Hero In The Shadows (Pahlawan Dalam Bayangan)

Hero In The Shadows (Pahlawan Dalam Bayangan)
Episode 55


__ADS_3

Mata Brian hanya tertuju pada satu objek yaitu menatap tubuh Celsi yang terlihat tidak berdaya. Matanya menjadi terasa panas seketika dan tangannya mengepal dengan gemetar, entah apa yang sudah dilalui oleh Celsi yang pasti dia tidak akan pernah mengampuni Billy.


Dengan langkah pelan dan hampir tidak percaya Brian melangkah mendekati Celsi. Perlahan tangannya menyentuh wajah Celsi yang tampak membengkak, ia juga merapikan anak rambut Celsi yang sedikit menutupi wajahnya. Tangannya gemetar saat mengusap wajah yang tak sadarkan diri itu, matanya semakin terasa berkabut.


Ini tidak mungkin, Brian seakan membantah semua yang ia lihat. Keadaan Celsi benar-benar buruk, tangan Celsi yang terikat membuat diri Brian seakan tidak berguna. Dia tidak mampu melindungi istrinya sendiri. Suami macam apa dirinya?.


Keadaan ini menjadi sebuah pukulan besar untuk Brian dan dia tidak terima dengan itu semua. Wajahnya semakin emosi dengan mata yang semakin menyala dia tidak akan mengampuni Billy. Berani sekali Billy menyentuh miliknya.


"Kau tidak akan mati dengan mudah, aku akan membalaskan setiap luka yang kau berikan kepada istriku" dan nas suara tembakan melesat dengan cepat mengenai tangan kanan Billy.


dor...dor...


kembali tembakan terdengar memenuhi ruangan itu dan kali ini bukan Brian yang menembak melainkan Arkan yang langsung menghabisi Alan.


Tubuh Billy mundur beberapa langkah kebelakang, pistol yang dia pegang langsung terjatuh begitu saja.


"AKU TIDAK AKAN MENGAMPUNI MU BILLY....." dan lagi-lagi Brian menembak kaki Billy.


Billy langsung terjatuh dengan berteriak menahan rasa sakit yang luar biasa. Matanya menatap mata tajam milik Brian, bagaimanapun caranya dia harus membalaskan dendam adiknya.


Tangan kirinya terulur untuk mengambil pistol yang terjatuh namun lagi-lagi Brian kembali menembak tangan itu membuat Billy benar-benar tidak berdaya dan merasa terpojok.


"Apa yang ingin kau lakukan? membunuhku?" Brian tersenyum jahat pada Billy.


"Aku bersumpah, kau tidak akan ku lepaskan" ucap Billy dengan penuh kebencian


Brian berdecak kesal mendengar ucapan Billy, dia tidak akan biarkan nafas Billy menghirup udara lagi. Akan dia pastikan Billy benar-benar mati dengan sangat mengenaskan.


Mata Brian kembali menemukan suatu benda yang membuat darahnya semakin mendidih, air matanya keluar begitu saja. Ia yakin kalau istrinya pasti dicambuk dengan benda itu dan dia berjanji akan membuat Billy merasakan apa yang Celsi rasakan.


Brian langsung mengambil cambuk yang tergeletak di samping Celsi dan mulai mendekati Billy dengan menggenggam cambuk itu dengan sangat erat.

__ADS_1


"Aaapa yang ingin kauu lakukan? " tanya Billy dengan sedik terbata-bata. Tubuhnya gemetar saat melihat Brian mengangkat cambuk itu semakin tinggi.


argghhhhh.....


Itu benar-benar sakit, Brian mencambuknya dengan sangat kuat, rasanya punggungnya seperti terbakar.


"Inilah balasan dengan apa yang telah kau perbuat" lagi-lagi Brian mencambuknya.


"Apa yang telah kau perbuat pada istriku?. Dasar bajingan"


Billy sungguh tidak bisa menahannya lagi, tubuhnya tidak bisa menhan rasa sakit yang semakin bertambah saat Brian terus-menerus mencabutnya. Penyesalan, dia benar-benar menyesal telah melakukan itu semua.


"Buunuh aku" pinta Billy dengan lemah


"Tentu, tanpa kau meminta aku akan melakukannya" Brian semakin memperkuat cambuknya. Ia tidak akan membiarkan Billy mati dengan begitu mudah.


