
Celsi berjalan dengan tersenyum semanis mungkin untuk menemui Brian dan Kevin.
Kenapa wanita ini sekarang malah tersenyum-senyum, aku rasa ada Mas'ud dibalik senyumnya.
"Kenapa kau tersenyum-senyum?, kau seperti orang gila". ucap Brian dengan mengatai Celsi.
Mendengar hal itu tentu saja Celsi langsung cemberut, ia sudah susah payah untuk tersenyum semanis mungkin tapi malah dikatai sama Brian.
"Kau ini, apa kau tidak bisa sehari saja baik pada diriku?". Tutur Celsi sambil menyelonong duduk diantara Kevin dan Brian.
Melihat hal itu tentu saja Kevin langsung menggeser tempat duduknya, atau bisa-bisa pahanya akan dijadikan bangku oleh Celsi.
"Kau pikir dirimu siapa?". Tanya Brian dengan memandang Celsi remeh.
"Kau bahkan bukan saudara atau sepupuku". Lanjut Brian kembali sambil berdiri.
"Jadi tidak ada alasan buatku, untuk baik padamu". Tutur Brian dengan menggeser tempat duduknya menjadi berhadapan dengan Celsi.
Sekarang Celsi hanya diam dan terus memperhatikan Brian.
B**enar juga, dia bukan siapa-siapa Brian, jadi tidak ada alasan khusus buat Brian untuk memperhatikan dirinya dan berbuat baik padanya.
"Kita memang bukan keluarga". Sahut Celsi dengan berdiri.
"Tapi aku adalah pacarmu, jadi kau harus baik padaku". Lanjutnya kembali dengan mengambil posisi duduk kembali ke sebelah Brian.
Kevin hanya diam dan terus melongo menatap Celsi dan Brian secara bergantian, sungguh ia seperti sedang menonton drama saat melihat perdebatan antara Brian dan Celsi.
Brian hanya bingung dengan penuturan Celsi, ia tidak tau sejak kapan ia mempunyai pacar, dan yang lebih mengejutkannya lagi, kenapa harus wanita aneh itu yang menjadi pacarnya, walaupun tidak bisa dipungkiri kalau Celsi memang cantik, tapi bagi Brian Celsi tetaplah wanita aneh yang sangat keras kepala dan suka mengganggu ketenangannya.
S**ungguh mustahil jika Brian sampai jadian dengan Celsi, aku rasa dunia akan terbalik jika itu terjadi, karena, setiap hari akan terjadi peperangan diantara mereka berdua.
"Benarkah?, tapi kenapa aku tidak menyadarinya?". Tanya Brian seolah-olah tidak tau apa-apa.
Celsi hanya tersenyum manis menatap Brian, kali ini dia harus bisa memenangkan kontes akting tersebut, huh, dia tidak akan pernah mau kalah dari Brian, bagaimanapun caranya ia harus bisa membuat Brian kalah dengan kata-kata manisnya.
"Kau tidak ingat?". Tanya Celsi dengan ekspresi yang dibuat seolah-olah kecewa.
Brian hanya menatap Celsi dengan nalar, ia mau lihat seberapa hebat Celsi bisa berakting, dan seberapa lama Celsi bisa bertahan menjawab semua pertanyaannya.
"Aku sudah mengatakan cinta padamu, dan mengakui kau adalah pacarku". Jawab Celsi dengan wajah yang terlihat di tekuk.
__ADS_1
"Tapi lihatlah !. Sekarang kau bahkan tidak mengakui perasaanmu padaku". Lanjutnya kembali dengan nada yang dibuat seperti tengah sedang merajuk.
W**anita ini benar-benar ratu drama, dia bahkan bisa berbohong, huh, aku tidak tau lagi setelah ini, darma apa lagi yang akan wanita ini mainkan.
"Hemmm, jadi begitu". Sahut Brian dengan sedikit mengangguk.
"Tapi aku masih belum percaya, sebelum kau membuktikannya".
Celsi langsung bengong, sekarang ia tidak tau harus mengatakan apa lagi, jangan sampai aku kalah dengan drama yang aku buat sendiri. Batinnya berbicara.
Celsi lakukan sesuatu, berpikirlah dengan cepat, pikirkan bukti apa yang bisa membuat Brian kalah telak.
"Katakan, apa yang harus aku lakukan agar kau percaya dengan kata-kataku?". Tanya Celsi dengan mendongakkan kepalanya menatap mata Brian.
