Hero In The Shadows (Pahlawan Dalam Bayangan)

Hero In The Shadows (Pahlawan Dalam Bayangan)
Episode 52


__ADS_3

Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba, dimana seorang wanita Asia memakai gaun putih yang terlihat cantik ditubuhnya. Balutan make-up yang tipis tidak membuat penampilannya terlihat norak, melainkan terlihat cantik dan alami.


Tentu saja dirinya merasa gugup walau bagaimanapun hari ini dia akan seutuhnya dimiliki oleh Brian, pria yang selama ini menjaganya dan terus mengawasinya dan memberikan kenyamanan di setiap hari-harinya. Sumpah pernikahan akan mengikat mereka berdua untuk saling memiliki nanti.


"Celsi kau sangat cantik" puji Ana sembari memandang tubuh Celsi dari atas sampai bawah.


"Ana, aku sangat gugup"


"Gugup adalah hal yang wajar bagi setiap pengantin. Dulu mommy juga merasakan hal yang sama, bahkan mommy sampai merusak riasan yang sudah MUA pasang sangking gugupnya" ucap Enjel sembari memberi ketenangan untuk Celsi.


"Benarkah? mommy juga gugup?" tanya Celsi meyakinkan


Enjel lantas mengangguk membenarkan ucapan Celsi.


Tidak lama setelah itu Fikram datang dan memanggil mempelai wanita untuk segera turun, karena sudah tiba waktunya untuk mereka naik keatas altar.


Tidak berbeda jauh dengan Celsi, kegugupan juga melanda Brian yang tengah sedang menunggu kehadiran mempelai wanitanya di atas altar. Saat pintu terbuka semua mata langsung terhipnotis melihat penampilan Celsi yang tampak seperti seorang bidadari, semua tamu tampak kagum karena kecantikan Celsi yang terlihat natural.


Brian mengulurkan tangannya untuk menyambut sang kekasih dengan senyum yang terus mengembangkan di wajahnya. Sesungguhnya dia sangat bahagia karena hari yang dia tunggu-tunggu akhirnya telah tiba.


"Baby, kau terlalu cantik" bisik Brian tepat didekat wajah Celsi.


Celsi hanya tersenyum kikuk mendengar pujian Brian.


"Kau juga terlihat tampan, aku bahkan pangling melihat ketampanan dirimu" balas Celsi tidak mau kalah.


Brian hanya tersenyum, ingin rasanya dia mengurung Celsi didalam kamar tapi dia harus menahan semua itu untuk saat ini.


°°°°°


Setelah upacara pengucapan janji, kini kedua mempelai langsung mengadakan resepsi pernikahan. Banyaknya tamu undangan membuat kaki Celsi sedikit lelah, karena sejak tadi dia belum sempat duduk.


Dari kejauhan Dua orang pria sedang berbisik-bisik sembari terus melihat kearah mempelai pria dan wanita yang tampak sangat bahagia.


"Celsi.....Aku sangat senang, akhirnya kau menikah dengan Brian" ucap Ana dengan senang.


"Aku juga senang, karena kakak ipar ku sangat cantik" timpal Vio


"Kau benar, sekarang kak Brian sudah menikah. Jadi kita harus memanggil Celsi dengan sebutan kakak ipar mulai sekarang" lanjut Vino kemudian


Celsi hanya terkekeh melihat tingkah Vio dan Vino, dia sangat senang karena keluarga Brian adalah keluarga yang sangat baik dan menerima dirinya apa adanya.

__ADS_1


"Ana dimana Kevin?" tanya Celsi basa-basi karena melihat Kevin dari kejauhan sedang asik mengobrol dengan wanita cantik.


"Mana aku tau, memangnya dia suamiku?" jawab Ana dengan ketus.


"Oh, oh...oh.., jadi kalian tidak memiliki hubungan apapun? pantas saja Kevin terlihat sangat bahagia bersama wanita cantik itu" goda Celsi memanas-manasi Ana.


Seketika mata Ana langsung membulat sempurna saat melihat Kevin tampak sangat menikmati obrolannya dengan wanita cantik yang bergaun merah tersebut. Ana lantas langsung meninggalkan Celsi dan berjalan dengan cepat sembari membawa minuman ditangannya dan menghampiri Kevin.


Dengan sengaja Ana menyenggol sedikit bahu Kevin sehingga membuat minumannya tumpah dan mengenai gaun wanita cantik itu.


