Hero In The Shadows (Pahlawan Dalam Bayangan)

Hero In The Shadows (Pahlawan Dalam Bayangan)
Episode 22


__ADS_3

Setelah selesai mandi, Celsi segera memakai jubah mandi yang sudah tergantung ditempat gantungan handuk, lalu kemudian ia langsung bercermin seraya meneliti wajahnya apakah ditumbuhi jerawat atau tidak. Dan tentu saja tidak, karena kecantikan alami Celsi membuat jerawat enggan untuk singgah di wajah cantiknya.


Hah, ini tidak mungkin. Semua tampak berbeda, aku seperti berada di tempat lain. Tidak, tidak, tidak. Mungkin aku hanya berhalusinasi.


"Celsi sadarlah..." Ucap Celsi pada dirinya sendiri seraya menepuk-nepuk kedua pipinya.


Celsi baru menyadari kalau tempatnya saat ini sangat lah asing. Saat ia mencoba memicingkan matanya lalu kemudian membuka kembali matanya, barulah ia menyadari kalau ia sedang tidak berhalusinasi.


"Aaaaaa........, aku dimana....". Pekik Celsi di dalam kamar mandi dengan keras.


"Tunggu dulu, berarti yang tidur di sebelahku bukan Ana". Gumamnya kemudian.


Jika bukan Ana lalu siapa?, ayolah Celsi kau harus bangun dari mimpimu.


"Vio, ya itu Vio !!". Ucapnya lagi.


Celsi segera keluar dari dalam kamar dengan amarah dan tanda tanya di dalam benaknya, ia segera menuju tempat tidur. Dan di sana tampak Vio masih terlelap di dalam mimpi indahnya.


Dengan kasar Celsi langsung menarik selimut dari tubuh Vio, sehingga membuat Vio menggeliat karena hembusan angin dan AC langsung mengenai kulitnya.


Vio mengucek-ngucek kedua matanya dengan tangannya, dan sesekali ia mencoba memicingkan matanya lalu membukanya kembali.


"Celsi, apa yang kau lakukan?". Tanya Vio dengan heran.


B**agaimana Vio tidak heran, ia langsung dihadiahi pandangan yang aneh, tiba-tiba saja Celsi muncul dihadapannya hanya mengenakan jubah mandi dengan rambut panjangnya yang terurai dan basah hingga membuat tetesan air langsung membasahi lantai.


"Kau bertanya apa yang aku lakukan?". Ucap Celsi dengan meninggikan suaranya.


"Seharusnya aku yang tanya, kenapa aku bisa ada disini?". Tanya Celsi dengan menaikkan intonasi suaranya.


Vio terkesiap mendengar suara Celsi yang terkesan membentak karena mengandung amarah dalam ucapannya.


Seketika Vio langsung gugup karena tidak tau harus menjawab apa. Jujur saja ia memang tidak tau alasan Celsi berada di sana, karena Brian tidak mengatakan apa-apa padanya.


"A...aku..., tidak....tau. Sebaiknya ka..kau tanya pada kak Brian saja. ya, kak Brian". Jawab Vio dengan gugup.


Setelah mengatakan itu, Vio langsung tersenyum canggung pada Celsi, sungguh ia sedikit takut melihat tatapan Celsi yang tajam padanya.

__ADS_1


Celsi mengernyit melihat reaksi gugup Vio. Apa dia begitu menyeramkan saat marah?. Ah, sudahlah, aku tidak peduli.


"Brian.....,". Geram Celsi dengan mengepalkan tangannya.


Celsi langsung keluar dari dalam kamar dan menyusuri tempat itu, hingga matanya langsung tertuju pada sebuah pintu yang tampak sangat mencolok dan berkesan mewah serta elegan. Ia yakin kalau itu pasti kamar Brian.


Dengan kasar, Celsi langsung mendorong pintu itu dan masuk kedalam tanpa permisi.


Benar saja, ternyata itu memanglah kamar Brian, dan di sana Brian masih terlelap dalam mimpinya.


"Bangun.....". Teriak Celsi dengan kencang, ia bahkan langsung menarik selimut Brian. dan ia sangat terkejut kerena tenyata Brian tidak sendiri di sana.


Hah, Vino juga disini. Sudahlah, aku tidak peduli.


Vino memang tidur dikamar Brian, dan ia menutup seluruh tubuhnya dengan selimut sehingga Celsi tidak menyadari kalau ia juga di sana.


