
Celsi terus uring-uringan di atas tempat tidurnya, sejak tadi dia merasa bosan. Ya, ini adalah hari 3 dia dirawat di rumah sakit tersebut. Setelah dia sadar, dokter mengatakan dia harus dirawat selama seminggu untuk memulihkan tenaganya kembali dan mengontrol kepalanya yang sempat terbentur ke pohon.
"Diam lah, kau membuat kepalaku pusing" perkataan Brian sukses membuat Celsi langsung berdecak sebal.
Sejak tadi Brian mencoba menghiraukan tingkah Celsi yang terus berbolak-balik ke kanan dan kiri dengan harapan nanti Celsi akan berhenti sendiri.
Tapi sepertinya harapan hanya tinggal harapan, nyatanya Celsi tidak kunjung berhenti dan itu membuat Brian yang sedang fokus untuk mengerjakan sesuatu dengan laptopnya menjadi sedikit terganggu dan tidak konsen.
"Memangnya kenapa?, aku bahkan tidak mengatakan apapun !" protes Celsi.
"Kau memang tidak mengatakan apapun tapi kau mengganggu konsentrasi ku"
Menganggu bagaimana yang Brian maksud?, dia bahkan tidak menyentuh laptop Brian sama sekali. Bagaimana bisa Brian mengatakan kalau dia menganggu konsentrasinya. sungguh, tidak bisa dibiarkan.
"Kalau begitu pergilah". Usir Celsi kemudian.
"Kau mengusirku?"
Brian tidak akan terima jika Celsi mengusirnya. Memangnya dia pikir dia siapa? berani sekali dia mengusir seorang Brian.
"Bodoh, apa kau tidak mengerti maksudku? aku rasa telingamu perlu diperiksa, mungkin saja ada kabelnya yang terputus"
Memangnya radio pakai acara kabel terputus segala.
Brian mengepalkan tangannya dengan geram, ingin rasanya dia menghajar Celsi saat ini. Tapi itu hanya ada didalam ambisinya, mengingat dia bahkan tidak tega hanya untuk sekedar melihat Celsi terluka.
Dengan perasaan kesal Brian langsung menutup laptopnya dengan kasar dan keluar dari ruangan Celsi.
Celsi hanya diam dan terus memperhatikan gerakan Brian hingga akhirnya tubuh Brian hilang bersamaan pintu kamar itu yang kembali tertutup.
"Sekarang dia benar-benar pergi. Lalu siapa yang akan menemaniku? argghhhhhh...., sungguh membosankan !!!"
Celsi mengacak rambutnya dengan frustasi. Bosan, tentu saja. Saat ini dia memang sendiri didalam ruangan, sekarang dia bahkan telah menyesal membuat Brian marah, kalau dia tau Brian akan pergi mungkin dia tidak akan membuat pria gunung es itu sampai marah.
Brian berjalan melewati koordinator rumah sakit dengan perasaan kesal. Dia bahkan terus menggerutu sepanjang jalan, sehingga membuat para staf rumah sakit yang lewat dan beberapa pengunjung di sana menatap heran kearahnya.
"Wanita itu, dia bahkan tidak berterimakasih padaku. Untung aku masih mau menemaninya, argghhh.... Sialan, jika saja dia tidak sedang sakit aku pasti sudah memberi perhitungan dengannya"
__ADS_1
°°°°°
Sepuluh menit setelah kepergian Brian dari ruangan Celsi, tiba-tiba saja pintu kamar Celsi kembali terbuka dan menampakkan tiga sosok manusia tampan yang masuk secara bergiliran kedalam sana.
Melihat pintu terbuka tentu saja membuat mata Celsi terfokus kearah sana.
"Kalian datang ?" pertanyaan konyol. Sudah lihat tapi malah bertanya.
"Hay, bagaimana keadaanmu?" sapa salah seorang dari ketiga pria itu.
"Jauh lebih baik. Tapi kenapa kalian ada disini?, dan siapa dia ?" tanya Celsi seraya menunjuk salah seorang lelaki yang berdiri didekat Arkan.
"Oh, dia ..." belum selesai Simon menjawab pertanyaan Celsi, lelaki itu langsung memotong ucapannya.
