
"APA KALIAN TIDAK BISA BERKERJA DENGAN BAIK?" ucap Brian dengan sangat marah.
Menghilangnya Celsi membuat Brian semakin frustasi, dirinya seakan sudah gila saat menyadari Celsi yang tidak kunjung ditemukan. Sudah dua hari semenjak menghilangnya Celsi namun mereka semua masih belum menemukan jejak pelakunya. Tapi satu hal yang membuat Brian yakin, kalau pelakunya tidak lain adalah Bily.
"Maafkan kesalahan kami Master" jawab salah seorang anak buah Brian yang ditugaskan mencari Celsi.
ARGGHHHHHH.....,PRANGGGG....
Brian berteriak sembari membanting vas bunga yang ada di atas mejanya. Ingin rasanya dia menghancurkan semuanya, namun dia menyadari kalau itu tidak ada artinya dan tidak akan mengubah kenyataan jika Celsi masih menghilang.
°°°°°
Disebuah tempat yang jauh dari keramaian dan sangat terpencil yang terletak di pegunungan dan dikelilingi oleh pepohonan yang menjulang tinggi terdapat sebuah rumah besar yang terbuat dari kayu namun tidak menghilangkan kesan jika rumah itu merupakan rumah mewah dengan desain yang begitu unik dan sangat menarik.
Rumah yang memiliki 9 kamar tidur lengkap dengan ruang tamu dan dapur. rumah itu terdiri dari dua lantai dan didalam salah satu kamar terdapat seorang wanita tampak sangat mengenaskan dengan kedua tangan yang terikat, wanita itu juga dibiarkan kelaparan.
"Bangunkan dia" pinta salah seorang pria yang tidak lain adalah Billy
Dengan cepat seorang pria dengan tubuh tegapnya langsung mengguyurkan air tepat pada wajah wanita itu.
Celsi terkesiap mendapatkan siraman air yang membasahi wajah dan bajunya. Benar, wanita itu tidak lain adalah Celsi.
"Apa yang kalian inginkan?" tanya Celsi dengan sisa-sisa tenaganya yang masih tersisa
Billy begitu kejam, dia selalu menyiksa Celsi dengan cara mencambuk tubuhnya, bahkan berkali-kali wajahnya ditampar hingga membuat seluruh tubuhnya terasa perih dan sakit. Namun tetap saja Celsi tidak akan tunduk pada Billy.
"Dasar wanita kotor, apa kau tidak sadar kalau nyawamu ada di tanganku? aku bisa saja membunuhmu kapanpun aku mau" jawab Billy dengan marah
__ADS_1
"CUIHHH..., Bahkan setelah membunuhku sekalipun kau tetap tidak akan mendapatkan apa yang kau inginkan" ucap Celsi kembali.
"BRENGSEK.....PRAKKK.... Ingatlah satu hal, kau tidak akan selamat meskipun Brian menemukan tempat ini" ucap Billy dengan terus menampar wajah Celsi.
seketika sudut bibir Celsi kembali mengeluarkan darah segar. Luka yang tadinya saja belum sembuh dan kini dia kembali terluka.
"Cambuk dia, aku ingin Brian melihat wanita kesayangannya mati secara mengenaskan. Aku akan membalas semua perbuatannya, dia begitu kejam menghabisi adikku dan sekarang aku akan membalas dengan menyiksa wanitanya" ucap Billy dengan kilatan kemarahan yang terpancar dikedua bola matanya.
setelah mengatakan hal itu Billy langsung keluar meninggalkan Celsi yang kembali menjerit akibat cambukan yang terus menghantam tubuhnya.
Gaun putih yang menjadi saksi pernikahannya dengan Brian kini juga turut menjadi saksi penyiksaan tubuhnya. Benar, gaun pernikahannya masih melekat ditubuhnya.
Tubuhnya sudah tidak sanggup lagi menahan rasa sakit yang terus menghantam punggungnya dirinya sudah beberapa kali tidak sadarkan diri, namun itu tidak membuat Billy merasa iba bahkan mereka memaksa dia terus tersadar walau sebenarnya matanya seakan tidak sanggup terbuka lagi.
°°°°°
Sementara Arkan berlari dengan sangat terburu-buru setelah berhasil membunuh salah seorang pria, dirinya seakan ingin cepat sampai ketempat tujuan.
