
Hari ini Brian sengaja mengajak Celsi untuk jalan-jalan. Sebenarnya bukan sengaja sih, cuman sejak tadi pagi Celsi selalu merengek padanya agar diizinkan untuk keluar, dan tentu saja Brian tidak akan mengijinkan mengingat Celsi yang sedang diincar oleh musuhnya, maka dari itu terpaksa Brian sendiri yang menemani Celsi. Ia akan merasa aman jika Celsi masih di dalam jangkauan matanya sendiri.
"Kenapa Vio tidak pernah datang ?". Tanya Celsi penasaran.
Semenjak Celsi berada di sana ia belum pernah bertemu kembali dengan Vio, tentu saja ia menjadi penasaran dan heran.
"Vio sedang sibuk kuliah". Jawab Brian dengan matanya yang tetap fokus pada jalanan.
"Hemmm..., Apa kau tidak pernah pulang ke rumah orang tuamu?". Tanya Celsi kemudian. Ia jadi sedikit kepo tentang keluarga Brian, karena dia tidak pernah melihat orang tua Brian sama sekali.
Brian langsung menoleh sebentar pada Celsi lalu kemudian ia kembali fokus pada jalan.
"Tentu saja pernah, hanya saja aku nyaman tinggal sendiri. Aku ingin menjadi anak yang mandiri dan tidak bergantung pada orang tua". Sahut Brian kemudian.
Celsi tertegun saat mendengar penuturan Brian. Selama ini dia berpikir Brian adalah sosok pria yang memanfaatkan kekuasaan orang tuannya, tapi ternyata diluar dugaan, Brian malah memilih untuk mandiri tanpa bergantung pada orang tuanya.
Brian langsung memarkirkan mobilnya disebuah kawasan mall termewah di kota itu, ia langsung turun dan diikuti oleh Celsi dari belakang.
"Kenapa kita kesini?". Tanya Celsi keheranan sembari melihat ke sekeliling tempat itu.
"Sudahlah jangan banyak tanya, lagipula aku tidak memiliki banyak waktu untuk mengajakmu berkeliling-keliling kota. Aku masih ada rapat di kantor nanti". Jelas Brian kemudian sembari terus berjalan.
Cih, jika tidak punya waktu kenapa harus mengajakku tadi?. Kalau begini lebih baik aku pergi sendiri saja tadi.
Celsi langsung mengikuti langkah Brian dengan sedikit berlari karena langkah Brian yang terlampau cepat.
"Brian....." Rengek Celsi kemudian.
Brian langsung menoleh kearah Celsi karena bajunya yang sejak tadi ditarik-tarik oleh Celsi.
"Apa yang kau lakukan?, lepaskan bajuku".
Celsi langsung mendengus kesal karena Brian menatapnya dengan tajam.
"Hey tuan Brian...". Kali ini Celsi malah membentak Brian.
Brian tersentak saat mendengar suara Celsi yang keras, ia langsung menatap Celsi dengan tajam. Bukan karena marah melainkan dia menjadi malu karena menjadi pusat perhatian banyak orang ditempat itu.
"Pelankan suaramu !!". Sahut Brian seraya meraih tangan Celsi.
Celsi langsung menghempaskan tangan Brian dari tangannya.
"Dari tadi aku memanggilmu dengan lembut tapi kau malah menatapku dengan tajam". Ucap Celsi dengan emosi.
"Sekarang aku tidak peduli lagi. Apa kau tau aku ingin pipis". Teriak Celsi kemudian.
__ADS_1
Celsi langsung menarik nafasnya dengan kasar dan kembali menatap Brian dengan emosi.
"Sejak tadi aku mencoba mengatakannya padamu". Kesal Celsi kemudian.
Celsi langsung pergi tanpa memperdulikan Brian yang masih bengong, bukan karena tidak ingin menunggu Brian melainkan dia sudah tidak tahan, dia sudah kebelet pipis sejak tadi.
Brian yang masih shock dengan bentakan Celsi hanya bisa memperhatikan Celsi yang terus menjauh darinya. Saat tubuh Celsi sudah mulai menghilang barulah dia tersadar.
"Dia sudah pergi". Gerutu Brian.
Bagaimana kalau dia hilang nanti, sungguh sangat merepotkan. Lagipula apa susahnya sih mengatakan kalau dia ingin ke toilet, jika dia mengatakannya dengan cepat aku kan bisa mengantarnya.
Brian malah terus menggerutu sepanjang jalan menuju toilet wanita.
