
Hampir 30 menit Brian terus berbicara dengan Celsi yang selalu setia didalam dekapannya. Ungkapan cinta selalu dia ucapkan dengan harapan Celsi bisa mengerti dan memahaminya.
"Aku tidak tau dengan perasaanku yang sebenarnya. Tapi, setiap kali berada di dekatmu aku menjadi nyaman dan senang. Hidupku terasa lebih berwarna saat ada dirimu" dengan penuh perasaan Brian mencoba mengungkapkan perasaannya saat ini.
"Celsi, aku ingin memilikimu seutuhnya, aku tidak ingin kehilanganmu. Aku menyayangimu Celsi" kata-kata yang manis.
Cukup lama Brian menanti respon dari Celsi. Tapi hasilnya nihil, Celsi tidak mengatakan apapun hanya kediaman dan keheningan yang Brian rasakan.
Apa Celsi menolak ku? apa aku sudah keterlaluan karena dengan tiba-tiba mengungkapkan perasaanku?. Kenapa Celsi hanya diam saja? aku rasa aku memang ditolak.
Dengan perasaan kecewa akhirnya Brian melepas pelukannya terhadap Celsi. Begitu dia mengangkat tangannya deru nafas Celsi langsung terdengar jelas ditelinga Brian.
Sejak kapan dia tertidur? apa dia samasekali tidak mendengar semua perkataan ku?. Menyebalkan, ternyata sejak tadi aku mengoceh sendiri.
Celsi yang merasa nyaman dalam dekapan Brian membuat matanya terasa berat dan akhirnya tertidur dengan wajahnya yang dibenamkan didalam dada bidang Brian.
Cantik dan terlihat sangat polos. Brian tersenyum lembut saat melihat wajah Celsi yang terlihat tenang disampingnya.
"Entah kau mendengar semua ucapan ku atau tidak, yang pasti aku benar-benar sudah jatuh hati padamu. Hanya karena ulah mu membuat hari-hariku lebih berwarna. Celotehan mu yang selalu membuatku kesal sekarang berubah menjadi kerinduan dalam diriku saat aku tidak melihatmu"
Brian mengecup kedua pipi dan pucuk kepala Celsi dengan lembut sebelum dia ikut terlelap di samping Celsi.
°°°°°
"Ana, bagaimana keadaanmu? apa kau sudah lebih baik?" tanya Celsi saat dia melihat Ana yang berjalan menuju arahnya.
Ana lantas langsung mengambil posisi duduk didekat Celsi yang terus sibuk bergulat dengan pisau dan sayur sejak tadi.
"Jauh lebih baik, kau lihat sendiri" sahut Ana seraya memperlihatkan tubuhnya yang sudah tidak kenapa-napa.
Celsi langsung tersenyum dan kembali sibuk dengan kegiatannya untuk membuat sarapan.
"Terimakasih Celsi, kau telah menyelamatkanku" tutur Ana dengan sendu tapi masih terdengar ditelinga Celsi.
Spontan Celsi langsung menghentikan kegiatannya dan beralih menatap sahabatnya.
"Jangan katakan itu. Ini semua salahku, karena ku kau menjadi sasaran mereka. Aku benar-benar menyesal karena melibatkan mu dengan semua ini" sesal Celsi, terlihat jelas kalau matanya sudah memerah menahan air matanya agar tidak tumpah.
__ADS_1
Celsi sudah mengetahui semuanya dari Brian. Dia tau sekarang nyawanya dalam bahaya, awalannya dia menyangkal semua yang diucapkan Brian. Tapi kemudian akhirnya dia percaya, lagipula ini semua salahnya. Jika saja dia tidak sok kenal dengan Brian waktu itu, mungkin saat ini dia masih baik-baik saja dan Ana tidak akan mengalami hal buruk itu.
"Sheeett... Jangan katakan itu. Kita tidak tau semua akan seperti ini. Lagipula kita tidak bisa memprediksi kapan masalah itu akan datang, yang bisa kita lakukan sekarang hanya menjalaninya saja. Ikhlas, kita harus ikhlas menjalani semua ini" tutur Ana menenangkan Celsi. Dia tau betul kalau Celsi pasti menyalahkan dirinya sendiri saat ini.
Celsi tak kuasa menahan air matanya lagi. Kata-kata Ana membuat dirinya merasa terharu, hati Ana benar-benar baik dan tulus dia bersyukur karena telah dipertemukan dengan Ana.
