
Celsi terus memandangi pisau yang sudah ia ambil dari dalam laci, lalu kemudian ia langsung meletakkannya di atas meja.
"Apa yang harus aku lakukan dengan pisau ini?". Seraya terus memandang pisau yang tergeletak di atas meja.
Jika mereka berniat jahat, mungkin mereka sudah lama melakukan aksinya. Tapi melihat sikap Brian yang baik membuatku jadi ragu. Aku rasa dia memang tidak memiliki niat jahat padaku, apalagi dia sudah dua kali menyelamatkanku. Tapi apa motifnya membawaku ikut bersamanya?
Celsi terus bergulat dengan pikirannya sendiri, tadinya dia ingin mengakhiri hidupnya karena dia berpikir Brian akan menjualnya atau menjadikannya sebagai ******* nanti. Aku rasa memang benar, Celsi terlalu banyak nonton film atau drama, pikirannya sering ngawur. Setelah cukup lama bergulat dengan pikirannya sendiri barulah ia bisa mengambil kesimpulan kalau Brian tidak seburuk yang ia kira.
"Aku sangat lapar....". Gumam Celsi kemudian seraya mengelus perutnya yang sudah mulai demo meminta jatah.
"Tentu saja, aku belum makan sejak semalam". Ucapnya kembali pada dirinya sendiri.
Celsi kemudian menatap ke sekeliling kamar itu, berharap ia bisa menemukan sesuatu untuk dimakan. Matanya langsung terkunci pada sebuah piring yang berisikan berbagai macam buah, mulai dari Apel, Anggur, Stroberi, Jeruk dan yang terakhir ada Mangga.
Celsi langsung berjalan dan mengambil buah tersebut saat dirinya ingin kembali ke atas ranjang, matanya langsung terkunci pada sebuah botol minuman dan gelas yang berdiri berdampingan pada sebuah lemari.
"Minuman apa ini?, baiklah Celsi setelah makan kau juga butuh minum nanti, jadi tidak ada salahnya kau minum ini saja". Gumamnya kemudian seraya mengangguk dan tersenyum menatap botol tersebut.
Celsi membawa buah dan minuman itu ke atas ranjang, ia mulai meletakkan buah itu dihadapannya.
Ternyata tidak sia-sia ia menemukan pisau tadi, sekarang ia bisa menggunakan pisau itu untuk mengupas buahnya.
Satu persatu buah yang mulanya banyak kini menjadi sedikit, dan sekarang saatnya dia minum karena dia sudah mulai kehausan.
Celsi mulai menuangkan minuman itu kedalam gelas yang ia ambil dari tempat yang sama hingga penuh. Karena kehausan ia langsung meneguk banyak minuman tersebut.
Hueeek.....
"Minuman apa ini?, rasnya sangat aneh". Tutur Celsi seraya memejamkan matanya berkali-kali, dan sesekali ia menjulurkan lidahnya.
Celsi kemudian membuang minuman itu ke sembarang arah, hingga membasahi seprei dan juga selimut yang ada disitu.
Rasanya sangat tidak enak, tapi aku masih ingin mencoba. mungkin tidak masalah kalau aku coba lagi.
Celsi kembali meraih botol minuman itu, lalu menuang kembali kedalam gelasnya yang sudah kosong, ia langsung kembali meneguk minuman tersebut dan lagi-lagi.
Hueeek...
__ADS_1
Kenapa rasanya sangat aneh?, mungkin minuman ini khusus orang kaya kali, makanya rasanya tidak enak. Ah, tidak mungkin, mau orang kaya atau orang miskin sama aja.
Lagi-lagi Celsi membuang isi minuman itu hingga berserakan dilantai.
Celsi merasakan kepalanya mulai sedikit berat, rasanya seperti berputar-putar, ia kemudian membaringkan tubuhnya di atas kasur dan mulai memejamkan matanya. Tanpa ia sadari ternyata matanya juga ikut berat.
Lebih baik aku tidur sebentar, lagipula kepalaku juga sedikit sakit.
Dan saat Vio membuka pintu yang mereka lihat dan membuat mereka terkejut bukanlah Celsi, melainkan noda merah yang berceceran di lantai dan juga tempat tidur.
"Celsi...!!!". ucap mereka bersamaan.
Mereka berempat langsung masuk, dan seketika mereka kembali terbelalak saat melihat pisau yang tergelatak begitu saja di atas kasur. Sungguh pikiran mereka langsung kacau saat melihat pisau itu.