"oh tidak, maafkan aku. Aku tidak sengaja, tiba-tiba saja kakiku tersandung tadi, maaf aku hanya ingin memanggil Kevin. Aku tidak menyangka niatku akan menjadi seperti ini" sesal Ana dengan membersihkan gaun wanita itu.


Wanita itu langsung mendongak dan menatap wajah Ana, tidak lama kemudian dia langsung tersenyum


"Tidak masalah, aku bisa membersihkannya nanti" sahutnya kemudian.


"Sekali lagi aku minta maaf"


"Kau Ana bukan? wanita Asia itu?" tanyanya memastikan


Ana lantas mengangguk, walau sebenarnya dia bingung karena wanita itu mengenal dirinya.


Wanita itu langsung tersenyum sembari menatap Kevin, lalu setelah itu dia langsung pergi dan meninggalkan Ana dan Kevin.


"Kau mencari ku? ada apa?" tanya Kevin.


Ana langsung kikuk karena dia sendiri tidak mencari Kevin namun hanya karena tidak suka saat melihat Kevin dengan wanita tadi.


"Itu.....Aku...." sahut Ana terbata-bata.


Belum selesai Ana melanjutkan ucapannya sebuah suara yang sangat keras langsung mengagetkan semua pengunjung.


DORR......DORRR.....


Dua tembakan langsung menggemparkan ke ramaian yang tadinya bahagia berubah menjadi jeritan yang membuat semua orang kalang kabut dan berusaha berlari untuk keluar dari tempat tersebut.


Aaaaaa.....


Lagi-lagi suara tembakan itu kembali memenuhi ruangan tersebut, saat keadaan tidak terkendali seseorang langsung menarik pakasa tangan Celsi dari keramaian dan membawanya keluar dari sana.


Sementara Brian berusaha mencari keberadaan Arkan dan Simon, namun hasilnya nihil karena dia tidak menemukannya.

__ADS_1


"Master...." panggil Kevin sembari memegang erat tangan Ana diikuti oleh Arkan dan Simon.


"Kalian dari mana saja" bentak Brian


"Maaf Brian, kami sudah melumpuhkan orang yang menggunakan senjata api tadi" jawab Simon.


"Bagus..., dimana dia sekarang?" tanya Brian dengan kilatan kemarahan yang terpancar dikedua bola matanya


"Dia sudah mati" sahut Arkan


"APA???? KENAPA BISA???"


"Saat kami menangkapnya dia langsung meminum racun" jawab Arkan menjelaskan


Brian langsung terlihat marah dan semakin emosi, memang suara tembakan itu sudah tidak ada lagi tapi yang membuatnya marah karena pelakunya sudah mati dan dia yakin kalau orang itu pasti tidak sendiri, melainkan mereka semua telah kecolongan. Padahal penjagaan sudah sangat ketat tapi tetap saja musuh masih bisa menembus pertahanan mereka.


"Dimana Celsi?" tanya Ana tiba-tiba sehingga membuat semua orang langsung menoleh kesamping Brian.


Sial, mereka sampai tidak menyadari kalau Celsi tidak ada. Ini semua karena bedah itu.


Brian semakin kalang kabut karena tidak menemukan Celsi dimana-mana, bahkan dia sudah mengerahkan seluruh pasukannya untuk mencari Celsi tapi hasilnya nihil, Celsi tetap tidak ketemu.


"Apa kalian menemukannya?" Tanya Enjel dengan khawatir


Brian langsung menggeleng, dia sangat khawatir dengan keadaan Celsi saat ini.


"Celsi.... hiks.....hiks..." Enjel sudah tidak bisa membendung air matanya lagi, dia sudah menganggap Celsi sebagai putrinya dan sekarang putrinya telah menghilang. Ibu mana yang tidak sedih saat putrinya menghilang.


"Sayang tenanglah" sahut Fikram dengan mendekap istrinya dan memberikan ketenangan.


"Kakak...." panggil Vino tiba-tiba


"Ada apa?" tanya Brian


"Aku menemukan ini" ucap Vino sembari menunjukan kaluang dan juga sobekan gaun milik Celsi


Brian langsung mengambil kedua benda tersebut.


Deg....deg...


Jantungnya seakan berhenti berdetak saat melihat kaluang pemberiannya terlepas dari leher Celsi. Ketakutan semakin menjadi-jadi saat melihat itu semua, matanya semakin memerah karena takut.

__ADS_1


"Katakan, dimana kau menemukannya?" tanya Brian dengan suara berat.


Vino langsung mengatakan kalau dia menemukan benda itu dibelakang gedung tersebut.


__ADS_2