
Brian yang melihat dari kejauhan interaksi Celsi dan pria itu hanya bisa diam dan tetap mengawasi keduanya. Ada perasaan aneh yang tiba-tiba muncul begitu saja dalam dirinya, perasaan tidak suka saat orang lain mendekati Celsi dan perasaan takut akan kehilangan Celsi.
"Ikutlah dengan kakak". Kata-kata itu sontak saja langsung membuat Celsi menatap manik mata Hans.
Benar, orang yang dipanggil kakak oleh Celsi adalah Hans. Dia adalah kakak masa kecil Celsi yang selalu ia tunggu kedatangannya.
"Aku mau, tapi bagaimana dengan temanku?". Tanya Celsi kemudian.
Brian yang tidak ingin kalau Celsi meninggalkannya segera menghampiri Celsi dan menarik Celsi dengan kasar dari pelukan pria itu.
"Brian....". Kesal Celsi karena tubuhnya terhuyung ke belakang, untung saja Brian dengan sigap memegangi Celsi jadi tidak terjatuh.
Brian hanya menoleh sebentar pada Celsi lalu kemudian ia langsung menatap tajam kearah Hans, ia menunjukkan tatapan tidak suka sekaligus permusuhan pada Hans.
"Kita pulang sekarang". Tentu saja Celsi jadi kaget, ia tidak ingin pulang karena ia masih sangat merindukan Hans.
"Tidak mau, aku akan pulang bersama kak Hans". Tolak Celsi dengan melepas tangan Brian dari pergelangannya.
"Hans ???, Sejak kapan namanya berubah?". Pertanyaan Brian langsung saja membuat Celsi dan Hans menatap tajam kearah Brian.
Hans sangat tidak suka saat mendengar ucapan Brian.
"Namaku memang bukan Hans, tapi Raka. Dan perlu kau ketahui Hans adalah nama yang Celsi berikan padaku". Jawab Hans dengan penuh keyakinan.
Brian langsung menatap Raka (Hans) dengan tatapan tidak yakin, ia jadi menaruh curiga pada orang yang sedang berdiri dihadapannya. Sesuatu yang mengganjal tiba-tiba saja muncul saat mendengar ucapan pria itu.
"Benarkah?, tapi kenapa aku kurang yakin?". Tanya Brian dengan sinis pada Raka.
Raka langsung mengepalkan tangannya menahan amarah terhadap Brian.
"Jangan katakan itu, dia adalah kak Hans ku. Kakak yang sangat aku sayangi". Pernyataan Celsi sukses membuat Brian langsung menatap Celsi dengan tajam.
"Celsi, kau tidak boleh percaya pada orang yang baru kau temui. Bisa saja dia berbohong dan hanya ingin memanfaatkan mu".
Celsi tersentak mendengar penuturan Brian, sepertinya ada benarnya juga yang dikatakan Brian. apalagi dia hanya mengingat wajah Hans yang masih usia 10 tahun, dan tentu saja pastinya sekarang wajahnya sudah tidak seperti dulu lagi.
Tidak mungkin, dia pasti kak Hans. Tuhan kenapa sekarang aku malah meragukan kak Hans yang sudah didepan mataku.
"Jangan menghasut ku, dia itu kakakku, aku tau itu". Celsi masih terus menyangkal pernyataan Brian yang terus mengatakan kalau Raka bukanlah Hans.
Raka langsung tersenyum saat Celsi membelanya, ia sangat senang karena Celsi masih percaya dengannya.
__ADS_1
"Celsi ayo kita pergi. Lebih baik kau bersama kakak saja". Ajak Raka dengan lembut pada Celsi tapi malah menatap Brian dengan tajam.
Celsi langsung mengangguk dan mengandeng tangan Raka dengan senyum yang terus mengembang diwajahnya.
"Oh iya, aku lupa. Mulai hari ini aku akan tinggal bersama kak Hans, jadi kau tidak perlu repot-repot untuk mengurusku lagi. Dan juga terimakasih atas semua kebaikanmu, aku janji akan membalasnya suatu hari nanti". Setelah mengatakan hal itu Celsi langsung berlalu meninggalkan Brian yang masih shock di sana.
Tidak bisa, aku tidak boleh membiarkan Celsi pergi dengan Raka. Jika sesuatu yang buruk terjadi nanti bagaimana dengannya, aku harus mencegahnya. Iya, bagaimanapun aku tidak akan biarkan Celsi pergi begitu saja.
