
Celsi bergegas membuka pintu saat mendengar suara bel berbunyi sejak tadi. Entah kenapa dia sedikit kesal karena harus meninggalkan masakannya di dapur hanya untuk membuka pintu, sebenarnya ini salahnya sendiri karena mengusir semua pelayan dan menyuruh mereka semua kebelakang sehingga dia sendiri yang harus membuka pintu.
Bukan tanpa alasan Celsi mengusir semua pelayan, itu dia lakukan karena merasa bosan harus dilayani seperti seorang putri setiap hari. Ini dan itu selalu dikerjakan oleh pelayan dan itu membuat dirinya dirundung kebosanan. Dan sekarang lihatlah akibat ulahnya dia harus meninggalkan masakannya hanya untuk membuka pintu.
Kreeekkkk..... Dengan pelan Celsi membuka pintu hingga menampakkan seorang lelaki paruh baya yang terlihat jelas sangat berwibawa dan seorang wanita paruh baya yang sangat elegan dan cantik.
Wanita itu tersenyum lembut kala melihat Celsi berdiri dihadapannya. Cantik dan manis, itulah yang ia lihat saat ini.
"Ada yang bisa saya bantu nyonya?" tanya Celsi dengan sopan pada kedua orang itu.
Enjel dan Fikram tidak menjawab pertanyaan Celsi melainkan mereka berdua langsung menyelonong masuk kedalam rumah sehingga membuat Celsi sedikit melongo dan bingung. Walau bagaimanapun terlihat jelas kalau mereka seperti mengenal rumah itu dengan sangat baik dan dia dapat mengambil kesimpulan kalau mereka pasti kerabat Brian.
"Dimana anak itu? apa dia tidak di rumah?" tanya Enjel sembari mendaratkan bokongnya di atas sofa.
"Hah... Anak?" gumam Celsi.
"Anak siapa yang nyonya maksud? disini tidak anak-anak, yang ada hanya orang dewasa"
Enjel tersenyum mendengar jawaban Celsi, padahal anak yang dia maksud adalah putranya sendiri Brian. Tapi ternyata dia lupa kalau Celsi belum mengenal dirinya dan suaminya.
"Apa kamu ......" perkataan Enjel langsung terhenti saat Celsi memotong ucapannya.
"Tidak nyonya, saya tidak menyembunyikan anak kecil disini !!! nyonya saya mohon percayalah. Saya masih singel dan belum menikah saya masih sangat polos untuk memiliki anak" ucap Celsi terus menerus.
"Nyonya, ini semua salah si bodoh itu. Kalau saja dia tidak membawa saya kemari, saya tidak akan tinggal di rumah ini. Saya mohon nyonya jangan marahi saya. Saya tidak bersalah"
Enjel dan Fikram mengernyit heran mendengar ucapan Celsi yang sembrono. Memangnya apa yang Celsi pikirkan? jangan bilang kalau Celsi berpikir mereka datang untuk mengusirnya.
Dan apa yang dia bilang? anak kecil?. Oh ayolah, bahkan mereka tidak mengatakan apapun tadi.
"Mommy, Dady" sapa Brian saat menuruni anak tangga sembari menggulung lengan bajunya yang panjang.
"What??? mommy Dady" Celsi menutup mulutnya saat mendengar ucapan Brian, dia kemudian melihat Enjel dan Fikram secara bergantian.
Astaga..., apa yang sudah aku katakan tadi? aku pikir mereka kerabat Brian yang datang melabrak ku karena tinggal dirumahnya!!! aishhhh.... memalukan. Bahkan aku mengatakan tentang anak kecil. Ini semua karena mulutku yang tidak bisa dikontrol.
Enjel dan Fikram langsung menoleh saat mendengar suara Brian. sementara Celsi langsung menunduk malu dan mundur kebelakang secara perlahan-lahan, berharap mereka tidak menyadari kehadirannya.
"Astaga mom, kenapa tidak bilang kalau kalian datang kemari?" gerutu Brian seraya memeluk orang tuanya secara bergantian.
__ADS_1
Pletak....... Fikram langsung menyentil kening Brian dengan sedikit keras.
Auhhhgg.......
"Apa orang tua sendiri harus ijin dulu untuk datang ke rumah anaknya?" tanya Fikram dengan sedikit kesal.
"Aishhh...., sepertinya aku sudah salah bicara" gerutu Brian.
