Hero In The Shadows (Pahlawan Dalam Bayangan)

Hero In The Shadows (Pahlawan Dalam Bayangan)
Episode 24


__ADS_3

"Kak Brian, apa pertunjukannya sudah selesai?". Tanya Vio langsung saat melihat Brian datang dari arah kamar.


"Apa maksudmu?". Tanya Brian dengan menatap Viola tajam.


"Kakak stop, kakak tidak bisa menakuti aku dengan tatapan tajam mu lagi, aku tau kalau kakak sudah kalah dari kakak ipar". Sahut Vio dengan menatap Brian nalar.


Apa?. Kenapa mereka bisa tau?, jika begini mau diletakan dimana mukaku?. Sungguh memalukan.


"Aku heran, kenapa kak Brian sampai kalah dari Celsi !!. Apa Celsi memiliki jurus yang ampuh untuk membuat kak Brian langsung tertunduk?". Ucap Vino ikut menimpali perkataan Vio.


Heleh..., ini bukan dunia fantasi yang memiliki sejuta jurus untuk melumpuhkan lawannya. Lagian Lo pikir ini tahun berapa?.


"Siapa yang kalah, aku tidak kalah". Sela Brian dengan gugup. Sungguh dia sangat malu karena ketahuan kalah dari seorang wanita biasa.


"Ayolah kak, kau bisa menipu kak Kevin, tapi tidak dengan kami. Jika bukan karena kalah, lalu kenapa kakak keluar dari dalam kamar dengan keadaan acak-acakan seperti ini?". Tutur Vio seraya melirik penampilan kakaknya yang terlihat kacau.


Tentu saja, bukannya Brian sedang tidur tadi?, dan tiba-tiba saja Celsi datang tanpa diundang sehingga membuat tidurnya langsung terganggu. Dan melihat kemarahan Celsi yang sudah meledak bagaimana dia bisa sempat merapikan penampilan? yang ada dia ingin buru-buru lepas dari amukan singa betina saat ini.


"Hentikan...!!!". Ucap Brian langsung.


Sementara Kevin sejak tadi hanya diam dan terus mendengarkan obrolan Brian dan kedua adiknya, sekarang ia sudah tau maksud dari perkataan Vio dan Vino. Ia sudah bisa menebak kalau Brian pasti kalah dari Celsi, secara Celsi memiliki sejuta kalimat untuk membuat musuhnya menyerah.


"Sebaiknya kalian bantu aku sekarang !!!". Ucap Brian dengan menatap ketiga orang yang sedang dihadapannya saat ini.


"Apa...?, apa aku tidak salah dengar?. Seorang Brian meminta bantuan kepada kita". Tanya Vino dengan menatap kakaknya remeh.


"Vino.....". Teriak Brian dengan kencang.


Vino terkesiap mendengar teriakan Brian, ia pikir suara Brian sudah tidak terlalu menakutkan lagi setelah dikalahkan oleh Celsi, ternyata dugaannya salah, walau sudah kalah tetap saja Brian sangat menakutkan.


"Kak Brian maaf, aku hanya bercanda". Sahut Vino dengan gugup.


Sekarang ia menyesali telah berani mengusik ketenangan kakaknya, sungguh sangat menyeramkan jika melihat Brian yang tengah sedang mengamuk.


Vio yang melihat kejadian itu merasa kasihan dengan saudara kembarnya, ia kemudian langsung berinisiatif membantu Vino agar keluar dari kemarahan Brian.

__ADS_1


"Bantuan apa yang kakak inginkan?". Tanya Vio mencoba mengalihkan topik.


Seketika Brian langsung menatap Vio, sejenak ia sudah melupakan kemarahannya pada Vino.


Brian ingin mengatakan maksudnya tapi kemudian ia tidak tau harus memulai dari mana.


"Aku tidak tau harus mengatakan apa". Sahut Brian dengan datar.


"Yang jelas kalian harus membantuku membujuk wanita aneh itu, aku takut dia melakukan sesuatu yang berbahaya". Lanjut Brian kembali mengatakan kekhawatirannya.


"Memangnya apa yang dilakukan Celsi?". Tanya Vio kembali.


"Mana aku tau, yang jelas saat ini wanita aneh itu mengurung diri didalam kamar". Jawab Brian seadanya.


Jujur saja, dia memang tidak tau apa yang dilakukan Celsi saat ini, secara dia ada bersama mereka sekarang.