"Cambuk dia sampai mati" titah Brian pada Arkan yang sejak tadi hanya menyaksikan pertunjukannya.


Arkan langsung mengangguk dan mengambil alih cambuk yang ada ditangan Brian.


Brian membawa Celsi kedalam pelukannya berharap Celsi membuka matanya.


"Tidak, aku mohon Beby bukalah matamu" Brian mengecup kedua mata Celsi dengan perasaan hancur.


Dengan cepat Brian mengangkat tubuh Celsi yang tampak tidak berdaya lagi. Dia harus segera membawanya kerumah sakit. Jika terjadi sesuatu pada Celsi dia tidak akan bisa hidup lagi.


"SIAPKAN MOBIL, CEPATTT...." teriak Brian ketika sudah sampai di depan rumah itu.


Dengan terburu-buru Kevin langsung berlari dan membukakan pintu mobil bagian belakang untuk Brian.


"Aku mohon bertahanlah" pinta Brian dengan suara yang begitu pilu.

__ADS_1


Kevin memacu kendaraannya dengan tinggi hingga tidak beberapa lama kemudian mereka sampai di rumah sakit terdekat.


"DOKTER, DOKTER tolong selamatkan istriku" pinta Brian dengan semakin putus asa.


Brian tidak bisa tenang saat dokter tidak kunjung memberinya kabar. Terlihat beberapa perawat terus keluar masuk dengan panik dan itu membuat Brian semakin tidak tenang.


Keluarga Brian tampak terburu-buru untuk melihat keadaan Celsi, setelah mendapat kabar dari Kevin mereka langsung menuju rumah sakit.


"Brian...." panggil ibunya dengan lembut


Brian hanya melihat dengan putus asa dan dia kembali menunduk dengan perasaan hancur dia tidak tau apakah Celsi bisa ditolong. Tidak dia harus yakin kalau Celsi akan baik-baik saja.


Enjel langsung memeluk putranya dengan erat, dia tau Brian tidak sanggup menahan ini semua. Ibu mana yang akan sanggup melihat anaknya hancur.


Brian hanya bisa menangis, dia tidak bisa mengatakan apapun saat ini, perasannya benar-benar kacau dia hanya terus memikirkan Celsi yang ada didalam sana.


Enjel terus mengelus punggung Brian berharap Brian bisa sedikit tenang, dia tau pasti sangat sulit untuk Brian menerima ini semua.


Sementara Ana hanya bisa terduduk lemas saat mengetahui keadaan Celsi. Dia tidak tau permainan apa yang sedang mereka hadapi, air matanya terus mengalir tak henti-hentinya. Celsi adalah orang baik tapi kenapa keadaan seperti ini harus menimpanya.


"Dia tidak boleh pergi, aku tidak mengijinkannya" rancu Brian dalam dekapan ibunya.


Ibunya hanya bisa ikut menangis mendengar Brian begitu putus asa. Hatinya terasa hancur mendengar suara yang begitu pilu dari Brian.


"Percayalah Celsi akan baik-baik saja" ucap Enjel menenangkan Brian.


Rasanya dunia begitu kejam bagi Brian, dia bahkan baru menikah dua hari yang lalu, tapi semua terasa hancur sekarang. Istrinya terbaring antara hidup dan mati didalam sana, bahkan dia sebagai suami tidak bisa berbuat apa-apa.


Brian kembali menatap pintu yang tidak kunjung terbuka. Hari ini dia benar-benar sangat takut, takut saat Celsi tidak membuka matanya lagi. Dunianya sekarang hancur begitu saja.


"Aku mohon kau harus bertahan. Aku percaya kau bisa melewati ini semua Celsi" rancu Brian terus-menerus.

__ADS_1


Tidak lama dokter keluar dengan wajah tampak sangat menyesal. Dia bahkan hanya terdiam menatap Brian. Sebenarnya dia tidak ingin mengabarkan duka kepada brian, tapi bagaimanapun dia harus melakukannya.


Dokter tampak menggeleng dengan menatap Brian penuh iba. Dan seketika Brian langsung terduduk dengan wajah pucat. Ini tidak mungkin, rasanya dia tidak percaya ini semua.


__ADS_2