
"Aku tidak menyangka, ternyata selama ini kau mengawasi ku" ucap Celsi dengan tatapan kagum pada Brian yang duduk disebelahnya.
"Tidak selama ini. Aku kehilanganmu waktu itu" wajah Brian langsung terlihat sedikit muram kala mengingat kejadian 8 tahun yang lalu.
"Maafkan aku. Aku tidak tau kalau kau mengawasi ku saat itu. Ketika jasad kedua orang tuaku dimakamkan, hari itu menjadi hari yang gelap untukku, bahkan aku seakan-akan tidak memiliki nyawa lagi kala itu. Duniaku hancur begitu saja, semuanya pergi meninggalkan aku" mata Celsi mulai memerah kala mengingat kembali kejadian yang dia alami.
Sejenak Celsi mengontrol perasaannya dan kemudian melanjutkan ucapannya lagi.
"Beruntung Ana datang untukku. Ana membawaku jauh dari kota yang membuat diriku suram. Dia membawaku ikut bersamanya ke rumah paman dan bibinya yang berada di Jakarta, selama tiga tahun kami tinggal bersama dan saat SMA aku memutuskan untuk tinggal sendiri dan mencoba membiayai hidupku sendiri"
Brian tidak menyangka kalau kehidupan Celsi sangat sulit. Sekarang dia semakin yakin kalau dia harus membuat Celsi selalu bahagia dan melupakan semua kesedihannya.
"Sekarang aku disini. Aku tidak akan membiarkanmu sendiri lagi" tutur Brian dengan membawa Celsi kedalam pelukannya.
"Benarkah? apa kau tidak akan pergi seperti waktu itu lagi?"
"Tidak akan. Mulai sekarang aku akan selalu bersamamu. Bukankah aku adakah bayanganmu? sebagai bayangan aku akan selalu mengikuti tuanku" canda Brian sehingga senyum samar terukur dibibir tipis Celsi.
"Aku menyayangimu kak" seraya mengencangkan pelukannya pada Brian.
Cup...
Brian mencium lembut pucuk kepala Celsi dan membelai lembut rambut hitam Celsi yang lurus
"Sekarang katakan. Apa kau merindukanku?" tanya Brian dengan penuh keyakinan.
"Aisshh, sudah tau malah ditanya lagi. Apa dia tidak bisa lihat apa? jika bukan karena aku merindukannya buat apa aku sampai menangis kayak begini" gerutu Celsi seraya melepaskan diri dari pelukan Brian.
Brian hanya terkekeh pelan melihat Celsi yang kini sudah kembali seperti semula. Celsi yang suka ngambek dan yang banyak aksi jahil dan suka drama.
"Ih, ngambek...!!!" goda Brian dengan mencubit gemes kedua pipi Celsi.
"Aughhh... Sakit tau" Celsi meringis pelan saat Brian mencubit pipinya
Brian malah tidak bergeming dan terus mencubit gemes kedua pipi Celsi sehingga kedua pipi Celsi memerah seperti tomat.
__ADS_1
"Sakit.... hiks...hiks..."
Brian tersentak saat mendengar isak tangis Celsi, Buru-buru dia langsung menarik tangannya dan beralih menatap manik mata Celsi yang sudah memerah.
"Baby... Maaf, aku tidak tau kalau kau benar-benar kesakitan" sesal Brian dengan wajah yang mulai terlihat menyesal dan khawatir.
Melihat Brian yang kini sudah tertunduk dan penuh penyesalan membuat senyum Celsi terukir di wajahnya.
Hahahaha.... "Kau tertipu...."
Wajah Brian langsung berubah masam saat mengetahui kalau ternyata Celsi menipunya. Padahal dia tau kalau Celsi sangat suka jahil dengan memanfaatkan bakat dramanya.
Bisa-bisanya Brian termakan dengan drama buatan Celsi.
"Kau menipuku? awas kau ya...., aku akan menghukum mu" senyum menyeringai langsung Brian tujukan pada Celsi.
Saat Brian akan siap-siap menggelitiknya Celsi buru-buru langsung kabur.
"Maaf, aku tidak akan mengulanginya lagi" sahut Celsi seraya berlari keluar kamar itu.
Melihat Celsi yang berlari buru-buru membuat Arkan dan Simon mengernyit heran. Celsi tengah sedang menghindar dari Brian atau melihat hantu?
