Hero In The Shadows (Pahlawan Dalam Bayangan)

Hero In The Shadows (Pahlawan Dalam Bayangan)
Episode 34


__ADS_3

Perasaan khawatir dan resah terus menghampiri Brian yang sedang duduk di kursi penumpang bagian belakang. Sementara di kursi depan terdapat Simon dan Kevin, dan tidak lupa juga Arkan dan beberapa pasukan Brian mengikuti mereka dari arah belakang.


Brian terus merasa resah, dia samasekali tidak bisa tenang. Entah apa yang dia takutkan, dia samasekali tidak tau. Yang pasti dia ingin segera sampai ketempat tujuan.


"Apa tidak bisa lebih cepat lagi?". Pertanyaan Brian yang penuh penekanan langsung membuat Kevin sedikit gugup. Bisa dia rasakan kalau masternya benar-benar sedang khawatir. Entah khawatir dengan keselamatan adiknya Vino atau khawatir dengan keselamatan Celsi.


"Baik master, saya akan berusaha lebih cepat lagi". Ucap Kevin dengan menambah kecepatan laju mobil mereka.


°°°°°


Dengan susah payah Celsi mencoba bangun, Tapi sepertinya kakinya keseleo. Ya, mungkin saja karena Raka menghempaskan tubuhnya begitu kuat sehingga membuat pertahan kakinya jadi tidak seimbang.


Bguhhhh.....Satu bogem mentah mendarat tepat di wajah Raka.


"PERSETAN....., BERANI SEKALI KAU MENYENTUHNYA". Sekali lagi Vino memberikan pukulan yang kuat tepat pada perut Raka.


Buggghhh....


Raka yang tidak sigap dengan serangan mendadak Vino membuat ia sedikit tersungkur kebelakang. Dengan kilatan kemarahan Raka menatap benci pada Vino.


"BRENGSEK........, buggghhh.....". Raka langsung membalas pukulan Vino tidak kalah keras.


Saat Raka ingin kembali menghajar Vino dengan pukulannya, dengan lihai Vino langsung mengelak.


Baku hantam perkelahian langsung terjadi antara Vino dan Raka. Anak buah Raka hanya diam dan tidak ikut campur dengan pertarungan pribadi tuannya.


Celsi yang melihat beberapa anak buah Raka kembali mendekat dengan sigap langsung melayangkan kakinya. Walau terasa sakit tapi Celsi tidak ingin mereka menganggapnya lagi.


"MENJAUH DARIKU......". Teriak Celsi saat melihat mereka semakin mendekat.


Mereka samasekali tidak peduli dengan teriakan Celsi. Semakin dekat, kini mereka langsung menarik tangan Celsi dengan sangat kasar, sehingga membuat Celsi meringis menahan rasa sakit dikakinya akibat dibangunkan dengan cara paksa.


Braaakkkk.... Arrgghhh....Celsi meringis saat tubuhnya dilempar hingga menghantam sebuah pohon besar yang ada ditempat itu.


Darah segar langsung mengalir dari keningnya, bukan hanya itu, wajahnya juga ikut tergores akibat benturan tubuhnya yang tepat mengenai pohon besar tersebut. Tubuhnya terasa remuk. Sepertinya tulang-tulangnya akan patah nanti.

__ADS_1


Kepala Celsi terasa lebih berat dari sebelumnya, semua seakan berputar dikenalnya. Ia mencoba terus berusaha menahan rasa pening di kepalanya, namun ternyata rasa sakit itu semakin kuat.


"HEYYYYY........., Dooorrrr, Dooorrrr....".


Semua orang langsung menoleh ke arah sumber suara. Dan betapa terkejutnya Raka karena melihat dua orang rekannya yang berusaha menangkap Celsi tadi langsung ambruk di tanah.


Doooorrr....doorrr...


Brian kembali menembaki beberapa orang-orang yang ada disekitar Celsi. Dan setelah itu dia langsung berlari dengan cepat menghampiri tubuh Celsi yang sudah tumbang di atas tanah.


Celsi melihat dengan samar-samar bayangan seseorang yang mulai mendekat kearahnya.


"Kak Hans....". Gumam Celsi dengan pelan.


"Celsi kau tidak apa-apa?". Tanya Brian seraya mengangkat kepala Celsi dan mendekapnya dengan erat.


Celsi tersenyum samar saat melihat Brian yang kembali menyelematkan nya. Ini yang sudah ke-tiga kalinya Brian menyelamatkan hidupnya. Tidak lama setelah itu dia sudah pingsan dalam pangkuan Brian.


