Hero In The Shadows (Pahlawan Dalam Bayangan)

Hero In The Shadows (Pahlawan Dalam Bayangan)
Episode 43


__ADS_3

Resepsionis tersebut langsung mengernyit saat melihat Celsi.


"Maaf nona, apa nona sudah membuat janji dengan direktur kami?" tanya resepsionis itu dengan sopan.


"Apakah itu perlu? maaf saya tidak tau!!. Tapi ini sangat penting jadi saya harus menemuinya, bisakah kau membantuku?" tanya Celsi dengan wajah yang terlihat memohon.


"Tidak bisa, kami tidak memiliki wewenang untuk mempertemukan atasan kami dengan orang asing" jelasnya kembali.


"Orang asing. aku bukan orang asing. Brian mengenalku dengan baik, jika kau tidak percaya kau bisa tanyakan langsung" sangkal Celsi.


"Maaf nona, sudah banyak wanita yang datang kemari dan mengaku-ngaku kalau tuan Brian mengenalnya bahkan banyak dari mereka yang mengatakan kalau mereka pacar, calon istri dan tunangannya. Jadi saya tidak bisa percaya dengan ucapan nona" jelasnya kembali


Ahhh...., begitu ya. Jadi setiap hari selalu ada wanita yang datang kemari untuk bertemu Brian. Huh..., kenapa sekarang aku sedikit kesal ya mengetahui kalau banyak wanita menyukai Brian.


"Kalau begitu saya akan menunggu Brian sampai keluar" ucap Celsi dengan yakin dan kemudian berjalan menuju sofa yang tidak jauh dari meja resepsionis.


resepsionis tersebut hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kegigihan Celsi namun dia juga harus bersikap profesional saat bekerja. Dia tidak bisa mengusir sembarang orang dari sana atau bisa-bisa atasannya akan marah jika dia tidak bersikap sopan.


Dari kejauhan dua orang pria tengah sedang berbincang-bincang dengan riangnya, entah apa yang mereka bicarakan tapi sepertinya itu adalah hal serius mengingat mereka samasekali tidak tertawa.


"Simon, Arkan..." panggil Celsi saat melihat mereka.


Kedua pria yang tengah berbincang sambil berjalan itu seketika langsung menghentikan langkah mereka ketika mendengar suara yang tidak asing dari arah resepsionis.


"Celsi..." gumam mereka bersamaan.


Mereka langsung menghampiri Celsi yang tengah sedang berdiri dengan tatapan yang tertuju pada mereka.


"Celsi, kenapa kau ada disini?" tanya Simon langsung.


"Aku ingin menemui Brian. Lalu kalian sendiri kenapa bisa ada di sini?"


"Aishh..., kau lupa ya? aku memang bekerja disini" sahut Simon dengan jengkel karena Celsi tidak mengingat kalau dia bekerja untuk Brian.


"hehehehe maaf..." ucap Celsi dengan cengengesan.


"Sudahlah, kau bilang ingin bertemu Brian kan?" tanya Arkan.


Celsi langsung mengangguk menjawab pertanyaan Arkan.


"Ayo masuk. Kenapa kau malah disini sekarang?" tanya Arkan kembali.

__ADS_1


Resepsionis tersebut hanya bisa melongo melihat interaksi akrab dari Celsi dan teman atasannya. Dia tidak menyangka kalau Celsi benar-benar mengenal Brian, bahkan kedua teman Brian juga mengenal Celsi.


Celsi kemudian mengikuti langkah Simon dan Arkan dari belakang tidak lupa dia juga berpamitan pada resepsionis tadi dengan sopan.


"Mbak, aku permisi ya" ucap Celsi dengan sopan.


"Ii....iya" sahutnya dengan gugup. Sekarang dia yakin kalau Celsi bukankah orang sembarangan. Seharusnya sejak tadi dia memberi ijin untuk Celsi. Tapi sudahlah semuanya sudah terlanjur.


"Simon, ruangan mu ada dilantai berapa?" tanya Celsi penasaran saat mereka memasuki lift dan melihat Simon memencet nomor 55.


"Lantai 55 sama dengan Brian. Hanya saja aku lebih sering bekerja diluar daripada di kantor" sahut Simon.