Celsi yang melihat Arkan dan Simon langsung berinisiatif meminta perlindungan dari keduanya.
Simon dan Arkan hanya bengong melihat Celsi yang seperti orang ketakutan.
"Celsi.... Awas kau ya. Aku akan menghukum mu" teriak Brian dengan berjalan mencari keberadaan Celsi.
"Kalian melihat Celsi?" tanya Brian menatap kedua temannya.
Dengan serentak Arkan dan Simon menunjuk kerah Celsi yang duduk dibelakang mereka berdua. Memang kenyataannya Celsi duduk di sofa yang ada dibelakang mereka.
Celsi langsung melotot pada Simon dan Arkan. Niatnya untuk meminta bantuan pada mereka malah mereka sendiri yang menjerumuskannya.
"Simon, Arkan. Kalian gimana sih? bukannya bantuan aku" gerutu Celsi tidak terima jika persembunyiannya diketahui oleh Brian.
"Memangnya untuk apa kau sembunyi dari dari Brian?" tanya keduanya heran.
"Ah....itu......" Celsi malah menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal karena bingung mau menjawab apa.
"Pokonya aku tidak ingin ditangkap Brian. Sekarang kalian yang harus tanggung jawab, kalian telah membocorkan persembunyian ku pada Brian" kesal Celsi tidak beralasan.
__ADS_1
"Tidak mau...!!!" tolak Arkan.
"Untuk apa kami bertanggung jawab?" tanya Simon.
"Cih......., kalian berdua menyebalkan" gerutu Celsi dengan menghentak-hentakkan kakinya dan berjalan mendekati Brian.
What???? bukankah tadi dia yang mengatakan tidak ingin bertemu Brian?, tapi sekarang dia sendiri yang menghampiri Brian. Batin Arkan keheranan.
Brian malah tersenyum geli melihat tingkah Celsi. Sangat menggemaskan.
Gadis bodoh, dia sendiri yang menghindari ku tapi sekarang dia sendiri yang menghampiriku. Batin Brian.
Celsi yang menyadari ulahnya sendiri hanya bisa kesal pada dirinya sendiri. Dia malah menjerumuskan dirinya sendiri pada Brian sekarang.
"Dasar nakal..., kau mau kabur kemana sekarang?" tanya Brian seraya menarik hidung Celsi dengan gemes.
"Aishhh.... Kakak, sakit tau...." rengek Celsi dengan manja.
Arkan dan Simon tidak habis pikir dengan tingkah keduanya. Bukankah tadi mereka berdua masih ada kesalahpahaman dan sekarang mereka baik-baik saja.
Dasar aneh, tadi dia menangis dihadapan Brian dan sekarang dia sangat manja pada Brian. Gerutu Simon dengan geleng-geleng kepala melihat ulah keduanya.
"Kalian tidak melupakan keberadaan kita berdua kan?" tanya Arkan dengan kesal karena merasa diabaikan keduanya.
Brian berdecak sebal saat menyadari kalau temannya masih di ruangannya.
"Kenapa kalian berdua selalu datang ke kantorku sih?" kesal Brian.
"Aishh.... Dasar teman tidak berperasaan. Bukannya senang tapi malah kesal" cibir Arkan.
"Bodoh...." ucap Brian tidak peduli.
"Wah, kau tidak lupakan kalau aku bekerja untukmu?" tanya Simon memastikan karena tidak terima dengan ucapan asal Brian.
"Oh iya, aku lupa.... Habisnya kau tidak termasuk daftar penting dalam hidupku"
Simon hanya mendengus kesal melihat tingkah Brian yang aneh. Dia tidak habis pikir bagaimana bisa sikap Brian berubah saat mengenal Celsi. Celsi memang sangat mempengaruhi kehidupan Brian.
"Sebenarnya apa yang terjadi antar kalian berdua tadi?" tanya Arkan kemudian karena sejak tadi dia penasaran dengan masalah keduanya.
"Kepo...." jawab Celsi dan Brian bersamaan.
__ADS_1
"Hah...." Simon dan Arkan hanya melongo melihat kekompakan keduanya. Sungguh pemandangan langka. Apa Brian dan Celsi sudah sehati?.
Dengan perasaan kesal Arkan dan Simon memilih tidak menanyakan lagi, karena menurut mereka itu percuma. Karena Brian tidak akan mengatakan apapun nanti.