"Sudah-sudah, kalian ini selalu saja berdebat" sela Enjel.
"Baby kau mau kemana?" tanya Brian ketika melihat Celsi sudah sedikit jauh dari mereka.
Celsi sedikit tersentak mendengar suara Brian dia hanya bisa cengengesan dengan gugup.
"Itu....., ma...., masakan ku gosong. Iya, aku mau ke dapur" ucap Celsi dengan gugup lalu kemudian langsung berlari terbirit-birit ke dapur.
Brian hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Celsi yang seperti anak kecil. Dia kemudian langsung mengajak kedua orang tuanya untuk duduk dengan diiringi mengobrol kecil tentang keseharian masing-masing.
Enjel juga bertanya tentang Celsi dan dengan antusias Brian menceritakan semua yang dia ketahui tentang Celsi termasuk sikap kekanak-kanakan Celsi dan tidak lupa bakat aktingnya. Itu semua sukses membuat tawa orang tuanya pecah karena menurut mereka Celsi sedikit menggemaskan.
"Dady tidak menyangka kalau gadis yang menyelamatkanmu sangat cerewet" sela Fikram kemudian.
"Iya iya, terserah. Tapi dia terlihat cantik dan masih sangat polos. Apalagi tadi dia langsung minta maaf saat mommy mu menanyakan mu" sahut Fikram.
"Maksud Dady? memangnya apa yang Celsi katakan tadi?" tanya Brian penasaran.
Enjel kemudian menceritakan saat Celsi meminta maaf dan mengatakan hal-hal aneh yang sama sekali mereka tidak ketahui.
"Astaga, wanita itu..." gerutu Brian tidak habis pikir dengan jalan pikiran Celsi.
"Sudahlah jangan marahi dia. Mommy suka sifatnya yang seperti itu" ucap Enjel.
"Siapa yang ingin memarahinya? aku tidak akan sanggup memarahinya walau hanya sedikit" sahut Brian.
Enjel dan Fikram langsung saling pandang dan kemudian melempar senyum. Mereka yakin kalau sekarang putranya menyukai Celsi.
Disisi lain Celsi menggerutu sendiri, Bahakan mulutnya terus komat-kamit sejak tadi karena merasa kesal pada dirinya sendiri.
"Dasar mulut ember..., apa tidak bisa disaring dulu saat berbicara? Jika saja ada lautan, aku memilih lebih baik mengamankan diri daripada menahan malu.... Arggghhh...".
__ADS_1
Syyeeeettt..... Arggghhhh....
Celsi langsung meringis saat jarinya terkena pisau dan mengeluarkan banyak darah. Inilah akibatnya kalau terus menggerutu saat memasak.
Tes....tes..... Celsi mulai merasakan perih dijari telunjuknya sebelah kiri karena lukanya cukup dalam dan menyebabkan darahnya menetes kelantai.
"Nona....tangan nada..." ucap salah seorang pelayan yang baru saja datang.
"Astaga, darahnya sangat banyak" ucapannya lagi saat melihat darah berceceran di lantai.
Pelayan itu mulai panik dan lari keluar menghampiri Brian. Dia langsung mengatakan kalau Celsi terluka di dapur dan itu membuat orang tua Brian dan Brian sendiri menjadi panik.
"Baby, kenapa bisa seperti ini" panik Brian dengan buru-buru mengambil kotak obat.
Brian langsung menuntun Celsi untuk duduk dan dia segera membersihkan luka Celsi yang terus mengeluarkan darah.
"Kau ini. Apa kau tidak bisa hati-hati? mulai sekarang kau tidak boleh ke dapur, aku tidak ingin kejadian ini terulang lagi" ucap Brian dengan marah.
Mendengar itu Celsi langsung meneteskan air mata, entah apa yang membuatnya menangis dia sendiri malah tidak tau.
Setelah selesai Brian menatap Celsi, dia sangat terkejut mendapati Celsi menangis. Apa kata-kata terlalu kasar? seharusnya dia tidak memarahi Celsi tadi.
"Baby, maaf. Apa lukanya masih sangat sakit?" tanya Brian dengan lembut.
Celsi langsung menggeleng dan tatap mengeluarkan air mata sehingga membuat Brian semakin merasa bersalah.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Halo semuanya.... maaf ya, ummi baru up sekarang. Ummi harap kalian masih setia dengan karya ummi, dan tetap dukung ummi.