
Tepat 5 hari Celsi dirawat di rumah sakit dan sekarang saatnya dia pulang ke rumah, maksudnya pulang ke rumah Brian kembali. Seharusnya Celsi dirawat selama seminggu tetapi karena Celsi selalu mengeluh dan tidak pernah merasa nyaman di rumah sakit membuat dia ingin cepat-cepat pulang.
"Kapan aku bisa keluar ?" tanya Celsi seraya menatap Brian yang sedang sibuk bergulat dengan laptopnya.
"Tiga hari lagi, kau belum sembuh total" Sahut Brian seraya tetap fokus pada kerjaannya.
"Argggh....., aku tidak mau, itu terlalu lama. Bosan, aku tidak nyaman berlama-lama berada di sini" keluh Celsi terus menggerutu.
"Aku mau pulang besok. Lagian aku kan bisa dirawat di rumah saja" usulnya kemudian.
Brian yang terus mendengarkan celoteh Celsi terpaksa menutup laptopnya dan beralih menatap Celsi.
"Tidak bisa, dokter bilang keadaanmu masih harus dipantau" terang Brian mencoba menjelaskan dengan hati-hati.
Brian harus ekstra sabar dalam menghadapi Celsi, mengingat Celsi merupakan wanita keras kepala, cerewet dan aneh. Iya sih, terkadang Celsi berubah menjadi wanita yang suka mengamuk, dan kadang menjadi manja dan lembut tapi tidak jarang akan menjadi menyebalkan dan jahil. Haaah... Harus diperbanyak sabar untuk menghadapi tingkah absolut Celsi.
"Ayolah Brian, please izinkan aku pulang. Brian aku mohon, aku tidak nyaman ada disini"
Lihatlah sikapnya langsung berubah, sekarang dia malah merengek seperti anak kecil yang meminta dibelikan permen oleh ibunya.
"Tidak Celsi, aku tidak mau mengambil resiko !!!"
"Hiks....hiks...hiks.... Aku mau pulang".
"Stop...., jangan berakting di depanku. Akting mu sangat buruk" protes Brian mengingatkan.
"Cih, menyebalkan. Coba saja kau ada diposisi ku, pasti kau juga tidak akan tahan lama-lama berada rumah sakit ini. Yang ada kau akan merengek melebihi anak kecil nanti" gerutu Celsi seketika dengan menatap Brian kesal.
Brian hanya bisa geleng-geleng kepala melihat perubahan sikap Celsi yang mendadak. Dia sudah hapal betul sikap Celsi. Dan dia juga mengetahui mana Celsi yang menangis sungguhan dan mana yang pura-pura.
Celsi menenggelamkan dirinya dibawah selimut karena kesal dengan Brian yang tidak menuruti keinginannya. Tubuhnya terus diputar ke kiri dan kanan seraya mencari posisi yang nyaman, namun tetap saja dia tidak bisa tertidur dengan nyaman.
"BRIAN......, AKU MAU PULANG...." teriak Celsi dengan kencang seraya membuka selimutnya.
"Berhenti berteriak, kau membangunkan semua orang" tegur Brian dengan menutup telinganya.
Suara Celsi benar-benar melengking membuat siapapun yang mendengarnya akan sakit telinga.
"Aku tidak peduli. Aku tetap mau PULANG, PULANG..." Celsi malah semakin menjadi saat keinginannya tidak dituruti.
Dokter dan beberapa perawat langsung lari terbirit-birit memasuki ruangan Celsi karena ada laporan dari beberapa pengunjung yang mendengar teriakkan Celsi.
__ADS_1
"Lihatlah, karena ulah mu membuat semua orang panik tidak menentu" tutur Brian dengan melihat dokter dan beberapa perawat sudah masuk.
"Hey, ini semua karena kau, coba saja kamu menuruti keinginanku mungkin aku tidak akan seperti ini" sahut Celsi tidak terima disalahkan.
Ampun dah, udah jelas ini salah Celsi tapi dia tetap ngeyel tidak mau disalahkan.
"Tuan, bisakah kalian tidak bertengkar. Ini rumah sakit, tidak baik bertengkar disini. Lagipula akan sangat menggangu bagi pengunjung lain" ucap salah seorang dokter dengan hati-hati, karena mengingat pangkat Brian yang sangat ditakuti boleh banyak orang.