Mata Brian dan Vino langsung terbelalak saat mendengar teriakan Celsi. Bagaimana tidak, kamar itu memang di desain khusus sehingga kedap suara, dan itu menyebabkan suara Celsi langsung menggema di dalam ruangan itu.


Brian langsung melotot kepada Celsi, beraninya dia mengganggu tidurnya. Sungguh Brian tidak suka saat ada seseorang yang menganggu ketenangannya.


Tapi kenapa Celsi bisa ada didalam kamarnya?.


Brian menelan ludahnya dengan kasar saat mendengar bentakan Celsi, sungguh sangat menyeramkan.


Astaga..., ternyata singa betina lebih menyeramkan saat mengamuk dibandingkan singa jantan. Gumam Vino.


Celsi langsung melotot pada Brian dan juga Vino, sekarang ia harus meminta penjelasan dari Brian. Jangan sampai Brian berencana menjualnya nanti, sungguh ia tidak akan biarkan semua itu.


"Keluar sekarang, atau aku akan mencincang aset_mu itu". Tunjuk Celsi pada bagian bawah Vino.


Celsi tidak ada urusan dengan Vino, ia hanya mempunyai urusan dengan Brian saja, jadi ia tidak memerlukan kehadiran Vino di sana.


Melihat arah yang ditunjuk Celsi, dengan spontan Vino langsung menutup area privasinya, sungguh ia tidak mau sampai kehilangan masa depannya.


Vino langsung bergegas turun dari ranjang, dan lari dengan terbirit-birit keluar dari sana, dan tidak lupa ia juga langsung menutup pintu, karena tidak ingin menyaksikan peperangan antara Brian dan Celsi.


Sementara Brian bergidik ngeri saat mendengar penuturan Celsi, ia bahkan dengan spontan juga langsung menutup juniornya karena tidak ingin sampai diputus oleh Celsi.

__ADS_1


"Ce...,ce..., Celsi !!". Ucap Brian dengan gugup. Sungguh ia benar-benar takut saat melihat tatapan tajam Celsi, sekarang ia akan mengakui kalau Celsi lebih menyeramkan di bandingkan dengan musuh-musuhnya.


Celsi langsung mendekati Brian dengan cara berdiri di samping Brian, ia langsung meraih kerah baju Brian dan menggenggamnya, lalu kemudian menariknya dengan kasar.


"Jelaskan sekarang juga, apa maksud dari semua ini?". tanya Celsi dengan menekankan setiap kata-katanya.


Celsi bahkan berbicara dengan menatap mata Brian dengan tajam, dan berbicara tepat di depan wajah Brian sehingga membuat deru nafasnya langsung menyapu wajah Brian.


Brian kembali menelan ludahnya dengan kasar. Sekarang ia akan mengakui kalah dari Celsi, sungguh kata-kata Celsi sangat tajam.


"Aku akan menjelaskannya. Ka....,kau, bisa melepaskan tanganmu dulu". tutur Brian dengan gugup, bahkan nafasnya terengah-engah saat mengatakan itu.


Mendengar itu Celsi langsung melepas tangannya dan kembali berdiri dengan tegap di hadapan Brian.


Brian langsung bernafas lega saat Celsi sudah melepas tangannya, sungguh baru kali ini ia merasa takut saat menghadapi seseorang.


Brian kau benar-benar pengecut. Kau takut pada seorang wanita yang datang dari kalangan biasa. Sungguh harga dirimu sebagai orang yang ditakuti langsung jatuh.


Brian kemudian langsung membenarkan kembali bajunya dan mencoba menetralkan perasaannya agar tidak gugup dan tidak terlihat bodoh dihadapan Celsi.


Sementara Celsi masih Setia dengan tatapan tajamnya dan aura kemarahannya, matanya masih tetap terkunci pada Brian dan meneliti setiap pergerakan Brian.


Brian kemudian langsung memberanikan diri untuk menatap Celsi, ia tidak tau harus memulai darimana, sementara Celsi tetap menanti jawabannya.


Brian, berpikirlah dengan cepat, kau harus menjelaskannya pada Celsi, jika tidak, maka dia akan memotong aset_mu.


Baiklah saatnya menjelaskan kepada Celsi, atau tidak Celsi akan terus menatapnya dengan tajam.


.


.


.


.


.

__ADS_1


jangan lupa dukungannya ya, terus like, komen dan kasih rate 5 dan jika memiliki poin atau koin lebih jangan lupa juga kasih author tips, sehingga author semakin semangat buat up tiap hari.


__ADS_2