
tok..tok...tok...
Seseorang mengetuk pintu ruang kerja Brian dengan sedikit keras.
Setelah Brian mengijinkan mereka masuk barulah pintu dibuka. Brian langsung berdecak sebal melihat ketiga temannya ditambah Kevin berbondong-bondong masuk kedalam ruangannya.
"Kenapa kalian disini?" tanya Brian dengan kesal.
"Tentu saja untuk mengintrogasi mu?" sahut Arkan dengan santai.
"Sejujurnya kami masih penasaran dengan hubunganmu dengan Celsi. Tadi pagi kau tidak mengatakan apa-apa jadi kami putuskan untuk menemui kamu langsung saja" sahutnya menjelaskan kembali.
"Apa kalian tidak memiliki pekerjaan lain selain menggangguku?"
"Santai saja, selama 5 hari ke depan aku tidak memiliki pekerjaan" sahut Hery dengan bangganya.
"Kenapa? apa rumah sakit itu perlu aku hancurkan agar kau tidak memiliki pekerjaan selamanya?" tanya Brian dengan senyum menyeringai.
Rumah sakit tempat Hery berkerja tidak lain adalah rumah sakit Brian, hanya saja rumah sakit itu Brian serahkan untuk dikelola Hery lebih baik lagi.
"Tidak, tidak, jangan lakukan itu. Kau ini, jika rumah sakit mu dibongkar lalu aku bekerja dimana?" tolak Hery.
"Lagian kalian ini ada-ada saja, Kenapa harus setiap hari kalian datang menggangguku? dan kau Arkan, apa CEO sepertimu harus keluyuran setiap hari" bentak Brian dengan menatap ketiga temannya.
"Hey..., jangan memarahiku. Aku datang kemari karena pekerjaanku sudah beres, jadi kau tenang saja kedatanganku tidak akan menggangu pekerjaanku" sahut Arkan membela diri.
"Cih, pekerjaannya sudah beres. Tentu saja beres karena semua sudah dia limpahkan pada sekretarisnya" desis Simon mengejek Arkan.
Arkan yang mendengar sindiran Simon langsung beralih menatapnya tajam.
"Diam, jangan banyak bacot Lo" gerutu arakan pada Simon.
Brian hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah teman-temannya yang sangat aneh. Sejujurnya dia senang karena teman-temannya sangat perhatian padanya tapi jika mereka keseringan mengganggu membuat dia sedikit jengkel dan kesal.
°°°°°
"Vio, kita mau kemana sih?" tanya Celsi.
Sejak tadi vio mengutak-atik wajahnya dengan memoleskan berbagai makeup di sana.
"Celsi..., hari ini kita akan jalan-jalan tapi sebelum itu kita kekantor kak Brian dulu, aku mau menyerahkan berkas yang Dady titipkan untuk kak Brian" jelas Vio seraya terus mendandani Celsi.
"Baiklah aku mengerti, tapi stop. Aku tidak suka makeup yang tebal" protes Celsi menghentikan tangan Vio.
Vio langsung terkekeh sepertinya dia sudah berlebihan mendandani Celsi karena bagaimanapun juga Celsi sudah cantik alami.
"Maaf..." sesal Vio dengan senyum jahilnya yang terus mengembang.
__ADS_1
Celsi hanya bisa mendesah melihat kelakuan Vio yang sangat suka mengganggunya.
Setelah semuanya terasa cukup kini kedua gadis itu melangkah dengan anggun menuju mobil yang sudah menunggu mereka. Ana tidak ikut dikarenakan Ana masih harus banyak belajar bahasa Inggris mengingat Ana yang tidak terlalu Pasih dalam berbahasa asing.
Dreeerrttt...dreeerrrttt... Suara getar ponsel Vio.
Baru-baru Vio langsung mengangkat panggilan tersebut setelah melihat siapa yang menelpon.
📞"yes, mommy. Ada apa?" tanya Vio langsung karena yang menghubunginya tidak lain adalah ibunya sendiri
📞..........
📞"What???? baiklah, baiklah, aku akan pulang sekarang" panik Vio saat mendengar ucapan ibunya.
📞............
Setelah panggilan ditutup Vio beralih menatap Celsi dengan perasaan bersalah.
"Ada apa? kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Celsi dengan heran.
"Maaf, hari ini aku tidak bisa menemanimu jalan-jalan. Tiba-tiba saja aku ada urusan mendadak" sesal Vio.