Brian yang sudah memantapkan keinginannya langsung bergegas menyusul Celsi sebelum pergi jauh, tapi langkahnya langsung terhenti saat ponselnya bergetar.
"Ada apa?, kenapa kau menghubungiku?". Tanya Brian dengan ketus karena sangat kesal.
Bisa-bisa dia malah terlambat untuk mengejar Celsi nanti.
"wow..., ada apa denganmu?, Kenapa kau terdengar sangat kesal dan panik". Simon malah balik tanya.
Benar orang yang menghubungi Brian tidak lain adalah Simon.
"Sudah jangan basa-basi, langsung ke intinya saja". Sahut Brian dengan jengkel.
"Baiklah, Aku cuman mau mengingatkan kalau rapat sebentar lagi akan dimulai". Sahut Simon kemudian.
Selain Kevin Simon juga merupakan kaki tangan Brian. Simon hanya akan bertugas mengurus sesuatu yang benar-benar sangat darurat dan membutuhkan pemantauan yang sangat tajam. Bukan berarti Kevin tidak bisa melakukannya tetapi Kevin memiliki tugas tersendiri lain.
Brian kemudian langsung mematikan ponselnya dan bergegas mengejar Celsi kembali, tapi ternyata usahanya sia-sia, Raka sudah menjalankan mobilnya meninggalkan kawasan mall itu.
Arghhhh...., Brian malah mengacak rambutnya dengan kasar, ia begitu marah saat Raka membawa Celsi begitu saja.
Brian langsung menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh dari sana, ia langsung melesat menuju kantornya.
°°°°°
Mark Grup.
Merupakan perusahan terbesar dan tersukses di New York, Mark grup memliki cabang di seluruh penjuru negara. Jadi tidak heran kalau banyak perusahaan asing maupun dalam negeri yang rela mengemis-ngemis hanya supaya bisa bekerja sama dengan perusahaan Mark Grup.
Brian memasuki lobi perusahaan dengan aura yang sangat mencekam, aura dingin yang ia pancarkan membuat para staf perusahan enggan untuk menyapanya apalagi menatapnya, mereka hanya bisa tertunduk saat Brian melewati mereka.
Kevin yang sudah menunggu Brian sejak tadi, langsung datang menghampiri dan berjalan dibelakang Brian.
Sungguh Kevin sendiri merasa aneh saat berada didekat Brian, aura mencekam tiba-tiba muncul begitu saja. Terlihat jelas dan wajah Brian kalau dia sedang emosi dan marah, pasti sesuatu telah terjadi.
__ADS_1
Habislah sudah, semuanya pasti terkena dampak kemarahan master. Batin Kevin langsung merasa khawatir saat melihat Brian.
Simon yang sudah melihat kedatangan Brian dan Kevin segera berdiri di hadapan Brian.
"Mereka sudah menunggu di dalam". Ucap Simon kemudian.
Brian hanya diam dan ia langsung masuk kedalam ruang rapat. Semua orang langsung berdiri menyambut kedatangan Brian, mereka langsung bisa merasakan aura mengintimidasi yang Brian pancarkan.
Setelah kedatangan Brian rapat langsung dimulai. Satu persatu Brian mendengarkan persentasi yang mereka sampaikan.
Braakkkk....
Brian langsung menggebrak meja dengan sangat keras sehingga membuat semua orang yang ada di sana menjadi kaget. Mereka semua kemudian langsung tertunduk tidak sanggup menatap Brian.
Seketika suasana hening sejenak, mereka menantikan keputusan final dari Brian.
"Apa kalian tidak bisa bekerja dengan becus hah ?". Tanya Brian dengan tegas, ia bahkan menatap mereka dengan sangat tajam.
"kalian ingin masuk daftar hitam?".
Pertanyaan Brian langsung membuat semua orang geleng kepala dalam diam, mereka benar-benar tidak berani membantah perkataan Brian.
"Rapat dibubarkan dan akan diadakan 3 hari lagi". Setelah mengatakan itu Brian langsung keluar diikuti oleh Simon dan Kevin.
Brian mendorong kasar pintu kerjanya dan langsung duduk di kursi kebesarannya. Kepalanya terasa berat, pikirannya hanya tertuju pada Celsi seorang. Ia sangat khawatir dan takut terjadi sesuatu pada Celsi.
.
.
.
.
Jangan lupa.
like
vote + favorit
and komen
__ADS_1