"Kakak......". tangis Vio dengan meraih lengan Brian.
"Vio tenanglah" tutur Brian dengan mengusap kepala adiknya dengan lembut.
Vio tidak bisa menahan tangisnya lagi, saat banyaknya noda merah yang berceceran di atas kasur, bahkan menodai jubah mandi yang Celsi kenakan.
"Kakak, Vio takut". Tangis Vio semakin menjadi saat melihat Celsi yang tidak sadarkan diri.
Sama halnya dengan Vio. Vino, Kevin dan Brian juga sangat terkejut melihat semua itu, mereka tidak menyangka kalau Celsi akan nekat melakukan itu. Sungguh Brian sangat menyesal karena tidak menjelaskan semuanya sehingga membuat Celsi beranggapan buruk dan melakukan tindakan seperti ini.
Brian kemudian melepas tangan Vio, dan mulai berjalan mendekati Celsi. Saat ia ingin menyentuh Celsi tiba-tiba saja Celsi malah berbalik.
Melihat itu, tentu saja membuat mereka menjadi kaget.
"Rasanya sangat aneh, aku tidak suka tapi enak". Gumam Celsi dalam tidurnya.
Brian dan yang lainnya langsung terbelalak saat mendengar penuturan Celsi.
Apa orang mati masih bisa berbicara?. Tunggu dulu, kenapa ada buah disini?, dan apa ini?, kenapa minuman ini ada disini?.
Biran yang merasa aneh, karena melihat buah dan juga botol minuman tepat berada di sebelah Celsi mulai curiga.
"Kak, apa Celsi masih hidup?". Tanya Vino kemudian.
__ADS_1
"Dia tidak mati, ini hanya minuman". Jawab Brian seraya mencium aroma selimut yang terkena tumpahan minuman tadi.
"Apa...??". ucap Vino, Vio dan Kevin bersamaan.
Brian langsung mengangguk dan mengangkat piring yang berisikan buah dan botol minuman yang Celsi minum tadi.
"Wanita ini hanya tertidur, sepertinya dia mabuk". Sahut Brian kemudian.
Vio dan Vino hanya melongo saat melihat itu semua, mereka pikir Celsi telah mati karena bunuh diri, ternyata dugaan mereka salah. Celsi malah enak-enakan tidur, sementara mereka khawatir sejak tadi.
"Sungguh calon kakak ipar ku sangat langka". tutur Vio kemudian.
"Aku belum pernah bertemu wanita seaneh dirinya". Sambung Vino tidak kalah kaget.
Sementara Kevin sendiri. *nona Celsi memang wanita langka, dia berhasil membuat keluarga Mark kalang kabut karena khawatir dengan dirinya, aku salut dengannya. Sungguh wanita ajaib.
Wanita ini benar-benar membuatku gila. Bukannya tadi dia marah-marah seakan-akan dia siap membunuh siapapun termasuk dirinya sendiri, dan sekarang lihatlah. Karena ulahnya membuatku menjadi sangat bodoh, karena tidak bisa membedakan mana darah asli dan minuman. Setiap wanita ini membuat ulah aku seolah-olah menjadi sangat bodoh*. Gerutu Brian pada dirinya sendiri.
"Aku akan kembali ke kamarku saja, sudah cukup pertunjukan dramanya. Sekarang aku akan mengakui kalau calon kakak ipar ku sangat hebat". Ucap Vio seraya berjalan meninggalkan kamar Brian.
"Calon kakak ipar telah berhasil membuat keluarga Mark kalang kabut". Imbuh Vino menimpali.
"Kak Kevin ayo kita pergi". Ajak Vino kemudian.
Vino dan Kevin langsung meninggalkan Celsi bersama Brian di dalam kamar. Mereka sudah cukup menyaksikan drama yang sangat mendebarkan dan mengesalkan, mungkin jika dijadikan pertunjukan akan membuat semua penonton menjadi kalang kabut karena aksi Celsi yang terbilang luar biasa.
Sementara Brian terus menatap Celsi dengan tatapan aneh, sungguh ia tidak mengerti bagaimana bisa ia dipertemukan dengan wanita seaneh dan se_ajaib Celsi.
.
.
.
.
Jangan lupa kasih jempol dan juga vote + rate 5, jika ada masukan atau saran, silahkan komen ya...
__ADS_1