Kevin dan yang lainnya langsung membantu Brian membereskan kekacauan tersebut. Tidak membutuhkan waktu yang lama dengan cepat pasukan Arkan langsung melumpuhkan semua musuh yang ada di sana, termasuk Raka.


Brian langsung menggendong tubuh Celsi memasuki mobilnya. Takut dan khawatir, inilah yang dia rasakan sekarang.


Brian langsung mengangguk tanpa menjawab ucapan Simon, dia segera mendekap tubuh Celsi di kursi penumpang bagian belakang. Tanpa sadar Brian meneteskan air mata saat melihat luka ditubuh Celsi, belum lagi keningnya yang terus mengeluarkan darah.


Sekitar 10 menit. Mobil Brian berhenti disalah satu rumah sakit yang tidak jauh dari tempat kejadian.


Celsi dengan segera mendapatkan pertolongan. Sementara Brian duduk di kursi pengunjung dengan perasaan was-was. Wajahnya terlihat kusut, dan kemeja putihnya terlihat memiliki noda merah. Sepertinya darah di kepala Celsi mengenai baju Brian.


"Bagaimana dengan keadaannya?" Tanya Vino saat ia Kevin dan Arkan sudah sampai di rumah sakit tempat Celsi berada sekarang.


Brian langsung menggeleng, dia belum tau bagaimana keadaan Celsi saat ini, karena sejak tadi dokter yang menangani Celsi belum ada yang keluar.


Setelah menunggu beberapa saat, dokter kemudian keluar dari ruangan tersebut. Dan dengan cepat Brian langsung menghampirinya.


"Bagaimana dengan keadaannya dok?". Tanya Brian dengan nada yang terdengar khawatir.

__ADS_1


"Beruntung nona Celsi cepat dibawa kemari. Dan sekarang keadaannya sudah stabil, tapi dia masih belum sadar, dan nanti pasien akan segera kami pindahan keruang inap. Mungkin setelah beberapa jam dia akan sadar, jadi tidak perlu khawatir".


Brian sedikit lega saat mendengar ucapan dokter tersebut. Dan benar saja beberapa perawat langsung membawa Celsi keruang inap, tentu saja Brian akan langsung memesan ruang VVIP rumah sakit tersebut. Dia tidak ingin Celsi merasa tidak nyaman nanti, bagaimanapun dia akan membuat Celsi senyaman mungkin agar Celsi cepat sehat.


Entahlah, dia sendiri heran kenapa dia sangat peduli dengan Celsi. Yang pasti dia hanya tidak ingin kalau Celsi sampai celaka.


"Bagaimana semuanya?". Tanya Brian pada Arkan yang sedang duduk di sofa dalam ruangan Celsi tersebut.


Arkan langsung mendongak saat mendengar suara serak dari Brian. Namun yang dia lihat bukanlah hal yang biasa, Brian berbicara tanpa menoleh padanya sedikitpun. Tapi malah fokus pada Celsi yang masih berbaring di sana.


Aneh bukan sih?, tentu saja, untuk pertama kalinya dia melihat seorang Brian begitu memperhatikan wanita lain selain adik dan ibunya. Seorang Brian yang terkenal dengan ketidak pedulian terhadap orang lain, dibuat cemas hanya kerena keadaan seorang wanita biasa.


"Semuanya sudah beres. Raka sekarang sedang ditahan di markas". Sahut Arkan dengan suara yang terdengar sangat tajam.


Brian hanya diam dan tidak mengatakan apapun lagi setelah mendengar laporan dari temannya. Entah apa yang dia pikirkan tapi yang pasti dia sedang merencanakan sesuatu sekarang.


Tidak lama setelah itu, Vino masuk kedalam ruangan Celsi, terlihat luka di bagian wajahnya sudah diobati. Tentu saja dia terluka, mengingat dia tadi sempat bertarung dengan Raka sebelum kakaknya datang.


"Pulanglah, ibu pasti khawatir". Ucap Brian dengan menatap lekat adik lelaki satu-satunya itu.


Vino langsung mengangguk mendengar perintah dari kakaknya.


"Baiklah kak, jika butuh sesuatu tinggal kabari aku". Pamit Vino kemudian.


Vino langsung meninggalkan ruangan Celsi dan menuju parkiran dengan diikuti oleh Kevin. Yap, Brian meminta Kevin untuk mengantarkan adiknya sampai ke rumah.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Suka dengan ceritanya ?.....


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya.... like....


__ADS_2