Celsi hanya manggut-manggut tanda mengerti dengan ucapan Simon lalu kemudian ia beralih menatap Arkan yang sejak tadi diam.


"Jangan menatapku seperti itu. Aku hanya bosan di kantorku sendiri jadi aku main-main ke sini" ucap Arkan seolah-olah tau apa yang sedang dipikirkan Celsi.


"Cihh..." desis Celsi dengan sok cuek.


Yang dikatakan Arkan memang benar, dia jadi penasaran kenapa Arkan berkunjung ke kantor Brian sementara sekarang masih jam kerja.


Ting...... Life langsung terbuka.


Simon dan Arkan berjalan mendahului Celsi. Mereka bertiga melewati kordinator tempat itu dengan langkah kaki yang menggema.


Seperti biasa Simon dan Arkan akan langsung masuk tanpa mengetok pintu terlebih dahulu.


"Bisakah kalian mengetuk pintu sebelum...." ucapan Brian langsung terhenti saat melihat wanita yang berdiri dibelakang Simon dan Arkan.


"Baby, kau di sini?" tanya Brian dengan lembut.


Aishhh.... Kemarin dia memanggilku sayang dan sekarang baby, besok apalagi?. Gerutu Celsi dalam hati namun sebenarnya dia sangat senang dan bahagia mendengar panggilan Brian untuknya.


Arkan dan Simon langsung terkekeh pelan saat melihat tingkah absolut Brian.


"Tadinya dia ingin mengamuk namun saat melihat Celsi kemarahannya langsung hilang" batin Simon dan Arkan.


"Aku diminta Viola mengantarkan ini untukmu. Katanya ini berkas penting!!" sahut Celsi dengan memberikan dokumen yang sejak tadi dia bawa.


"Benar, ini sangat penting. Terimakasih baby"


cup....

__ADS_1


Tanpa aba-aba Brian langsung mengecup kening Celsi dengan lembut.


"Apa yang kau lakukan. Tidak tau malu" gerutu Celsi dengan mencubit perut Brian.


aaahhh... Brian malah pura-pura meringis mendapatkan cubitan Celsi padahal dia tidak merasakan apa-apa.


Celsi malah tidak peduli dengan Brian yang meringis.


"Dimana letak toilet, aku ingin ke toilet" bisik Celsi tepat ditelinga Brian.


Brian hanya terkekeh mendengar ucapan Celsi. Jika ingin ke toilet seharusnya dia katakan langsung tanpa harus berbisik.


"Masuklah ke ruangan itu, di sana ada kamar pribadiku dan disampingnya ada toilet" terang Brian kemudian.


Celsi langsung masuk ke sana tanpa mengatakan apapun bagi. Benar saja di sana ada kasur king size yang ukurannya cukup besar dan disebelahnya ada pintu yang dia yakini adalah kamar mandi.


Setelah keluar dari kamar mandi langkah Celsi tiba-tiba terhenti saat melihat sebuah foto yang ada di meja samping tempat tidur.


Di sana terdapat foto keluarga Brian dan foto Brian lalu disampingnya ada sebuah foto yang sangat familiar dalam ingatan Celsi.


perlahan-lahan Celsi meraih foto itu. Mulutnya langsung terkunci rapat saat mengamati foto yang sekarang sudah ada ditangannya, air matanya lolos begitu saja.


Dadanya terasa sesak, antara percaya dan tidak. Itulah yang dia rasakan sekarang. Dia kemudian membuang pandangannya kerah lain berharap mendapatkan ketenangan namun sekali lagi dia dikejutkan dengan foto yang sedikit terselip dibawah bantal.


Tangannya terasa gatal untuk meraih foto itu. Dan betapa terkejutnya dia saat dia mendapati banyak foto yang sama sekali tidak asing dibawah bantal Brian.


Jantungnya bergemuruh hebat saat mengamati semua foto itu. Air matanya tiada henti-hentinya mengalir. Dadanya semakin sesak saat mengamati foto-foto yang kini sudah ada beberapa yang jatuh kelantai akibat tangannya yang gemetar.


Tubuhnya terasa lemah, dan tidak lama kemudian tubuhnya langsung merosot kebawah karena kakinya sudah tidak mampu menopang berat badannya lagi.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Ummi datang lagi....maaf ya kemarin ngak sempat up.


__ADS_2