Hero In The Shadows (Pahlawan Dalam Bayangan)

Hero In The Shadows (Pahlawan Dalam Bayangan)
Episode 21


__ADS_3

Saat Brian memasuki kamar Celsi.


Lihatlah dia bahkan tidur dengan posisi yang tidak benar. Aku tidak bisa bayangkan bagaimana jadinya jika orang lain yang masuk ke kamarnya, sungguh, habislah ia.


Celsi yang merasa ngantuk tidak menyadari kalau posisi tidurnya yang terlentang ternyata mengundang nafsu bagi lelaki yang melihatnya. Bukan hanya itu, ia juga hanya mengenakan kemeja Brian untuk tidur sehingga membuat pahanya langsung terekspos dengan jelas bahkan dalaman Celsi juga terlihat, dan dengan sangat ceroboh Celsi juga tidak mengancingkan kemeja bagian atasnya sehingga bra pink nya langsung terlihat walaupun hanya sedikit.


Saat melihat itu, tentu saja Brian langsung menegang. Sungguh pemandangan yang ada didepannya sangat menggoda, ia bahkan harus susah payah menelan air liurnya sendiri.


Gluk...


Wanita ini, benar-benar mengujiku, jika saja bukan keadaan mendesak mungkin aku akan memakannya saat ini juga.


Brian mencoba agar tetap fokus terhadap tujuannya tanpa tergoda oleh Celsi saat ini, ia bahkan mengalihkan pandangannya dan sesekali ia memicingkan matanya agar tersadar, dan tidak berpikiran hal-hal mesum. Namun apalah dayanya, ia juga pria normal, dan pastinya akan tergoda dengan hal itu.


Brian langsung mendekat dan duduk di sisi ranjang Celsi, ia memandang wajah Celsi dengan penuh gairah. Wajah Celsi yang mulus dan cantik tampak sangat natural hingga membuat Brian tersenyum menyeringai saat melihatnya.


Mata Brian langsung terkunci pada bibir ranum Celsi yang sangat menggoda, sungguh ia tidak tahan saat melihat itu, namun sebisa mungkin ia terus mengontrol gejolak yang sudah menggebu di dalam dirinya.


Tangan Brian tiba-tiba saja mengelus lembut bibir Celsi. Sungguh lembut, dan sangat halus saat jarinya mengenai bibir ranum Celsi.


Mata Brian langsung turun ke bagian dada Celsi, dan sekali lagi hasratnya kembali menggebu.


Brian sadarlah, kau tidak boleh menjadi lelaki bejat yang akan mengambil kesempatan saat ia sedang terlelap.


Brian kemudian menggerayangi paha mulus Celsi yang putih dengan sangat lembut, sesaat Celsi menggeliat karena tidurnya terusik, namun saat Brian menyadari itu, ia segera mengangkat tangannya kembali sehingga membuat Celsi kembali tertidur dengan tenang.


Brian, apa yang kau lakukan?, hentikan !!. Ingat tujuanmu, kau datang kemari untuk membawa wanita ini ikut bersamamu. Jika tidak maka nyawanya akan terancam.


Setelah menggerutu dan merutuki dirinya sendiri barulah Brian kembali fokus pada tujuan awalnya. Ia memang berniat akan membawa serta Celsi dengannya ke New York, karena menurutnya sudah tidak aman untuk meninggalkan Celsi sendiri, mengingat sudah dua kali nyawa Celsi hampir melayang jika saja ia tidak datang diwaktu yang tepat. Dan ia juga sudah menyelidiki latar belakang Celsi, dan ia juga mengetahui kalau kedua orang tua Celsi sudah tidak ada lagi, ditambah Celsi juga hidup sendiri, alias sebatang kara.


Brian kemudian langsung membuka jaket yang ia kenakan dan memasangnya pada tubuh Celsi agar bisa menutupi sedikit tubuh Celsi yang terbuka, setelah itu barulah ia mengangkat tubuh Celsi.

__ADS_1


Sebenarnya ia ingin membangunkan Celsi, tapi mengingat mulut Celsi yang cerewet membuat ia mengurungkan niatnya, jika ia membangunkan Celsi, pastinya Celsi akan menolak ikut bersamanya dan pastinya akan terjadi perdebatan tanpa ujung nanti.