Brian terkesiap mendengar ucapan dokter itu. Malu, itu sudah pasti namun dia mencoba bersikap biasa-biasa saja.
"Maaf dokter" tutur Brian dengan sopan.
Melihat tidak ada yang perlu ditangani lagi, dokter dan para perawat kembali keluar. Sekarang tinggallah Brian dan Celsi yang bergelut dengan pikiran masing-masing.
Begitu pintu dibuka Celsi langsung disambut hangat oleh teman-teman Brian di sana, dan yang lebih mengejutkan lagi ada Vio dan Vino di sana.
"Kakak ipar....." pekik Vio dengan girang saat melihat Celsi memasuki rumah dengan dipapah oleh Brian.
Pelukan hangat langsung terjadi saat itu.
"Stop, memanggilku kakak ipar" protes Celsi tidak terima.
"Kalian menyambut ku dengan hangat, aku sangat senang. Tidak seperti dia..." sindir Celsi dengan menatap Brian tajam.
"Jangan mulai lagi, aku tidak ingin berdebat. Pergi ke kamar dan istirahatlah"
Brian sangat tau kalau Celsi memang menyindirnya, tapi ia tidak ambil pusing atau masalahnya akan tambah rumit nanti.
Celsi langsung membuang muka dan mengajak Vio pergi ke kamarnya tanpa memperdulikan Brian.
"Kenapa kalian tidak akur saja sih ? kalian tidak ubahnya seperti tom and Jerry selalu saja bertengkar" ucap Simon seketika.
"Kak Simon, mereka tidak akan pernah akur. Bahkan kak Brian pernah kalah telak dari Celsi" Ledek Vino.
"Benarkah ?, bagaimana bisa?" tanya Arkan ikut menimpali.
Vino langsung terkekeh mengingat kejadian saat Celsi mengamuk waktu di pesawat.
"Vino....." dengan penuh peringatan Brian langsung menatap adiknya tajam.
"Bagaimana dengan tugas yang aku suruh?" tanya Brian mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Semuanya aman, Kevin akan pulang beserta wanita itu" Sahut Arkan, karena pertanyaan itu memang ditujukan untuknya.
"Hancurkan semuanya jangan sampai ada bukti tertinggal walau sedikit pun" kata-kata Brian begitu mengandung makan yang besar seakan-akan rencananya tidak boleh diketahui oleh siapapun.
"Tenang saja, semuanya sudah diatur"
"Lalu apa yang akan kakak lakukan pada Raka?" tanya Vino dengan penasaran.
"Kita lihat saja nanti. dia akan menerima akibat dari perbuatannya" sahut Brian dengan kilatan kebencian pada seseorang yang namanya Raka.
"Satu lagi, pastikan wanita itu selamat. Aku tidak ingin kalau Celsi sampai terluka saat mengetahui temannya sempat teraniaya dengan kejam"
"Lalu apa yang akan kita lakukan nanti?. Pasti wanita itu akan marah pada Celsi mengingat karena Celsi lah dia sampai seperti ini" tanya Simon tiba-tiba.
"Entahlah, aku juga tidak tau" ucap Brian dengan pasrah.
"Kapan penyerangannya akan dilakukan?" sambungnya kemudian.
"Nanti malam. Nanti malam adalah waktu yang tepat untuk menyerang, aku juga sudah mengirim beberapa pasukan untuk membantu Kevin di sana" jawab Arkan.
"Aku ingin semua ini cepat selesai. Aku tidak mau membahayakan Celsi maupun temannya lagi, mereka bahkan tidak tau apa-apa soal ini semua" tutur Brian dengan sendu.
Hal ini merupakan pertama kalinya Brian merasa takut melibatkan orang lain dalam masalahnya sendiri. Dia sendiri bahkan tidak tau kenapa dia begitu takut saat mengetahui Celsi dalam bahaya, bukan hanya itu bahkan setiap yang berkaitan tentang Celsi dia menjadi khawatir.
Teman-teman Brian juga merasa heran melihat ketakutan Brian kaki ini. Biasanya Brian hanya kan cemas saat menyangkut keluarganya tapi kali ini kecemasan Brian bukan pada keluarga melainkan pada orang asing yang baru ia kenal.
.
.
.
.
.
.
Halo semuanya... , bagi yang suka dengan cerita ummi jangan lupa buat vote ya...
ingat like dari kalian sangat membantu buat ummi...
__ADS_1