Hero In The Shadows (Pahlawan Dalam Bayangan)

Hero In The Shadows (Pahlawan Dalam Bayangan)
Episode 23


__ADS_3

Kevin yang tengah sedang duduk santai disalah satu ruangan di sana langsung dikagetkan dengan kehadiran Vino yang tengah sedang lari terbirit-birit.


"Ada apa denganmu?". Tanya Kevin dengan heran.


Vino malah tidak menggubris pertanyaan Kevin, ia memilih langsung duduk disebelah Kevin dan mengatur nafasnya yang terengah-engah.


"Hey, kenapa kau terlihat sangat takut dan lelah?". Tanya Kevin untuk yang kedua kalinya.


Vino malah tetap bungkam, ia langsung mengambil air putih yang ada di atas meja dan meneguknya langsung.


"Kak Kevin hentikan, ku mohon jangan tanya kenapa aku seperti ini". Sela Vino langsung.


Dasar bodoh, tentu saja aku bertanya. Kau lari seperti orang yang sedang melihat hantu saja. tunggu dulu, disini tidak ada hantu. Lalu kenapa dia seperti ketakutan?.


Tidak berselang lama, Viola juga langsung bergabung dengan Vino dan Kevin di sana. Hal yang sama juga ia lakukan, ia langsung meneguk segelas air putih yang ia ambil dari atas meja.


"Kak Kevin, aku rasa tamatlah riwayat kak Brian". Timpal Vio langsung dengan mengibaskan kedua tangannya.


Vino langsung mengangguk setuju dengan ucapan Vio, ia yakin kalau kakaknya Brian tidak akan sanggup melawan Celsi. Sungguh ini akan menjadi berita utama, seorang Brian dikalahkan oleh wanita lemah.


"Ya, dan aku percaya. Di dalam keluarga Mark akan dimulai sejarah baru, sejarah dimana seorang pangeran dikalahkan oleh wanita biasa" timpal Vino.


Sementara Kevin hanya mengernyit heran melihat tingkah kedua adik kembar Brian. Sungguh aneh, dia bahkan tidak mengerti maksud Vino dan Vio.


Siapa yang akan kalah?, lalu sejarah bagaimana?. Hah, aku rasa keluarga Mark memang penuh dengan teka-teki.


"Sebaiknya kita berdoa saja, semoga kak Brian bisa selamat". Ucap Vio kembali sembari menatap Vino dan Kevin dengan serius.


"Hey, apa maksudmu?, katakan dengan jelas". Tanya Kevin dengan penasaran.


"Sudahlah, kak Kevin diam saja. Nanti kakak juga akan tau sendiri maksud dari perkataan kami". Sahut Vio.


"Benar, kak Kevin cukup bersiap-siap saja untuk menonton pertunjukan seru nanti". Sambung Vino kemudian.


Kevin malah semakin heran karena perkataan Vio dan Vino yang selalu digantung.


A**pa susahnya coba, cukup hanya katakan yang sebenarnya tanpa harus berbelit-belit. Hah, sudahlah aku rasa aku memang harus melihat sendiri nanti.


Sementara di kamar Brian.


"Celsi, aku hanya tidak tega meninggalkanmu". Ucap Brian pada Celsi.

__ADS_1


"Hah, apa kau bilang?, tidak tega?". Sahut Celsi setengah mengejek.


Celsi kemudian langsung tertawa pahit, sungguh ia tidak menduga, bagaimana bisa Brian tidak tega meninggalkannya padahal mereka hanya kenal 5 hari.


"Sekarang aku tanya. Apa kau juga sangat suka mengatakan hal itu pada orang yang baru kau kenal?". Tanya Celsi dengan kilatan kemarahan.


Brian hanya diam, sungguh ia belum pernah peduli pada orang lain, selain keluarga dan juga orang terdekatnya. Dan ia tidak memiliki jawaban atas pertanyaan Celsi.


"Aku tidak bisa berbuat apa-apa, sungguh aku tidak tau kenapa aku malah tertarik membawamu ikut bersamaku". Jelas Brian kembali.


Memang benar, ia juga tidak tau kenapa dia sampai repot-repot membawa Celsi bersamanya. Jika hanya kerena keselamatan Celsi yang terancam, dia bisa saja mengutus pengawal dan bodyguard untuk menjaga Celsi, tapi entah kenapa dia tidak mengambil langkah itu.


"Apa maksudmu?". Tanya Celsi dengan heran.


"Tadi kau mengatakan tidak tega meninggalkan aku sendiri, dan sekarang kau mengatakan kalau kau tertarik membawaku?". Tanya Celsi kembali dengan suara pelan namun penuh penekanan.