Arkan membanting pintu dengan sangat keras sehingga membuat Simon dan Brian langsung berdiri dari tempat duduknya.
"Apa yang kau lakukan Arkan. Kau ingin menghancurkan tempat ini?" ucap Simon dengan marah saat melihat Arkan
Arkan malah tidak peduli dengan ucapan Simon, dia bahkan tidak menoleh pada Simon. Yang ingin dia temui adalah Brian dan tujuannya adalah Brian.
"Aku menemukannya" kata Arkan dengan nafasnya yang masih memburu.
Seketika tubuh Brian langsung menegang mendapat kabar dari Arkan. Akhirnya pengantinnya akan segera berakhir, dia tidak tau apakah dia harus bahagia atau sedih. Namun yang pasti dia merasa sedikit lega dengan kabar yang diberikan oleh Arkan.
__ADS_1
"Siapkan semua pasukan kita. Aku tidak akan menunggu lebih lama lagi dan juga katakan pada Kevin untuk menyiapkan senjata" titah Brian dengan cepat.
Simon dan Arkan langsung mengangguk mengerti dengan perintah Brian, tanpa pikir panjang mereka langsung melakukan tugas masing-masing.
"Baby, aku harap kau baik-baik saja. Bersabarlah sebentar lagi, apapun yang terjadi kau harus menungguku, aku akan datang dan membawamu dari neraka itu" gumam Brian seraya membayangkan Celsi yang tersenyum tulus padanya.
Bahkan mereka belum sempat menikmati indahnya pernikahan mereka, kini musibah menimpa keduanya. Yang pasti Brian tidak akan membiarkan musuhnya kali ini, kilatan kemarahan dan kebencian sudah terpancar jelas dikedua bola mata Brian.
Brian berjalan dengan langkah yang menggema disepanjang lorong panjang hingga sampai dihadapan sebuah pintu besar dengan warna hitam.
Kreeeekkk.....
Pintu hitam itu dibuka dengan sangat lebar oleh Kevin dan tidak lama setelah itu Brian memasuki ruangan mewah itu diikuti oleh Arkan, Simon dan Kevin dari arah belakang. Brian menuju sebuah lemari buku yang dibelakangnya tersembunyi sebuah ruangan tempat penyimpanan senjata yang hanya akan digunakan saat melakukan peperangan besar dan hari ini pintu itu kembali dibuka setelah sekian lama.
"Lakukan dengan cepat. Aku ingin kita segera pergi" titah Brian kembali pada Kevin dan yang lainnya
Kevin langsung mengambil senjata yang sekiranya mereka butuhkan dan tidak lupa Brian juga mengambil senjata untuk dia gunakan nanti.
"Master, tuan Vino ingin ikut bersama kita" ucap Kevin tiba-tiba
"Katakan padanya untuk mengutamakan keselamatan Vio terlebih dahulu, jika semuanya sudah siap dia boleh ikut" jawab Brian dengan cepat.
Benar Brian tidak akan membiarkan Vino ikut bertempur jika Vio belum ada yang menjaga, oleh sebab itu Vino sebagai saudara kembar Vio yang akan menjaga saudari kembarnya, namun saat Vino tidak ada maka Vino harus menjaga Vio dengan mengirimkan bodyguard yang siap selama 24 jam.
Setelah beberapa saat kini mereka mulai memasuki mobil masing-masing, pertempuran besar akan terjadi dan tentunya akan memakan korban baik itu dari pihak lawan maupun kawan. karena itu Brian mempersiapkan senjata yang tepat pada setiap pasukannya, tentunya mereka yang ikut juga merupakan orang-orang terpilih yang sudah memiliki kemampuan lebih dan bisa bertempur dan tidak hanya mengandalkan keberanian tapi juga kemampuan dan pengetahuan.
"Tim satu dan dua akan ikut bersamaku" ucap Simon pada ketua Tim satu dan dua dari alat komunikasi yang sudah melekat ditelinga masing-masing.
__ADS_1
"Siap tuan" balas kedua ketua tim tersebut.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh kini akhirnya mereka sampai diperbatasan pegunungan tempat persembunyian Billy, memang tidak mudah untuk memasuki kawasan musuh, oleh karena itu mereka berhenti dan mulai mengatur strategi karena menurut Brian musuh pasti sudah menyebar di seluruh penjuru hutan itu.