Hero In The Shadows (Pahlawan Dalam Bayangan)

Hero In The Shadows (Pahlawan Dalam Bayangan)
Episode 32


__ADS_3

Braaaakkk... Lagi-lagi Brian menggebrak meja kerjanya dengan frustasi. Ia bahkan langsung melonggarkan dasinya dan mengusap wajahnya dengan kasar. Perasaannya benar-benar tidak bisa tenang, sebelum Celsi kembali ke sisinya ia tidak bisa tenang sama sekali.


"Ada apa denganmu?". Tanya Simon dengan sedikit mengernyit melihat penampilan Brian yang kacau dan sangat berantakan.


Brian menoleh sebentar. Apakah dia harus mengatakan pada temannya atau dia harus menyelesaikan semuanya sendiri.


°°°°°


"Kak, apa ini rumah kakak?". Tanya Celsi dengan polos sembari melihat rumah yang cukup besar dan berkesan mewah.


Raka menoleh pada Celsi, ia kemudian mengacak rambut panjang Celsi dengan gemes.


"Kenapa?, memangnya kau pikir ini rumah siapa?". Tanya Raka kemudian.


Celsi langsung memasang wajah cemberut dan kesal sembari menghentakkan kakinya sedikit.


"Ish..., kakak. Celsi kan cuman tanya". Kesalnya dengan sedikit ngambek.


Raka langsung terkekeh dan kemudian menarik gemes hidung Celsi sehingga membuat Celsi meringis pelan karena sakit.


"Kakak....." Kesalnya namun terkesan manja.


Raka langsung menarik tangan Celsi masuk kedalam rumah itu, terlihat rumah itu sedikit sepi karena hanya ada dua orang pelayan wanita di sana. Raka segera mengantar Celsi menuju lantai dua dan memasuki salah satu kamar yang ada di sana.


"Baiklah cantik, mulai sekarang kamarmu di sini". Ucap Hans sembari memperihatinkan kamar yang begitu luas dan terkesan elegan.


Celsi langsung memusatkan matanya keseluruhan penjuru kamar itu, ia begitu kagum dengan kamarnya saat ini. Walau kamarnya di rumah Brian lebih mewah sih, tapi kamar itu juga tidak kalah bagus dari kamar yang ada di rumah Brian.


"Kau suka?". Pertanyaan Raka langsung membuat Celsi mengangguk sambil tersenyum.


"Terimakasih kak, Celsi sangat suka". Sahutnya kemudian seraya memeluk manja tubuh Hans.


Hans hanya mengelus punggung Celsi dan mengusap kepalanya dengan lembut. Ia sangat senang karena Celsi menyukai kamar itu.


"Kalau begitu kau lihat-lihat lah terlebih dahulu, kakak mau turun kebawah sebentar". Ucap Raka seraya melepas pelukannya Celsi dengan pelan.


Celsi langsung mengangguk dan kemudian ia Raka langsung keluar dari dalam kamar Celsi.


Rumah yang bagus. Aku sangat senang akhirnya aku bisa bertemu dengan kak Hans.


Celsi menuruni anak tangga dengan senyum yang terus mengembang. Ia bermaksud ingin mengelilingi rumah itu, lagipula kalau harus dikamar mengurung diri membuangnya bosan.


Saat melewati ruang keluarga dengan tiba-tiba Celsi menghentikan langkahnya dan terfokus pada sebuah bingkai foto yang sedang dibersihkan oleh pelayan.

__ADS_1


Celsi mulai mendekat dan mengamati foto itu dengan seksama. Aneh tentu saja, Celsi merasa aneh dengan foto itu.


Pelayan itu sedikit kaget karena kehadiran Celsi yang tiba-tiba, dia kemudian langsung tersenyum saat melihat Celsi.


"Nona, ada yang bisa saya bantu?". Tawarnya dengan sopan pada Celsi.


Celsi terkesiap mendengar ucapan pelayan itu, dari tadi dia hanya fokus pada foto yang sekarang sudah diletakan kembali kepada tempatnya.


"Ah tidak, aku hanya ingin melihat foto itu saja". Pelayan itu langsung tersenyum saat melihat respon Celsi.


°°°°°


Sementara di sebuah taman belakang, terlihat seorang pria sedang serius berbicara dengan seseorang melalui ponsel genggamnya.


📞 "Aku tau apa yang aku lakukan, kau tidak perlu cemas".


📞 ............


📞 "Sesuai rencana. Percayalah aku tidak akan mengecewakan tuan".


📞 .............