"Kau sudah melupakan aku? sungguh menjengkelkan !. Oh iya aku ingat, saat itu kau pingsan pantas saja kau tidak mengingatkanku"
Perkataan pria itu sukses membuat tanda tanya dalam benak Celsi, tapi tidak dengan Simon dan Arkan. Mereka memang sudah mengetahui kalau Hery lah yang telah memeriksa Celsi dimana pada saat dia tidak sadarkan diri di rumah Brian.
Benar, orang itu tidak lain adalah Hery. Dia merupakan teman Brian sekaligus menjadi dokter pribadi Brian.
"Apa kau mengenalku ?" tanya Celsi kemudian.
"Bisa kau jelaskan, aku sama sekali tidak mengerti ?"
Hery kembali menarik nafasnya dengan kasar dan membuangnya. Dia kemudian melangkah lebih dekat kearah Celsi.
"Kau ingat saat pertamakali kau pingsan di rumah Brian?" tanya Hery kemudian mencoba mengingatkan Celsi kembali.
Celsi lantas mengangguk, dia ingat betul dimana dia melakukan kesalahan yang hampir saja membuat dirinya hancur saat itu. Jika diceritakan ingin rasanya di kembali menangis karena dia begitu jijik pada dirinya sendiri, dia begitu dengan mudahnya terbuai oleh permainan panas Brian saat itu. Sudahlah itu masa lalu.
"Saat itu aku bahkan belum menikmati makan ku dengan tenang, tiba-tiba saja Brian menghubungi ku. Dan yang lebih parah lagi Brian memarahiku saat sudah sampai, katanya aku sangat lama. Sungguh aku sangat kesal mengingat hal itu. Dan kau tau untuk apa?" tanya Hery kembali.
Celsi kembali menggeleng dia memang tidak tau apa tujuan Hery datang saat itu.
"Hanya sekedar memeriksa keadaan mu yang demam karena kelamaan terendam air" sahut Hery dengan ketus.
Hahahaha ...
__ADS_1
Tawa Simon dan Arkan langsung pecah seketika saat mendengar cerita Hery. Sementara Celsi langsung menunduk menahan rasa malu, akibat dirinya Hery sampai dimarahi.
"Berhenti tertawa. Kalian menjengkelkan" hardik Hery dengan tegas.
"Baiklah, baiklah. Maafkan kami, kau hanya terlihat lucu saat menceritakan kronologis tadi" terang Arkan kemudian.
Simon dan Arkan langsung mengambil posisi duduk di sofa ruangan itu disusul dengan Hery yang masih sedikit kesal.
"Kau mau es krim?" tanya Simon kemudian pada Celsi.
"Kau bawa es krim? ah, kau sangat tau apa yang aku suka !" sahut Celsi dengan kegirangan.
"Tentu saja, kau kan pernah memintaku untuk membeli eskrim rasa stroberi untukmu. Bukan hanya itu kau bahkan sudah memeras ku"
Mendengar penuturan Simon yang kelewat jujur membuat Celsi menjadi cemberut. Dia ingat saat dimana dia dengan sengaja mengerjai Simon dan Arkan, tentu saja dengan mengandalkan bakat aktingnya.
"Salah sendiri, kalian mengagetkanku saat sedang makan. Aku hanya membalas sedikit saja" ketus Celsi seraya mengambil dengan santai es krim yang sudah disodorkan oleh Simon padanya.
"Baiklah, maafkan kami. Kami hanya heran saat melihat ada wanita di rumah Brian" jelas Simon kemudian.
"Jangan ngaco deh, mana mungkin kalian kaget hanya saat melihat ada wanita di rumahnya, pastinya kalian kan sudah sering melihat hal yang seperti itu" imbuh Celsi seraya menyantap dengan nikmat eskrim rasa strawberry nya.
"Itu tidak benar, kau adalah wanita pertama yang menginjakkan kaki di rumah Brian selain adik dan ibunya"
Kali ini Arkan yang mengangkat suara. Celsi mendengar dengan tidak percaya.
Yang benar saja, itu tidak mungkin. Seorang Brian yang dilimpahi ketampanan dan kesempurnaan serta kekayaan tidak pernah mengajak wanita kerumahnya.
Celsi terus memakan eskrim nya. Dia sama sekali tidak yakin dengan apa yang dikatakan Arkan dan Simon.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Terus ikuti terus ya, jangan lupa dukungannya...