka berdua sudah berada di lorong sepi yang lumayan jauh dari kantin. Viola berdiri didepan Miko dan menatapnya lekat.


“Apaan?” tanya Miko.


“Lo tau siapa gue kan?”


Viola langsung bertanya ke inti yang mau dibicarakannya sedari tadi. Membuat Miko tersenyum kecil lalu bersender di tembok sambil menatap Viola.


“Kalau iya, lo mau apa” ketus Miko.


“Jadi kejadian di kelas itu, lo yang lakuin?”


“Lo pikir, gue rela nilai gue terpampang E? meskipun gue ga suka sama pelajaran suami lo, gue masih ngejaga nilai gue agar tetap bagus. Walau habis remidi cuma nilai B” lanjutnya dengan suara pelan.


Tuh kan benar Miko tau siapa Viola yang sebenarnya. Miko menatap Viola dengan lekat membuat Viola mundur beberapa langkah.


“Lo mewek?” tanya Miko dan dengan sial lagi air mata Viola langsung jatuh saat Miko bertanya begitu.


“Gue tau, lo sama Pak Hendra udah nikah. Gue tau saat lo dan Pak Hendra pulang di rumah yang sama. Belanja di Mall berdua. Lo tau pria yang suami lo tabrak waktu itu adalah gue. Apa lo ga sadar?” jawaban Miko membuat Viola benar-benar tak tau harus bagaimana.

__ADS_1


Dia langsung membulatkan matanya saat mendengar pernyataan Miko.


Jadi waktu itu adalah Miko? Kenapa gue ga nyadar sih. Dan kenapa sampai kecolongan begini? Batin Viola.


“Oke , artinya lo udah tau siapa gue kan”


“Ya, santai aja kali. Gue bisa jaga rahasia. Dan gue bakal bantuin lo buat cari tau siapa yang udah lakuin ancaman ke lo tadi” ucap Miko.


Viola menganggukan kepala pelan. Dirinya begitu bersyukur Miko mau menjaga rahasia siapa Viola sebenarnya.


“Ya udah, balik sana ke meja lo. Santai aja, gue bisa jaga rahasia”


“Thanks Miko”


_______________________


Viola pulang lebih dulu karena kelasnya selesai tepat jam empat sore. Sedangkan Hendra menyusul dan pulang jam lima nanti. Setelah Viola selesai mandi dan memakai baju santai, dia menyiapkan bahan makanan di kulkas untuk makan nanti setelah Hendra pulang.


Setelah selesai memasak semua, Viola duduk santai menonton berita selebriti di TV. Tiba-tiba suara ketukan pintu membuat Viola menoleh dan bangun untuk membuka pintu.


Viola terdiam sebentar melihat orang pengantar paket. Viola pun menerima paket kotak itu.


“Tolong tanda tangan disini” ucapnya kembali sebelum pergi.


Viola pun menandatangani di buku yang lelaki itu bawa. Kemudian dia pergi.


Setelah menutup pintu, Viola menatap kotak itu dengan dahi berkerut. Sejak kapan dirinya punya penggemar rahasia? Tanpa pikir panjang, diapun segera membuka kotak tersebut.


“AAARRRRRRRGGGGHHHH!!!”


Viola langsung berteriak sambil melempar kotak itu menjadi dari tangannya isi di dalam kotak itu adalah boneka penuh dengan darah. Lalu kertas di tengah bertuliskan “HAI, VIOLA”


“Kurang ajar banget yang kirim beginian!” Viola mengumpat sambil memperhatikan barang kiriman dari orang misterius.

__ADS_1


Eits, by the way itu siapa yang ngirim? Sedangkan ini rumah kan kado dari orang tua Mas Hendra, dan yang tau kalau kami tinggal disini pasti cuma mereka dan… Miko. Dan ya aku ingat, apa ada hubungannya dengan Miko? Eemm tapi ga mungkin. Dia sendiri yang bicara kalau dia akan membantuku akan menyelesaikan kasus ini. Pikirnya.


Viola lantas berjongkok dan menenggelamkan wajah lalu menangis pelan. Viola merasa rumahnya manjadi tidak nyaman. Lama Viola menangis, setelahnya dia berdiri, memberanikan diri kembali mendekati kotak tersebut. Lalu mengambil barang itu dan memasukkannya dalam kantung kresek hitam dan membuangnya ke tong sampah yang tertutup dengan cepat di dapur. Setelah itu, Viola mengambil lap pel dan membersihkan sisa darah yang menempel di lantai. Kalau sampai Hendra tau kan bisa bahaya.


Pintu yang terbuka membuat Viola menoleh ke belakang dengan cepat karena dirinya masih dalam posisi mengelap lantai. Hendra terdiam berdiri menatap Viola dengan dahi berkerut karena Viola duduk sambil memegang kain pel. Viola hanya menyengir menatap Hendra.


“Kamu ngapain?”


Dengan cepat Viola berdiri sambil menepuk tangannya beruntung darah di lantai sudah tidak ada dan sudah bersih.


“Emmmm, ga ada apa-apa. Tadi lagi ngepel. Soalnya lantainya kotor. Oh iya, aku udah masak di dapur” ucap Viola dengan cepat untuk mengalihkan pembicaraan. Hendra hanya menganggukkan kepala santai.


“Saya mandi dulu” ucap Hendra yang kemudian pergi ke kamar setelah melewati Viola tanpa rasa curiga. Viola hanya menghela napas pelan melihat Hendra. Kemudian Viola membawa peralatan lap pel tadi ke belakang.


Saat di meja makan, Viola terdiam melamun sambil meminum teh hangatnya. Beruntung makanan Viola sudah dihabiskan tadi. Itulah kenapa dia hanya meminum teh saja sedangkan Hendra masih anteng memakan mie goreng yang Viola ubah menjadi omelet mie.


“Pertama, tanah merah di tempat duduk. Kedua, pengiriman boneka darah yang dikirim ke rumah. Apa yang sebenarnya dia mau?” tanya Viola dalam hati.


Viola menyeruput teh hangatnya. “Apa yang ngirim adalah fans psycho-nya Mas Hendra? Ya ampun, kalau itu benar. Berarti dia tahu pernikahan gue dong? Mas Hendra ga boleh tau masalah ini. Bisa bahaya kalau dia tau”.


Seketika Viola kaget sekaligus tersentak menatap ke arah Hendra akibat jentikan benda dingin yang dengan mulus mendarat di dahinya.


PLETAK.


“Aduh! Masss!” jerit Viola kesal sambil meletakkan gelas dan mengusap dahinya.


“Saya dari tadi panggil kamu tapi kamu malah melamun terus” balas Hendra menatap Viola tanpa bersalah. Viola masih sibuk mengusap dahinya tanpa menjawab ucapan Hendra. Bagaimana tidak sakit, kali ini Hendra menjentik Viola bukan pakai jari tapi pakai sendok makan.


“Mas, bisa ga sih ga usah siksa dahi aku terus?” Viola mengomel sambil mendelik kearah Hendra.


...____________________________...


...Quotes:...

__ADS_1


...Teruntuk kamu yang tengah mendiamkanku tak perlu terlalu berusaha menghindariku. Aku tau cara mundur tanpa berpamitan....


__ADS_2