
Hery tertegun melihat seorang wanita yang berbaring di atas ranjang milik Brian, sebenarnya ia tidak tau kenapa Brian memintanya datang kemari. Hary langsung menatap Brian dan meminta penjelasan maksud dari semua itu.
"Tugasmu memeriksa keadaan nya". Ucap Brian tiba-tiba.
"Apa maksudmu?, kau bahkan tidak mengatakan kalau kau memintaku kemari untuk memeriksa pasien". Sangkal Hery dengan menatap bingung Brian.
Brian berdecak sebal seraya menatap Hery dengan tajam.
"Bukankah kau seorang dokter?". Tanya Brian kemudian.
Hery langsung mengangguk membenarkan ucapan Brian.
"Tugas dokter itu memeriksa pasien dan sekarang kau bertugas memeriksa wanita itu,". Tunjuk Brian pada Celsi yang terbaring lemah di atas ranjang.
Gunung es ini hanya bisa membentak dan memaksakan keinginannya, mana aku tau jika ada pasien dirumahnya. Rumahnya kan bukan rumah sakit dimana pasien harus berada, lagipula dia tidak mengatakannya ditelpon tadi, kalau aku tau mungkin aku akan membawa peralatan medis. Gerutu Hery seraya berjalan mendekati Celsi.
Sekarang aku benar-benar membutuhkan KANTONG AJAIB DORA EMON .
Hery kemudian langsung mencoba mencek denyut nadi Celsi dan memeriksa suhu tubuh Celsi.
"Tidak perlu khawatir dia tidak kenapa-napa, nanti juga akan baikan sendiri". Jelas Hery seraya bangkit berdiri dari atas ranjang dan duduk di sofa kamar Brian.
"Apa maksudmu?, Dia pingsan dan tidak sadarkan diri sejak tadi". Sahut Brian dengan menatap Hery dengan tajam.
Hery langsung mendengus kesal. Apa sekarang Brian meragukan kemampuanku.
"Dia hanya demam biasa karena terlalu lama terkena air, nanti dia juga akan sadar. Lagipula ini salahmu sendiri kau tidak mengatakan jika ada pasien di rumahmu, kalau tau begini aku akan membawa alat medis untuk memeriksanya". Kesal Hery pada Brian.
Memang benar, aku tidak mengatakan apapun tadi, aku hanya bilang untuk segera datang. Lagi-lagi ini semua karena kesalahanku.
"Sebaiknya kau beli obat penurun panas di apotik". Saran Hery.
"Baiklah, kalau begitu kau tunggu disini". Jawab Brian seraya keluar dari dalam kamar.
Saat sudah sampai diluar Brian kemudian teringat sesuatu, ia langsung kembali kedalam kamar.
"Kau ikut denganku !!!". Ajak Brian dari depan pintu.
Hery hanya bisa melongo melihat ulah Brian, sungguh di luar dugaan. Brian mengajak teman untuk menemaninya ke apotik.
"Brian, aku baru sampai, kau pergilah sendiri". Tolak Hery dengan halus.
__ADS_1
"Tidak bisa kau tidak boleh berada di rumahku sementara aku tidak ada disini". Tegas Brian.
Hery kembali dibuat melongo, bukankah sejak dulu dia sering berada di rumah Brian walaupun sang empunya tidak di rumah.
"Apa yang kau katakan, bukankah aku sudah biasa berada di rumahmu". Sahut Hery menjelaskan.
"Tidak bisa, kau tidak bisa disini sekarang, selam Celsi ada di rumahku". Jawab Brian kemudian.
Ayolah, kenapa sekarang kau sangat posesif hanya karena ada seorang wanita di rumahmu.
Akhirnya Hery hanya pasrah, dan mengikuti Brian keluar untuk membeli obat-obatan.
Hery jadi penasaran dengan wanita yang ada dikamar Brian, selama ia mengenal Brian ia belum pernah melihat Brian membawa seorang wanita manapun kerumahnya kecuali adiknya Viola.
Apa sebaiknya aku tanyakan saja?, tapi bagaimana kalau dia tidak menjawab?, secara dia paling anti menjawab pertanyaan yang menurutnya tidak penting. Tapi aku benar-benar penasaran.
"Brian ...". panggil Hery.
Hemmm...
Hanya itu jawaban yang Hery dengar, bahkan Brian sama sekali tidak menoleh padanya.
