
Vino langsung mengambil posisi berbaring di sebelah Brian, ia langsung membenamkan dirinya di dalam selimut hangat dan lembut milik Brian.
"Vino, apa yang kau lakukan?". Tanya Vio dengan heran.
"Panggil aku kakak". Bentak Vino pada Vio.
"Cih, bahkan kita cuma beda 30 menit". Gerutu Vio tidak terima.
"Tetap saja, kau harus memanggilku kakak". Tegas Vino kembali.
Vio hanya bisa berdecak sebal saat Vino terus mengatakan hal itu, memang benar sih, ia sangat jarang menggigil Vino dengan sebutan kakak, padahal ibu dan ayahnya selalu memperingati dirinya.
"Baiklah KAK Vino, kenapa KAKAK ada disini?". Tanya Vio kembali dengan menekankan kata kakak dalam ucapannya.
Brian hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah kedua adiknya yang sangat suka berdebat. Namun saat berjauhan mereka saling rindu, karena itu mereka selalu pergi bersama kemanapun, jika salah satu mereka yang pergi maka yang tinggal pasti akan sakit.
Vino malah tidak menanggapi perkataan Vio, ia malah langsung meraih tangan Brian yang duduk di sebelah tempatnya berbaring.
"Kak Brian, malam ini aku tidur denganmu ya..". Pinta Vino dengan memelas pada Brian.
Brian menatap bingung kearah Vino, sungguh ia tidak mengerti dengan adik lelakinya itu. Umurnya sudah 20 tahun, tapi masih ingin tidur dengannya.
"Kau kan punya kamar sendiri". Ucap Brian.
"Kakak....,ayolah..., aku tidak bisa tidur sendiri". Kata Vino dengan terus berharap agar Brian mengijinkannya tidur bersama.
"Memangnya kenapa?". Tanya Brian kemudian.
Vino langsung menghela nafas panjang saat mendengarkan pertanyaan kakaknya. Sungguh Brian tidak akan pernah mengijinkan dirinya tidur disampingnya jika tidak dengan alasan yang jelas dan valid.
"Aku hanya tidak merasa tenang saat ini, aku terus merasa resah saat ingin memejamkan mata". Keluh Vino memberi alsan.
"Dan saat ini, aku memiliki firasat yang sangat buruk kak, aku rasa akan terjadi hal besar nanti'. Lanjut Vino kembali.
S**ungguh aneh, bahkan Vio juga seperti itu. Apa benar saudara kembar akan bisa memiliki firasat yang sama?.
"Benar kak, aku juga berpikir begitu". Sambung Vio kemudian.
"Mungkin itu hanya perasaan kalian saja, sudahkah jangan pikirkan hal yang tidak-tidak". Ucap Brian memberi ketenangan pada kedua adiknya.
__ADS_1
Sebenarnya ia juga memiliki perasaan yang sama, seakan-akan sesuatu akan terjadi nanti, tapi ia terus mencoba menepis pikiran buruknya agar tidak terlalu khawatir, mengingat saat ini kedua adiknya juga sedang bersamanya.
Vino dan Vio langsung mengangguk bersama saat mendengar ucapan Brian, mereka memang tidak boleh berpikiran buruk saat ini, apa lagi saat bersama Brian. Atau bisa-bisa Brian akan sangat khawatir dengan mereka.
*Ok Vio, sebaiknya kau tidur saja, dan jangan pikirkan apa-apa lagi.
Baiklah, Vino, saatnya tidur*...
Vio langsung bangkit berdiri dan beranjak keluar dari kamar Brian, namun saat ia membuka pintu, ia dikagetkan dengan kehadiran Kevin yang sudah berdiri di ambang pintu.
"Kak Kevin, kau mengagetkanku". Ucap Vio dengan kesal.
"Maaf Vio, kakak tidak tau kalau kau akan membuka pintu". Tutur Kevin merasa bersalah.
Setelah mengatakan itu, Kevin langsung melewati Vio dan mendekati Brian.
"Master !!". Sapa Kevin dengan sedikit menunduk pada Brian.
Brian hanya mengangguk, sebenarnya ia heran kenapa tiba-tiba Kevin datang ke kamarnya, karena tidak biasa-biasanya Kevin mengganggunya saat malam hari kecuali ada hal darurat yang terjadi.