"Kak Brian, bagaimana kami bisa bantu, sementara kakak sendiri belum mengatakan tujuan kakak membawa Celsi". Sahut Vino.


Brian kemudian langsung menghela nafas panjang. Ia sampai lupa kalau kedua adiknya tidak tau akar permasalahan sehingga membuat Celsi harus terjebak bersama mereka.


Ayolah kak, bagaimana kami bisa mengerti, sementara kakak tidak mengatakannya dengan jelas?. Aku rasa, aku memang harus bersabar menghadapi sifat kakakku yang kelewat dingin dan datar ditambah sikapnya yang tidak pernah peka terhadap keadaan.


"Master, apa tidak sebaiknya kita biarkan nona Celsi sendiri dulu?". Tanya Kevin kemudian.


Sedari tadi Kevin hanya diam, dan mendengarkan setiap percakapan antara Brian dan kedua adiknya, dan sekarang saatnya ia memberi saran.


"Kevin....". Bentak Brian.


"Apa sejak tadi kau tidak menyimak perkataan ku?". Tanya Brian memastikan. Bahkan Brian menatap Kevin dengan sangat tajam.


Secara Brian sudah mengatakan kalau dia khawatir jika Celsi melakukan sesuatu hal yang tidak diduga nanti, apalagi dia mengurung diri didalam kamar.


"Master, maafkan aku". Tunduk Kevin kemudian.


Kevin apa yang kau lakukan?, sekarang kau malah terkena amukan tuhanmu. Huh, kau pasti telah mengatakan sesuatu yang tidak berguna, sudahlah, sekarang lebih baik kau terima nasib saja.

__ADS_1


Brian kemudian langsung bangkit berdiri diikuti oleh kedua adiknya dan juga Kevin, mereka langsung berjalan menuju kamar Brian dimana tempat Celsi saat ini.


"Kak, sungguh aku tidak tau harus mengatakan apa". Sahut Vio seraya menatap kakaknya dengan wajah yang terlihat cemas.


Vio sih wajar saja cemas, secara tadi Celsi langsung naik pitam saat membangunkannya dan sekarang dia kembali berhadapan dengan Celsi. Sepertinya dia memang harus menyiapkan mental jika melihat Celsi mengamuk kembali.


"Kak, jika sampai Celsi mencincang masa depanku, maka aku tidak akan pernah memaafkan kakak". Kali ini Vino yang terlihat ketakutan.


"Dasar payah, aku mengajak kalian kesini untuk m menantuku, bukan malah menambah masalahku". Bentak Brian dengan menatap kedua adiknya dengan tajam.


"Maaf kak". Ucap keduanya langsung.


Sekarang mereka bertiga malah tidak ada yang berani untuk mengetuk pintu, saat Brian meminta Vio, malah Vio melempar pada Vino, dan Vino melempar pada Kevin.


Hah, apa mungkin mereka harus melakukan suit dulu supaya ada yang mengetuk pintu.


"Apa pintunya benar-benar dikunci?". Tanya Vio kemudian.


"Tentu saja. tadi Celsi mendorongku dengan sangat kencang, lalu langsung menutup pintu, dan aku yakin dia pasti menguncinya". Jawab Brian dengan yakin.


Vio langsung mengangguk, melihat tidak ada yang berani mengetuk akhirat dia sendirilah yang harus mengalah.


Sebelum mengetuk Vio terlebih dahulu memeriksa apakah benar pintunya dikunci atau tidak.


Dan ternyata pintunya tidak terkunci, melihat pintu yang bisa terbuka, mereka berempat langsung saling pandang. Ternyata dugaan mereka salah, Celsi malah tidak mengunci pintu.


Dengan pelan Vio Kemudian mendorong pintu itu, dan mencoba mengintip sedikit demi sedikit ruangan itu.


Semuanya terlihat baik-baik saja, aku rasa tidak ada yang perlu di khawatirkan.


Mereka berempat kemudian membuka pintu lebih besar kembali, sehingga mereka bisa melihat dengan jelas isi ruangan itu.


Saat melihat pintu terbuka, sontak saja mata mereka langsung tertuju pada satu objek yang membuat mereka sangat khawatir.


Mereka berempat hanya bisa saling pandang dengan mulut masing-masing yang saling menganga.

__ADS_1


like dan komen ya...


__ADS_2