Hery langsung berkeringat dingin melihat wajah dingin dan datar Brian. Sebaiknya tidak usah, dari pada aku kena semprot nanti lebih baik aku menyimpan pertanyaan ku saja.
"Ah tidak, tidak. Aku tidak ingin mengatakan apa-apa". Jawab Hery dengan gugup.
Brian kemudian kembali fokus untuk menyetir tanpa memperdulikan Hery, ia hanya ingin cepat sampai di rumah, hanya itu saja.
°°°°°
Rasa canggung kini sudah menyelimuti Brian dan Celsi, mereka bahkan tidak pernah memulai pembicaraan apapun. Seperti pada saat ini, mereka makan dalam keadaan diam.
Celsi memang sudah tidak terlalu memikirkan kejadian waktu itu, walau begitu tetap saja ia terus menyalahkan diri sendiri namun sekarang ia mencoba agar bersikap biasa bisa saja.
Brian hanya makan dalam diam tanpa menoleh kearah Celsi walau sedikitpun, ia merasa bersalah pada Celsi. Walau Brian terkenal dengan kekayaannya tapi yang namanya wanita sama sekali belum pernah ia sentuh, sikap dingin dan tegasnya membuat wanita enggan untuk mendekat. Semua orang seakan takut saat melihat tatapan tajam Brian Walau begitu tetap saja ada yang mencoba merayu Brian dengan datang ke kantornya, dan ujung-ujungnya wanita itu akan berakhir ditolak mentah-mentah oleh Brian, jangankan untuk menyentuh meliriknya saja Brian tidak ingin.
Kenapa suasananya jadi begini, aku tidak suka suasana canggung begini. Gerutu Celsi sembari melampiaskan kekesalannya pada makanan yang ada didepannya.
Celsi menyuapkan makannya dengan kasar kedalam mulutnya, bahkan ia mengunyah sembari terus menggerutu di dalam hati.
Cih, sangat menyebalkan. Apa dia tidak bisa berbicara sedikitpun, kalau begini terus bisa-bisa aku membeku disini. Gerutunya terus menerus.
__ADS_1
Brian sama sekali tidak peduli, namun saat dentingan sendok yang beradu dengan piring cukup mengganggu telinganya, barulah dia segera menyudahi makannya dan segera meninggalkan Celsi sendiri dimeja makan.
Setelah Brian pergi lantas Celsi langsung melampiaskan kekesalannya pada makan yang masih banyak di atas meja, ia langsung melahap semua makanan itu tanpa jeda, berharap kekesalannya semakin berkurang.
Sesekali Celsi juga akan menghentakkan kakinya kelantai dan menendang-nendang kecil kursi yang ada didepannya.
Tanpa Celsi sadari dua orang lelaki langsung masuk ke dapur.
"Sepertinya ada kucing yang sedang kelaparan". Ucap salah seorang lelaki itu.
Bruusss... Uhuk...uhuk....
Makanan yang ada di mulut Celsi langsung menyembur keluar saat mendengar ucapan pria itu, bukan hanya itu dadanya langsung terasa sesak dan ia malah langsung terbatuk-batuk karena tersedak makanan sendiri.
Dengan susah payah Celsi meraih gelas yang berisikan minuman dan meneguk langsung air itu.
Kedua pria itu langsung terkekeh melihat tingkah Celsi, mereka tidak menyangka kalau kehadiran mereka mengagetkan Celsi, padahal mereka tidak bermaksud membuat Celsi tersedak, namun ternyata semua diluar dugaan.
Brakkk...
Celsi langsung menggerebek meja makan itu dan langsung berdiri sembari menatap kedua pria itu dengan tajam.
"Beraninya kau mengganggu makan ku. Apa kau tidak bisa. berpikir?, jika aku tersedak sampai mati apa yang akan kau lakukan?, apa kau mau tanggungjawab?". Ucap Celsi dengan emosi.
Kedua pria itu hanya bergidik ngeri melihat aksi galak Celsi, walau mereka tidak mengerti perkataan Celsi karena mengunakan bahasa Indonesia, tapi melihat wajah Celsi mereka tau kalau Celsi pasti sedang marah pada mereka.
.
.
.
.
.
.
Like.
Komen.
__ADS_1
Vote.
Dan tambah ke favorit + rate 5