
Dengan perasaan yang masih kacau kini Brian kembali melajukan mobilnya menuju rumah sakit tempat Celsi dirawat. Sementara itu dia sudah meminta agar Kevin segera terbang ke Indonesia, tentu itu semua untuk menyelamatkan teman Celsi yang bernama Ana.
Brian memang sudah mengetahui perihal Raka yang mendapatkan informasi tentang Celsi melalui Ana, Dan itu semua terjadi saat Raka dengan tidak sengaja melihat Celsi mengobrol dengan akrab bersama Ana di supermarket tempat mereka bekerja. Tentunya saat dia meminta anak buahnya menangkap Celsi saat itu.
Kreekkk.... Dengan pelan Brian mendorong pintu kamar inap Celsi.
Dengan jelas Brian dapat melihat delapan pasang mata langsung tertuju padanya. Brian samasekali tidak peduli dengan tatapan teman-temannya dia memilih langsung duduk disalah satu kursi tepatnya di samping Celsi.
"Bagaimana keadaanmu? apa semua baik-baik saja?" tanya Brian seraya membenarkan posisi duduknya.
"Ya, aku baik-baik saja !!!" sahut Celsi dengan menatap heran pada Brian.
Bukannya tadi dia marah padaku? tapi kenapa sekarang dia begitu lembut?, dan lihatlah keadaanya sedikit kacau.
Celsi akhirnya menepis semua tanda tanya yang kini bersarang di kepalanya. Lagipula itu bukan menjadi urusannya untuk memperhatikan penampilan Brian, terserah mau Brian terlihat rapi atau kacau. Tentu saja itu semua tidak akan berpengaruh padanya.
"Bi, apa kau baik-baik saja?, sepertinya aku harus memeriksa keadaan mu !!!" tanya Hery seraya menilai penampilan Brian mulai dari atas sampai kebawah.
Brian mengernyit heran menatap temannya. Apa yang salah dengan penampilannya?, lagipula dia tidak sakit, lalu untuk apa dia harus diperiksa.
"Untuk apa aku diperiksa?, aku tidak sakit" sahut Brian dengan ketus.
"Cek, apa kau tidak sadar?" kali ini Arkan yang ambil suara.
"Hery sedang menyindir dirimu. Lihatlah penampilanmu, sangat kacau. Dasi mu begitu miring, dan rambutmu begitu kacau dan satu lagi kemeja mu begitu berantakan" terang Arkan seraya menilai penampilan Brian.
Dengan spontan Brian langsung melihat penampilannya sendiri. Benar dia terlihat kacau tidak seperti biasanya, dia baru menyadari ternyata masalah Celsi membuatnya sampai tidak sadar dengan keadaannya, pikirannya memang stres dan hanya tertuju pada keselamatan Celsi saja.
"Aku baik-baik saja" ucap Brian meyakinkan teman-temannya.
Ketiga temannya lantas langsung mengangguk, tapi mereka yakin kalau Brian sedang memiliki masalah saat ini namun mereka memilih tidak banyak bertanya atau Celsi akan curiga pada mereka nanti.
__ADS_1
"Kenapa kau datang kemari?" tanya Celsi dengan menatap mata Brian lekat.
"Apa aku tidak boleh datang kemari?" tanya Brian balik bertanya.
"Bukan begitu maksudku, bukankah kau sedang marah padaku?" tanya Celsi membenarkan kalimatnya.
"Tidak, siapa yang marah?. Aku hanya sedikit kesal saja"
Ketiga temannya hanya tercengang melihat interaksi Celsi dan Brian. Brian yang mereka kenal dengan sikap dingin dan hemat berbicara sekarang bicara banyak pada Celsi.
°°°°°
Indonesia~Jakarta
Seorang wanita terlihat menyedihkan memakan beberapa suap nasi yang ada dihadapannya. Nasi itu terasa sedikit asam saat memasuki mulutnya, baunya juga tidak enak. Ya, makanan itu sudah basi, dan itulah yang dimakan Ana saat ini.
Bukan karena tidak ingin menolak makan tersebut, tetapi dia masih berharap bisa bertahan hidup walau hanya berbekalkan makan yang sudah basi yang diantarkan oleh salah seorang penjaga yang selalu standby didepan pintu.