Hahahaha....., Celsi malah tertawa pahit menatap Brian.


"Jangan-jangan nanti kau juga akan mengatakan kalau kau melakukan ini dengan spontan, dan kau sama sekali tidak mengerti maksud dari perbuatan mu sendiri?". Tanya Celsi bertubi-tubi.


Glugggk.


Hah, kenapa Celsi seperti mengetahui isi pikiranku. Jangan sampai Celsi mengetahui kalau nyawanya dalam bahaya, atau bisa-bisa dia marah besar padaku. Apa yang aku pikirkan?, kenapa sekarang aku khawatir kalau Celsi marah padamu?. Ayolah Brian sadar, Celsi itu bukan siapa-siapa mu.


Brian terkesiap mendengar bentakan Celsi, ia langsung kembali menatap Celsi, dan ia bisa melihat wajah Celsi yang merah padam akibat terlalu marah dan emosi.


"Tidak Celsi, bukan begitu, maksudku....". Ucap Brian langsung terpotong karena ucapan Celsi.


"Sudah, aku tidak ingin mendengar penjelasan darimu lagi". Potong Celsi kembali.


B**ukannya tadi Celsi ngotot meminta penjelasan, dan apa sekarang?, dia bilang tidak ingin mendengar penjelasan ku lagi.


"Celsi...". Panggil Brian dengan pelan.


Namun mendengar panggilan Brian reaksi Celsi malah berlebihan.


"Keluar.....". Teriak Celsi dengan menunjuk pintu kamar.


"Celsi apa maksudmu?". Panik Brian karena Celsi mengusirnya.


"Aku bilang keluar....". Teriak Celsi untuk yang kedua kalinya.

__ADS_1


Melihat Brian yang tetap diam, Celsi langsung mengambil inisiatif dengan menarik tangan Brian dari tempat tidur.


Celsi langsung meraih tangan Brian dan memberi isyarat agar Brian langsung berdiri.


Sementara Brian hanya mengikuti Celsi, hingga Celsi mendorong tubuhnya dengan kasar keluar dari dalam kamar.


"Pergi...." Teriak Celsi kembali.


Melihat posisi Brian yang sudah diluar, Celsi langsung bergegas mengunci pintu kamar dari dalam.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang?". Ucap Celsi seraya mondar mandir di dalam kamar Brian.


Tidak, tidak tidak. Aku tidak boleh terjebak disini, bagaimana kalau mereka menjual ku nanti. Hah, aku tidak mau...., ini tidak boleh terjadi.


Celsi terus bergulat dengan pikirannya sendiri, ia terus bergumam dan berasumsi sendiri.


"Apa tujuan mereka sebenarnya?". Gumam Celsi.


Apa mereka benar-benar ingin menjual diriku ketempat *******?. Jika itu benar, aku tidak akan pernah Sudi, lebih baik aku mati sekarang ketimbang harus menjejakkan kakiku ditempat sekotor itu.


Celsi kemudian langsung membuka satu persatu laci yang ada didalam kamar tersebut, hingga ia menemukan sebilah pisau tajam yang terbalut kain hitam di dalam sebuah laci bagian bawah di samping tempat tidur.


Celsi malah beranggapan kalau Brian ingin menjualnya. sungguh, sepertinya Celsi kebanyakan nonton drama deh, bagaimana bisa ia langsung menyimpulkan sendiri alasan Brian membawanya.


Ayolah Celsi, kau harus berpikir logis, jangan berasumsi sendiri sebelum tau kebenarannya, biasa saja asumsi mu salah dan kau akan menyesal nanti.


Sementara di depan pintu kamar tersebut, Biran malah mondar-mandir di sana, ia takut jika terjadi sesuatu pada Celsi. Bagaimana kalau Celsi melakukan hal yang tidak-tidak nanti?, secara celsi seperti orang yang sangat mudah mengambil tindakan tanpa pikir panjang.


Ayolah Brian, untuk apa kau peduli?. Bukankah kau tau sendiri kalau Celsi bukan siapa-siapa?, jika dia mati maka itu lebih bagus, dengan begitu kau tidak harus repot-repot untuk menjaganya lagi.


"Tidak bisa, aku tidak boleh egois". Ucap Brian pada dirinya sendiri.


Brian kemudian berjalan meninggalkan kamarnya dan menemui kedua adiknya dan juga Kevin, dengan alasan meminta solusi dari mereka.


.


.


.


.

__ADS_1


.


walaupun kalian bosan, tapi tetap saja, ummi akan selalu bilang, jangan lupa like, vote, dan komet serta kasih rate 5. ok....


__ADS_2