"Kalau begitu kita kembali saja, lagipula aku tidak ingin jalan-jalan"
"Tidak, tidak. Kau akan tetap pergi kekantor kak Brian, kau harus membantuku untuk menyerahkan dokumen ini pada kak Brian" ucap Vio seraya mengeluarkan dokumen yang sejak tadi berada didalam mobil.
"Ayolah Celsi, ku mohon. Lagipula supir akan mengantarmu sampai tujuan" mohon Vio dengan memelas dihadapan Celsi.
"Vio, kau tau sendiri aku hanyalah orang luar. Apa tanggapan orang-orang nanti saat melihatku mengunjungi kantor Brian?" tanya Celsi dengan sedikit memelas.
"Lalu apa yang harus aku lakukan? berkas itu sangat penting dan kak Brian memerlukannya sekarang juga" sesal Vio kali ini dia sudah memasang wajah yang terlihat gusar dan cemas.
Celsi yang melihat Vio yang tengah cemas menjadi sedikit iba. Walau bagaimanapun Vio sudah dia anggap sebagai teman sendiri dan dia tidak tega jika melihat temannya kesusahan.
Sepertinya tidak ada pilihan, aku harus membantu Vio
"Baiklah aku akan mengantarkan dokumen itu pada Brian" pasrah Celsi.
Mata Vio langsung berbinar seketika dia langsung tersenyum sembari memeluk dengan gembira tubuh Celsi. Sebuah senyuman terukir indah dibibir Vio.
"Terimakasih Celsi, kau memang kakak ipar terbaikku" sahut Vio dengan senyum yang menghiasi bibirnya.
"Cih, siap yang ingin menjadi kakak ipar mu?" gerutu Celsi.
Vio hanya terkekeh dan kemudian langsung meninggalkan Celsi.
"OH IYA CELSI, MANFAATKAN KESEMPATAN INI DENGAN BAIK" teriak Vio dengan sedikit berlari menghampiri sebuah mobil yang sudah menunggunya didepan gerbang.
__ADS_1
"Kesempatan, memangnya apa yang terjadi sehingga aku harus memanfaatkan kesempatan. Vio ada-ada saja" gerutu Celsi dengan berbalik dan memasuki mobil yang sejak tadi sudah menunggunya.
"KESEMPATAN TIDAK DATANG DUA KALI CELSI !!!" teriak Vio lagi nyaris sudah tidak terdengar namun Celsi masih bisa mengerti ucapan Vio.
Celsi geleng-geleng kepala saat ia sudah duduk di kursi bagian belakang dan tidak lama supir langsung melaju dan membelah jalan yang padat dengan cepat. Ada sebuah mobil yang mengikuti mereka dari belakang yang tak lain adalah bodyguard yang akan menjaga Celsi jika keluar dari rumah.
Sekitar 20 menit menempuh perjalan kini Celsi sudah berada tepat didepan kantor Brian. Celsi merasa lehernya sakit saat ia mendongak melihat tingginya gedung itu.
Gedung ini sepertinya sudah mencapai langit. Lihat saja aku bahkan tidak tau berapa lantai gedung ini. Gumam Celsi dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Ketika dia melangkah memasuki lobi perusahaan itu dia kembali teringat dengan perkataan Vio tadi.
"Aissshhh...., kenapa juga aku harus meningkatnya? lagipula apa maksudnya coba mengatakan kesempatan tidak datang dua kali" gerutu Celsi kembali seraya menggelengkan kepalanya lagi.
Celsi mulai melangkah dengan anggun memasuki gedung pencakar langit tersebut. Saat tiba didalam dia mulai bingung karena dia tidak tau ruangan Brian akhirnya dia memutuskan untuk bertanya saja. Celsi mendatangi salah satu meja yang ada di sana yang tidak lain adalah meja resepsionis.
"Permisi" ucap Celsi dengan sopan.
Seketika seorang gadis cantik dengan setelan kerjanya yang terlihat formal namun menambah kesan elegan bagi siapapun yang melihatnya. Wanita itu langsung terfokus pada Celsi yang berdiri didepan mejanya.
"Iya, ada yang bisa saya bantu?" tanya resepsionis itu dengan sopan.
"Saya ingin menemui Brian, dimana letak ruangannya?" tanya Celsi tanpa basa-basi.
Resepsionis itu hanya terdiam dan melihat penampilan Celsi mulai dari atas sampai kebawah.
.
.
.
.
.
.
.
Ummi up lagi nih.... seperti biasa ya
vote
like
komen + rate 5
__ADS_1