"Kau suka makannya?" tanya salah seorang memasuki ruangan itu.
Namanya Bily dia merupakan kakak kandung Raka. Yang kebetulan bertugas untuk menjaganya, selain itu dia juga memang memiliki keperluan lain di Indonesia.
Ana samasekali tidak bergeming. Diam, itu adalah pilihan terbaik untuknya saat ini, melawan juga dia samasekali tidak sanggup. Dan sekarang ia lebih baik diam.
Sejenak Bily memandang rambut panjang Ana yang terurai dan terlihat kotor dan berantakan. Sekilas orang melihatnya akan beranggapan kalau Ana sudah gila, tepatnya bukan gila tapi Ana stress.
Dengan kasar Bily langsung memegang dagu Ana sehingga membuat Ana mau tidak mau harus mendongak dan menatap Bily.
"Wajahmu tidak terlalu buruk, kau terlihat cantik, hanya saja kau kotor" sahut Bily seraya menatap wajah polos ana yang terlihat sedikit pucat.
Ana hanya diam. Dia samasekali tidak peduli apa yang akan Bily lakukan dan apa yang sedang dia pikirkan.
__ADS_1
"Tidak masalah. Besok aku akan mencoba mencicipi tubuhmu ini, aku penasaran apakah rasanya nikmat atau tidak" Ucap Bily seraya tersenyum menyeringai menatap tubuh Ana yang tampak menyedihkan.
Setelah mengatakan itu Bily langsung keluar meninggalkan Ana.
Setelah kepergian Bily, Ana langsung terisak dia tidak tau apa yang akan terjadi pada dirinya besok, yang pasti itu bukalah hal baik untuknya. Apakah harapannya hanya sekadar harapan?, atau masih adakah seseorang yang berhati malaikat dan menolongnya keluar dari semua ini?.
Isak tangisnya sama sekali tidak pernah dihiraukan oleh orang-orang itu, dia hanya bisa menahan sesak di dadanya sendiri tanpa bisa berkeluh-kesah pada siapapun. Menekuk kedua lututnya dengan menggunakan tangannya yang sedang terluka hanya itu yang bisa dia lakukan saat ini.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?, masih adakah kesempatan untukku melihat matahari terbit dan terbenam nantinya" lirih Ana dengan sepintas harapan dalam ucapannya.
"Aku tau, aku samasekali tidak bisa melakukan apapun sekarang. Tapi aku tidak ingin berakhir seperti ini... hiks....hiks..." sekarang Ana mulai terisak meratapi nasib yang akan menimpanya nanti.
"Ya Tuhan, keluarkan aku dari tempat ini, aku sudah tidak sanggup berada di sini, hiks...hiks..."
Setiap hari hanya menangis dan terus menangis yang Ana lakukan. Bahkan tidak jarang dia hanya menangis dalam diam karena air matanya terasa sudah habis untuk ia tumpahkan, harapan dan pertolongan hanya itu yang selalu dia panjatkan setiap berucap.
Makanan basi yang selalu mengisi perutnya dan hanya sekedar memberi tenaga untuknya membuat dirinya tidak jarang meringis menahan rasa sakit diperut dan menggigil akibat tubuhnya sakit. Kurus, hanya dalam sekejap dia kehilangan nutrisi dalam tubuhnya, selain itu dia bahkan sering mendapatkan siksaan dari para penjaga yang mengawasinya jika dia tidak bersedia memakan makan basi itu.
Tiga hari yang lalu beberapa penjaga yang sedang memeriksa keadaannya sempat ingin menodai tubuhnya, tapi ternya salah seorang penjaga ada yang memperingati agar tidak melakukan hal itu. Tentu saja itu semua mereka lakukan agar tidak terkena amukan tuannya. Raka memang berpesan agar jangan ada yang berani menodai Ana, itu semua tentunya memiliki tujuan lain. Karena dia sendirilah yang ingin mencicipi tubuh Ana terlebih dahulu nanti, tapi ternyata dia harus menunggu karena dia harus segera menjalankan rencananya.
.
.
.
.
.
Like, vote sebanyak mungkin...
__ADS_1
jangan lupa buta tinggalkan jejak kalian ya...