
Mobil Sport mewah milik Brian membelah jalanan dengan begitu lihai. Jangan ditanya siapa yang mengemudikan setelah keluar dari rumah sakit, Brian langsung menuju parkiran dan melesat dengan sangat cepat membelah jalanan yang begitu padat. Dia ingin pergi kekantor sebentar karena tiba-tiba saja ada urusan mendadak.
Selain kesal karena ulah Celsi, sebenarnya Brian juga memiliki tujuan lain karena itu dia keluar dari ruangan Celsi. Dan tentunya semua sudah diperhitungkan, dia meminta teman-temannya datang untuk menemani Celsi sementara dia pergi. Itu semua dia lakukan hanya karena kecemasan yang berlebihan, padahal dia sudah menempatkan banyak penjagaan disekitar rumah sakit, tapi tetap saja dia tidak percaya walaupun mereka semua sudah berjanji akan menjaga Celsi.
Langkah kaki Brian begitu menggema saat memasuki lobi perusahaan. Aura kepemimpinan yang begitu pekat langsung terasa saat dia melewati kerumunan orang-orang. Semua staf langsung tertunduk memberi hormat pada Brian.
"Apa yang kau dapatkan ?" tanya Brian seraya duduk di kursi kebesarannya.
Sedari tadi ternyata Kevin sudah menunggu kedatangan Brian. Dan itu semua dia lakukan karena ada informasi penting yang harus dia sampaikan pada Brian.
"Dari informasi yang aku dapatkan Raka pernah datang ke Indonesia, tepatnya pada saat Master juga berada di Indonesia".
Brian langsung mengernyit heran mendengar ucapan Kevin. Dia berusaha mencerna setiap kata-kata yang Kevin ucapakan.
"Jelaskan semuanya !"
Sejenak Kevin mencoba menyusun kata-kata yang tepat agar Brian bisa memahami setiap ucapan yang akan dia katakan nanti.
"Dalang dibalik semua kejadian pada Master saat di Indonesia adalah Raka. Termasuk kejadian yang menimpa nona Celsi saat di Indonesia".
Rahang Brian semakin mengeras saat mendengar ucapan Kevin. Kilatan kemarahan langsung menyelimuti dirinya. Kevin bisa merasakan aura kemarahan dalam diri Brian, tapi dia tidak akan bisa berbuat apa-apa saat ini. Semoga saja Brian tidak salah dalam mengambil keputusan nanti !.
Melihat Brian yang masih diam, kini Kevin mencoba melanjutkan ucapannya.
"Nona Ana, temannya nona Celsi sekarang sedang disekap di Indonesia. Informasi yang didapatkan oleh Raka semua berasal dari teman nona Celsi yang tidak lain adalah nona Ana".
"Apa maksudmu ?" tanya Brian dengan intonasi yang terdengar sangat menyeramkan.
Kevin mulai berkeringat dingin, air sudah mengalir di pelipisnya saat ini. Dia mencoba menceritakan setiap detail informasi yang ia dapatkan pada Brian.
Flashback on
Setelah keberangkatan Brian dari Indonesia menuju New York. Pasukan yang ditugaskan untuk melawan musuh yang mencoba memasuki kawasan Brian langsung menyerang, tentunya dengan starategi yang matang dan siasat yang sempurna, itu semua mereka lakukan agar tidak mengundang perhatian banyak orang.
Dilain sisi Raka dengan beberapa pengawal datang menuju salah satu kontrakan yang tak lain ditempati oleh Ana temannya Celsi.
__ADS_1
Ana yang belum bisa tidur hanya duduk dengan santai sambil menikmati film Drakor yang baru saja dia tonton di laptopnya.
"Siapa kalian ?" tanya Ana dengan cemas saat melihat segerombolan orang-orang memasuki rumahnya.
Tidak ada jawaban, mereka hanya semakin dekat dan langsung mendekap mulut Ana dengan menggunakan sapu tangan yang sudah dilumuri oleh obat bius.
Sebelum kehilangan kesadaran, Ana. sempat memberontak. Tapi tenaganya kalah kuat dibandingkan oleh orang-orang itu.
"Bawa dia !!!" perintah Raka pada mereka saat melihat Ana sudah tidak sadarkan diri.