Dia rasa Celsi tidak akan menyerah sebelum dia bisa membungkam mulutnya dan membuat Celsi kehabisan kata-kata.
Seketika wajah tampan Brian langsung bersinar saat sebuah ide terlintas di kepalanya, ia langsung tersenyum licik membayangkan idenya akan berhasil.
Bersiap-siaplah untuk kalah, Celsi...
"Cium aku". Ucap Brian dengan menatap mata indah Celsi.
"What???". Batin Celsi langsung berteriak.
Celsi langsung berdiri dan kembali duduk dihadapan Brian, tentu saja dia tidak akan mau melakukannya, sungguh permintaan yang sangat tidak masuk akal.
Celsi hanya mematung dan terus diam tanpa menatap Brian sedikitpun, sekarang ia benar-benar kalah telak dengan drama ciptaannya sendiri, tujuannya yang ingin membuat Brian kehabisan akal saat menghadapinya malah berbalik pada dirinya sendiri.
"Kenapa kau diam?". Tanya Brian seolah-olah sedang mengejek kekalahan Celsi.
Celsi langsung mengangkat wajahnya dan menatap Brian dengan penuh kekesalan, tangannya bahkan mengepal saat melihat senyum mengejek Brian.
"Kau sendiri yang mengatakan kalau kau adakah pacarku, dan sebagai pacar tentu saja ciuman bukalah hal yang sulit untuk dilaksanakan". Lanjut Brian kembali.
Celsi hanya diam, ia tidak tau harus mengatakan apa lagi. Celsi kemudian langsung berdiri dan beranjak pergi dari hadapan Brian.
"Kalian pergilah berbelanja, aku tidak mempunyai apa-apa untuk dimasak". Sahut Celsi dengan sedikit menaikan intonasinya karena kesal.
Setelah mengatakan hal itu, Celsi langsung masuk kedalam kamar dan membanting pintu dengan keras karena kesal.
Brian hanya tersenyum melihat kekesalan Celsi, sungguh sangat menyenangkan saat menggoda Celsi.
__ADS_1
Celsi mengatakan hal itu karena sudah tidak tau harus bagaimana lagi, ia hanya bisa mengalihkan pembicaraan saat ini, lagipula tujuannya memang ingin meminta Brian untuk berbelanja sayur.
Hahahaha
Tawa Kevin seketika langsung pecah saat melihat Celsi kalah telak dari Brian.
Dia tidak menyangka kalau ratu darma itu akan kalah dari pria dingin seperti Brian. Sungguh drama yang sangat menghibur.
Brian langsung menatap Kevin tajam saat mendengar tawa Kevin, dengan cepat Kevin langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Pergi berbelanja". Ucap Brian langsung pada Kevin.
Kevin langsung melotot saat mendengar perintah Brian.
"Jangan melotot padaku, kalau tidak ingin matamu aku congkel". Ancam Brian saat melihat mata Kevin yang melotot padanya.
Seketika Kevin langsung mengubah ekspresi terkejutnya menjadi seperti biasa-biasa saja.
"Master, kau tau sendiri aku tidak mengerti yang namanya belanja keperluan dapur". Jawab Kevin langsung.
"Menurutmu, apa aku mengerti?". Tanya Brian dengan aura dingin.
"Aku sama sekali tidak tau, aku hanya bisa merebus air untuk masak mie instan". Jawab Brian.
Brian memang pernah menyentuh kompor, tapi itu hanya sebatas merebus air untuk mie instan, selain itu dia tidak tau apa-apa lagi.
"Ayolah master, jangan begitu". Ucap Kevin dengan memelas.
"Aku bahkan tidak tau bentuk bawang". Ucapnya kembali.
Brian kembali menatap Kevin tajam.
"Apa kau pikir aku juga tau?". Tanya Brian balik bertanya.
"Aku hanya tau dari omongan orang kalau bawang itu bulat". Lanjutnya kembali.
"Bukannya yang bulat itu adalah telor". Pikir Kevin.
"Entahlah, aku tidak terlalu yakin, kau pergi saja, terserah kau mau ambil apa". Lanjut Brian kembali.
Kevin hanya pasrah, walau bagaimanapun dia tidak bisa menolak perintah dari Brian, atau tidak gajinya akan dipotong, sebenarnya bukan itu yang Kevin takutkan, yang lebih ia khawatirkan kalau Brian sampai marah dan mengamuk, sungguh pasti sangat mengerikan melihat pria dingin tanpa ekspresi itu marah.
__ADS_1