Hero In The Shadows (Pahlawan Dalam Bayangan)

Hero In The Shadows (Pahlawan Dalam Bayangan)
Episode 40


__ADS_3

Kreeekk.... Brian langsung mengarahkan pandangannya kerah pintu begitu seseorang membukanya. Dia bisa melihat Celsi yang berdiri diambang pintu sambil menatapnya dengan lekat.


Utuk apa Celsi datang ke kamarnya malam-malam begini. Ini sudah waktunya tidur bukan, hari juga sudah larut malam. Brian terus bergulat dengan pikirannya saat melihat Celsi tak kunjung mengucapkan sepatah kata apapun.


Ini bukanlah saatnya untuk gugup. Bukankah bisanya seorang Celsi selalu bisa menguasai keadaan? tapi kenapa sekarang dia malah gugup saat ingin mengatakan sesuatu pada Brian?. Ah, aku benci dengan keadaan seperti ini.


"Kau belum tidur?" akhirnya Brian mencoba mencairkan suasana yang sejak tadi Hening karena tidak ada yang memulai pembicaraan.


"Brian..., apa aku mengganggumu?" dengan gugup akhirnya Celsi mencoba bertanya.


"Tidak, masuklah" setelah mendapat izin dari Brian, Celsi masuk dan kembali menutup pintu.


Dengan perasaan gugup Celsi terus berjalan mendekati Brian yang tengah sedang duduk di atas ranjang sembari bersandar.


Kegugupan Celsi dapat dilihat jelas oleh Brian karena sejak tadi Celsi terus memainkan kedua tangannya.


"Duduklah" pinta Brian.


Celsi langsung duduk. Entahlah, dia sendiri tidak tau harus memulai dari mana saat ingin berbicara dengan Brian.


Malam ini Celsi seperti tidak mengenal dirinya sendiri. Dia yang bisanya cerewet sekarang malah gugup, mungkin saja ini semua pengaruh dari Brian yang selalu membuatnya kesal. Dan saat dia mulai ingin berbicara serius dengan Brian malah dibuat gugup jadinya.


"Aarrrggghhh..., aku benci keadaan seperti ini" gerutu Celsi dengan mengacak rambutnya kesal.


"Kau bilang apa? benci kenapa?, kau membenciku?" tanya Brian bertubi-tubi karena dia mendengar Celsi berbicara tapi tidak terlalu jelas.


Celsi terkesiap mendengar ucapan Brian. Sekarang dia menyesal karena menggerutu tidak menentu dihadapan Brian. Mungkin saja sekarang Brian menganggapnya orang bodoh, atau bahkan sudah gila.


"Brian, bukan begitu. Aku hanya ingin mengatakan sesuatu padamu" ucap Celsi memberanikan diri.


"Kau ingin mengatakan apa?"


"Terimakasih" lirih Celsi dengan pelan namun masih dapat didengar oleh Brian.


"Terimakasih untuk apa?" tanya Brian kebingungan.


"Untuk semuanya" sahut Celsi.

__ADS_1


Celsi menatap lekat mata Brian. Sekarang dia bersyukur dipertemukan oleh Brian, walau sebenarnya dia sering kesal sih karena Brian. Ralat, sepertinya dia yang sering membuat Brian kesal padanya. argghhh..., itu tidak penting, sekarang waktunya dia berterimakasih dengan benar pada Brian.


"Aku tau, kaulah yang telah meminta Kevin untuk menyelamatkan Ana. Bukan hanya itu kau juga telah menyelamatkanku berulang kali, padahal aku sudah menolak kebaikanmu dengan kasar waktu itu" sejenak Celsi mengingat kejadian saat di mall. Dia bahkan dengan tegas mengatakan kalau dia tidak ingin pulang dengan Brian lagi, dan lihatlah sekarang jika bukan karena Brian mungkin saja dia masih berada digenggaman orang jahat itu (Raka).


"Jangan katakan itu. Bukankah aku yang membawamu kemari? dan sudah menjadi tanggung jawabku untuk menjaga dan melindungi mu" sahut Brian dengan lembut.


Celsi tertegun mendengar penuturan Brian yang bijak dan lembut. Dia tidak menyala kalau Brian benar-benar ingin menjaga dan melindunginya padahal bisa saja Brian mengabaikannya saat ini, mengingat dia bukalah siapa-siapa buat Brian.


"Brian..." Celsi tidak dapat membendung air matanya lagi. Perlahan-lahan air matanya langsung membasahi kedua pipinya.