°°°°°
Gelap, hanya itu yang Ana rasakan saat mulai sadar. Perlahan-lahan dia mencoba menggerakkan tubuhnya tapi ternyata tangan dan kakinya diikat dengan kuat, dalam posisi yang didudukkan pada sebuah kursi.
Air matanya mulai mengalir begitu saja. Takut, itu sudah pasti, dia hanya bisa berteriak berharap ada orang yang berhati malaikat datang menyelamatkannya.
"Tolong... Tolong..." suaranya begitu menggema dalam ruangan kosong itu.
Tidak berselang lama seseorang langsung membuka pintu dan membiarkan cahaya langsung menyoroti ruangan gelap tersebut.
Suara langkah kaki seseorang begitu menggema saat masuk kedalam. Beberapa orang-orang berdiri dibelakang seakan-akan mengawal sang raja yang tengah sedang berjalan.
"Siapa di sana ?" dengan perasaan takut, Ana mencoba mencari tahu.
Seketika lampu langsung dinyalakan, dan sekarang Ana bisa melihat dengan jelas orang-orang yang datang menghampirinya. Terlihat Raka mulai mendekat kearahnya.
Tanpa basa-basi Raka langsung mengeluarkan selembar foto dari dalam sakunya.
"Kau mengenalnya ?" tanya Raka seraya menunjukkan foto itu pada Ana.
Ana lantas langsung menggeleng, karena dia memang tidak mengenal foto yang baru saja ditunjukkan oleh Raka.
"Jangan berbohong....., plakkkk...." sebuah tamparan keras langsung mendarat di wajah Ana.
Ana meringis menahan rasa panas di pipinya, air matanya langsung mengalir begitu saja tanpa diminta.
__ADS_1
"Aku memang tidak mengenalnya tuan".
Emosi Raka semakin memuncak saat mendengar penuturan Ana. Lantas ia langsung menunjukkan selembar foto lagi pada Ana.
"Bagaimana dengan yang ini, apa kau mengenalnya....?" bentak Raka seraya menunjukkan foto seorang wanita cantik pada Ana.
Celsi, kenapa fotonya ada pada orang ini ?, apa hubungannya dengan semua ini?.
Ana lantas langsung mengangguk karena dia memang mengenal Celsi. Tetapi untuk foto yang pertama dia memang tidak mengenalnya, karena foto itu adalah foto Brian dan dia sama sekali tidak mengenal Brian.
Melihat anggukan Ana, Raka langsung tersenyum menyeringai penuh kemenangan. permainan baru dimulai.
"Ceritakan semua tentang wanita ini !!"
Ana lantas langsung mengernyit heran menatap Raka. Untuk apa Raka mencari tahu tentang Celsi?, setahunya Celsi sudah tidak memiliki kerabat bahkan musuh sekalipun. Lantas siapa orang ini ?.
"Untuk apa kau mencari tahu tentang Celsi?" dengan gusar akhirnya Ana memberanikan diri untuk bertanya.
Plakkkk..... Sebuah tamparan kembali mendarat di sebah pipi Ana dengan keras.
"Jawab dan jangan banyak bertanya. Atau tidak nyawamu akan melayang" ancam Raka seraya menatap Ana dengan tajam.
Ana bergidik ngeri melihat kemarahan Raka, ia tidak sanggup untuk melawan Raka lagi. Dia tidak ingin habis ditangan Raka saat ini.
Ana mulai menceritakan semua tentang Celsi yang ia ketahui, mulai dari pertamakali dia berteman dengan Celsi sampai sekarang.
"Celsi temanku semenjak SMP, kami berteman sangat dekat namanya Celsi Yanova Putri" Ucap Ana menceritakan semua detail tentang Celsi yang ia ketahui. Dia juga menceritakan dimana pada saat Celsi mengatakan kalau dia merindukan sosok seorang lelaki tampan yang dia sebut sebagai kak Hans.
Flashback off.
Rahang Brian semakin mengeras saat mendengar semua cerita Kevin. Dia tidak menyangka kalau Raka ternyata sudah mengikutinya sampai ke Indonesia, dan dengan bodohnya dia sama sekali tidak menyadari hal sebesar itu.
"Brengsek....." dengan keras Brian langsung menggerebek meja kerjanya.
Kevin hanya bisa diam tanpa melakukan apapun, dia tau betul kalau Brian sedang emosi dan sangat marah.
__ADS_1