Celsi yang sudah selesai dengan keperluannya langsung keluar dan bermaksud menyusul Brian kembali. Namun langkahnya langsung terhenti saat mendengar panggilan seseorang.
"Celsi.....". Panggil salah seorang pria bertubuh tinggi dan sangat tampan.
Celsi langsung menoleh dan ia bisa melihat seorang pria tampan yang tersenyum manis terhadapnya sambil berlari-lari kecil kearahnya.
Bruuukkk...
Pria itu malah langsung memeluk erat tubuh Celsi. Celsi yang tidak siap hanya dibuat melotot dengan pelukan tiba-tiba pria itu, tubuhnya langsung kaku saat pria itu memeluknya dengan erat.
"Kau tau, semenjak aku mendengar kabar tentang keluargamu aku selalu ingin datang menemui mu, tapi apalah dayaku, keadaan memaksaku agar tetap disini. Dan aku tidak menyangka kalau kita akan bertemu disini". Sahut pria itu dengan senyumnya yang tidak pernah lepas.
Celsi yang masih shock dengan perlakuan pria itu sama sekali tidak mendengar penuturan panjang lebar pria tersebut.
"Celsi, apa kau mendengar ku ?". Tanya pria itu kemudian sembari mengibaskan tangannya dihadapan mata Celsi.
"Siapa kau?". Pertanyaan itu langsung keluar dari mulut Celsi saat ia sudah tersadar.
Terlihat lelaki itu tampak sangat murung mendengar pertanyaan Celsi.
"Aku tau kalau kau tidak akan mengingatkanku lagi, aku sudah menduga itu semua". Sejenak lelaki itu menarik nafasnya panjang dan membuangnya dengan kasar, ia kemudian kembali melanjutkan ucapannya.
"Sudah 15 tahun semenjak aku meninggalkanmu. Apa kau sama sekali tidak mengingatkanku?". Tanya pria itu sembari menatap nalar manik mata Celsi.
Deg...deg...
Tiba-tiba jantung Celsi berdegup dengan kencang saat mendengar ucapan pria itu yang mengatakan 15 tahun semenjak pertemuan mereka.
"Bahkan kau sendiri yang memberiku nama". Kata-kata itu langsung membuat mata Celsi melotot sempurna dan jantungnya langsung bergemuruh saat mendengar perkataan pria asing di hadapannya.
Tidak mungkin, apa ini kenyataan?. Orang yang selama ini aku tunggu ada di hadapanku?.
__ADS_1
Tak terasa air mata Celsi langsung jatuh begitu saja.
Melihat Celsi yang meneteskan air mata, pria itu dengan sigap langsung tersenyum lembut pada Celsi dan berkata.
"Benar Celsi, ini kakak. Kakak yang selalu kau rindukan".
Kata-kata itu langsung membuat tubuh Celsi bergemuruh hebat, perasaan sedih dan senang langsung menyatu membuat hati Celsi menjadi tidak terkendali.
Celsi langsung memeluk erat tubuh pria itu dan mulai meneteskan air mata kembali. Ia tidak tau harus mengatakan apa, yang jelas ia sangat senang tapi juga sangat sedih karena baru bertemu sekarang.
"Kenapa kak, kenapa kakak tidak pernah datang?". Tanya Celsi dengan suaranya yang sendu.
Pria itu hanya bisa membalas pelukan Celsi, karena terlihat jelas kalau Celsi enggan melepas pelukannya. Ia bahkan tidak bisa menjawab pertanyaan Celsi.
"Maafkan kakak". Tuturnya sembari mengelus lembut rambut panjang Celsi.
Celsi mulai menangis sesenggukan didalam pelukan pria itu, ia sangat enggan melepas pelukannya, rasa rindu yang sudah lama berkecamuk didalam dirinya sekarang ini sudah tersampaikan. Dan ia tidak ingin momen ini berakhir dengan begitu cepat.
"Aku sangat merindukanmu?". Isak Celsi sembari merangkul lebih erat lagi tubuh lelaki itu.
"Aku tau". Hanya itu balasan yang terdengar.
.
.
.
.
.
.
Hay, Ummi kembali lagi nih. Seperti biasa Ummi akan selalu ingatkan, jangan lupa.
**like
komen.
vote + favorit.
Ditunggu ya, dukungan dari kalian semua sungguh sangat membantu buat Ummi agar lebih semangat buat menulis setiap harinya.
jadi jangan bosan-bosan untuk vote sebanyak-banyaknya**.
__ADS_1