Apa yang akan terjadi?, aku harap ini bukan hal yang serius.
"Apa maksudmu?". Tanya Brian dengan sedikit meninggikan suaranya, sungguh ia sangat kaget saat mendengar laporan Kevin.
Kevin langsung menatap Vino dan Vio secara bergantian, seolah-olah meminta ijin pada Brian apakah ia mengatakan hal ini dihadapan kedua adiknya.
Melihat tatapan Kevin, Brian langsung mengerti.
"Vio, pergilah ke kamarmu". Ucap Brian langsung.
Vio langsung mengangguk, sekarang ia mengerti kalau hal yang akan Kevin sampaikan pastilah hal yang sangat serius.
"Katakan". Ucap Brian kemudian dengan suara serak dan aura dinginnya.
"Diduga saat ini ada sekitar seratus orang yang ingin menerobos pertahan wilayah ini, dan dari informasi yang saya dapat, mereka adalah orang yang sama yang ingin menangkap nona Celsi dan menghabisi master". Lanjut Kevin kembali.
Mendengar itu semua rahang Brian langsung mengeras bahkan tangannya langsung mengepal, bukan hanya itu, matanya langsung memancarkan kilatan kemarahan.
Aku tidak menyangka kalau mereka akan bertindak secepat ini. Walau bagaimanapun aku tidak bisa melakukan apapun saat ini, mengingat kedua adikku ada di rumah saat ini.
__ADS_1
"Perintahkan pasukan bayangan untuk menahan mereka di hutan. Jangan sampai mereka memasuki kawasan rumah ini". Ucap Brian dengan kilatan amarah di dalam matanya.
"Baik master". Jawab Kevin dengan patuh.
"Dan jangan lupa siapkan pasukan 2 dan 3 untuk segera maju menyerang". Lanjut Brian kembali.
"satu lagi, siapkan pesawat pribadiku malam ini juga, kita akan kembali ke New York. Aku tidak bisa mengambil resiko, mengingat saat ini Vio juga ada disini". Ucap Brian dengan tegas.
"Baik master". Ucap Kevin dengan mengangguk.
Kevin segera mengambil ponselnya dan keluar dari kamar Brian, ia langsung menghubungi kepala pasukan bayangan dan juga kepala pasukan 2 dan 3, setelah itu, ia langsung menghubungi pilot pribadi Brian agar segera menyiapkan penerbangan malam ini juga.
"Vino, katakan pada Vio agar segera bersiap-siap, kita akan kembali malam ini juga". Titah Brian pada adik lelakinya.
"baik kak, akan aku sampaikan". Ucap Vino kemudian.
Vino langsung keluar dari kamar Brian dan menuju kamar Vio, ia segera masuk kedalam dan membangunkan Vio yang sudah terlelap, sebenarnya belum terlelap, hanya saja sejak kembali ke kamarnya, ia terus mencoba agar bisa tertidur dengan memejamkan matanya.
Setelah menunggu 30 menit, Kevin kembali ke kamar Brian dan mengatakan semuanya telah siap.
"Kevin, bawa Vio dan Vino sekarang, aku akan segera menyusul". Titah Brian dengan aura yang sangat mengintimidasi.
Kevin langsung menjalankan perintah Brian, ia segera menuntun Vio dan Vino agar mengikutinya menaiki sebuah mobil yang sudah terparkir di depan rumah.
Sementara Brian langsung kembali naik ke lantai tiga dan menuju kamar Celsi, ia membuka pelan pintu kamar Celsi dengan sebuah kunci serap yang ia bawa dari dalam kamarnya.
Celsi yang sudah terlelap sama sekali tidak menyadari kalau Brian telah masuk kedalam kamarnya, ia bahkan tidak sadar saat Brian dengan sigap mengangkat tubuhnya dan menggendongnya ala bridal style keluar dari kamar.
Sebenarnya Celsi merasakan kalau dirinya tengah melayang, tapi karena perasaan nyaman, ia langsung mengalungkan kedua tangannya ke leher Brian dan menganggapnya sebagai mimpi indah.
.
.
.
.
jangan lupa like dan vote yang banyak ya...
__ADS_1