Saat sudah berada dalam gendongannya ia sedikit khawatir karena tiba-tiba saja Celsi menggeliat, ia takut jika Celsi terbangun, tapi melihat Celsi yang ternyata mengalungkan kedua tangannya pada lehernya membuat ia langsung bernafas lega.


Baiklah wanita aneh, aku harap kau tidak terbangun sekarang. Jika itu tidak terjadi sungguh aku tidak bisa bayangkan darma apa yang akan kau mainkan nanti.


Brian langsung menaiki sebuah mobil yang sudah menunggunya di depan rumah, ia segera memerintahkan supir agar segera jalan, jika tidak bisa-bisa Celsi keburu bangun dan akan menyebabkan drama membosankan lagi nanti. Sungguh ia tidak ingin itu terjadi.


sampai di bandara Brian kembali menggendong Celsi dan membawanya naik keatas pesawat.


"kakak, kenapa kau tidak membangunkannya saja?". Tanya Vio dengan heran.


Sungguh merepotkan, buat apa kakaknya harus menggendong Celsi, padahal Celsi bisa jalan sendiri.


"Jika kau tidak ingin melihat darma, lebih baik kau diam saja". Ucap Brian dengan pelan.


Brian langsung berjalan dan masuk kedalam salah satu kamar yang sudah ada di dalam pesawat tersebut, ia membaringkan Celsi di sana dan menyelimutinya.


Perjalanan dari Jakarta Indonesia menuju New York membutuhkan sekitar kurang lebih 20 jam.


Brian segera menemui Kevin yang sedang sibuk bergulat dengan komputernya di dalam salah satu ruangan. Bisa disimpulkan pastinya Kevin sedang sibuk mengurus pekerjaan yang tiba-tiba saja di tinggalkan di sana.


"Apa semuanya aman?". Tanya Brian dengan duduk disalah satu sofa empuk yang ada di sana.


Kevin langsung menghentikan kegiatannya saat mendengar suara Brian.


"Sesuai rencana, semuanya aman terkendali master. Pasukan 2 dan 3 sudah melumpuhkan semua musuh, dan sekarang meraka sudah dikurung dalam ruang bawah tanah". Jawab Kevin dengan cepat.


"Bagus, setalah ini kita akan membuat perhitungan dengannya. Dia sudah lancang memasuki area kekuasaan ku, dan dia harus menerima pembalasannya". Ucap Brian dengan kilatan kemarahan dalam setiap kata-kata yang ia ucapkan.


Kevin sendiri merasa merinding saat mendengar penuturan Brian, ia tidak bisa bayangkan bagaimana menyeramkannya Brian saat marah.

__ADS_1


"Tapi master, bagaimana dengan nona Celsi. Apakah tidak apa-apa membawanya begitu saja meninggalkan negaranya?". Tanya Kevin dengan penuh penasaran.


Pasalnya Celsi sama sekali tidak memiliki paspor. Selain itu, mereka lebih mirip sedang menculik Celsi ketimbang melindungi.


"Wanita aneh itu, biarkan menjadi urusanku. Kau fokus saja pada tugasmu selanjutnya". Tutur Brian memperingati.


"baik master". Sahut Kevin langsung.


°°°°°


Celsi mencoba membuka matanya dengan perlahan-lahan, agar kesadarannya kembali terkumpul. Ia kemudian langsung menoleh ke sebelah.


Sejak kapan Ana masuk kedalam kamarku?, kebiasaan deh, dia tidak pernah bilang kalau masuk rumah orang. Batin Celsi.


Celsi kemudian langsung berdiri dan masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar tersebut.


Kamar mandinya terlihat berbeda dari sebelumnya. Huh, mungkin hanya perasaanku saja, sudahlah, lebih baik aku mandi sekarang dan segera berangkat bekerja.


Celsi langsung mengunci pintu kamar mandi dan mulai melakukan ritual mandinya di sana, saat akan mengambil sabun, ia kembali di buat bingung, karena sabun nya tampak berbeda dari sebelumnya.


Mungkin pelayanan mengganti sabu Disni. Sudahlah, aku pakai saja yang ini.


Celsi malah kembali fokus pada ritual mandinya tanpa mempermasalahkan sabun yang sudah berganti dari biasanya, biasanya saat di rumah Brian, Celsi akan menggunakan sabun aroma stroberi dan sekarang aroma mawar.


.


.


.


.

__ADS_1


like dan juga vote ya, sungguh aku akan lebih semangat buat up, saat ada dukungan dari kalian.


__ADS_2