Ternyata masih ada orang yang menyayanginya, mengingat dia bahkan tidak punya siapapun lagi. Hanya Ana yang dia miliki saat ini, yang sudah dia anggap sebagai teman, saudara sekaligus kelurga satu-satunya.


Dengan perasaan haru Celsi langsung menghambur kedalam dekapan Brian. Awalannya Brian kaget karena Celsi memeluknya tiba-tiba, tapi saat dia merasakan kalau Celsi sedang bersedih dengan sigap dia memeluk Celsi seolah-olah memberikan ketenangan padanya.


"Kau tau. Kau seperti Hero untukku, kau adalah penyelamatku. Aku menyayangimu Brian..." tutur Celsi dengan lembut dalam dekapan Brian.


"Aku janji akan membalas semua kebaikanmu. Walaupun aku belum tau bagaimana caranya, tapi aku berjanji akan membalas semua kebaikanmu" lanjut Celsi kembali.


Brian hanya membiarkan Celsi menumpahkan semua yang ada dalam pikirannya, dia hanya sebagai pendengar saja.


Setelah cukup lama dalam dekapan Brian, akhirnya Celsi melepas pelukannya. Wajahnya langsung terasa panas, dia tau kalau sekarang pipinya pasti merona karena menahan rasa malu.


Brian tersenyum saat menyadari kalau Celsi malu padanya, ia menikmati momen-momen seperti ini. Menurutnya Celsi terlihat menggemaskan saat malu.


"Kemari lah" pinta Brian dengan mengisyaratkan agar Celsi berbaring disebelahnya.


Dengan perasaan gugup Celsi malah mengikuti kemauan Brian tanpa sadar. Aich..., sepertinya kegugupan ini membuatnya menjadi sedikit linglung dan eror.


Brian langsung membawa Celsi kedalam dekapannya, dengan lembut dia membelai kepala Celsi dan sesekali dia mengecup pucuk kepala Celsi.


Deg...deg...


Jantung Celsi berpacu dengan cepat saat wajahnya kini bersentuhan langsung dengan dada bidang Brian yang hanya mengenakan kemeja putih polos yang tipis.


Ternyata bukan hanya jantungnya, jantung Brian malah tidak kalah cepat dengan detak jantungnya saat ini.


"Aku berjanji akan selalu menjagamu Celsi. Aku menyayangimu dan aku juga ingin melindungi mu selamanya" tutur Brian dengan hati-hati.

__ADS_1


Celsi mengernyit heran mendengar ucapan Brian. Apa maksudnya coba? apa Brian tidak bermaksud memulangkannya ke Indonesia?


"Brian..." Celsi mencoba mengangkat wajahnya dan menatap Brian. Namun dengan cepat Brian malah menahan kepalanya dan alhasil dia hanya bisa diam sekarang.


"Jangan katakan apapun. Aku tau kau pasti tidak percaya dengan yang aku katakan, yang jelas aku menginginkan dirimu"


Menginginkan diriku, untuk apa? arggghh... Aku sama sekali tidak mengerti ucapan Brian.


"Aku ingin terus menjagamu dan tidak ingin melihatmu menangis. Pasti kau menganggap ku sudah gila karena berbicara tidak jelas, tapi yang pasti setiap yang aku katakan tulus dari hatiku. Aku menyayangimu Celsi" sambil mengecup dengan lembut pucuk kepala Celsi.


Deg...deg...


Jantung Celsi semakin berpacu saat mendengar penuturan Brian. Entah perasaan apa yang sekarang dia rasakan. Senang, itu sudah pasti, tapi jantungnya yang semakin berpacu membuat gejolak di dadanya menjadi tidak karuan.


Apa Brian mencoba mengatakan cinta padanya? itu tidak mungkin!!!. Jauh-jauh Celsi mencoba menepikan pikirannya, karena tidak mungkin baginya seorang Brian jatuh cinta pada gadis seperti dirinya.


Sementara Brian berharap kalau Celsi mengerti maksud dari ucapannya. Dia sudah memberanikan diri untuk mengutarakan perasaannya saat ini, bahkan tidak bisa dipungkiri kalau dia benar-benar gugup tadi. Jantungnya seakan terpompa dengan cepat saat ingin mengatakan semua itu pada Celsi.


.


.


.


.


.


.


Salam hangat dari ummi...jangan lupa ya...


vote


like


komen + favorit

__ADS_1


rate 5


jika ada saran dan masukan tidak usah sungkan, silahkan komen dibawah.


__ADS_2