
"Ini tidak mungkin" sangkal Celsi dengan menatap satu persatu foto yang ada ditangannya.
wajahnya semakin terasa panas dan air matanya tiada hentinya mengalir. Dadanya semakin terasa sesak saat mengamati satu persatu foto itu.
Sekuat tenaga Celsi mencoba bangun dari keterpurukannya dan berjalan sedikit gontai menuju ruangan Brian.
Brian yang melihat Celsi sudah keluar dari ruangan itu segera menoleh. Betapa terkejutnya dia saat melihat mata Celsi yang bengkak dan air mata yang terus mengalir.
"Baby are you ok?" tanya Brian seraya berdiri dan menghampiri Celsi yang mematung dengan Isak tangisnya yang mulai terdengar.
Bukan hanya Brian. Simon dan Arkan sama terkejutnya dengan Brian. Entah apa yang membuat Celsi menangis tidak ada yang mengetahui itu selain diri Celsi sendiri.
Celsi langsung memeluk Brian dengan erat dan semakin menangis dalam dekapan Brian. Hari ini dia terlihat lemah, biar lah. Dia tidak peduli tanggapan teman-teman Brian padanya.
"Kenapa, kenapa kau lakukan ini padaku? kau jahat kau sangat jahat" Isak Celsi dengan terus menangis.
Celsi langsung mengangkat wajahnya dan menatap lekat mata Brian yang tampak kebingungan menatap dirinya.
"Setiap hari setiap saat aku selalu memanggilmu. Tapi kau tidak pernah datang. Kenapa kak? kenapa kakak tidak pernah datang?" tanya Celsi dengan memukul-mukul dada Brian dengan tangan mungilnya.
Deg....deg...
Jantung Brian berdetak kencang saat Celsi memanggilnya kakak.
Apa ini? perasaan apa ini?. Tidak mungkin, apa Celsi sudah mengetahui semuanya? tapi bagaimana bisa?
"Kenapa kakak tidak mengatakan semuanya padaku? kenapa kakak menyembunyikan semua ini?. Jawab kak kenapa?" tanya Celsi bertubi-tubi.
"Celsi tenanglah" seraya mendekap tubuh Celsi kembali.
"Apa yang kau katakan, aku tidak menyembunyikan apapun darimu" sahut Brian.
"BOHONG, KAU BERBOHONG" bentak Celsi dengan melepas dirinya dari pelukan Brian.
__ADS_1
"KAU JAHAT, KAKAK JAHAT. KAU MEMBOHONGIKU" makinya dengan mundur berlahan-lahan dari hadapan Brian.
"Apa yang kau katakan baby? aku tidak jahat"
"Kakak jahat, kenapa selama ini kau tidak pernah datang saat aku panggil? bahkan saat ayah dan ibuku pergi kau juga tidak datang" lirihnya dengan pelan tapi masih dapat didengar dengan jelas oleh Brian.
"Aku selalu kesepian. Kenapa kakak tidak pernah datang?"
Celsi kemudian melempar semua foto yang sejak tadi berada didalam genggamannya kerah Brian. Sejak tadi foto itu memang ada dalam genggamannya dia ingin menanyakan langsung pada Brian perihal semua foto itu.
Deg.....
Bagai disambar petir tubuh Brian tiba-tiba membeku saat melihat foto yang kini sudah berserakan dilantai. Mulutnya tiba-tiba menjadi bungkam, jantungnya bergemuruh hebat. Ada perasaan aneh saat dia melihat foto-foto itu kembali. Sudah hampir dua bulan dia tidak pernah melihat foto itu lagi.
"Kak, jelaskan semuanya padaku"
Diam, Brian hanya bisa bungkam namun sesaat kemudian ia mulai mendekati Celsi kembali dan memeluknya erat. Ada perasaan bersalah dalam hatinya saat melihat tangis Celsi yang tak kunjung berhenti.
Celsi semakin terisak dalam dekapan Brian dia mencekam erat baju Brian bagian belakang.
"Kenapa kakak tidak jujur pada Celsi? apa salah Celsi pada kakak? hiks....hiks..."
Sakit rasanya saat dia mendengar tangis Celsi yang tak kunjung mereda. Ini semua salahnya jika saja dia jujur pada Celsi saat pertama kali dia bertemu dengan Celsi mungkin dia tidak akan menyaksikan tangis Celsi yang pilu.
