Hero In The Shadows (Pahlawan Dalam Bayangan)

Hero In The Shadows (Pahlawan Dalam Bayangan)
Episode 51


__ADS_3

BEDEBAH......., PRANGGG........


Pecahan gelas langsung menghiasi lantai yang berwarna putih tersebut, bahkan serpihan kaca menjadi sebuah saksi jika dia merasakan amarah yang luar biasa


"Beri hamba perintah tuan, hamba berjanji akan menghabisinya untuk tuan" ucap salah seorang yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari seseorang yang tengah sedang menahan amarah yang begitu besar.


"BRENGSEK......, Dia bahkan berani bermain api denganku. Dan akan ku pastikan kalau api itu akan mencabik-cabik tubuhnya hinga ke tulang-tulangnya"


"Tuan perintahkan saya...." serunya kembali memohon pada tuannya


"Tidak Alan, tidak. Aku sendiri yang akan memotong tangannya nanti, dia sudah berani menghabisi adikku" geramnya dengan menatap lekat sebuah kotak kecil yang berisi potongan tangan seseorang


Alan hanya terdiam sembari bergidik ngeri mendengar tuannya Billy mengeram dengan marah. Benar, orang yang sejak tadi dihadapan Alan tidak lain adalah Billy yang tak lain dan tidak bukan adalah kakak Raka.


"Kita lihat saja nanti, bahkan bukan hanya sepotong tangan, kepalanya akan ikut terputus dan akan ku jadikan pajangan di ruangan ku ini" lanjut Billy dengan kilatan kebencian yang terpancar didalam bola matanya.


Billy kemudian langsung menatap tajam Alan. Alan merupakan kaki tangan Billy yang paling setia dan paling kompeten dalam melaksanakan tugasnya, bukan hanya itu Alan adalah seseorang yang sangat jago dalam menggunakan senjata api. Tidak heran, karena dia adalah seorang mantan polisi yang diberhentikan secara tidak hormat karena melanggar undang-undang kepolisian.


Melihat tatapan tuannya Alan langsung paham, dia segera undur diri dan mulai melaksanakan tugasnya, selain cekatan dalam melakukan sesuatu dia juga sangat mengerti apa yang sangat diinginkan oleh tuannya.


°°°°°


"Brian, apa ini???"


"Kenapa disini sangat banyak gaun pengantin?, apa kau akan membuka butik dirumah ini" tanya Celsi bertubi-tubi karena mendapati banyaknya gaun yang sudah berjejer rapi dihadapannya.


"Baby, jika kau mau aku bisa memberikan semua butik yang ada di kota ini untukmu" sahut Brian sembari memeluk tubuh Celsi dari belakang.


Brian mencium aroma sampo dari tubuh Celsi yang menurutnya sangat wangi dan khas, dia bahkan tidak peduli dengan tatapan para pelayan yang ada dirumahnya. Eittysss, salah. Tidak akan ada yang berani menatapnya, bahkan semua pelayan langsung tertunduk hormat saat ini.

__ADS_1


"Ayolah jangan menggodaku, jelaskan semua ini?" tanya Celsi kembali sembari berusaha melepas rangkulan tangan Brian dari tubuhnya. Bukan tanpa alasan, ia sangat malu mendapat perlakuan seperti itu apalagi dihadapan orang banyak, walaupun mereka hanyalah pelayan tetap saja, orang yang ada di sana lebih dari 10.


"Baby, apa kau tergoda? aku bahkan tidak menggoda mu, atau jangan-jangan kaulah yang sedang menggodaku"


Wajah Celsi tiba-tiba berubah menjadi merah. Inilah hal yang sangat dia benci saat bersama Brian, dia selalu kalah dan tidak bisa berkata apa-apa lagi.


"BRIAN.....".


"Ok, ok. Maaf, tidak akan ku ulangi lagi" Sesal Brian saat melihat Celsi yang tampak sudah mulai kesal, dan dia tidak mau itu terjadi.


"Kita akan menikah, dan sekarang kau harus memilih baju pengantinnya" jawab Brian sembari mengambil salah satu gaun yang ada di sana dan memberikannya pada Celsi.