📞 "Tenang saja, Celsi akan tetap menjadi sanderaku. Setelah itu aku akan dengan pelan-pelan melumpuhkan Brian dengan menggunakan Celsi.


📞 "Baiklah, aku akan tetap bersandiwara di depan wanita itu".


Setelah melakukan panggilan cukup panjang, Raka langsung mengakhiri pembicaraan mereka, ia kemudian langsung tersenyum misterius. Rencananya tidak akan pernah gagal. Itulah yang ada dalam pikirannya saat ini.


Celsi langsung berlari dengan terbirit-birit keluar dari kediaman Raka. Rasa cemas dan takut kini sudah menyelimuti dirinya, untung saja Raka belum menempatkan banyak penjagaan di depan rumahnya, jadi dengan mudah Celsi langsung bisa keluar.


Aku harus segera menghubungi Brian. Ah ponselku dimana?, sial, aku meninggalkannya di rumah Raka. Bagaimana ini?.


Celsi semakin panik saat ponselnya lupa ia bawa, sekarang ia tidak tau harus meminta tolong pada siapa lagi.


Flashback on


"Itu foto siapa bik ?". Tanya Celsi dengan penasaran.


Pelayan itu langsung tersenyum seraya melihat foto uang yang sudah tampak bersih itu kembali.


"Ini foto tuan Raka saat usia 10 tahun non. Bibik masih ingat betul, foto ini diambil saat tuan Raka pergi piknik bersama keluarganya". Sesaat Celsi langsung shock saat mendengar jawaban pelayan itu.


Tidak mungkin. Dia kak Hans, tapi kenapa wajahnya berbeda dengan kak Hans ku?.

__ADS_1


"Apa Bibik yakin?". Pertanyaan itu lolos agar bisa memecahkan rasa penasaran Celsi.


"Tentu saja non, Bibik sudah bekerja sejak tuan Raka masih 5 tahun. Bibik yakin betul kalau foto ini diambil saat piknik, karena saat itu Bibik juga ikut". Terangnya kembali dengan meyakinkan Celsi.


Celsi hanya menatap tidak yakin pada foto itu, ia kemudian langsung berjalan meninggalkan ruangan itu dengan maksud mencerna setiap kata-kata yang diucapkan pelayan tadi. Hingga tanpa sadar ternyata kakinya membawanya pada sebuah taman yang berada di belakang rumah.


Saat ingin kembali ke kamar, langkahnya kembali terhenti saat mendengar suara tak asing disekitar tempatnya.


Benar saja, ia melihat Raka sedang berbicara melalui ponselnya. Celsi kemudian berniat menunggu Raka dengan maksud supaya ia bisa langsung menanyakan foto anak lelaki tadi, jujur saja ia masih kurang yakin dengan yang dikatakan oleh pelayan tadi. Pikirannya masih saja membenarkan kalau Raka adalah Hans, tapi hatinya malah bimbang.


Namun ternyata, apa yang ia dengar lebih membuatnya terkejut. Ia bisa dengan jelas mendengar kalau Raka ingin memanfaatkannya untuk melumpuhkan Brian, dan satu lagi yang membuat Celsi semakin panik dan gusar. Raka mengatakan, sandera dan bersandiwara.


Sungguh membingungkan, tapi apa tujuannya melakukan semua itu?, tidak bisa aku harus keluar dari sini. Aku tidak mau jadi sandarannya, dia bukan kak Hans ku.


Tanpa sadar, air mata Celsi langsung jatuh begitu saja. Ia menyesali dirinya yang begitu bodoh karena dengan mudahnya percaya dengan orang yang baru saja ia kenal, seharusnya ia mendengarkan perkataan Brian waktu itu. Tapi sekarang sudah terlambat.


flashback off.


"Bodoh, kau bodoh Celsi. Kau sangat bodoh". Celsi terus memaki dirinya dan menyesali kebodohan serta kesalahannya.


Sekarang ia berjalan tanpa arah dan tujuan, ia bahkan belum mengenal kota itu. Dan tidak ada yang bisa membantunya saat ini.


Hari mulai semakin gelap, matahari sudah mulai menghilang bersamaan dengan cahayanya. Gelap, tentu saja, tapi apalah dayanya dia sama sekali tidak tau alamat Brian untuk kembali.


Air matanya terus mengalir tanpa diminta, ia begitu mengasihani dirinya sendiri saat ini, sungguh memprihatinkan.


"Itu dia.....". Perkataan seorang lelaki yang begitu menggelegar di telinga Celsi membuatnya segera menoleh kebelakang.


.


.


.


.


.


like, like, like.....


vote..


vote..

__ADS_1


__ADS_2