Ini semua salahnya. Jika saja dia mengatakan yang sebenarnya dan mengakui kalau dirinya adalah Hans kakak masa kecil Celsi, mungkin ini semua tidak akan terjadi.
Kau bodoh Brian, kenapa kau menyembunyikan semua ini dari Celsi? seharusnya dari awal kau jujur padanya. Seharusnya kau juga mengatakan kalau selama ini kau menjaganya. Kau terlalu bodoh. Maki Brian pada dirinya sendiri seraya terus mengrutukki dirinya.
"Aku memang bodoh, kau benar. Aku juga jahat, maafkan Kaka Celsi. Kakak tidak bisa melindungi dan membahagiakanmu" kali ini Brian berkata dengan lirih dan pelan.
"Kakak, aku menyayangi kakak. Kakak tau itu!!! dan sekarang Celsi mohon jangan tinggalkan Celsi lagi"
"Kakak berjanji, kakak tidak akan pernah meninggalkan Celsi sendiri lagi" sahut Brian yakin.
__ADS_1
Sekarang semuanya telah terungkap. Brian adalah orang yang tidak sengaja bertemu dengan Celsi merupakan Hans atau kakak masa kecil Celsi yang sangat dia sayangi dan dia rindukan. Itu semua terbukti pada saat Celsi dengan tidak sengaja melihat foto Brian yang berada dikamar pribadi yang ada di kantor saat berusia sekitar 10-11 tahun.
Celsi memang tidak mengenal sosok Hans yang sudah dewasa tapi dia masih mengingat sosok Hans saat usia 10 tahun dan itu terbukti dengan dirinya yang langsung mengenali anak lelaki yang ada difoto itu.
Keyakinannya semakin bertambah saat dia dengan tidak sengaja menemukan beberapa foto dirinya yang terselip dibawah bantal. Beberapa foto saat usianya 5 - 12 tahun ditambah dengan foto ayah dan ibunya juga ada di sana walaupun hanya beberapa.
Awalannya Celsi merasa sedikit curiga melihat banyaknya foto-foto dirinya pada Brian namun semakin dia mengamati foto Hans kecil (Brian kecil) dan fotonya secara bergantian membuat cakrawala pemikirannya menjadi lebih terang. Dia langsung menepis semua pikiran negatif dalam kepalanya dan mulai berpikiran positif pada Brian.
Entah darimana Brian mendapatkan semua foto masa kecilnya hanya Brian yang bisa menjawabnya. Bahkan dia sendiri tidak memiliki foto dirinya saat kecil sebanyak yang Brian miliki. Hanya ada beberapa foto yang masih tersimpan dikontarkannya dan beberapa foto ibu dan ayahnya.
Dia tidak habis pikir bagaimana bisa Brian menyembunyikan hal sebesar ini darinya. Bahkan selama ini dia sangat berharap bertemu dengan kak Hans nya secepat mungkin dan ternyata orang yang dia cari ada dihadapannya selama ini.
Kecewa itu sudah pasti. Siapa yang tidak kecewa saat dibohongi orang terdekat kita. benar, Celsi sudah menganggap Brian orang terdekatnya dan merupakan orang terpenting dalam hidupnya selain Ana dan kak Hans nya.
Namun dibalik kekecewaan dirinya terhadap Brian terselip rasa senang sekaligus rindu pada sosok kakaknya. Dia tidak bisa membenci Brian karena telah berbohong namun tetap saja dia tidak bisa terima karena Brian tidak jujur padanya.
"Kak Hans... Celsi merindukan kakak" lirihnya dengan pelan.
"Kakak tau. Kakak menyayangi Celsi, dan selamanya akan tetap sayang"
Cup.....
Setelah mengatakan itu Brian langsung mengecup kening Celsi cukup lama kemudian beralih pada kedua pipi dan mata Celsi yang sembab akibat terlalu lama menangis.
Hanya ada rasa rindu dan haru antara keduanya. Semua perasaan kesal, sakit dan rindu berbaur menjadi satu menciptakan perasaan yang aneh dalam diri mereka sendiri.
.
.
.
.
__ADS_1