"Menikah?, apakah tidak terlalu cepat. Kau jangan bercanda bahkan kau belum melamar ku" kaget Celsi


"Baby, jangan berbohong. Bukankah kemarin aku sudah mengutarakan niatku untuk menikahi mu??"


Celsi hanya melongo melihat tingkah Brian yang biasa-biasa saja, bahkan dirinya saat ini masih shock dengan ucapan Brian yang terkesan mendadak. Sungguh kekhawatiran memang tidak pernah terlihat dalam diri Brian.


"Brian, gaun ini tidak bagus, aku mau gaun yang itu" tolak Celsi saat Brian memberikan sebuah gaun dengan lengan panjang dan terkesan sopan dan tertutup.


"No, itu terlalu seksi. Aku tidak mau kalau semua pria menatapmu seperti hidangan lezat nantinya"


"Ayolah, tidak akan ada yang berani mendekatiku selama kau ada di sampingku" bujuk Celsi kemudian


"Aku hanya ingin tampil cantik. Aku tidak mau tampil bisa saja sementara yang akan berdiri di sampingku adalah seorang pangeran nantinya" rayunya kemudian.


Brian memejamkan matanya saat tangan Celsi mulai menyelusuri dada bidangnya yang berada dibalik kemeja tipis yang ia kenakan.


"Sekarang kau semakin berani" sahut Brian dengan senyum menyeringai sembari menahan tangan Celsi yang terus bergerak.

__ADS_1


Dengan spontan Celsi langsung menarik tangannya dan berbalik membelakangi Brian. Dia menjadi jengkel dan kesal karena rencananya membujuk Brian gagal. Padahal dia hanya ingin mengenakan gaun yang cantik saat pernikahannya. Lagipula siapa yang tidak ingin tampil cantik saat akan menikah tapi Brian malah memilihkan gaun yang lebih cocok dipakai saat ke pemakaman yang membedakan hanya warnanya saja.


Jika begini rasanya tidak ada gunanya semua kekayaan yang dimiliki Brian, kalau hanya untuk memilih gaun yang cantik saja tidak boleh.


"Kau menang dan aku kalah" ucap Brian tiba-tiba. Sontak saja Celsi langsung berbalik dan menatap heran kearah Brian.


"Sayangku, kau boleh memilih gaun itu. Tapi dengan satu syarat" lanjutnya sembari memegang kedua pundak Celsi dan menatap dalam-dalam manik mata Celsi.


"Syarat...???"


"Hhmmmm...., bagian belakangnya harus ditutup dan lengannya akan ditambah sedikit" jawab Brian kemudian sembari membolak-balik gaun yang bagian punggungnya terekspos


Celsi langsung mendengus kesal. Menurutnya tidak ada gunanya mengambil gaun itu kalau harus dirubah kembali.


"Terserah....." bentak Celsi dengan kesal sembari meninggalkan Brian yang hanya melongo menatap dirinya, sepertinya Brian sedikit kaget karena jawaban darinya.


Aneh, padahal Brian hanya ingin yang terbaik untuk Celsi, tapi malah berakhir seperti ini. Lelaki manapun pasti tidak akan suka jika pasangan mereka mengundang mata lelaki lain nantinya. Menurutnya tidak ada yang salah dengan keinginannya itu.


Brian kemudian langsung mengikuti Celsi menuju kamarnya dia tidak ingin Celsi mengabaikannya karena jika itu terjadi pasti dirinya akan uring-uringan sepanjang hari.


"Baby tunggu aku" panggil Brian saat melihat Celsi akan menutup pintu kamar


"Apa sih? sana keluar, aku mau tidur" usir Celsi kemudian


"Baby apa kau lupa ini rumah siapa?" tanya Brian kemudian


Karena kesal dia sampai lupa kalau dia hanya menumpang dirumah Brian.


"Oh ya, aku tidak lupa. Tapi kau juga harus ingat kalau aku sudah dijadikan seorang putri oleh ibu dan ayahmu dan sekarang aku memiliki hak untuk mengusir mu" sanggah Celsi.

__ADS_1


Celsi kemudian mendorong tubuh Brian hingga keluar dan mengunci pintunya.


__ADS_2