"Aku menyayangimu Ana..." gumam Celsi seraya berlari kedalam pelukan Ana.
"Aku tau. Bukankah kita saudara, sebagai saudara kita harus saling mendukung bukan?"
Celsi tertawa haru didalam pelukan Ana. Rasa senangnya sudah tidak bisa dia gambarkan sekarang ini.
"Kakak ipar, aku juga ingin dipeluk" Ucap Vio yang tiba-tiba datang dari arah pintu depan.
Seketika Celsi langsung melepas pelukan mereka dan beralih menatap Vio dan Vino yang baru saja datang.
"Vio, berapa kali harus aku katakan. Jangan memanggilku kakak ipar" protes Celsi tidak terima.
Vio hanya terkekeh sembari mendekati Celsi dan memeluknya.
"Baiklah, baiklah, maaf. Tapi aku sangat senang kalau kau benar-benar akan menjadi kakak ipar ku" goda Vio kembali. Sepertinya dia belum puas melihat Celsi kesal.
"Siapa bilang? sejak semalam kau sudah menjadi pacarku"
Sontak saja Celsi dan yang lainnya langsung menoleh saat mendengar suara serak khas milik Brian. Brian dengan santainya berjalan menuju arah Celsi.
Cup...
Tanpa pikir panjang, Brian langsung mengecup pucuk kepala Celsi dengan lembut.
mendapat ciuman mendadak dari Brian membuat jantung Celsi berdegup kencang. Gugup, itu sudah pasti dan jangan ditanya dengan wajahnya. Pasti kedua pipinya sudah bersemu merah seperti udang rebus.
Ana hanya terpaku ditempatnya melihat kejadian itu. Tapi tidak dengan Vio, ia langsung tersenyum penuh kemenangan saat kakaknya sudah bertindak sejauh ini.
"Kenapa belum ada makanan, aku sudah lapar" suara Simon yang tiba-tiba datang langsung memecah keheningan yang terjadi.
"Cih, kau merusak suasana saja" keluh Brian dengan menatap Simon kesal.
__ADS_1
Simon, Arkan, Hery dan Kevin memang menginap di rumah Brian. Maklum mereka memang sesuka hati masuk dan keluar dari rumah Brian.
"Hey, dimana makanannya?. Aku pikir sudah ada" kali ini Arkan yang datang dengan memakai kaus santainya berjalan beriringan dengan Kevin.
Brian berdecak sebal melihat tingkah teman-temannya. Mereka pikir ini rumah siapa? mereka berperilaku seolah-olah ini rumah mereka sendiri.
"Jika ingin makan masak sendiri sana" usir Brian dengan jengkel.
Celsi terkekeh pelan melihat Brian yang kesal akibat temannya sendiri. Wajah Brian yang tiba-tiba berubah masam membuat mukanya menjadi sedikit lucu dan imut.
"Tenang, aku sudah masak banyak. Hanya tinggal menunggu sayurnya matang saja" timpal Celsi dengan memperlihatkan beberapa masakannya yang kini sedang ditata oleh pelayan. Sementara masakannya yang tertunda sudah dilanjutkan oleh pelayan yang sejak tadi membantu Celsi di dapur.
Mereka semua kini sudah duduk dimeja makan dengan berbagai hidangan yang sudah tersaji di sana.
"Sayang, mulai sekarang jika kau ingin pergi keluar harus mengajakku" ucap Brian tiba-tiba pada Celsi.
Simon, Arkan dan Hery langsung tersedak makan mereka sendiri mendengar ucapan Brian yang tiba-tiba, buru-buru mereka langsung meneguk air yang ada dihadapan mereka.
"KALIAN SUDAH JADIAN?" tanya ketiganya dengan serentak.
Sontak saja acara makan itu langsung berhenti dan menatap mereka bertiga dengan kesal.
Wajah Celsi langsung merona mendengar ucapan Brian dan ketiga teman Brian. Aishhh..., memalukan sekali. Kenapa juga Brian memanggilku dengan sebutan sayang? arrgghhh, mau di taro dimana murkaku?
Brian hanya menatap ketiga temannya dengan kesal. Ingin rasanya dia menendang ketiganya keluar dari rumahnya saat ini.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Halo semua, ummi kembali lagi nih. Seperti biasa jangan lupa like, vote, komen + favorit ya...